Armarizki Khoirunnisa D.

Mahasiswa Psikologi 2017, tukang takon Himmahonline.id

Tradisi Mudik dan Pelampiasan dari Penatnya Pola Masyarakat Urban

an image
Ilustrasi: Himmah/Pradipta Kurniawan
14 May 2020, 01:16 WIB

Tradisi mudik kini tampak mulai menjadi perbincangan hangat. Bukan hanya perkara Presiden Jokowi yang buat kita ling-lung antara perbedaan mudik dan pulang kampung, kini masyarakat dihadapkan pada kenyataan pahit. Sudah tidak dapat mudik karena pandemi, ditambah pula tidak dapat berkumpul lebaran dengan sanak saudara nun jauh di sana.

Lalu, apakah tidak adanya mudik ini akan signifikan berpengaruh kepada masyarakat secara luas? Mari kita ulas bersama.

Mudik dalam rangkaian sejarah, dapat ditelaah dari aspek sosio-kultural dan spiritual. Dalam hal sosio-kultural, mudik dimaknai sebagai kebutuhan kultural yang tak lepas dari masyarakat ketika menjelang lebaran. Sedangkan jika ditilik dari akar historisnya, menurut Umar Kayam (2002), tradisi mudik di Indonesia dilacak berasal dari tradisi primordial petani di Jawa jauh sebelum zaman Majapahit. 

Pada saat itu para petani menggunakannya sebagai acara membersihkan kubur leluhur sambil memanjatkan doa kepada para dewa-dewa di khayangan, agar siapa pun yang ingin merantau dari tanah kelahiran diberi keselamatan dan keluarga yang tinggal tidak diterpa banyak masalah. 

Namun, pemaknaan spiritual tersebut kemudian perlahan mulai tenggelam seiring masuknya ajaran Islam ke nusantara, yang kemudian menganggap hal tersebut adalah sebagai bagian dari syirik.

Mudik kemudian mulai eksis sebagai tradisi menjelang lebaran sekitar tahun 1970-an. Karena pada rentang itu, terjadi proses urbanisasi besar-besaran di Indonesia. Di mana masyarakat yang hidup di desa berbondong-bondong ke Jakarta untuk mengadu nasib. 

Saat itulah kebijakan libur panjang menjelang lebaran muncul dan membuat tradisi mudik sebagai suatu momentum bagi para perantau untuk kembali ke kampung halamannya. 

Fenomena mudik tentu sebenarnya tidak lepas dari pemaknaan ruang yang jauh berbeda. Karena mudik berasal dari bahasa Betawi ‘udik’ yang berarti kedesa-desaan. Artinya, mudik adalah proses pulangnya masyarakat desa dari kota menuju kampung halamannya. 

Sifat yang ditonjolkan kota sebagai wilayah modernis, industri, dan di mana budaya terus-menerus dipertukarkan membuat kota sebagai ruang yang dibentuk melalui ‘nurture’. Sedangkan desa, adalah representasi ruang dengan sifat-sifat alamiah manusia yang terus terawat. 

Tentu bagi perantau yang mengadu nasib di kota asing, mudik akan menjadi pengobat batin dan penyeimbang alam bagi mereka yang kian terus diusik oleh modernitas yang membuat sebagian kelas masyarakat dalam bayang-bayang ancaman struktural. 

Berkembangnya kota menjadi kawasan industri nan konsumeris membuat perantau yang mengadu nasib menjadi merasa terasing dengan kehidupan serba individualis sebagai efek domino dari kapitalisme. Jauh dari kehidupan asal mereka di desa yang hidup secara kolektif, saling membantu, dan serba guyub.

Mudik adalah apa yang sewayahnya saya simpulkan seperti kembali ke “alam”. Di sana, manusia-manusia berkumpul untuk menjalankan tradisi kolektif dari hal-hal kecil seperti masak bersama, panen bersama, dan saling bahu membahu mempersiapkan misal, hari lebaran sebagai agenda yang sakral. 

Jauh dari agenda kehidupan kota yang penuh dengan keriuhan atau apa yang disebut Agus Maladi sebagai hidup yang penuh dengan logika fungsional industrialisasi. 

Secara spiritual, mudik disebut tidak hanya menjalankan fungsi sosial-vertikal sebagai dari rangkaian ibadah kepada Tuhan, namun menjalankan fungsi sosial-horizontal dalam rangka bersilaturahmi dan melepas kerinduan pada sanak saudara. 

Sering kali kita mendengar keluarga-keluarga yang memaksa diri untuk pulang mudik walaupun balik dengan modal serba pas-pasan, tidak jarang banyak yang berhutang. 

Bahkan mengemper di tepi stasiun untuk menunggu kereta api dan bus datang segera menjemput mereka kembali ke rumah. Bagi mereka yang sangat paham maknanya menjadi manusia di tanah kelahiran mereka, kerinduan kembali ke ‘alam’ akan mengalahkan apa pun yang menjadi rintangan.

Tentu, ini tidak selamanya berjalan linear. Atau saya menyebutkan bahwa desa adalah tempat yang paling ideal. Toh, sekarang hal itu tidak berlaku dengan fenomena yang kita pandang hari ini sebagai masuknya pola-pola modernis ke desa. Contoh kecil saja, desa-desa yang kemudian didayagunakan sebagai kawasan pariwisata. 

Hal ini tentunya akan membuat desa mulai tergerus perlahan nilainya dengan kultur baru yang serba konsumeris dan hedonis. Tak lain pula, pola kultural kini telah sebagian berubah dan kehilangan makna mudik yang disebutkan di atas. 

Misal, orang-orang yang mengadu nasib di perkotaan kembali ke kampung sebagian memiliki motif untuk memperlihatkan kesuksesan dan pola kehidupannya yang kini telah beradaptasi pada kultur kehidupan modernis. Agus Maladi menyebut fenomena ini kemudian mudik sebagai keretakan budaya.

Lalu bagaimana dengan realita hari ini? Masyarakat yang belum sempat untuk mudik disebabkan pandemi akan cukup merasa terguncang. Tidak ada pilihan lain selain mendekam di tempat berdomisili, berani mudik artinya melanggar aturan pemerintah sekaligus membawa risiko-risiko terjangkit virus yang cepat menyebar ini bersama dirinya. 

Belum lagi tentang buruh yang mayoritas telah kehilangan pekerjaannya dan kini tak dapat pula balik ke kampung halaman, hidup serba dalam ketidakpastian. Atau lagi-lagi seperti penjual tetap Tanah Abang yang saya lihat di berita kehilangan tempat tinggal dan memilih tidur di jalanan, karena tidak sanggup membayar indekosnya. 

Dampak-dampak yang membersamai ini tentu akan berefek pada ranah psikologis. Harapan dalam kembali ke rumah dan merindu kedamaian kampung halaman sebagai salah satu upaya manifestasi terapi diri tidak dapat terwujud. 

Oleh karenanya, percaya tidak percaya, kini saya pun mulai kepada titik pemaknaan dari mudik itu sendiri. Mudik sebagai suatu ritual ternyata tidak hanya dalam rangka bersilaturahmi. Lebih dari itu, saya membutuhkannya sebagai wadah meluapkan rasa rindu kembali melihat asrinya kampung halaman dan segala kedamaian yang tinggal di dalamnya. 

Dan lucunya, kita selalu memaknai suatu hal ketika kita telah berada di luar ‘kotak-kotak’ tersebut.

*Analisis/Retorika ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Himmahonline.id.