Aksi Dukung Agni dan Penyelesaian Kasusnya

Himmah Online, Yogyakarta – Kamis, 8 November 2018, sejumlah mahasiswa, dosen, beserta karyawan berkumpul di Taman San Siro Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gajah Mada (Fisipol UGM) melakukan aksi #KitaAgni. Aksi tersebut merupakan bentuk respon terhadap kasus pemerkosaan yang menimpa Agni–penyintas yang namanya disamarkan–ketika dia masih mengikuti program Kuliah Kerja Nyata 2017 silam.

Caroline Natasya, selaku humas dalam aksi ini mengatakan, “aksi ini tidak lahir dari kita saja (mahasiswa-red), melainkan karyawan dan dosen yang kemudian concern dengan hal ini.”

Menurut Tasya, yang menjadikan kasus pelecehan seksual ini sulit untuk ditangani adalah tidak adanya perspektif terhadap kasus pelecehan seksual yang berpihak kepada penyintas. Muncul anggapan bahwa masyarakat cenderung menjatuhkan korban pelecehan seksual lantaran tidak mampu menjaga perilaku serta tata busana dengan baik.

Tasya pun menambahkan, dalam lingkup kampus, untuk mendorong suatu institusi pendidikan dalam menyelesaikan kasus seperti ini membutuhkan waktu yang sangat lama.

“Apalagi untuk institusi yang memiliki hierarki lebih tinggi seperti Menristekdikti. Institusi ini selalu berdalih tidak memiliki aturan hukum ataupun regulasi yang rinci terkait penindakan kasus seperti ini, mereka justru menyarankan untuk diselesaikan melalui jalur hukum saja,” ucap Tasya.

Bagi Tasya, hal tersebut justru menjadi pertanyaan bagaimana keberpihakan suatu institusi pendidikan terhadap kasus pelecehan seksual seperti yang dialami penyintas. Tasya mengatakan bahwa kasus kekerasan seksual, khususnya di perguruan tinggi ini banyak tetapi belum banyak yang berani untuk membuka suara. Dia juga menyampaikan, aksi #KitaAgni ini merupakan suatu permulaan.

“Aksi ini menjadi sebuah momentum, sebagai suatu sinyal bagi para penyintas yang sudah mencoba mengadvokasi dirinya sendiri tetapi coba untuk dipadamkan terus-menerus,” terang Tasya.

Pada tuntutan yang dibacakan dalam aksi tersebut, massa aksi menuntut kepada universitas untuk menindak secara tegas kepada pelaku pelecehan seksual tersebut, termasuk melakukan pemecatan kepada pelaku. Selain pembacaan tuntutan massa aksi, dalam rangkaian aksi tersebut dilakukan pengumpulan tanda tangan petisi sebagai bentuk dukungan kepada Agni.

Laporan Balairung dan Tindak Lanjut Tim Investigasi

Pada laporan Balairungpress yang ditebitkan 5 November 2018, Agni, sang penyintas terus mengadvokasi dirinya sendiri sejak September 2017. Dari menemui pihak Departemen Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM), Fisipol UGM, dan pendampingan melalui Rifka Annisa. Sampai laporan tersebut diterbitkan dan tim investigasi dibubarkan, Agni belum tahu tahu prosedur penjalanan rekomendasi yang dikeluarkan untuk dirinya dan sanksi yang didapat serta dijalani pelaku.