an image
Spanduk promosi Cilacs terpasang di Jalan Catur Darma, Universitas Islam Indonesia, Kamis (4/4/2019). Program Studi Teknik Lingkungan dan Teknik Sipil menjalankan program Cilacs sebagai mata kuliah wajib di tahun pertama kuliah. Foto: Himmah/Ika Rahmanita
REPORTASE

Teknik Lingkungan dan Teknik Sipil Wajibkan Bayar Rp 3,25 Juta untuk Ikut Cilacs

Janneta Filza A.
13 March 2020, 01:49 WIB

“Prodi Teknik Sipil dan Teknik Lingkungan wajib mengikuti Cilacs dengan membayar Rp 3,25 juta. Pembayaran yang diakui mahal oleh Prodi ini memiliki evaluasi sistem jadwal dan materi yang masih terasa seperti materi SMA di mata mahasiswa.” 

Himmah Online, Kampus Terpadu - Program Studi (Prodi) Teknik Lingkungan (TL) dan Teknik Sipil (Teksip) Universitas Islam Indonesia (UII) memberlakukan program pembelajaran bahasa Inggris yang berkolaborasi dengan Cilacs (Center for International Language and Cultural Studies) UII. Program dengan biaya Rp 3,25 juta ini bersifat mengikat dan wajib bagi mahasiswa tahun pertama.

Kepala Program Studi (Kaprodi) Teksip UII, Sri Amini mengatakan alasan pemberlakuan program ini karena tidak sedikit mahasiswa tingkat akhir yang berkendala dengan tes Certificate of English Proficiency Test (CEPT). Banyak di antara mahasiswa yang tak mampu memenuhi memenuhi nilai batas minimal CEPT yakni 425.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Kaprodi Teknik Lingkungan, Eko Siswoyo. Oleh karena itu kedua prodi kemudian sepakat untuk bekerja sama dengan CILACS, memasukkan program pembelajaran bahasa Inggris sebagai persiapan tes CEPT yang wajib diikuti seluruh mahasiswa.  

“Hasil evaluasi analisa prodi bahwa untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris mahasiswa. Kemudian ada beberapa mahasiswa itu yang alasannya dipanggil diskusi TA (red- tugas akhir). Kemudian untuk menjembatani itu akan lebih efektif dan murah kalau kursusnya itu langsung di-organize oleh jurusan, kita bekerja sama dengan Cilacs.” kata Eko.

Prodi Teknik Lingkungan telah menerapkan program ini sejak 2014 lalu. Sementera Prodi Teksip baru mengikuti jejak prodi tetangganya itu pada 2017, dan saat ini masih dalam hadap pengembangan.

“Jadi kita masih beradaptasi sama perbaikan sistemnya,” tutur Sekretaris Prodi Teksip sekaligus pengurus administrasi Cilacs Teksip, Deska Arini.

Diakuinya pula program Cilacs Teksip memang mencontoh prodi TL yang telah menerapkan Cilacs lebih lama dan dirasa memberikan dampak yang cukup signifikan pada skill mahasiswa untuk menghadapi tes CEPT.

Biaya Program Cilacs Satu Tahun

Program Cilacs masuk dalam penilaian Mata Kuliah Umum (MKU) bahasa Inggris sejumlah dua Sistem Kredit Semester (SKS). Namun tidak selayaknya MKU biasa, dengan Cilacs diberlakukan enam SKS. 

Program MKU bahasa Inggris dua SKS saja tidak cukup untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam berbahasa Inggris yang lancar. Program ini tentu berisi materi yang menunjang mahasiswa menghadapi tes CEPT di tahun terakhir.

Mahasiswa TL dan Teksip tidak perlu membayar MKU bahasa Inggris 2 SKS. Mahasiswa hanya ditagih membayar program Cilacs selama satu tahun sebesar Rp 2,9 juta untuk program reguler sedangkan untuk program plus Rp 3,25 juta yang telah tertera pada brosur program Cilacs. 

Program plus mencakup kelas bahasa Inggris intensif dan CEPT short course sedangkan program reguler hanya kelas bahasa Inggris intensif. Mahasiswa berhak memilih sendiri program yang akan mereka ambil, entah itu program plus ataupun program reguler.

“Waktu semester satu lalu, ada bayar Rp 1,5-an juta, Cuma untuk semester dua nanti belum tau. Tagihannya kan langsung dikirim ke email orang tua, jadi kami ndak tau.” Ujar Nanda.

Saat dikonfirmasi kembali dengan melihat brosur program Cilacs, biaya angsuran pertama, mahasiswa wajib membayar Rp 1,7 juta untuk semua pilihan program lalu selanjutnya angsuran kedua Rp 1,2 juta untuk program reguler dan Rp 1,55 juta untuk program plus.

Prodi Menyadari Biaya Cilacs Mahal

Terdapat sosialisasi pengadaan Cilacs di awal semester satu, sejumlah uang yang dibayarkan tentu menjadi keresahan sejumlah mahasiswa. Dibanding dengan MKU bahasa Inggris biasa yang hanya memakan biaya dua SKS, program Cilacs ini mengharuskan mahasiswanya membayar kira-kira hingga sembilan kali lipatnya. 

Pihak prodi memahami jika mahasiswa mengeluhkan masalah pembiayaan bahkan saat ditemui Reporter Himmah Online, Sri terkejut mengetahui mahasiswanya membayar biaya cukup tinggi untuk program Cilacs. Kaprodi TL sendiri telah menyadari masalah tersebut, namun memang belum ada penyelesaiannya. 

“Untuk masalah pembiayaan, kita itu masih belum dapat funding yang bisa mensponsori begitu,” ungkap Eko. 

Bagi mahasiswa Teksip, pembiayaan ini juga bisa menjadi polemik kembali tatkala mahasiswa harus mengulang program Cilacs sebab absensi kurang dengan tidak hadir lebih dari tiga kali. 

Deska menerangkan selama dua tahun program Cilacs berjalan di Teksip, belum ada mahasiswa yang harus mengulang. Jika hal ini sampai terjadi, prodi menyatakan mahasiswa tersebut harus mengulang satu semester dengan membayar separuh biaya Cilacs tahun pertama. 

“Kalau dari nilai mungkin kita (red- prodi) bisa bantu, kalau misalnya dari presensi, itu kan ke-record ya jadinya, otomatis harus bayar karena sudah ada MOU-nya dari Cilacs sendiri” tambah Deska. 

Materi Pembelajaran Cilacs

Tidak hanya mengenai pembiayaan, aspirasi muncul dalam aspek materi yang disampaikan kepada mahasiswa. Selama semester satu, mahasiswa akan mendapatkan materi structure, speaking, dan TOEFL Preparation 1. 

Menginjak semester dua mahasiswa akan mempelajari academic presentation, reading comprehension, serta TOEFL Preparation 2. Hal ini telah tertera pada brosur program Cilacs.

Walaupun seperti itu, Muhammad Reyhan Hanif, mahasiswa Teksip angkatan 2018 tengah menjalani program Cilacs sendiri mengaku materi yang diajarkan hampir sama seperti materi SMA sehingga cukup membosankan. 

Merespon keluhan Reyhan, kedua kaprodi sepakat akan menjadikan isu tersebut sebagai bahan evaluasi dengan Cilacs. 

“Itu nanti akan saya jadikan masukan bagi Cilacs karena saya bilang berkali-kali jangan sampai mahasiswa itu bosan, lihat suasana kelas lah”, kata Eko.

Jadwal Pembelajaran Kurang Tepat

Dalam pelaksanaannya, Cilacs Teksip dan TL dilaksanakan tiga hari dalam seminggu selama satu tahun pertama pembelajaran. Pada semester pertama, mahasiswa Teksip 2018 mendapat jadwal pada hari Rabu sebanyak dua SKS tiap malam hari dan empat SKS pada hari Sabtu. Sedangkan di semester kedua, Cilacs dilaksanakan pada hari Rabu sebanyak empat SKS dan hari Sabtu sebanyak dua SKS. 

Pemberlakuan jadwal Cilacs diatas menuai keluhan dari kalangan mahasiswa, satu di antara datang dari Muhammad Ricky El Fatah. Ia menyatakan pengaturan pembelajaran program Cilacs dilaksanakan pada hari yang kurang tepat. 

Bagi Ricky, jadwal yang diadakan hari Sabtu cukup memberatkan karena selain dilaksanakan pada akhir pekan, sehari sebelumnya yaitu hari Jumat diakuinya saat bertemu Reporter Himmah Online. Seluruh mahasiswa angkatan 2018 tidak memiliki jadwal mata kuliah lain sehingga libur. 

Menjawab dari keluhan itu, Deska Arini menyatakan jadwal tidak bisa dilaksanakan hari Jumat karena terkait ruang pembelajaran yang terbatas. Pihak prodi menyadari serta telah menerima banyak aspirasi mengenai jadwal tersebut. 

Saat ditemui, pihak prodi mengaku masih berupaya menjadwalkan pada hari kerja, namun pihak prodi juga menyatakan tidak bisa memaksakan jadwal kala itu mengingat banyaknya mahasiswa yang asistensi hingga malam. Maka dari itu, jika terpaksa tidak dapat dilakukan pada hari kerja, prodi mengupayakan jadwal di hari Sabtu dengan satu mata pelajaran saja.  

“Biasanya kita jadwal kan terpacu sama ruang kelas sama mahasiswa jadwalnya bisa atau tidak gitu. Walaupun sudah dipaketkan, kalau ruang kelasnya ngga ada, kita juga bingung ya, mau di mana gitu. Karena di FTSP kan sudah mulai banyak prodinya, terpakai semua gitu. Setiap prodi kan punya ruangnya masing-masing.” Imbuh Deska.

Tak hanya Teksip, penjadwalan Cilacs pada Prodi TL juga dikeluhkan mahasiswanya, Nanda. Ia mengeluhkan bahwa program Cilacs di TL dilaksanakan pukul 15.30 pada tiap hari Senin, Rabu, dan Jumat. Jadwal yang selalu dilaksanakan sore hari ini dirasa kurang efektif serta tak jarang mahasiswa merasakan kantuk. 

Jadwal yang diberlakukan ini menurut Eko tidak dapat dilaksanakan pagi hari sebab terhambat mata kuliah lain. Selain itu, mahasiswa TL memiliki jadwal kuliah pribadi yang berbeda sedangkan Cilacs sendiri mengadakan kelas serentak dalam satu waktu yang bersamaan untuk seluruh mahasiswa tahun pertama. 

“Karena mereka itu mahasiswa baru, jadwal yang semuanya bisa itu ya sore, yang tidak ada perkuliahan.” Jelas kaprodi TL tersebut. 

Pihak prodi sudah memahami tingkat efektivitas pembelajaran di sore hari tentu akan berbeda dengan pagi hari, untuk itu prodi telah berupaya mendorong Cilacs untuk menyajikan proses belajar-mengajar yang aktif, dalam istilah Eko, having fun with English.

Penulis: Janneta Filza A.

Reporter: Janneta Filza A., Hersa Ajeng Priska, Ika Rahmanita

Editor: Armarizki Khoirunnisa D.