Cikal Bakal Pemimpin Indonesia

HIMMAH Online, Kampus Terpadu – Kuliah perdana mahasiswa baru Universitas Islam Indonesia (UII) yang bertempat di Auditorium Abdul Kahar Muzakir UII  berlangsung pada hari Senin 14 Agustus 2017. Dalam rangkaian kuliah perdana ini terdapat kuliah umum yang disampaikan oleh Handry Satriago dengan tema “Mahasiswa Berprestasi Pemimpin Masa Depan.”

Handry Satriago selaku pembicara dalam kuliah umum  mengatakan bahwa, “Tujuan akhir dari seorang pemimpin adalah menciptakan pemimpin yang baru.” Ia menjelaskan tiga hal yang penting yaitu,  pertama adalah dunia yang sangat berbeda, kemudian yang kedua yaitu Indonesia, tentang Indonesia dan situasinya di dunia yang semakin penuh perjuangan kemudian yang terakhir tentang kita, serta yang ketiga yaitu apa yang harus kita lakukan sebagai pemimpin Indonesia dan sebagai pemimpin diri kita sendiri.

Handry menuturkan bahwa dunia yang kita hadapi sekarang dikenal dengan istilah ‘VUCA’. Merupakan singkatan dari, V adalah Volatility, U adalah Uncertainty, C  adalah Complexity,  A adalah Ambiguity. Istilah ‘VUCA’ dihubungkan dengan fenomena hoaks yang terjadi akhir-akhir ini terutama di sosial media (Facebook), menghasilkan informasi yang menyebar sedemikian rupa tidak bisa disaring karena penggunanya sengaja membuat ‘gejolak-gejolak’. Penyelesaian hal tersebut yang dibutuhkan adalah kemampuan manusia untuk menggunakan logika serta kemampuan menyaring informasi seteliti mungkin.

Semakin tinggi daya saing suatu negara maka semakin tinggi tingkat kemakmuran negara tersebut. Contohnya, bagaimana besar kecilnya sumber daya alam  suatu negara tidak menjamin daya saing negara tersebut tinggi, salah satunya yaitu negara Swiss. Produk-produk yang  terkenal dari Swiss, seperti jam dan cokelat. Tetapi sumber cokelat di sana tidak besar. Namun, mereka dapat membuat cokelat yang berkualitas dunia.

Sedangkan di Indonesia dengan sumber daya yang  melimpah tetapi hasil ekspornya masih rendah dan hanya mengekspor batu bara (tambang). Jadi, Swiss berusaha memaksimalkan sumber daya manusia dalam kualitas pembuatan produk untuk bersaing dalam perdagangan dunia. Istilah lainnya jauh dari sumber daya alam tetapi menghasilkan nilai yang tinggi.

Ia pun juga berbagi sebuah kisah tentang sebuah jam Rolex seharga delapan milyar. Handry menceritakan bahwa ada seorang yang mengenakan jam Rolex bukan yang asli, lalu ada orang Swiss menegurnya. Orang tersebut menjawab dengan santai, “uang sebanyak itu, bisa saja saya menyewa bodyguard selama berbulan-bulan dalam 24 jam untuk memberitahu saya sekarang jam berapa, “this watch is fake, but time is real.” Dari kisah tersebut menunjukkan bahwa barang seharga delapan milyar itu hanya mementingkan kualitasnya, bukan karena kegunaannya. Uang sebanyak itu lebih layak untuk digunakan untuk hal lain.

Ia pernah berpikir kenapa banyak perusahaan di Indonesia tetapi tidak dipimpin dari Negara sendiri. Lalu dia bertanya pada atasannya saat itu, atasannya menjawab, kalau orang Indonesia “is good offering yes but not good enough offering no.” Sedangkan orang-orang yang hanya bilang iya tetapi tidak memberikan feedback atau input adalah pekerja. Maka dari itu jika ingin menjadi pemimpin, kita harus berani mengutarakan ide, feedback yang kita punya. Terkadang orang sukar untuk mengutarakan ide, solusinya adalah dengan melakukan sesuatu lebih baik. “The essence of management is asking the right questions,” kutipnya.

Berita sebelumyaCikal Bakal Pemimpin Indonesia
Berita berikutnyaMenyambut

Podcast

Baca juga

Terbaru