Menulis Butuh Konsistensi

Suatu hari, seorang teman curhat perihal dunia kepenulisan melalui inbox. Jadi ceritanya, ada teman saya yang ingin bisa menulis, tapi ia merasa kesulitan. Ia mengutarakan perihal rasa berat saat memulai menulis, khawatir nanti tidak mood dan akhirnya mandek (berhenti). Teman saya lantas bertanya, sebenarnya tips paling dasar agar konsisten menulis bahkan sampai bisa bikin buku itu gimana

Bicara tentang dunia kepenulisan, saya rasa setiap orang (penulis) yang benar-benar menekuninya memiliki jawaban dan pengalaman yang beragam. Berdasarkan pengalaman saya selama ini, memang cukup berat untuk mengawali ‘dunia baru’ yang sebelumnya belum pernah kita tekuni. Saya tentu sangat maklum ketika teman saya ingin bisa menulis tapi ia merasa kesulitan dalam memulainya. 

Sebenarnya kesulitan dalam memulai menulis itu dapat segera diatasi bila kita memang “benar-benar serius” ingin mendalami dunia kepenulisan. Saya sengaja menggarisbawahi kalimat “benar-benar serius” karena ada sebagian orang yang hanya latah atau sekadar iseng ingin bisa menulis saat melihat tulisan-tulisan orang lain berhasil menembus media massa atau terbit dalam sebuah buku. Sayangnya, mereka hanya sekadar merasa “ingin” tapi tak berusaha merealisasikan keinginannya tersebut. Maka tak heran bila muncul kalimat seperti ini, “aku ingin bisa nulis kayak kamu, tapi aku bingung gimana cara memulainya”. Sebenarnya, bila kita benar-benar ingin bisa menulis, kiatnya cukup mudah dan simpel, kok

Pertama, kita harus memiliki kebiasaan membaca. Karena yang namanya menulis dan membaca itu satu paket; tak bisa dipisahkan. Membaca kitab suci, beragam jenis buku, majalah, koran, tabloid, dan seterusnya, merupakan hal yang mestinya dijadikan kebiasaan. Dari berbagai bacaan tersebut kita mendapatkan banyak informasi sebagai sumber inspirasi dalam menulis. Pelajari juga gaya menulis para penulis dalam meramu tulisan-tulisannya. Hal ini penting, sebagai bekal agar kita bisa memiliki gaya tersendiri dalam membuat tulisan.

Kedua, kenali jenis tulisan yang kita sukai. Biasanya, setiap penulis memiliki minat atau kecenderungan berbeda. Ada penulis yang cenderung menyukai tulisan jenis fiksi (misalnya cerpen, novel, dan puisi). Ada juga yang lebih menyukai tulisan nonfiksi (misalnya opini, esai, resensi buku, dll). Bahkan ada juga yang cenderung keduanya, menyukai fiksi dan nonfiksi. Kendati memiliki ragam kecenderungan tulisan, biasanya tetap ada yang menjadi prioritas. 

Saya misalnya, memiliki kecenderungan beragam terhadap jenis-jenis tulisan. Meski saya kerap menulis cerpen, opini, kisah humor, hingga resensi buku, tapi sejujurnya saya lebih cenderung menyukai tulisan jenis fiksi (cerita pendek/cerpen). Nah, ketika telah menemukan apa yang menjadi kencederungan kita, selanjutnya yang harus dilakukan ialah berusaha memperbanyak membaca cerpen-cerpen yang banyak termuat di media massa (cetak maupun online) dan juga buku-buku kumpulan cerpen yang banyak dijual di toko-toko buku, atau bisa juga pinjam ke perpustakaan. 

Pengalaman saya dulu juga seperti itu. Memperbanyak membaca cerpen-cerpen di berbagai media massa dan buku-buku. Biasanya kita akan dengan mudah menemukan sumber ide dari bacaan tersebut. Setelah menemukan ide (tema) tulisan, saya pun mulai praktik menulis. Bisa dikatakan, saya belajar menulis secara autodidaktik. 

Perihal teori menulis cerpen, saya mempelajarinya sambil lalu, baik itu melalui buku-buku tentang teori menulis maupun dengan cara sering browsing; menjelajahi blog atau laman para penulis yang membicarakan tentang teori menulis. Kesimpulannya, bila kita ingin menulis dan bingung cara memulainya, coba lakukan dua hal yang sudah saya praktikkan tersebut.     

Berat dan Nggak Mood

Perihal rasa berat dan nggak mood yang dialami teman saya yang ingin bisa menulis, kemungkinan besar karena dilatarbelakangi dua faktor. Pertama, dia masih ragu alias belum merasa mantap menekuni dunia kepenulisan. Kedua, dia belum memiliki motivasi atau alasan-alasan mendasar yang membuatnya tertarik menekuni dunia kepenulisan. Saya menulis untuk apa? Ingin menambah penghasilan atau sekadar menumpahkan gagasan? Atau karena hal-hal lainnya? Oleh karenanya, sangat penting memantapkan hati terlebih dahulu ketika ingin menekuni dunia kepenulisan. 

Coba sekarang tanyakan ke diri sendiri; apa saya benar-benar serius ingin menekuni dunia kepenulisan, atau saya hanya sekadar “ingin” bisa menulis saat melihat karya tulis teman-teman dimuat media massa atau terbit dalam bentuk buku? Bila kita benar-benar serius ingin bisa menulis, saya yakin akan terbentang jalan yang lebar untuk menuju ke sana. Karena orang yang serius, pasti akan berusaha melakukan upaya-upaya agar apa yang diinginkan bisa tercapai. Namun, bila kita hanya sekadar ‘ingin’ bisa menulis seperti teman-teman, maka kita akan dihadapkan pada kebingungan dalam memulai menulis.

Perihal ‘nggak mood’ atau tiba-tiba mandek saat sedang menulis, biasanya karena kita kurang menguasai tema yang ditulis. Oleh karenanya, kuasai terlebih dahulu tema-tema yang akan ditulis, cari sumber referensinya, agar kita tidak mudah berhenti di tengah jalan saat sedang menulis. Selanjutnya, untuk menjaga mood saat menulis atau menghadapi rasa bosan yang tiba-tiba melanda, kita bisa melakukan selingan aktivitas. Misalnya, berhenti sejenak. Luangkan waktu untuk jalan-jalan ke tempat wisata, berkebun, dan hal-hal positif lainnya yang saya yakin akan menjadi semacam sumber energi dan inspirasi bagi tulisan kita selanjutnya. Membaca buku-buku motivasi atau biografi orang-orang sukses juga dapat dijadikan sebagai pilihan untuk memompa semangat kita dalam menulis.

Konsistensi dalam Menulis

Menulis itu sama dengan pekerjaan lainnya yang membutuhkan konsistensi dalam menjalaninya. Konsistensi, bila merujuk KBBI Online ialah ketetapan dan kemantapan (dalam bertindak). Jadi, konsistensi dalam menulis dapat dimaknai suatu kemantapan menekuni dunia kepenulisan yang ditandai dengan rajin melakukan praktik menulis apa pun kondisinya. Misalnya, setiap hari praktik menulis satu halaman, atau menulis satu judul tulisan. Begitu seterusnya.

Selanjutnya, tulisan-tulisan yang telah dibuat dan telah diedit, kita coba kirim ke media massa. Atau bila tulisan tersebut berupa buku, kita coba tawarkan ke penerbit. Jangan lupa, sebelum mengirim tulisan ke media massa atau penerbit, kita pelajari dulu karakter media dan penerbitnya. Caranya dengan memperbanyak membaca tulisan-tulisan di media atau buku-buku dari penerbit yang akan kita tuju.     Kesimpulannya, tips paling dasar agar bisa konsisten menulis bahkan sampai bisa bikin buku (sebagaimana pernah ditanyakan oleh teman saya) ialah dengan cara terus melakukan praktik menulis, setiap hari atau setiap saat, apa pun kondisinya. Berusahalah untuk memiliki jadwal menulis yang ajeg (tetap) setiap harinya. Jangan lupa, iringi dengan memperbanyak referensi beragam bacaan, dan jangan sekali-kali melakukan tindakan plagiasi (menjiplak karya orang lain).

Baca juga

Terbaru