Belajar Dari Mas AE

Mula-mula muncul pemberitahuan di Whatsapp Grup (WAG) yang tanpa pikir saya buka dan membaca isi grup tersebut. Saya terkejut membaca pemberitahuan dari kawan saya bahwa Mas AE meninggal dunia pada Minggu, 12 April siang di Rumah Sakit Polri, Jakarta. Indonesia kehilangan tokoh yang dikagumi oleh banyak orang. Kontribusi besar bagi Indonesia melalui karya-karya-nya yang sampai sekarang sangat perlu dibaca oleh generasi saat ini.

Saya tidak pernah bertemu dan mengetahui bagaimana pengalaman-pengalaman Mas AE secara langsung. Saya mengintip biografi dan perjalanan hidupnya oleh orang-orang yang sangat dekat dengan beliau. Kebetulan saya dekat dengan alumni mahasiswa UII, Fahim Fahmi, Atha Mahmud dan beberapa lainnya, kebetulan bergelut sebagai aktivis di Rumah Gerakan Rode 610 angkatan 80 dan 98-an kalau tidak salah. Saya sering mendengarkan cerita mereka tentang AE Priyono sewaktu menjadi mahasiswa FH UII. Ditambah saya membaca beberapa karyanya yang memukau dan membuka ruang berpikir lebih terbuka. 

Tulisan orang-orang yang dekat dengan beliau, seperti Hamid Basyaib, Mahfud MD, dan lainnya. Saya membaca dan sekaligus mengenang bagaimana perjalanan panjang tokoh pergerakan Indonesia ini. Terutama sekali, saya heran dan kagum ketika melihat banyak sekawanan beliau, pada masa itu, banyak terjun ke panggung politik, beliau lebih memilih untuk bekerja, menekuni dan mengembangkan karya-karya-nya yang besar itu. 

Satu hal yang sangat berkesan tentang Mas AE bagi saya; sebegai generasi milenial, yang juga aktif dalam pergerakan mahasiswa di Rumah Gerakan Rode 610, adalah prinsip hidupnya yang tak pernah lelah dalam berjuang, konsisten, berprinsip dan berani melawan rezim yang represif orde baru. 

Kalo boleh saya sebutkan, buku ‘Api Putih di Kampus Hijau, Gerakan Mahasiswa UII Dekade 1980-an’ yang disunting oleh Mas AE Priyono, semasa saya kuliah semester I FH UII, saya dibuat penasaran dan membacanya. Bagaimana pemberedelan pers mahasiswa oleh rezim orde baru sangat masif dan represif. Mas AE sebagai pemimpin redaksi Himmah UII waktu itu, bisa dibayangkan bagaimana ketekunan, kejelian, dan keberanian menantang rezim diktator Soeharto. Sikap salah satu tokoh memperjelas kiprahnya membangun tatanan baru dikemudian hari. Kita merasakan saat ini.

Saya menyangka perjuangan mas AE terdorong oleh keberpihakan dan sikap pribadi melawan rezim orde baru. Di dalam kepribadiannya, kata Hamid Basyaib, Mas AE Priyono memegang teguh sistem meristokrasi kepada kawan-kawannya dalam satu kelompok. Beliau tidak pernah merasa sebagai senior dan paling berilmu daripada lainnya. Sikap rendah hati dan mempercayakan kepemimpinan kepada orang lain yang dianggap mumpuni adalah patut ditiru oleh generasi sekarang. Sikap tidak menyepelekan kemampuan seseorang, melainkan memberikan kepercayaan besar kepada orang untuk lebih belajar, teliti, objektif dan memberikan pengalaman hebat kepada yang lain bahwa lingkungan yang egaliter dan harmoni itu sangat penting. 

Sabar dan tekun membaca buku membuat AE Priyono tidak berpretensi seakan ia-lah yang memiliki legal standing dalam hal intelektualitas. Ilmu dan pengetahuan-lah yang memang membentuk sikap Mas AE seperti itu. Tidak merendahkan siapapun. Melainkan, menunjukkan sikap peduli dan bekerja sama untuk belajar.

Pengalaman seorang tokoh ini sangat penting bagi kehidupan generasi awal abad 20, apalagi yang berada di lingkungan organisasi pergerakan. Lingkungan yang egaliter dan sikap merisktokrasi kepada kawan-kawan se-penerusnya. Menjadi bagian paling penting dalam mengelola solidaritas perjuangan namun tetap pada garis yang dituliskan dalam buku perjuangan organisasi tersebut.

Sampai kapanpun orang-orang akan mengenang perjalanan panjang tokoh yang dihormati ini. Karya-karya-nya menambah cakrawala ilmu pengetahuan. Apa yang dikerjakan selama ini menjadi saksi sumbangsih besar bagi Indonesia. Tak menyangka harus secepat ini beliau meninggalkan kita semua.

Selamat jalan, Mas AE.

Berita sebelumyaSelamat Jalan, Mas AE
Berita berikutnyaNgalap Barokah

Podcast

Baca juga

Terbaru