Peluncuran Buku “Negara, Media, dan Jurnalisme di Indonesia Pasca Orde Baru”: Merawat Jurnalisme yang Baik di Era Disrupsi Digital

Himmah OnlineSebuah buku berjudul “Negara, Media, dan Jurnalisme di Indonesia Pasca Orde Baru” karya Masduki (51), dosen sekaligus profesor di Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Psikologi Sosial Budaya (FPSB) UII baru saja diluncurkan. 

Peluncuran buku tersebut diselenggarakan di Perpustakaan Kampus Terpadu UII pada Selasa (25/06). Peluncuran buku ini dihadiri oleh lebih dari seratus orang yang terdiri dari sivitas akademika UII, tamu undangan, dan lembaga pers mahasiswa dari berbagai kampus.

Buku ini merupakan sebuah kompilasi atas tulisan-tulisan Masduki selama 20 tahun terakhir tentang media dan jurnalisme, serta bagaimana posisi negara sebagai pemangku kebijakan.

Masduki menilai persoalan jurnalisme berkualitas bukan hanya terkait bisnis saja. Terdapat ancaman lain berupa kemunduran jurnalisme karena adanya disrupsi digital. 

“Sekedar clickbait, yang ikut model-model bagaimana algoritma itu menentukan. Jurnalisme baik adalah yang betul-betul berpihak pada publik dan kontennya itu melakukan investigasi atas isu-isu,” tambah Masduki.

Negara sebagai pemangku kebijakan memiliki peran yang penting untuk melindungi jurnalisme berkualitas, “Nah pemerintah, bukan berarti intervensi, bisa melakukan produksi kebijakan agar jurnalisme berkualitas mengalami proteksi,” tambah Masduki.

Dalam acara peluncuran buku tersebut, hadir pula Fathul Wahid sebagai Rektor UII dan Suparman Marzuki sebagai Ketua Yayasan Badan Wakaf UII memberikan sambutan. Dalam sambutan Fathul Wahid mengungkapkan kebahagiaannya atas dua momentum besar di acara tersebut.

“Pertama peluncuran buku yang ini melegitimasi bidangnya Mas Ading (Masduki), media dan jurnalisme. Kedua adalah pameran,” jelas Fathul Wahid dalam pembukaan pada sambutannya.

Lebih lanjut, Fathul Wahid menyampaikan bahwa apa yang ditulis oleh Masduki merupakan bagian dari Aktivisme Intelektual, “Intellectual Activism atau Aktivisme Intelektual, salah satunya adalah mengantarkan yang benar ke atas, yang punya kuasa,” tambah Fathul Wahid.

Menurut Suparman, buku karya Masduki merupakan buku pertama yang membahas tentang peran media dan jurnalistik dalam konteks negara.

“Setahu saya belum ada dalam bahasa indonesia buku yang memberikan studi komprehensif dengan posisi peran media atau jurnalistik dalam konteks negara,” tambah Suparman.

Garin Nugroho (63), seorang sutradara film yang turut hadir dalam acara memberikan tanggapan positif terhadap buku tersebut. Menurutnya buku tersebut mengandung aspek-aspek yang seluruhnya berhubungan dengan komunikasi dan sejarah kenegarawanan.

“Bagus ya, karena memiliki cara pandang yang kritis terhadap situasi, tapi juga memiliki pengetahuan yang lengkap dan sejarah yang lengkap,” ungkap Garin.

Garin menambahkan, bahwa buku tersebut menjelaskan tentang pers dari berbagai aspek. Mulai dari kebijakan, dinamika pasca tahun 1998, studi-studi kasus, dan yang lainnya dengan referensi yang cukup lengkap, “Sehingga sangat penting bagi mahasiswa,” tambah Garin.

Kepada pembaca bukunya, Masduki berharap dapat memberikan pemahaman konteks sejarah yang baik. Ia menilai apa yang terjadi hari ini, pasti dipengaruhi hal-hal yang terjadi pada 10-20 tahun yang lalu.

“Mengapa kita 10-20 tahun yang lalu mengalami masalah A atau B, sekarang kok masih sama, berarti apa maknanya? Kita tidak melakukan apapun,” pungkas Masduki.

Reporter: Himmah/Ibrahim, Agil Hafiz, Magang Himmah/Mochammad Farhan Mumtaz, Zahrah Ibnu Salim

Editor: Ayu Salma Zoraida Kalman

Skip to content