Antara Ekofasisme dan Pembenahan Kehidupan di Tengah Pandemi

Dampak yang ditimbulkan pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) secara global tidak bisa dianggap remeh.Terlihat dari angka kematian mencapai lebih dari 100 ribu jiwa di seluruh dunia dan respon kebijakan berbagai negara dalam menangani pandemi ini.

Hampir di segala lini terkena imbas pandemi ini, khususnya bidang kesehatan, sosial dan ekonomi. Sekiranya tidak berlebihan jika berkata bahwa akibat yang ditimbulkan tidak hanya dalam bentuk penyakit jasmani, melainkan melahirkan suatu stigma. 

Stigma terhadap kelompok tertentu hingga melemahkan perputaran dan pertumbuhan ekonomi. Namun, di tengah semua dampak yang saat ini kita rasakan, terdapat satu dampak yang kiranya memiliki nilai positif yaitu dampak terhadap lingkungan hidup.

Berbagai data dirilis mengenai turunnya kadar nitrogen dioksida di berbagai negara terdampak pandemi. Hal tersebut dikarenakan berhentinya berbagai aktivitas masif seperti kegiatan industri, transportasi yang mengeluarkan emisi, serta berbagai aktivitas lain yang menimbulkan polusi. 

Sehingga tidak sedikit pihak yang berpendapat bahwa Covid-19 merupakan “antibodi” terhadap virus sejati yang ada di bumi ini yaitu manusia itu sendiri.

Bukan hal aneh memang jika banyak yang berpendapat demikian, mengingat hampir semua perusakan dan pencemaran lingkungan hidup pelakunya adalah manusia dengan beragam motif tentunya. Bumi merespon kita sebagai ancaman dan mengeluarkan “antibodi”-nya yang bernama Coronavirus Disease 2019

Narasi seperti ini terdengar familiar bukan? tentu saja saya tidak memiliki kapasitas untuk menyatakan apakah hal tersebut benar secara ilmiah atau tidak. Tapi jujur dalam lubuk hati, saya meng-amini pernyataan tersebut. Didasarkan sifat destruktif kita yang bukan omong kosong belaka.

Tidak perlu selalu menyalahkan para penguasa kita dalam hal perusakan dan pencemaran lingkungan hidup. Coba renungkan saja bagaimana dampak yang ditimbulkan dari minimnya wawasan dan aplikasi hidup ramah lingkungan. 

Mulai dari mengurangi penggunaan plastik dengan membawa tas kantong sendiri. Belum lagi berbagai aktivitas lainnya, bayangkan hal tersebut dilakukan oleh jutaan bahkan milyaran manusia di muka bumi ini. 

Fakta nyata yang terpampang di depan kita saat ini adalah dampak virus ini yang tidak bisa dianggap remeh sekaligus kegiatan destruktif kita terhadap lingkungan. Mulai banyak yang menyatakan bahwa kita manusia lah penyebab semua ini terjadi hingga kitalah “virus” sebenarnya. 

Disinilah letak poin yang sering diistilahkan sebagai “ekofasisme”. Berasal dari kata “eko” yang berarti ekosistem (red: lingkungan) dan “fasisme” yang berarti sebuah kepemimpinan absolut yang harus dipatuhi. Sehingga dapat disimpulkan ekofasisme bermakna suatu kepemimpinan atau ideologi absolut yang harus dipatuhi demi kepentingan lingkungan hidup. 

Terdapat definisi lain tentang ekofasisme menurut Encyclopedia of Religion and Nature (2008). Sejarawan lingkungan kontemporer paling terkenal, Michael Zimmerman, mendefinisikan ekofasisme sebagai “A totalitarian government that requires individuals to sacrifice their interests to the well-being and glory of the ‘land’, understood as the splendid web of life, or the organic whole of nature, including peoples and their states.” 

Berdasarkan definisi tersebut basis ekofasisme berada pada pemerintah dalam bentuk paksaan penerapan suatu kebijakan. Meski begitu, tentu pemaknaan istilah ekofasisme dapat dikaitkan dengan konteks isu yang relevan. 

Tentu saya sangat terbuka untuk membahas ekofasisme, akan tetapi menurut pemahaman saya. Ekofasisme sudah terlihat saat ini, dimana tidak sedikit pihak yang menganggap bahwa korban yang berjatuhan akibat virus ini adalah buah dari aktivitas destruktif kita sendiri. 

Saya tidak ingin memperdebatkan apakah itu benar dan salah, sekali lagi itu soal perspektif. Tetapi hal yang ingin saya tekankan, bahwa nyawa manusia tidak akan bisa di-“daur kembali”. Sedangkan lingkungan kita bisa olah kembali meskipun tidak akan sama seperti kondisi semula. Sehingga rasanya cukup kejam jika kita beranggapan  bahwa 100 ribu nyawa yang berjatuhan akibat virus ini adalah suatu konsekuensi yang wajar.

Bukan berarti tidak memperdulikan keberlangsungan lingkungan hidup. Tetapi pemahaman totaliter dan absolut cenderung menutup ruang komunikasi sehingga menyebabkan kondisi yang semakin sulit. 

Kenyataan bahwa manusia hidup bergantung pada alam adalah suatu keniscayaan. Sehingga hal yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana pemanfaatan dan pembangunan ini dapat berjalan secara berkelanjutan. 

Bukan justru menjustifikasi dari satu sudut pandang saja bahwa semua hal yang kita lakukan di era modern ini bersifat destruktif kepada lingkungan hidup. Inilah poin diskusi yang harusnya mulai terus kita pikirkan dan kembangkan bersama. 

Satu hal yang harus kita percayai bahwa wabah ini merupakan teguran oleh Tuhan. Bahwa kita manusia sejatinya diciptakan sebagai pemimpin di bumi dengan menyebarkan rahmat ke seluruh alam. 

Bukan malah dengan intelektualitas yang kita miliki mendorong melakukan eksploitasi tak beraturan dan berbagai kegiatan yang mendatangkan keuntungan ekonomis tapi merugikan aspek ekologis. Kenyataan politik hukum kita lebih cenderung berat di aspek ekonomi dengan tujuan “kesejahteraan”. Tetapi melupakan keberlanjutan kehidupan manusia di masa yang akan mendatang.

Manusia yang dibekali akal dan pikiran serta kuasa untuk mengatur jalannya berbagai hal di bumi ini. Sehingga dengan kuasa dan intelektualitasnya seharusnya kita bisa berpikir, mengolah, mengevaluasi sepak terjang sejarah kehidupan manusia terhadap lingkungan dimana ia menapakkan kaki, bernafas sedalam mungkin, makan minum hingga mati kelak. 

Bagaimana sikap kita terhadap entitas utama yang menopang kita untuk hidup? Pandangan bahwa sumber daya alam tak terbatas adalah omongan bohong belaka! janji-janji program pembangunan berkelanjutan nyatanya hanyalah konsep yang sulit diterapkan, bukan karena sulit secara konseptual tapi sulit secara politik, ekonomi dan implementasinya.

Kekuasaan politik adalah segalanya saat ini. Lihat bagaimana negara industrial seperti China bisa menerapkan lockdown, semua itu karena adanya kekuasaan politik. Sama halnya di negara lain. Kekuasaan politik lah atas dasar kepentingan kehidupan rakyat sebagai sumber daya dalam menopang aktivitas ekonominya harus diselamatkan. 

Maka hanya dengan kekuasaan politik pula, bumi ini bisa kita selamatkan. Tinggikan rasa kemanusiaan kita! bukan saatnya meng-amini ribuan orang meninggal sebagai suatu hal yang wajar! Saatnya kita sebagai masyarakat biasa saling memahami bahwa kita hanyalah butiran debu dalam susunan alam semesta kepunyaan-Nya. 

Jika kekuasaan politik yang dipegang para penguasa tidak ditujukan untuk pembenahan kehidupan berkelanjutan di masa yang akan datang. Maka kita sebagai kekuatan politik sesungguhnya yang seolah-olah “diwakilkan” harus bergerak. 

Senjatai diri kita dengan pemahaman atas pentingnya menjaga lingkungan. Bergerak aktif mengurangi polusi dengan mengurangi berbagai sebabnya dan aktif mengedukasi siapapun yang bisa kita jangkau. 

Saat kekuasaan politik tersebut tidak mengindahkan adanya kebijakan pembenahan lingkungan sebagai suatu bentuk refleksi atas pandemi yang kita rasakan saat ini. Maka kita harus bergerak bersama sebagai suatu kekuatan massa dalam merubah cara pandang kekuasaan politik yang ada. 

Bukan demi diri sendiri saja, tetapi demi anak, cucu, cicit dan generasi mendatang kelak. Agar mereka mampu melihat sungai mengalir dengan jernihnya, menghirup udara sejuk sedalam-dalamnya, dan bahagia karena mampu melihat birunya langit ciptaan-Nya.

*Analisis/Retorika ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Himmahonline.id.

Podcast

Baca juga

Terbaru