HIMMAH BERBICARA: Ketika Pemilik Modal Beraksi

Himmah Berbicara yang dilaksanakan pada tanggal 31 Mei 2015, membahas mengenai masalah ekonomi. Himmah Berbicara kali ini dimulai dengan menonton film The Wall Street (1987) dengan pemantik Siti N. Qoyimah, Pemimpin Redaksi Himmah Online. The Wall Street menceritakan seorang broker (pialang saham) muda, Bud Fox, yang ingin memiliki klien investor besar karena banyaknya saham yang ditanamkan seperti Gordon Gekko. Usaha Bud Fox untuk mendapatkan kepercayaan Gordon Gekko dimulai dengan mengatakan informasi mengenai Bluestar (inside information) dimana jual beli dengan informasi yang didapat secara non publik ini, insider trading, dilarang di beberapa negara. Bluestar merupakan perusahaan penerbangan dimana ayah Bud Fox bekerja. Informasi tersebut didapat Bud Fox dari ayahnya saat perbincangan santai di sebuah bar. informasi yang disampaikan Bud Fox berhasil membuat Gordon Gekko mempercayai Bud Fox sebagai brokernya.

Setelah mendapatkan kepercayaan Gordon Gekko, Bud Fox ditantang untuk memperoleh informasi dari Sir Lawrence Wildman secara diam-diam. Demi mendapatkan informasi yang berguna, Bud Fox melakukan sejumlah aksi mulai dari mengikuti kemana saja Sir Lawrence pergi hingga menyusup ke kantornya dan memeriksa berkas-berkasnya. Dari informasi yang diperoleh Bud Fox, Gordon Gekko berhasil mengalahkan dan mempermainkan Sir Lawrence Wildman yang dianggapnya sebagai musuh.

Tak lama kemudian, Bluestar mengalami penurunan dimana beberapa pegawainya mulai di PHK. Mengetahui hal tersebut Gordon Gekko bertindak cepat. Bud Fox membujuk Gordon Gekko untuk menyelamatkan Bluestar namun ternyata Gordon Gekko berniat membubarkan Bluestar dan menjual aset-asetnya untuk membangun bisnis lain karena dinilai akan lebih menguntungkan. Mengetahui hal tersebut Bud Fox bekerja sama dengan rekan-rekan sesama brokernya agar banyak yang membeli saham Bluestar yang hingga akhirnya saham tersebut harganya naik. Kemudian secara serentak Bud Fox dan rekan-rekannya menjadikan saham-saham Bluestar dijual besar-besaran yang menjadikan harga saham turun drastis dan memaksa Gordon Gekko untuk menjual seluruh saham Bluestar yang dimilikinya. Ketika harga saham rendah Sir Lawrence Wildman membeli seluruh saham Bluestar dengan tujuan mengembangkan perusahaan tersebut. Akhir cerita Bud Fox diadili karena telah melakukan hal terlarang begitu juga dengan Gordon Gekko. Qoyimah menambahkan begitulah para pemilik modal dapat mempengaruhi kondisi sebuah perusahaan termasuk sebuah negara.

Arieo Prakoso, Staf PSDM menanyakan apakah ada aturan-aturan yang mencegah permainan pemilik modal terhadap kondisi perusahaan maupun negara terjadi. Ditanggapi oleh Qoyimah bahwa menurutnya memang permainannya seperti itu. Kemudian Arieo menyimpulkan bahwa Indonesia bisa dipermainkan seperti itu kapan saja. Lalu apakah permainan seperti itu dapat dikaitkan dengan permasalahan sekarang?

Rahmat Wahana, peserta diskusi menjawab dengan memberi contoh Bali Nine dimana Bali nine adalah hukuman mati yang diterima warga negara asing. Pemilik saham perusahaan Indonesia mayoritas asing. Ketika kebijakan Jokowi tidak dapat dinegosiasi lagi maka banyak investor asing menjual saham perusahaan Indonesia secara serentak. “IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) ya langsung anjlok, merah, perekonomian menurun,” tambah Rahmat.

Kemudian Qoyimah menambahkan sebab menurunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika salah satunya karena saat ini perekonomian Amerika tengah naik sedang perekonomian Indonesia tetap. Apalagi ditambah dengan yang telah dicontohkan Rahmat sebelumnya. Kemudian menjawab pertanyaan Arieo mengenai konteks isu yang mempengaruhi harga saham, Rahmat menerangkan bahwa harga saham sangat berkaitan dengan isu. Seperti Bluestar dimana harganya turun ketika ada isu Bluestar melakukan kesalahan sahamnya turun, kemudian Gekko mengetahui bahwa kemungkinan Bluestar dinyatakan tidak bersalah dan membeli saham Bluestar ketika masih rendah. Kemudian dari hasil pengadilan ternyata Bluestar tidak bersalah maka harga saham naik. Hal tersebut sesuai dengan prinsip ekonomi dimana semakin tinggi permintaan harga semakin tinggi pula.

Arieo menyimpulkan bahwa selama investor asing masih menanam modal di Indonesia, maka Indonesia tidak akan pernah aman dalam stabilitas ekonomi. Kemudian Robby Sanjaya, salah satu peserta diskusi, balik bertanya, “Yang punya uang triliun an siapa? Siapa lagi kalau bukan orang asing?” Dengan negara memberikan modal kepada pengusaha tidak menjadi jalan keluar karena menurut Robby negara saja memerlukan investor.

Kemudian menurut Rahmat Indonesia tidak dapat lepas dari investor asing karena mereka memiliki uang yang banyak sedang perusahaan Indonesia membutuhkan banyak uang. Kemudian Arieo mempertanyakan lagi kapan Indonesia bisa stabil tanpa bergantung pemodal asing melihat Amerika yang dulu juga dijajah namun sekarang bisa dibilang menguasai dunia. Desy Rahmawati, Koordinator PSDM menanggapi bahwa salah satu sebab mengapa perekonomian Indonesia belum stabil karena Indonesia belum memasuki masa bonus demografi. Bonus demografi adalah masa dimana penduduk produktif lebih banyak dari pada yang tidak produktif, sehingga penduduk produktif bisa membuka lapangan pekerjaan untuk penduduk yang tidak produktif. Salah satu sebab Indonesia tidak produktif salah satunya dari segi kesehatan dan faktor-faktor lain.

Untuk itulah Usaha Kecil Menengah (UKM) perlu diberdayakan lagi, karena menurut Qoyimah UKM tidak mudah terpengaruh isu-isu internasional. Hal tersebut karena UKM sistem permodalannya tidak dengan saham. Namun UKM terkendala masalah ekspor-impor. Arieo menambahkan bahwa untuk meminimalisir peran-peran asing ada wacana mengembangkan dan meningkatkan wirausaha agar masyarakat mandiri dan tidak terpengaruh terhadap isu-isu asing namun dilihat sekarang mayoritas penduduk Indonesia adalah karyawan. Contoh negara dengan masyarakat mandiri seperti Cina yang setiap keluarga punya usaha sendiri. Selain itu menurut Arieo krisis 1998 diselamatkan karena usaha-usaha pasar tradisional.

Mengenai harga saham ketika pemilu berlangsung, Desi menanggapi bahwa pemilu mempengaruhi investor karena tergantung dari siapa yang memimpin maka kebijakannya akan seperti apa. Kemudian Fahmi Ahmad, peserta diskusi berpendapat bahwa krisis 1998 dulu salah satu penyebabnya adalah kurangnya badan pengawas seperti Badan Pengawas Pasar Modal & Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) maupun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) maka banyak terjadi kecurangan. Banyaknya utang luar negeri juga disebabkan oleh kurangnya pengawasan. Untuk krisis 1998 yang berhubungan dengan George Soros, Fahmi berpendapat ada pengaruh politik yang ingin menghancurkan Indonesia seakan George merupakan agen dari Amerika. George memainkan dolar yang mengakibatkan cadangan dolar rendah dan utang luar negeri tidak dapat dilunasi karena dolar langka.

Mengenai rupiah yang terus melemah belakangan ini, Qoyimah mengatakan bahwa salah satu penyebabnya adalah perekonomian Amerika yang meningkat sedang perekonomian Indonesia tetap. Isunya kenaikan harga BBM digunakan untuk menambah cadangan devisa negara yang berpengaruh dengan nilai tukar. Fahmi menambahkan ketika nilai tukar rupiah terdepresiasi, maka Indonesia menerapkan serangkaian kebijakan untuk meningkatkan cadangan devisa seperti menaikkan harga BBM dan kebijakan visa sehingga banyak warga asing yang berkunjung ke Indonesia yang mempengaruhi peredaran dolar.

Kemudian Arieo mempertanyakan maksud gerakan non blok yang menurutnya merupakan usaha Soekarno terlepas dari Amerika. Dengan gerakan non blok tersebut diharapkan perputaran uang tidak berada diluarnya karena seperti yang pernah dibaca bahwa gerakan non blok terbentuk ketika Indonesia membutuhkan dana yang besar. Ditanggapi oleh Qoyimah yang menurutnya gerakan non blok bukan berarti seperti itu, walaupun begitu Amerika tetap bisa membeli saham Indonesia. Mungkin pengaruhnya pada kemauan asing berinvestasi di Indonesia. Ditambahkan Robby bahwa menurutnya gerakan non blok hanya bersifat politik.

Diskusi ditutup dengan Udi, peserta diskusi, yang menjelaskan hal-hal terkait kondisi perekonomian Indonesia yang sifatnya terkait dengan nilai mata uang kebijakannya di Bank Indonesia, inflasi, nilai tukar rupiah. Kalau tingkat dunia yang berlaku sebagai Bank Indonesia itu World Bank. Selain itu Khudi juga menjelaskan bahwa kebijakan fiskal adalah kebijakan yang mengahmbur-hamburkankan uang, kaitannya dengan jumlah uang yang ada serta tidak berbicara nilai uang maupun nilai uang masa depan. Kebijakan fiskal adalah bagaimana mengelola uang secara fisik sedang kebijakan moneter berbicara mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi nilai uang.

Baca juga

Terbaru