Senin, April 23

Fathul Wahid: Kita Tidak Lagi Hidup di Menara Gading

0

Fathul Wahid ditetapkan sebagai rektor terpilih Universitas Islam Indonesia (UII) pada tanggal 26 Maret 2018. Sekarang Fathul masih menjabat sebagai direktur Badan Sistem Informasi (BSI). Kami menemui Fathul di ruang BSI pada Selasa, 3 April 2018 yang lalu. Berikut hasil reportase kami.

Apa sih yang melatar belakangi bapak sehingga dicalonkan menjadi rektor?

Saya tidak ingin jadi rektor tapi konsepnya di UII, jabatan adalah amanah, sehingga untuk model sekarang siapapun yang memenuhi syarat (calon rektor-red) itu harus ikut (mencalonkan diri-red) dan tidak boleh mundur. Jadi, kalau ditanya, “Kenapa bapak mau jadi calon rektor?” Saya tidak ingin karena jabatan amanah itu berat. Tapi kalau dikasih (menjadi rektor-red), ditakdirkan, ya bismillah. Seharusnya begitu, jadi jangan (jabatan-red) kemudian dicari-cari dengan segala upaya.

Pada action plan, bapak menyebut tentang digitalisasi universitas, apa maksudnya?

Jadi gini, sekarang kan tantangan zamannya berbeda, selera zaman berubah, jadi kita harus bisa menyesuaikan dengan zaman. Pertama, kita mencoba menyerap itu, kita refleksikan kira-kira yang tepat yang mana, bukan berarti yang kemarin salah. Karena sekarang eranya berubah, definisi saya digitalisasi universitas itu berbeda dengan digitalisasi kampus. Kampus itu cenderung fisik sedangkan universitas secara keseluruhan. Mulai dari pembelajaran, proses bisnis, pengambilan keputusan, dan dakwah. Nanti digitalisasi universitas itu untuk melengkapi yang sekarang sudah ada. Tidak menggantikan 100 persen, namun melengkapi, jadi kita tetap berakar.

Kedua, kenapa melengkapi? Untuk menurunkan resiko, belum tentu semua orang siap kan dengan digitalisasi universitas ini. Makanya harus dikombinasi dan pelan-pelan. Digitalisasi itu kan strategi, jangan dianggap sebagai tujuan. Berbeda arti nanti, tujuannya apa? Karena anda datang saat action plan, ada tiga kata kunci: menguatkan akar, menjulangkan cabang, dan melebatkan buah.

Bisa dijelaskan maksud dari tiga kata kunci tersebut?

Yang pertama, akarnya itu dari nilai-nilai yang dulu ditanamkan oleh para pendiri UII. Seperti nilai integrasi Islam dan ilmu pengetahuan, nilai keragaman Islam, dan nilai yang lain. Nilai-nilai tersebut harus kita kawal betul, karena nilai itulah yang menjadi dasar UII dibangun. Kalau kita lupa, nanti menjadi masalah. Arahnya bisa berbeda, karena nilai itu kan menjadi energi yang terus menerus.

Yang kedua itu menjulangkan cabang, intinya punya inovasi. Inovasi dalam berbagai hal, mulai dari pembelajaran, proses didiknya, dan lain-lain.

Kemudian yang ketiga melebatkan buah, jadi bagaimana keberadaan UII ini, mahasiswanya, dosennya, lembaganya itu betul-betul memberikan perbedaan. Itu pelan-pelan nanti kita buat, saya masih termasuk orang yang masih percaya kalau semua dijalankan bareng-bareng, ada gerakan bersama, itu semakin besar dampak yang kita hadirkan dibandingkan kalau kita jalan sendiri-sendiri.

Bagaimana pandangan bapak melihat rektor pada periode sebelumnya?

Saya hanya tahu kelebihannya saja. Semua rektor itu menjalankan misi sesuai dengan waktunya, ini yang penting dan kehidupan apapun termasuk organisasi itu kuncinnya keberlanjutan, jadi apa yang terjadi sekarang itu karena periode-periode sebelumnya sehingga Kita harus betul-betul respek, menghormati, mengapresiasi apa yang sudah dilakukan oleh pendahulu-pendahulu kita. Mungkin berbeda dengan ukuran-ukuran kita, cuma kondisi saat itu berbeda dengan apa yang kita bayangkan sekarang. Jadi dulu katakanlah kalau orang berladang itu pertama mbabat hutan dulu, ada yang tugasnya seperti itu, ada yang tugasnya menanam pohon, ada yang tugasnya menyirami, ada nanti untuk bagian panen tapi enggak mungkin panen kalau enggak ada yang buka lahan toh.

Nah itu harus kita jaga betul, jadi apa yang ada sekarang itu tidak bisa kita lepaskan dari apa yang sudah dilakukan dikorbankan atau pengorbanan dari rektor-rektor sebelumnya. Itu yang harus kita jaga betul supaya kita tidak, satu sombong, dua lupa akarnya, tiga tidak menghargai pendahulu-pendahulunya. Jadi dulu berbeda dengan sekarang tantangannya. Yang terjadi dulu berbeda dengan sekarang,

Kalau menurut bapak, apa kekurangan dan kelebihan rektor sebelumnya?

Yang saya tahu kelebihan, ada mengajarkan keikhlasan, ada yang mengajarkan kerja keras, ada yang mengajarkan internal organisasi, ada yang mengajarkan masih banyak lagi yang lain. Ada yang banyak ambil resiko. Ketika ada masalah dan enggak mau jadi rektor, itu kan banyak resiko kan, karena itu kan intinya di situ kalau mau aman-aman saja kan enggak bisa maju kita. Jadi, mereka punya karakternya masing-masing, Jadi kalau ada perbandingan yang salah yang membandingkan.

Begini pak, rektor kan memilih wakil rektor, calon yang bapak pilih siapa saja?

Itu di website (UII) ada, nanti tinggal dicek sudah ada delapan orang.

Itu murni pilihan bapak pribadi?

Memang gue cowok apaan? Hahaha. Kalau ada orang kasih masukan, ya kita harus jadi pendengar yang baik. Cuma kan yang memutuskan tetap saya.

Kenapa bapak memilih delapan nama itu?

Ya karena amanatnya gitu, masing-masing (calon wakil rektor-red) dua orang.

Sekarang ada empat wakil rektor, lantas apa perbedaan dengan sebelumnya?

Itu amanat statuta. Jadi di statuta bunyinya begitu dan saya yakin itu pasti merespon perkembangan yang ada toh. Anda datang bertiga, kalau tambah satu orang bisa lebih ngebut enggak? Kemarin wakil rektornya tiga kan? Sekarang berempat, mungkin wawancaranya saya bisa lebih dikeroyok toh? Informasinya bisa lebih kaya kan? Karena informasinya beda-beda. Itu saya yakin juga telah merespon perkembangan yang ada. Saya selalu melihat sisi positifnya lah, karena tanpa itu kita akan galau dan baper.

Seberapa dekat bapak dengan Badan Wakaf (BW)?

Secara personal, saya dekat dengan semua orang. Saya percaya dengan semua orang. Saya menjalin hubungan selama saya tidak dikhianati. Kalau ada orang mengkhianati saya misalkan, saya memaafkan enggak? Tergantung. Karena itu penting, kalau kita membangun suatu hubungan dengan kecurigaan kan enggak enak. Harus percaya dulu dong, ini dengan siapa saja konteksnya. Tidak hanya dengan BW, kita percaya BW, BW percaya kita, kan enak banget hidupnya.

Memang mau cari apa toh? Misalnya saya jadi rektor, saya juga tidak pernah melamar jadi rektor. Saya melamar jadi dosen dan hari ini masih jadi dosen. Artinya saya tidak perlu meninggalkan tugas ke-dosen-an saya. Sekarang dapat amanah ya dijalankan dengan baik. Jabatan ini cuma sementara toh, empat tahun. Kalau saya mau memperjuangkan ya saya memperjuangkan bukan pribadi saya, tapi memperjuangkan orang banyak. Saya tidak punya kepentingan apa-apa, kalau ada mahasiswa “Kita harus bilang kontrak politik”. Enggak mau saya, lah untuk apa? Saya ngajarin juga ke adik-adik mahasiswa itu, “Jabatan atau amanah itu enggak usah dicari, tapi kalau dikasih jangan lari.” Kalau enggak nanti menghalalkan semua cara, nanti repot. Yang bikin Indonesia rusak, ya salah satunya itu.

Jadi enggak ada hubungan politik?

Saya didukung atau gimana, begitu mas? Terlalu jauh kamu memandangnya, mas. Memandang UII dengan kacamata politik nasional. Orang punya kecurigaan itu hak mereka. Kadang didengarkan, kadang direspon kan tergantung toh.

Kalau memang itu bagus ya ditanggapi, tapi kalau hanya sekelebatan suara ya dianggap musik saja lah itu. Ketika saya gini itu, satu, harus bisa jadi pendengar yang baik. Dua, harus siap dimarahin banyak orang. Karena kebijakan yang akan dibuat nanti enggak akan menyenangkan semua orang toh. Kalau mau nyenengin semua orang, jangan jadi rektor, jadi tukang es krim. Selalu ada, karena perspektif itu kan berbeda. Kadang perlu komunikasi saja. Masalah menjalin komunikasi saja.

Bagaimana jika saat menjalankan posisi rektor ada sedikit pergesekan dengan BW?

Saya selalu percaya, sampai hari ini, lembaga pendidikan itu adalah lembaga paling bebas untuk argumen sehat. Adu argumen, kalau saya kalah kan nurut. Itu kan wajar toh. Lah wong lembaga pendidikan, masa sama kayak lembaga otoriter? Kan enggak bisa. Itulah yang menjadikan saya betah di UII. Karena di UII itu kan egaliter toh. Itu penting dan itu harus kita jaga. Di kampus lain, seusia saya jadi rektor mungkin enggak? Agak sulit toh?

Rektor termuda kedua di UII ya pak? Pertama Kahar Mudzakir umur 38, kemudian bapak 44 tahun.

Pak Kahar itu orang luar biasa. Kalau anda ingat, anda (pernah) menulis UII punya rektor yang luar biasa itu.

Sebagai rektor terpilih, apa langkah-langkah terdekat yang akan bapak lakukan?

Ini mau pemilihan wakil rektor toh, itu belum fix. Pemilihan wakil rektor tanggal 17 (April-red), saya dilantik saja belum. Saya dilantik tanggal 1 Juni.

Lalu, rencana strategis apa yang sudah bapak siapkan?

Di action plan saya sudah ada semua. Jadi tadi, banyak ya PR nya dan tidak mudah, sulit, tetapi sulit berbeda dengan tidak mungkin kan? Banyak ya tadi, misalkan bagaimana nilai-nilai yang menjadi dasar UII dulu berdiri itu kembali tertanam, kita tidak boleh lupa tentang itu.

Kalau boleh dijelaskan, itu nilai-nilai seperti apa sih pak?

Itu misalkan keragaman Islam. Kalau sekarang ada orang yang ingin menjadikan UII satu warna. Itu mengingkari jati dirinya sejak awal, itu kan perlu digaungkan. Ya ada beberapa yang berarti sifatnya mungkin program masjid ya, tapi ada yang harus digaungkan terus. Kalau orang setiap hari dengar masa enggak pelan-pelan berubah toh. Itu juga untuk bagaimana mahasiswa punya pemahaman islam yang kosmopolitan, Islam yang merangkul, Islam yang mengayomi, dan lain-lain. Itu kan penting.

Jadi, intinya nanti bagaimana misalkan dosen, mahasiswa juga punya semacam semangat koeksistensi, bisa hidup bersama dengan orang yang berbeda. Tafsir kan bisa bermacam-macam, tapi kalau kita sepakati koridor, kan enak. Programnya seperti apa? Bisa jadi di perkuliahan digaungkan, di pertemuan digaungkan, lalu dimasukkan ke pola pembinaan mahasiswa, dan lain-lain.

Pada penyampaian action plan, bapak menyinggung soal demokratisasi ilmu pengetahuan. Apa maksudnya?

Kalau kita punya model bisnis yang menjadikannya lebih murah, entah bantuan informasi atau yang lain lagi, dan bisa lebih terjangkau semakin banyak orang yang bisa menikmati menjadi menarik, itulah demokrasi tadi. Jadi, semakin banyak orang yang bisa menikmati demokratisasi. Intinya adalah sebanyak mungkin orang yang terlibat kan? Cuma modelnya kaya apa, itu harus kita cari bareng-bareng.

UII sebagai lembaga pendidikan swasta yang merupakan unit bisnis dari BW, apakah mampu mencapai visi demokratisasi ilmu pengetahuan tersebut?

Swasta itu perlu kita diskusikan, swasta itu sering disamakan dengan komersil, private. Kalau private company itu memang komersil kan, tapi di UII, di Indonesia beda terjemahan. Swasta artinya bukan dikelola pemerintah, belum tentu profitable. Artinya selama ini kalau misalkan ada kelebihan, tidak masuk uang kantong dosennya. Uang catur dharma bapak ibu anda kan infaq. Kalau bapak ibu anda meninggal kan dapat kiriman pahala terus, kalau ikhlas hehe. Kalau enggak ikhlas jadi masalah. Jadi, berpikirnya seperti itu.

Jadi, swasta bukan kemudian ada komodifikasi pendidikan dari kita. Kalau anda bandingkan UII dengan yang lain, lebih mahal mana, dengan kualitas sama. Contoh di Jakarta ada Binus, kualitasnya bagaimana? kualitasnya? biaya kuliahnya? 11-12 enggak? Biaya perkuliahan?

Anda tega enggak kalau dosennya enggak bisa nyekolahin anaknya gara-gara mau dikasih murah padahal digaji tinggi juga enggak, artinya yang masuk akal itu loh. Itu penting loh, perspektif menjadi penting sehingga kalau saya misalkan, anda bayar agak mahal, tapi ada sebagian teman-teman anda yang kita kasih fasilitas beasiswa dan lain-lain. Kalau ada uang lebih dibangun gedung macam-macam, itu kan amal jariyah. Kalau saya melihat dari prespektif anda. Kalau itu dilihat, enak banget loh hidupnya.

Kalau dari prespektif pimpinan, saya bertanggung jawab mengelola uang, tidak menyalah gunakan, tidak memperkaya diri sendiri. Kan gitu. Kalau itu ketemu kan enak banget. Tapi kalau ketika itu di judge ini tidak aman, kan beban, sehingga sampai hari ini saya melihat di UII, ya paham komodifikasi pendidikan itu enggak ada, walaupun saya yakin ada perspektif dari kawan-kawan mahasiswa wajar.

Termasuk dalam peningkatan uang kuliah setiap tahun?

Betul. Peningkatannya ada 10 persen enggak? Inflasi berapa bulan? Anda belajar ekonomi kan? Nah artinya kan sebetulnya wajar (peningkatan) itu loh.

Apakah inflasi itu alasan satu-satunya uang kuliah naik?

Sekarang gini, misalkan sekarang saya langganan listrik 100 ribu, inflasinya 10 persen, kalau ceteris paribus semuanya sama, tahun depan saya bayar 110 ribu kan? Kalau saya tetap bayar 100 ribu, tahun depan saya dapat listrik yang lebih kecil.

Kedua, kenaikan itu kalau anda lihat ada alasan, kita menghitung cost bangunan ya kan?

Yang ketiga kenaikan bon itu juga tidak berlaku surut, anda masuk dan keluar sama kan? Sehingga biaya naik terus. Bagaimana caranya? Ada kompensasi jariah.

Kita mengelola uang kalian, kalau lulus tepat waktu kan empat tahun, anda lihat ada yang sudah enam tahun tetapi enggak lulus-lulus. Itu beban, bagi yang muda, mereka seharusnya dapat perhatian yang lebih. Anda harus membagi perhatian bagi kakak senior yang enggak lulus-lulus.

Misalnya uang Catur Dharma UII sekarang 20 juta, mungkin 10 tahun ke depan 50 juta?

Kalau melihat hukum ekonomi sangat mungkin kan? Cuma seberapanya kita enggak tahu. Kita enggak tahu postur pemasukan, siapa tahu ke depannya kita punya unit bisnis yang bisa membantu kita. Kita enggak tahu kan? Tapi sejak awal pendiri universitas ini, para pendiri bangsa, ingin menawarkan pendidikan yang terjamin. Nah, itu kita harus rawat. Cuma ya tadi, ada yang merasa berat.

Sekarang kita tengok, kalau anda pintar sekali tetapi anak orang yang enggak mampu, lalu boleh enggak kuliah di UII? Boleh kan?

Kalau anda anak bodoh, enggak mau belajar, tetapi anak orang yang mampu. Bisa enggak kuliah di UII? Ndak bisa toh.

Ada seleksinya kan? Kalau bodoh sekali dan anak orang yang enggak mampu kan kasihan banget. Kalau miskin tapi enggak mau belajar itu artinya tadi.

Tapi kalau dia sudah belajar berusaha keras, ya itu ada jalur beasiswa kan? Kalau ke depan, mungkin kalau kita besarkan porsinya. Kan ada beasiswa Unisi, hafidz, tidak mampu, terluar, tertinggal, terdepan. Itu sebetulanya salah satu upaya kan? Walaupun, porsinya belum banyak. Kita juga melihat kapasitas, jadi insyaallah nilai-nilai yang ditanamkan para pendiri kita enggak akan hilang.

Jumlah guru besar UII itu sampai saat ini baru 15 orang. Untuk usia universitas yang cukup tua, 75 tahun, itu sangat sedikit. Langkah apa yang akan bapak jalankan untuk meningkatkan jumlah guru besar?

Pertama, menyadarkan yang agak malas mengurus kepangkatan agar lebih rajin. Caranya bagaimana? Ada fasilitasi mungkin, ya nanti kita fasilitasi, entah insentif, entah program, entah apa, nanti kita lihat yang cocok yang mana.

Kedua, prosesnya nanti kita bantu kawal. Karena prosesnya itu panjang, nanti kita bantu kawal, tapi lagi-lagi itu tergantung dua hal. Satu, motivasi intrinsik, seperti mahasiswa enggak mau lulus-lulus, itu termasuk motivasi intrinsik. Itu orang tuanya setiap hari tanya pun enggak akan berpengaruh. Dua, harus semangat, kenapa harus lulus? Begitu juga dengan bapak ibu dosen, kenapa harus ngurus (jadi profesor-red). Kalau berpikirnya hanya personal, motivasinya pasti rendah. Kalau ditambah variabel institusional, menjadi berbeda. Ini bukan masalah personal, dari perspektif institusi juga berubah akhirnya.

Kalau dari sisi bapak ibu dosen, ini kalau saya personal, ini penting. Lalu ditambah institusional. Sehingga, ini enggak hanya personal, tapi juga institusional loh. Kan berbeda. Akhirnya kan ketemu, yang di sini semangat, yang disini difasilitasi. Itu yang akan saya coba formulasikan. Tapi kalau, ini personal, institusinya saya enggak mau tahu itu beda lagi. Kalau institusinya sudah mendekati secara personal, tapi personalnya enggak ada, kan juga enggak ketemu. Ya, saya sepakat seribu persen memang kurang jumlah guru besar kita.

Beberapa waktu yang lalu rektor telah menyatakan sikap pelarangan terhadap civitas akademika UII yang terindikasi LGBT. Menurut bapak sendiri sikapnya?

Universitas Islam Indonesia ada “I” di tengahnya, Islam itu dasarnya. Alquran salah satunya kan, LGBT berbenturan dengan Islam.

Apakah orang-orang seperti itu punya kesempatan untuk kuliah di UII?

Ini saya ilustrasi ya, misalkan saya sangat keras, kecurangan apapun yang terjadi satu atau dua dalam tugas, itu langsung saya kasih nilai F. Pertanyaannya, boleh enggak dia ikut kuliah sampai akhir semester? Boleh, karena itu hak dia. Ya itu tadi, tapi nilai curang itu tetap saya kasih F.

Merujuk pernyataan sikap yang disampaikan rektor sekarang, kegiatan LGBT itu terlarang di UII, bagaimana pendapat bapak?

Kalau itu kamu mending tanya langsung ke pak rektor sekarang saja.

Pertanyaannya begini, dia itu bisa langsung kita vonis atau kita bimbing, kan beda toh ya. Kalau saya bergaul sama orang jahat, boleh enggak kalau saya mendakwahi dia? Boleh ya? Kalau logika tadi kita gunakan bagaimana? Jadi, tidak kita hardik. Tidak kita hujat, tetapi kita rangkul. Dakwah kan di situ. Kalau ada orang baik, kita ceramahi kan beda ceritanya toh? Tapi kan nilainya tadi sudah jelas.

Nilainya tadi adalah Islam itu tidak punya tempat di situ. Tidak mempunyai tempat yang seperti itu tapi kan tindakannya. Orangnya kan tetep pinter toh, ayo bareng-bareng ya diskusi. Saya yakin, saya termasuk orang yang percaya itu masih mungkin kok. Tapi kalau kita menghardik, menghujat, kepada siapa kan kita tidak boleh toh. Termasuk yang beda agama pun ndak boleh. Enggak ada nabi ngajarin gitu, itu enggak ada, kalau ada nanti kasih tahu haditsnya ya!

Bagaimana pandangan bapak terhadap lembaga kemahasiswaan di UII saat ini?

Mahasiswa itu makhluk dewasa. Dia dituntut untuk bertanggung jawab dengan dirinya dan mengembangkan dirinya. Kuliah itu hanya salah satu bagian. Anda aktif di lembaga luar perkuliahan, ini kawah yang menarik. Inkubasi yang sangat bagus. Artinya apa? Anda dilatih banyak hal. Masuk LEM, DPM, kan semuanya mirip. Leadership anda, kepemimpinan dilatih, interpersonal skill anda dilatih, kemampuan komunikasi dilatih, banyak yang dilatih disana. Itu akan melengkapi kualitas pribadi anda.

Jadi, saya sangat mendukung kegiatan kemahasiswaan. Karena mahasiswa makhluk dewasa, harus bertanggung jawab toh? Jangan jadikan alasan, ngeles, saya aktif  (organisasi-red) lalu IP saya satu koma, itu kan enggak dewasa. Harus bisa mengatur lah, enggak harus empat. IPK tiga itu masih masuk akal. Kalau enggak nanti jadi masalah.

Masalah seperti apa pak?

Contoh saja anda senior, adik kelasnya lihat kalian ini organisasinya aktif, tapi kok IPK-nya satu koma. Alhamdulillah ya. Kan enggak bagus, artinya tidak menyemangati. Yang terjadi nanti akan muncul kesimpulan yang jelek. Ternyata aktif di organisasi itu menghambat kuliah, kan jelek. Alih-alih anda ingin membantu atau menumbuhkan partisipasi adik-adik anda, akhirnya malah anda memberi contoh yang enggak bagus sehingga kesimpulannya jadi salah. Ya kalau di set lah, tiga itu di kelas, satu di organisasi, enak kalau bisa begitu. Jangan tiga di organisasi, satu di kelas.

Tahun 2019 itu tahun politik nasional, peran apa yang akan diberikan oleh UII sebagai lembaga pendidikan?

Berperan mengedukasi publik. Misalkan nanti kita kasih narasi yang berbasis data. Misal ada dua kubu, penting enggak kita memberi narasi penengah yang lebih berbasis data. Ya bisa condong ke sini, bisa condong kesana. Kan kita berpihak pada kejujuran, ini loh datanya bisa dilihat. Tapi kalau politik partisan, itu kan berbeda, itu kan kepentingan yang mengikat. Kita juga punya kepentingan, kepentingan kita kepada nilai. Ya kita berpihak terhadap nilai, bukan pada kelompok. Kalau pada kelompok kan kita tidak punya kepentingan.

Kalau nilainya ada di kelompok sana, kita condong ikut kesana kan? Minimal untuk orang yang melihat, kalau nilai kita cenderung ke kelompok sana, bisa jadi kita dianggap condong kesana. Meskipun kita tidak melihat kelompok ini, kita melihat nilai. Kalau membaui ini, kan ceroboh itu, ya kudu dijaga. Termasuk mahasiswa, kalau rektornya kebablasan kan diingatkan begitu. Mahasiswa salah juga diingatkan. Jangan mentang-mentang mahasiswa, enggak boleh salah, ya enggak mungkin dong.

Tadi bapak bilang ingin mengedukasi masyarakat, langkah konkretnya seperti apa pak?

Misal kita sekarang sudah menginstal sistem untuk memantau pembicaraan publik. Saya kan juga aktif di Jogja Mendaras Data. Misalkan ada polarisasi, mungkin enggak kita memberi narasi tandingan dengan berbagai data, “Ini loh yang terjadi sebetulnya.”

Kita tidak punya tendensi dukung sana atau dukung sini, itu kan contoh. Nanti kita pantau, saya juga sedang memantau masalah intoleransi. Nanti ada polarisasi yang kita akan lihat, ini loh yang sedang terjadi, ini loh yang di masyarakat, dimotori ini, dan sebagainya. Kita kasih data. Termasuk kalau nanti kita didekati salah satu, ya kita juga enggak mau, itu kan konkret toh? Misalkan, tiba-tiba ada yang mau menggunakan UII sebagai kendaraan. Walaupun kadang bisa jadi, mlipir-mlipir bisa kena kan? Ya nanti anda ingatkan, “Pak rektor salah loh.”

Misalkan nantinya akan menemukan fakta baru tapi di masyarakat tidak diterima, bagaimana pak?

Contohnya apa? Ini bentuk diskusi tadi toh? Saya masih percaya bahwa sebagian besar akal sehat masyarakat itu masih sehat. Selama kita akal sehatnya masih sehat, insyaallah ketemu. Kalau ada yang punya kepentingan itu enggak banyak lah, saya masih percaya masyarakat itu pintar dan masih sehat, masih kerja otaknya.

Bagaimana bapak memandang hubungan akademisi UII dengan masyarakat?

Dulu dan mungkin sekarang, salah satu kritik terbesar bagi akademisi UII adalah sikap hidup di mercusuar, di menara gading. Yang jelas sekarang sudah berbeda, karena interaksi kita dengan publik, industri, dan kelompok masyarakat sudah cair. Kita tidak lagi hidup di menara gading. Yang kedua, dosen-dosen dalam melakukan penelitian, itu juga kalau bisa mengangkat masalah real. Artinya, kalau real kan tidak bisa didapat tanpa ke lapangan. Itu juga akan membuka pintu interaksi. Termasuk juga mengasah kepekaan sosialnya terhadap isu-isu aktual di masyarakat. Kalau bisa juga bersuara toh? Bersuara itu ada dua hal, satu itu indikasi sensitivitas, yang kedua sekaligus memberi solusi. Sensitif marah tapi enggak memberi solusi? Kalau toh solusi kita ndak diterima, adu argumen enggak masalah. Kalau enggak berani adu argumen kan malah kita enggak bersuara toh. Tapi tidak lantas semua yang terjadi kita kasih komentar. Artinya memilih komentar mana yang bermanfaat, mana yang tidak.

 

Tim Reportase

Reporter: Ika Pratiwi I & Hana Maulina S

Editor: Niken Caesanda R

Fotografer: Anggah

%d blogger menyukai ini: