Kamis, Juni 21

Cara Berpikir ‘Mata Satu’

0

Judul: Sistem Dajjal (Edisi Revisi)

Penulis: Ahmad Thomson

Tahun Terbit: 2014

Penerbit: Zahira

Tebal: 327 halaman

 

Ahmad Thomson, dalam bukunya yang berjudul Sistem Dajjal (edisi revisi) ini menjelaskan Dajjal bersisi tiga. Dajjal oknum (makhluk), Dajjal sebagai gejala sosial-budaya global, dan Dajjal sebagai kekuatan gaib. Sebelum Dajjal oknum muncul mestilah tersedia sistem mapan beserta para pengurusnya yang siap mendukung dan menaati Dajjal. Keberadaan sistem dan para pengurusnya ini membuktikan Dajjal sebagai gejala sosial-budaya global dan Dajjal sebagai kekuatan gaib.

Dilihat dari semua pertanda yang tampak dewasa ini, kedua sisi Dajjal tersebut –yang akan dijelmakan oleh Dajjal sendiri– sudah sangat kentara. Dajjal dapat didengar di seluruh dunia pada saat yang sama. Dajjal menampilkan api namun tidak membakarmu. Dajjal menampilkan air padamu tapi tak bisa diminum. Dajjal akan bicara tentang Surga tetapi menggambarkannya seperti Neraka. Dajjal akan bicara tentang Neraka tetapi menggambarkannya seperti Surga.

Dajjal sebagai gejala sosial-budaya global yaitu tata nilai, cara berpikir ‘mata satu’ yang membuat manusia ditipu habis-habisan mengenai kehidupan. Manusia mengira itu Surga ternyata sejatinya menuju Neraka. Manusia mengira itu Neraka ternyata hakikatnya menuju Surga. Manusia dibuat dibolak-balik mengenai konsep kehidupan. Manusia terus mengejar kekayaan meskipun bangunannya ketidak-jujuran dan menyikut sesama manusia. Itulah cara berpikir ‘mata satu’.

Ahmad Thomson juga menguraikan bahwasanya dewasa ini sistem Dajjal membuat manusia terjebak dalam sistem hidup yang sudah sedemikian kuatnya. Manusia sengaja disibukkan dengan hanya memikirkan uang sehingga menyisihkan waktu-waktu kontemplatif, momentum tafakur dengan pertanyaan-pertanyaan substansi kehidupan manusia, bahkan menyisihkan nilai-nilai kemanusiaan.

Sistem Dajjal sudah menjerat manusia sehingga harta-benda menjadi parameter dan tujuan. Kini, sudah tampak jelas bahwa sekarang manusia lebih memilih kaya daripada rohaniawan. Cara berpikir ini sudah dirancang sedemikian rupa secara global.

Menurutnya, kenyataan sistem bisnis asuransi dan sistem keuanga adalah semuanya dirancang cermat agar melibatkan sebanyak mungkin manusia ke dalam sistem produsen-konsumen, dan demi mengeruk uang sebanyak mungkin dari keterlibatan itu. Sedangkan Islam mengajarkan bahwa berdagang tidak boleh serakah dalam mengambil keuntungan, bahkan Islam menawarkan konsep puasa agar manusia mengerti batas-batas.

Dalam tulisannya, Ahmad Thomson banyak menggunakan kata ‘kafir’ untuk mengganti Dajjal. Ia juga menjelaskan bahwa ada keterangan di dahi Dajjal tertera huruf KFR. Sebagian jet tempur Israel bertuliskan KFR di moncongnya. KFR memuat huruf-huruf kata kufur atau kafir. Kufur artinya menutupi atau mengingkari. Kafir adalah seseorang yang menutupi hakikat kehidupan –yakni tiada Tuhan selain Allah– dan ingkar pada para Rasul yang diutus Allah untuk memberi teladan bagaimana pola hidup selaras dengan diri sendiri dan dengan luar dirinya, serta bagaimana cara mengenal dan mengabdi kepada Allah.

Thomson juga memaparkan bahwa ada sekelompok orang yang disebut freemason sebagai ujung tombak berlangsungnya sistem Dajjal. Sistem Dajjal adalah sistem yang melestarikan dirinya sendiri. Begitu ada yang bekerja di dalamnya dan untuknya, kegiatannya akan membuat kegiatan lainnya, dan semua kegiatan ini menghasilkan uang.

Para freemason yang mengendalikan perusahaan-perusahaan raksasa dan tatanan khayal tempat khalayak buruhnya disandera. Para freemason menyalurkan lautan harta yang dikendalikannya guna mendanai rekayasa-rekayasa sosial, yang akan menjamin keberlangsungan keuntungan dan kekuasaan mereka sendiri serta melestarikan perbudakan orang-orang yang terjerat bekerja di dalamnya. Disimpulkan bahwa para ‘pemenangnya’ adalah yang mengatur dan mengendalikan dan para ‘pecundangnya’ adalah khalayak didasar piramida –yang bekerja paling berat di dalamnya.

Abdullah bin Umar ra mengabarkan, Nabi Muhammad saw berdiri dan berkata pada umatnya, setelah memuji Allah Maha Agung dan Maha Terpuji, beliau bersabda mengenai Dajjal, Aku memperingatkan kalian dari dia, tak seorang Nabi pun yang tidak memperingatkan umatnya dari dia bahkan Nabi Nuh telah memperingatkan umatnya dari dia. Tapi aku akan mengabarkan sesuatu yang belum pernah disampaikan oleh Nabi mana pun sebelum aku: Hendaklah kalian tahu bahwa Dajjal bermata satu, dan Allah tidak bermata satu. (Diriwayatkan oleh Muslim, ada pula di Shahih Bukhari, hadits no. 3089).

Kemudian dari Abdullah bin Umar ra, Nabi Muhammad saw bersabda, Semalam aku bermimpi aku berada di Ka’bah dan aku melihat pria berkulit gelap bagaikan pria berkulit gelap paling rupawan yang pernah kalian lihat. Rambutnya panjang di antara telinga dan bahunya, seperti rambut terindah yang pernah kalian lihat. Rambutnya baru disisirnya dan menitikkan air. Dia bersandar pada bahu dua pria yang sedang thawaf keliling Ka’bah. Aku bertanya, “Siapa dia?” dijawab, “Al-Masih bin Maryam. “Kemudian aku melihat seorang berambut meliat-liut dan buta mata kanannya bagaikan anggur mengambang. Aku bertanya, “Siapa dia?” dijawab, “Al Masih ad-Dajjal.” (Sahih Bukhari, hadits no. 3439, 3440).

%d blogger menyukai ini: