Masta FMIPA yang Berbeda

oleh: Metri Niken L

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kendati rutinitas tahunan, panitia memasukkan hal-hal baru pada pelaksanaan Masa Ta’aruf (MASTA) FMIPA. Seperti apa?

Oleh Maya I. Cashindayo

Kampus Terpadu, Kobar

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Fakultas  Matematika  dan  Ilmu  Pengetahuan Alam (FMIPA) kembali melaksanakan kegiatan Masa Ta’aruf (Masta). Tahun ini,  Masta berlangsung pada tanggal 02-03 September 2012. Acara yang diperuntukkan bagi Mahasiswa Baru dan Mahasiswi baru (Maba-Miba) tersebut diselenggarakankan oleh Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) FMIPA. Adapun tema yang diusung kali ini adalah “Membangun Mahasiswa FMIPA yang Aktif, Kreatif, Inovatif, dan Berdedikasi untuk Negeri.”

Sejak pukul 05.30 WIB, para peserta sudah berdatangan dan segera dibariskan per kelompok oleh panitia Divisi Keamanan dan Ketertiban. Maba-Miba dikondisikan di area parkir FMIPA. Papan-papan jama’ah dengan nama kerajaan Islam menyembul di antara barisan satu dan barisan lain. Selanjutnya, Maba-Miba dibawa ke Gedung Kuliah Umum (GKU) untuk menerima materi dari sejumlah narasumber. Materi yang diberikan antara lain mengenai pengenalan kampus, beasiswa (scholarship), dan dedikasi FMIPA untuk negeri.

Dari jumlah total 549 orang, Masta FMIPA diikuti oleh 520 orang, atau hampir 100% dari jumlah keseluruhan Maba-Miba. Hal ini diperkirakan karena aturan baru yang ditetapkan oleh panitia. Menurut Arifi Bhakti selaku Ketua Organizing Commite (OC), seusai kegiatan Masta, Maba-Miba akan mendapatkan sertifikat yang berfungsi banyak ke depannya. Fungsi yang dimaksud seperti syarat untuk pengajuan beasiswa hingga syarat keikutsertaan dalam suatu bentuk kegiatan kepanitiaan. “Jadi, Masta ini sangat penting untuk kegiatan Maba-Miba ke depannya,” imbuh Arifi.

Aturan baru Masta tahun ini ada juga yang diberlakukan bagi panitia. Pada hari pertama, beberapa orang tampak memperoleh tempelan kertas putih di punggungnya. Kertas tersebut bertuliskan kalimat, “Saya adalah Contoh Panitia Pelanggar Kedisiplinan dan Ketertiban.” Salah satu panitia yang mendapatkan tempelan kertas adalah Riswan Dwi Ramadhan yang bertugas sebagai Pemandu. Ia datang terlambat tujuh menit dari waktu yang disepakati pukul 04.00 WIB, sehingga ia harus memperoleh sanksi tersebut. “Tapi tidak masalah, ini untuk kebaikan bersama,” ujar Riswan sembari tersenyum.

Ketua Steering Commite (SC), Bangkit Marlanda, menjelaskan bahwa tempelan kertas bagi para panitia yang melanggar kesepakatan waktu bertujuan agar mereka tidak mengulangi kesalahan serupa esok harinya. “Agar panitia disiplin dengan keterlambatan waktu nol menit,” tegas Bangkit. Hal ini turut diiyakan oleh Ketua Komisi B, Adhitya Gilang. Menurut Adhitya, aturan tersebut diharapkan dapat menjadi pelajaran moral bagi Maba-Miba bahwa tidak ada perbedaan antara panitia dan peserta yang datang terlambat. Sebenarnya, aturan ini sudah diberlakukan pada Masta tahun 2011. Karena berdampak positif, aturan tersebut kembali diberlakukan pada Masta tahun 2012.

Tidak hanya aturan, agenda kegiatan juga mempunyai acara baru. Maba-Miba peserta Masta diharuskan menginap di Rusunawa selama satu malam. Menurut Azam Taufikurahman selaku Ketua LEM FMIPA, hal ini merupakan pengembangan dari wacana yang diusulkan oleh Dekan FMIPA. Tujuannya adalah untuk melatih kepemimpinan yang intensif bagi Maba-Miba sebelum pelaksanaan Orientasi Dasar Nilai Islam (ONDI) dan Pesantreniasi di Rusunawa. Untuk itu, Maba-Miba dikenakan biaya Rp10.000 per orang yang digunakan sebagai dana kebersihan. Total dana yang dikeluarkan untuk kegiatan Masta FMIPA tahun 2012 sendiri diperkirakan sekitar 28 Juta Rupiah. Angka yang lebih besar jika dibandingkan dengan besaran dana tahun 2011. Penyebabnya antara lain pada jumlah peserta dimana tahun lalu diestimasikan 300 orang, sedangkan tahun ini mencapai 500-an orang.

Maba-miba memiliki komentar masing-masing terkait pelaksanaan Masta . Maya Aulia, Mahasiswi Baru (MIBA) Program Studi (Prodi) Farmasi, mengaku senang mengikuti Masta. “Banyak yang saya dapatkan, selain teman baru, dapat ilmu juga,” kata Maya. Senada dengan itu, Febia Pradita Prima, Miba Prodi Statistika, juga mengaku senang. Febia berpendapat, hal yang paling berkesan adalah materi-materi yang diberikan karena mampu memberinya motivasi positif. Selain itu, hal lain yang ikut membuatnya nyaman mengikuti Masta adalah tidak adanya bentakan-bentakan dari panitia. “Coba saja Pesta (Pesona Indahnya Ta’aruf_red) bisa seperti Masta, pasti asyik,” seloroh Febia. q

Reportase Bersama : Irwan A. Syambudi

Berita sebelumyaInovasi Tamah FIAI
Berita berikutnyaDemi Sepasang Sepatu

Podcast

Baca juga

Terbaru