Kamis, Juni 21

Menciptakan Arus Balik, Membangkitkan Jurnalisme Online Persma

0

Semua ini berawal dari sebuah keprihatinan….

Satu tahun yang lalu, tepatnya ketika awal mula saya dipercaya memimpin media online Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Kognisia FPSB UII, ada beberapa tantangan yang mesti saya hadapi. Pertama, merevitalisasi konsep berpikir anggota redaksi Kognisia tentang jurnalisme online. Kedua, membentuk budaya redaksi online yang konkret dan transformatif. Ketiga, memperkuat manajemen redaksi online Kognisia dengan menekankan “praktik jurnalistik langsung” untuk meningkatkan kemampuan mengelola berbagai macam isu menjadi berita.

Itu semua merupakan agenda yang betul-betul akan menguji sejauh mana saya dan rekan-rekan divisi redaksi online Kognisia dapat berkembang. Mengingat LPM Kognisia sempat mengalami stagnanisasi, baik dari segi wacana maupun praktik jurnalistik, selama bertahun-tahun lamanya. Saya katakan demikian, sebab sebelum saya magang tahun 2014 sampai dua periode setelah saya jadi anggota, berita-berita yang diangkat Kognisia hanya berkutat seputar renovasi toilet, pembangunan kamar mandi atau kantin, sepinya apresiasi ulang tahun fakultas, dan komputer-komputer bekas yang tak jelas nasibnya.

Jarang sekali Kognisia mengangkat isu-isu penting yang berkaitan langsung dengan dinamika mahasiswa, baik di ranah akademik ataupun lembaga. Kalaupun mengangkat isu tentang lembaga mahasiswa atau kebijakan dekanat misalnya, beritanya akan basi sebelum sampai ke tangan pembaca. Hal tersebut teerjadi karena berita diproduksi dalam wujud buletin “satu bulan sekali” dengan catatan “kalau tidak molor.” Apalagi gaya penulisan kami masih sebatas hardnews, tanpa ada narasi kuat atau kedalaman di dalam beritanya.

Situasi manajemen redaksi yang demikian mengakibatkan banyak mahasiswa FPSB UII yang tak tahu ada organisasi kejurnalistikan bernama Kognisia. Betul-betul memprihatinkan.

Menyadari kondisi tersebut, para pengurus inti Kognisia kemudian mencoba untuk mengembangkan media online pada periode 2014/2015. Namun, minimnya pemahaman mengenai manajemen redaksi online, sekali lagi membuat Kognisia tidak berkembang secara maksimal sampai periode 2016/2017. Kurangnya perhatian terhadap jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) di media online juga menjadi faktor penyebabnya. Karena sebagian besar tenaga SDM dialokasikan untuk produksi buletin dan majalah dengan intensitas kemoloran yang tinggi itu.

Maka, memasuki periode 2017/2018, saya dan empat rekan redaksi online lainnya, Merlina, Dinda, Karel, dan Zahro, melakukan pemetaan ulang. Langkah awal kami adalah memisahkan ruang redaksi antara anggota divisi online dengan buletin. Karena budaya media online belum terbangun dengan kuat. Saya khawatir jikalau dicampur, teman-teman divisi online Kognisia malah terbawa ritme buletin kembali.

Berangkat dari hal ini, saya dan rekan-rekan redaksi kemudian menyusun sistem mulai dari waktu rapat redaksi, konten apa saja yang akan diproduksi, media-media sosial yang digunakan, sampai jumlah target konten per bulannya. Tentu saja kami juga membahas soal deadline, editing, dan strategi publikasi.

Sebelumnya, kami telah berdiskusi dengan rekan dari Himmah dan beberapa LPM lain di UII yang sudah lebih dulu mengembangkan media online. Hasilnya: saya dan rekan-rekan sepakat membangun sistem yang lebih menekankan pada praktik jurnalistik!

Beberapa teman dari lingkar gerakan kemudian menanggapi, “mengapa mesti menekankan hal yang sifatnya teknis? Bukankah membangun budaya intelektual (membaca, diskusi, menulis) lebih penting agar iklim keilmuan di Kognisia menjadi makin kuat?”

Tentu saya tegaskan bahwa saya tidak serta merta mengesampingkan budaya membaca dan diskusi, karena itu penting juga untuk mengasah pola pikir. Tetapi, bagi saya praktik mesti “lebih” ditekankan. Andreas Harsono, wartawan cum aktivis HAM, pernah menulis bahwa persma lebih sering menghabiskan tenaganya untuk berdiskusi ketimbang praktik jurnalistik. Itu kondisi yang mengkhawatirkan. Sebagai wartawan, semestinya kita lebih banyak menulis daripada beretorika. Toh, diskusi dan membaca pun sebetulnya sudah sepaket dengan praktik jurnalistik itu sendiri.

Setelah manajemen redaksi tersusun dengan cukup sistematik, maka hal yang selanjutnya kami lakukan adalah konsisten menerbitkan berita sesuai target per bulannya. Sejauh ini, prioritas praktik, harus diakui, telah membuat Kognisia mendominasi pemberitaan di ranah kampus.

Kami mengawal berbagai macam polemik menyangkut lembaga mahasiswa serta kebijakan rektorat. Diantaranya, mulai dari HMJ Korps Mahasiswa Hubungan Internasional (Komahi) yang tak kunjung dilantik, isu bahwa lembaga di FPSB akan dibekukan, wacana pembangunan gedung FPSB, keputusan rektorat mengenai makrab, sampai minimnya fasilitas untuk difabel di UII. Tidak hanya isu-isu dalam kampus, isu di luar pun kami masih tergolong persma yang  di depan dalam pemberitaan. Misalnya, pemberitaan seputar aksi-aksi mahasiswa yang menyerukan pembebasan lingkungan, Save KPK, atau konflik penggusuran lahan di kawasan Kulon Progo.

Barangkali, kami tidak akan bisa bergerak semasif itu kalau kelamaan berdiskusi. Pokoknya praktik, praktik, dan praktik! Diskusinya di ruang redaksi untuk menentukan perspektif, selebihnya action!

Setelah dirasa kuat dari segi manajemen dan praktik redaksi, kami akhirnya berani membuka ruang bagi siapapun yang ingin menyampaikan opini dan aspirasinya. Sebagai lembaga yang hidup dari uang mahasiswa, saya sadar bahwa kita tidak boleh egois dengan mendominasi wacana. Bagaimanapun publik dominan dalam konteks kita adalah mahasiswa. Maka, membangun ruang agar mereka bisa bebas menyampaikan gagasan merupakan keharusan.

“Bagaimana kalau wacana mereka tidak memiliki keberpihakan yang jelas? Bagaimana kalau opini mereka memunculkan sensasionalisme, SARA, menjatuhkan kelompok-kelompok tertentu?” Tanya Pemimpin Redaksi saya dengan nada khawatir.

Selama opini yang dikirim kontributor itu argumentatif, bisa dipertanggungjawabkan, dan tak melakukan plagiat, menurut saya tidak masalah. Soal setuju atau tidaknya kita sebagai anggota internal media jangan sampai mengaburkan pandangan redaksi. Karena sekali lagi, media kita milik mahasiswa, publiknya ya mahasiswa. Maka, kemajemukan melalui ruang-ruang kontributor itu mesti dipelihara. Begitu prinsip yang saya tekankan di Kognisia.

Adapun kalau memang kontributor itu mengkritik suatu kelompok, lembaga, atau bahkan rektorat ya sah-sah saja. Sekali lagi, poinnya adalah argumentatif, bisa dipertanggungjawabkan, dan tidak plagiat. Tapi saya pribadi punya catatan khusus. Saya tidak akan menerbitkan opini yang cenderung ingin menjatuhkan suatu kelompok tertentu dengan nada-nada kebencian tanpa argumen kuat. Kalau ada mahasiswa yang mengirim opini semacam itu, hal yang akan saya lakukan adalah mengajaknya berdiskusi dulu.

Program ruang kontributor berjalan cukup baik. Setiap bulan sekitar lima sampai 10 mahasiswa (terutama dari FPSB) mengirim tulisan berupa esai, cerpen, maupun puisi. Namun, karena kami belum bisa menampung semua, maka dalam sebulan hanya dua sampai empat tulisan saja yang kami publikasikan. Hal ini dikarenakan masih adanya keterbatasan tenaga editor.

Sejak LPM Kognisia gencar mengaktifkan media online, ada banyak keuntungan yang di dapat. Pengaruh paling signifikan adalah, kami lebih dikenal luas dibandingkan sebelum aktif di media online. Tidak hanya di kalangan mahasiswa FPSB saja, tetapi juga mahasiswa UII secara umum.

Walaupun mungkin masih banyak juga yang belum tahu, tetapi paling tidak ada kemajuan yang bisa dirasakan. Mulai dari naiknya traffic visitor, review dari sejumlah mahasiswa terkait pemberitaan kami, sampai kritik dosen terhadap beberapa artikel di laman resmi media sosial Line Kognisia.

Jumlah visitor yang dapat diketahui lewat google analytics juga menjadi modal kami untuk menggaet pengiklan. Sehingga kami mendapat pemasukan yang lebih banyak.

Tapi ada beberapa hal yang rupanya melebihi harapan saya. Misalnya ketika media online Kognisia.co dilirik oleh portal berita Kurio dan Kumparan untuk diajak bekerjasama. Tak berhenti sampai disitu saja, sebuah event di Makassar yang bernama Indonesian Future Leader Conference, menggaet kami sebagai media partner. Itu belum beberapa pengiklan yang menawarkan kerjasama publikasi produk.

Kognisia yang sebelumnya tidak dikenal oleh mahasiswa fakultas sendiri, perlahan mulai menjadi referensi informasi mahasiswa, khususnya terkait kebijakan-kebijakan yang belum diekspos pihak kampus. Kognisia juga tadinya memiliki intensitas produk yang minim bila dibanding LPM-LPM di UII yang lain. Namun, sejak online aktif, kami memimpin sebagian besar pemberitaan terkait dinamika yang ada di UII.

Media online telah menjadi arus balik bagi eksistensi Kognisia. Memang perjalanannya penuh liku dan tantangan. Tetapi banyak hal baru yang saya dan terutama rekan-rekan divisi online dapatkan.

Sebelum saya menyentuh bagian akhir tulisan ini, ada satu hal lagi yang ingin saya tegaskan. Bahwa dalam tulisan ini saya tidak sedang menyebarkan wacana popularisasi kepada teman-teman persma sekalian. Sebab persma bukan hanya soal traffic, bukan juga soal banyaknya review berita dari pembaca, atau kerjasama-kerjasama dari berbagai pengusaha. Bukan.

Bagi saya, persma adalah sebuah tempat untuk belajar merawat nalar kritis kita sebagai makhluk yang memiliki idealisme dan keberpihakan terhadap kepentingan publik sekaligus laboratorium bagi teman-teman yang ingin mengembangkan pola pikirnya dengan melakukan kegiatan-kegiatan jurnalisitik.

Namun, persma juga mesti berkembang. Ia tidak bisa hidup dengan cara-cara konvensional saat teknologi komunikasi makin canggih. Sirojul Khafid, anggota LPM Himmah UII, pernah menulis sebuah esai berjudul Menyesal Jadi anak Persma. Dalam tulisannya itu, Sirojul menekankan bahwa pengemasan produk persma perlu disesuaikan dengan keadaan saat ini. Terlepas dari apapun ideologi serta gerakan yang diusung. Sebab Sirojul menyadari, pola-pola konvensional yang dilakukan persma untuk memberi informasi atau memantik gairah intelektual di kalangan mahasiswa menemui kegamangan.

Jauh-jauh hari sebelum Sirojul, Abdus Somad yang dulu menjabat Sekretaris Jenderal PPMI Kota Yogyakarta juga pernah menulis hal senada. Menurut Somad yang terpenting adalah persma mesti tetap membudayakan gaya jurnalisme advokasi. Jadi pemberitaannya tidak hanya berhenti pada analisis, kedalaman, serta akurasi. Tetapi persma juga mesti mempertahankan kontrol sosial dan ruang alternatif. Bila mengikuti media arus utama yang mengandalkan kecepatan, lanjut Somad, maka persma suatu saat akan lelah dengan dirinya sendiri.

Saya yakin gagasan dari Somad dan Sirojul ini jika diterapkan betul-betul akan menjadi titik balik bagi persma untuk kembali melawan hegemoni ruang-ruang demokrasi yang dikuasai oleh media-media arus utama dengan wacana dominannya yang acap kali mengaburkan pandangan di ranah akar rumput. Semangat jurnalisme advokasi menjadi karakternya dan kemasan yang lebih hits-meminjam istilah yang dipakai Sirojul-menjadi wajahnya.

Andaikata semua persma di UII serempak memperkuat gagasan dan teknis redaksi dalam mengembangkan media online-nya. Menurut saya, momentum bagi kebangkitan persma UII itu akan bisa diraih.

Memang praktiknya tidak semudah membalik telapak tangan. Saya sadar betul bahwa setiap persma memiliki masalahnya sendiri-sendiri, terutama dalam hal kaderisasi. Tetapi, beranjak ke media online merupakan pilihan yang tidak bisa lagi ditawar. Mengingat konsekuensi perkembangan teknologi komunikasi yang berdampak besar terhadap struktur sosial dimanapun.

Namun, harapan itu saya yakin akan menjadi kenyataan, kelak. Soalnya beberapa waktu terakhir ini, saya melihat sebagian besar LPM di UII, selain Kognisia, sudah mulai memasifkan media online-nya juga. LPM Himmah bahkan hijrah sepenuhnya ke online. Mereka berniat tak menerbitkan buletin atau majalah lagi. Saya berharap sepak terjang Himmah setelah hijrah ini akan menginspirasi LPM-LPM UII yang lain untuk meninggalkan cetak atau paling tidak mengurangi jumlah produksinya.

Di era tsunami informasi ini, berita, opini, dan kritik, tentang suatu lembaga atau bahkan negara, berserakan di beranda-beranda media sosial nyaris tanpa penyaring. Setiap orang bisa menjadi pewarta untuk khalayak hanya dengan berbekal smartphone yang memiliki sambungan “internet”. Bahkan lebih cepat dan efisien, karena pembacanya bisa mengakses sekaligus menanggapi informasi yang ingin dibaca dimanapun dan kapanpun.

Bisa dibilang, mengembangkan media online merupakan suatu keniscayaan bagi persma. Menurut saya bila kondisi persma untuk mengembangkan online saja masih tersendat oleh pandangan-pandangan konvensional, maka lebih baik mengucapkan selamat tinggal pada wacana-wacana perubahan dan pembebasan yang kerap didiskusikan.

Catatan: Retorika ini sebelumnya sudah diterbitkan di buletin KOBARKobari Edisi 188 Tahun ke-20

%d blogger menyukai ini: