an image
Suwarsono Muhammad, Ketua Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia (YBW UII) saat diwawancarai di ruangannya di kantor YBW UII, Kamis (16/08). Foto oleh: Himmah/Dhia Ananta
REPORTASE

Suwarsono: Pekerjaan Utama Yayasan Itu Membangun Kekuatan Ekonomi

Dinda Tri Lestari
01 November 2018, 05:33 WIB

Pada buku Sejarah dan Dinamika Universitas Islam Indonesia menerangkan bahwa Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia (BW UII) adalah sebuah badan hukum yang bertujuan untuk menyelenggarakan dakwah islamiah melalui pendidikan, dengan mengembangkan ilmu amaliah dan amal ilmiah, dalam rangka melahirkan pemimpin-pemimpin umat dan bangsa yang mampu membawa rahmat bagi umat manusia.

Badan Wakaf UII memiliki empat organ kepengurusan, yaitu dewan pengurus, pengurus harian, kantor perbendaharaan, dan lembaha pengawas dan pengadilan.

Pada tanggal 10 Agustus 2018, Luthfi Hasan selaku Ketua Dewan Pembina Yayasan BW UII melantik Suwarsono Muhammad sebagai Ketua Umum Pengurus Yayasan BW UII baru dan jajarannya untuk periode 2018-2023. Sebelumnya, Suwarsono merupakan Ketua Bidang Bisnis Yayasan BW UII pada tahun 2008-2013.

Suwarsono adalah dokter perusahaan yang kesehariannya berpofesi sebagai dosen di Fakultas Ekonomi, Magister Manajemen, dan Magister Teknik Industri di UII.

Suwarsono juga membuka perpustakaan pribadinya untuk umum sejak tanggal 27 Mei 2017. Perpustakaan tersebut berlokasi di bangunan yang terletak di atas tanah seluas 300 meter persegi di Yogyakarta. Perpustakaan tersebut memiliki buku berjumlah sekitar 3.500 buku. Sebagian besar buku tersebut berbahasa Inggris. Semua buku dikumpulkan dalam waktu kurang lebih 30 tahun. Banyak diantaranya yang dibelinya semaka kuliah di Amerika.

Reporter Himmahonline.id berkesempatan menemui Suwarsono Muhammad di kantor Yayasan BW di Jalan Cik Dik Tiro No 1. Selain Suwarsono, di kantor tersebut turut hadir juga Suharto selaku bendahara, Sularno selaku Ketua Pemberdayaan Masyarakat, dan Muqodim selaku Ketua Pengembangan Usaha Yayasan BW UII.

Mengapa pelantikan Pengurus Yayasan BW terkesan diam-diam atau tidak semeriah pelantikan rektor sebelumnya?

Pelantikan ya terkesan diam-diam, memang begitu BW. Jadi kami ini tidak perlu diekspos besar-besaran. Pemilihannya berdasarkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga BW. Yayasan BW itu kan tiga macam yang pertama disebut pembina.

Itu di anggaran dasar jadi tidak kita karang-karang sendiri undang-undangnya juga mengatakan begitu. Yang kedua ada pengawas dan terakhir ada pengurus sehingga anggota pembina kita itu sekarang jumlahnya kurang lebih sekitar 30-an lebih gitu. Di Yayasan BW ini ada orang internal UII dan juga orang luar UII.

Bisa ada kemungkinan berubah keanggotaannya?

Ya kalau ada yang meninggal ya berubah, mundur berhenti ya kan? Dulu 37 anggota mungkin kan sudah ada yang meninggal, nanti kalau sudah meninggal atau berhenti ya diganti. Nah ,ketua umum seperti saya ini syaratnya harus menjadi anggota pembina dulu. Selain ketua pengurus kayak saya, ada ketua umum, ketua-ketua bidang, seperti bidang pendidikan, bidang bisnis, bidang pemberdayaan masyarakat, kemudian ada bendahara dan sekretaris.

Totalnya ada enam pengurus, dari enam orang ini yang disyaratkan menjadi ketua umum itu harus dari pembina kalau yang ketua bidang, bendahara, dan macam lainnya itu anggota pembina atau dosen tetap.

Pengurus Yayasan BW itu alumni UII semua?

Saya alumni UII, Pak Sularno alumni UII, Pak Muqodim alumni UGM. Dari enam pengurus Yayasan BW itu, yang alumni UII ada tiga, yang tiga lagi dari luar UII. Jadi, fifty fifty.

Apa yang akan Anda lakukan untuk kepengurusan BW ke depan?

Alhamdulillah ya Badan Wakaf selama kurang lebih 20 tahun ini semakin hari semakin baik. Pengertian semakin baik itu kalau yang ideal ya kinerjanya kinerja sebagai yayasan. Dilihat dari jumlah waktu yang kita berikan untuk yayasan juga semakin baik.

Kita berusaha mendekati yang ideal, itu caranya kita harus semakin kuat secara ekonomi. Pilar kita itu tiga ketua bidang tadi. Itu bidang pendidikan, bidang pemberdayaan masyarakat, kemudian bisnis. Semua itu untuk mendorong majunya pendidikan. Pendidikan di Badan Wakaf itu kan ada tiga ya, sekarang perguruan tinggi, SMA, PAUD, dan TK. Kalau kita berhasil membangun kekuatan ekonomi lebih besar maka diharapkan memiliki efek yang positif terhadap kualitas pendidikan yang dikelola oleh Badan Wakaf UII.

Nah, karena kita ini banyak urusan dengan universitas, SMA, dan PAUD, kemudian rumah sakit, hotel, bank, pom bensin, radio, apotek, dan lain-lain ya kita ingin semuanya baik-baik. Komunikasinya lancar. Kita ingin bekerja dengan cara-cara damai, inklusif gitu, ya tertutup, ya relatif terbuka.

Apakah akan ada perubahan yang signifikan dibanding sebelumnya?

Ya perubahan itu mesti terjadi. Dari kemarin kan sudah direncanakan ada proyek yang dilanjutkan dan ada yang baru. Misalnya, Rumah Sakit UII di Bantul itu kan sedang dibangun sekarang, ya kira-kira sudah 90% selesai fisiknya. Mungkin diharapkan pada bulan Oktober atau November bisa soft launching.

Kalau Badan Wakaf itu kan simpel saja, yang perlu top itu kan pendidikan, ya enggak? Kita ini kan dapur di belakang. Bukannya mau tertutup tetapi ada yang perlu diketahui masyarakat dan ada yang biasa-biasa saja. Rumah Sakit UII di Bantul investasinya juga besar, harus kalian jaga. Kami juga bekerja sama dengan yayasan Bulog untuk membangun RS Jogja International Hospital (JIH) di Solo.

Namanya tetap JIH?

Iya, di Solo namanya tetap JIH. Terus kami merencanakan juga membangun RS di Purwokerto. Jadi kami memilih kota-kota yang damai dari sisi persaingan, artinya belum dimasuki oleh RS-RS besar.

Itu yang RS Purwokerto masih perencanaan ya?

Tanahnya sudah ada, sudah beli, tapi belum didesain, tapi insyaallah pada tahun 2019 mungkin mulai perencanaan gitu ya.

Kenapa fokusnya hanya di RS? Enggak misalnya membuat SD atau SMP yang sesuai dengan pendidikan?

Badan Wakaf kan tidak harus dengan pendidikannya. SMU juga mau kita bangun, SMU juga mau kita pindahkan. Itu sudah ada tanahnya, kita mau bikin yang gagah kayak SMA Taruna gitu.

Nah, kan yayasan tuh pekerjaan utamanya tadi membangun kekuatan ekonomi. Bisnis yang sudah ngerti kita itu kan bisnis RS ya ndak? Bisnis hotel, bisnis bank, jangan melebar kemana-mana kan tidak ngerti ilmunya, ya jadi fokus RS saja diperbanyak. Kan sudah ngerti ya ndak? Kalau macam-macam malah enggak kuat pikirannya

Mengapa Yayasan BW kurang dalam publikasi situs web ataupun media sosial?

Ya tadi seperti yang disampaikan, kita itu lebih banyak di belakang layar. Ya nanti kita pertimbangkan untuk website karena itu informasi-informasi umum kan. Zaman sekarang kalau enggak punya website ya rodo kebangetan ya, agak saru ya.

Banyak respons yang mengatakan ini, UII bisnisnya banyak tapi SPP-nya kerap naik.

Itu dua hal yang berbeda.

Bisa dijelaskan?

Suharto : Jadi begini, untuk dana pendidikan ya. Kenapa itu naik terus? Satu, karena memang barangkali biaya-biaya juga ikut naik, mungkin ada kenaikan gaji, mungkin ada kenaikan harga macam-macam, kira kira seperti itu. Kemudian juga pembangunan yang ada terkait pendidikan, sekarang ada Fakultas Hukum, Fakultas Agama juga mau dibangun, rektorat juga berencana begitu. Nah, saya kira yang paling penting yang menjadi perhatian kita itu sebenarnya mungkinkah penggunaan uang itu inefisien?

Jadi konteksnya seperti itu, jadi sekali lagi kalau dana pendidikan itu ya hampir semua untuk pendidikan. Untuk pendidikan tadi itu ya sebagian mungkin untuk sosial. Ada sosial kalau misalnya lembaga-lembaga minta sesuatu kepada kita terkait ulang tahun, terkait apa ya kita juga studi di Lombok, ya kita juga punya dana, seperti itu. Jadi, ini sekaligus sebagai pencerahaan. Jangan kemudian, ‘Wah ini untuk bisnis terus ini?’ Ya ndak ini sama sekali.

Pernah ada salah satu komentar di postingan Instagram UII yang mengatakan bahwa pembangunan RS UII itu sebab ada pemutusan kerja sama dengan JIH. JIH tidak mau dijadikan tempat pendidikan dari Fakultas Kedokteran UII sehingga Yayasan BW menarik semua saham dan membangun RS di Bantul. Apakah itu benar?

Hoaks itu. Yang ada kita punya saham 100%. Tujuan pembangunan JIH itu sejak awal untuk mencari uang. Repotnya kalau anda lihat BUMN ya apa BUMD, itu kan ada fungsi bisnisnya, ada fungsi sosialnya, jadi satu, kan ruwet itu ya toh? Nah kita enggak ingin begitu. RS didesain dalam tanda kutip nih sebagai fungsi bisnis ya bisnis saja, gitu ya kan? Saham kita tetap 100%, enggak ada (pemutusan kerja sama-red) dan itu enggak bener. Itu RS maju sekali ya kan? Rugi kita nanti, ya toh? Itu kalau dijual saja dibeli orang.

Pada buku Sejarah dan Dinamika UII, keputusan tertinggi itu mutlak di Yayasan BW. Apakah memang benar semua, termasuk keputusan ketika UII melakukan pembangunan harus ada keputusan resmi dari Yayasan BW baru bisa dibangun?

Jadi begini, yang punya legalitas hukum itu yayasannya. Jadi universitas, fakultas, itu bukan legalitas hukum, karena yang punya legalitas hukum itu yayasan. Ya otomatis yayasan ini institusi yang punya hak untuk mengambil keputusan-keputusan, tapi bukan berarti semuanya ini kita putuskan.

Pilihan rektor kan berasal dari senat dulu, senat universitas, baru dikirim ke sini, kita sahkan legalitasnya di sini. Peraturan-peraturan juga gitu, mungkin kita punya usul peraturan, kita sahkan, mungkin bisa usulan datang dari universitas disahkan, mungkin peraturan tidak perlu dibawa ke sini, cukup jadi peraturan universitas, cukup jadi peraturan fakultas, cukup jadi peraturan rektor, peraturan dekan, gitu, ada jenjangnya sendiri.

Pada buku 9 windu UII, lirik pada Himne UII berubah di tahun 2002 dan kata Tri Dharma yang digunakan sejak 1977 berubah menjadi Catur Dharma itu, apa sebabnya?

Saya enggak tahu detailnya ya. Kami masih muda waktu itu. Kira-kira begini, UII itu kan harus beda dengan perguruan tinggi lain. Kalau kita sebut Tri Dharma ya sama dengan universitas-universitas lain. Kemudian yang membedakan kita apa? Ya agama Islam itu. Makanya kan Catur Dharma, yang keempatnya dakwah islamiah, di samping yang pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

Saya kira itu background-nya yang saya tahu ya. Background itu justru positif toh? Ciri khas bedanya UII dengan yang lain. Misalkan, kita mau membangun lembaga kebudayaan, masa yang punya lembaga kebudayaan cuma Kompas dengan Bentara Budayanya itu loh. UGM juga punya Lembaga Kebudayaan Koesnadi ya kan.

Nah kita mau bikin nih. Sudah mau kita pikirkan, dirapatkan baru sekali. Ya diharapkan pada bulan November sampai Desember nanti ada soft launching lembaga kebudayaan milik kita. Itu bagian dari dakwah dengan cara-cara yang lebih soft, gitu.

Rencananya dibangun di mana?

Di sini, di Cik Di Tiro. Nanti auditorium itu akan kita ubah sedikit supaya sekaligus bisa buat pameran, pentas-pentas, ya misalnya ada pameran tentang haji. Nah, nanti ada monografnya. Nanti kalau pamerannya sepuluh kali mungkin monografnya dua kali ya. Yang serius kita ambil dari yang sepuluh itu misalnya.

Karena dulu waktu berdirinya UII kan ada dua organisasi ya yang melatarbelakangi namanya MIAI sama Masyumi. MIAI itu Majelis Islam A'la Indonesia. Dia punya lembaga kebudayaan. Dia punya empat program utama sama dua program pembantu. Program utamanya itu mendirikan masjid, mendirikan Baitul Mal, kemudian mendirikan Sekolah Tinggi Islam, kemudian mendirikan suara MIAI kaya pers gitu.

Nah, program tambahannya itu mendirikan perpustakaan Islam dan lembaga kebudayaan Islam. Nah, perpustakaan Islam itu yang dulu di Malioboro. Sekarang sudah tutup, dipindahkan ke UII.

Perpustakaan UII sekarang yang di kampus terpadu?

Bukan. Sebagian dari koleksi bukunya itu dipindahkan ke perpustakaan UII sehingga kami ingin membantu mewujudkan ide yang dulu pernah ada pada tahun 40-an itu, tahun 43 persisnya kira-kira.

Bagaimana hubungan jajaran pengurus, pembina dan pengawas Yayasan BW dengan pimpinan universitas?

Kami baik-baik saja, jadi kami sudah sering ketemu, kemarin terakhir ketemu. Itu kami punya prinsip ya tadi itu damai, komunikasi, terbuka, pokoknya kalau ada masalah dirapatkan bersama, saling menghargai.

Saling ngewongke-wong, ya kan, enggak boleh kita konflik, enggak boleh ya. Kalau organisasi itu diisi dengan konflik, ya malah enggak karu-karuan, malah terbuka keluar, capek, malu juga. Yang penting juga ya saling paham lah. Kami ini kan termasuk generasi yang sudah tidak terlalu tua kan, jadi beda ya, cara berkomunikasinya ya lebih enak itulah. Jadi tidak ada masalah. Sampai hari ini enggak ada. Alhamdulillah, semoga.

Sebelumnya sudah saling kenal dengan pimpinan universitas?

Oh ya, kenal akrab. Kita itu kan juga dosen di UII. Untuk mencapai posisi yang semakin tinggi itu kan belajarnya lama, tidak serta-merta jadi dosen muda terus jadi ketua umum, ndak ya to. Mereka juga pasti punya pengalaman berorganisasi, sudah kenal, sudah biasa rapat, sudah biasa ketemu, ya ndak? Jadi tidak mungkin orang muda di posisi tertinggi, ya ndak, gunanya itu.

Sebagai alumni UII, bagaimana Anda melihat lembaga kemahasiswaan hari ini?

Namanya anak muda itu ya normal lah kalau harusnya kritis, berjuang, berkeringat, sampai hari ini saya lihat oke. Sekarang zamannya orientasi bisnis anak muda cukup kuat di kalangan mahasiswa jadi pengusaha ya kan.Tapi kami takutkan adalah orientasi instan, semua ingin cepat.

Semua proses itu perlu belajar juga. Melatih kesabaran juga. Kan ndak bisa umur 30 jadi direktur utama, tapi kalau secara umum dibandingkan dengan mahasiswa swasta lain, ya kita lebih baik. Mahasiswa masih aktif, masih punya pers, masih punya rencana tahunan setiap tahun ada rapat mahasiswa.

Yang kurang mungkin ini tidak hanya di UII ya, enggak cuma mahasiswa UII ya. Mahasiswa Yogyakarta itu dikenal satu, enggak bisa Bahasa Inggris. Dua, enggak bisa menyetir mobil. Tiga, setia jadi alumni kalau kerja di perusahaan itu ya kerasan di situ, loyal. Beda dengan alumni ITB, alumni ITB itu bisa Bahasa Inggris, bisa menyetir mobil, ya mungkin itu lingkungan ya, lingkungan itu pengaruh.

Mahasiswa UII juga enggak, mungkin yang perlu ditambah yang positif-positif tadi itu. Di samping suka berorganisasi, kompetisinya juga ditambahin, itu enggak mudah juga, kan zaman sedikit berubah. Kalau zaman dulu, namanya kuliah umum itu wah ideologi. Sekarang kuliah umum itu ada kewirausahaan gitu, iya kan, jadi memang zamannya sudah berbeda ya, tapi kami masih okelah, ditambah sedikit saja.

Sebelumnya, Anda pernah menjadi penasihat KPK dan mundur bertepatan dengan kasus kriminalisasi Abraham Samad dan Bambang Wijayanto. Bagaimana cerita sebenarnya?

Saya mundur setelah kasus kriminalisasi itu selesai. Kasusnya kan terjadi pada bulan Desember 2014. Nah kira-kira bulan Maret sampai April itu sudah selesai artinya tidak ada permasalahan lagi kasus itu sudah selesai sudah tenang. Kemudian saya mundur bulan Mei atau Juni gitu ya karena ketidakcocokan. Ketidakcocokannya tidak usah diceritakan ya, saya belum pernah cerita untuk pers, ndak enak buat diceritakan.

Kemudian setelah ketidakcocokan itu mendingin gitu, saya ditarik kembali menjadi redaktur di KPK sampai sekarang. Saya juga punya tugas kayak saudara ini. Misalnya, kemarin redaktur ini juga menerbitkan Jurnal Integritas. Alhamdulillah jurnal kita sudah bisa dinikmati. Baru selesai semalam hari ini karena saya menjadi salah satu redaktur pelaksana di jurnal ini.

Setelah saya berhenti dari penasihat kemudian suasana di KPK sudah lebih damai, nah saya diminta masuk kembali. Cuma orang ndak banyak tahu. Yang diketahui berhenti setelah penasehat dan tidak kembali.

Sampai sekarang masih pak menjadi redaktur?

Masih-masih. Dengan pegawai KPK saya ndak ada masalah apa-apa tapi saya punya masalah ya dengan pimpinan KPK pengganti pak Abraham.

Pertanyaan terakhir, Anda banyak nulis buku dan jurnal. Adakah salah satu buku atau jurnal yang sangat direkomendasikan dibaca oleh mahasiswa?

Ya buku yang saya suka itu yang paling baru itu. Buku saya banyak ada sepuluh atau sebelas. Yang saya paling suka sekarang itu yang Arab Kuno dan Islam: Dari Kapitalisme Perdagangan ke Kapitalisme Religius. Nah, itu yang saya paling suka karena menurut saya buku itu bercerita tentang ya agak beda lah tentang bagaimana Islam itu berkembang di Arab dan bagaimana Islam berkembang di tempat lain. Saya inginnya melanjutkan tapi belum sempat.

Reporter: Dhia Ananta, Multazam, Dinda Tri Lestari

Editor: Niken Caesanda R