Harry Azhari

Seorang manusia bergolongan darah AB yang garis telapak tangannya berpola ABSTRAK minimalis kontemporer

Seperti Politik, Hoax Kita Juga Sama

16 October 2019, 02:31 WIB

Tidak jauh beda dengan dunia politik, sebaran berita-berita hoax sebenarnya punya similiaritas pola, alias mirip-mirip. Manuvernya bisa sangat tiba-tiba dan mengejutkan—memaksa jantung bergerak separatis dari tubuh.

Seperti yang sudah kita tahu, sepak terjang hoax di era social media sekarang ini jadi semakin ngeri. Sudah seperti mutan yang mampu merasuk ke dalam kepala-kepala masyarakat, terlebih netizen yang maha budiman.

Hoax seakan memiliki watak dan kepribadian yang sangat amat powerfull. Kekuatannya ini mampu menembus sendi-sendi kehidupan, lalu mempengaruhi: bagaimana orang-orang jaman ini menerima suapan informasi.

Bukan sekadar mutan biasa, berita palsu alias hoax ini bergerak macam partikel virus seukuran Particulate Matter (PM) 2,5 yang tidak pandang bulu dalam memilih korbannya. Hoax mampu mencuci otak siapa saja.

Sepanjang musim-musim politik seperti tahun 2019 yang merupakan momentum pemilu juga tak lepas dari bayang-bayangnya. Tidak hanya mirip, politik dan hoax sudah seperti saudara yang selalu berjalan beriringan.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengungkapkan temuannya terkait berita palsu sepanjang Agustus 2018 hingga April 2019. Temuan tersebut mengidentifikasi angka mencapai 1.731 hoax.

Paling tidak ada 486 hoax yang eksis di sepanjang bulan April. Dan lagi-lagi, konten hoax politik mendominasi bulan tersebut dengan 209 hoax. Sejak pertengahan tahun 2018 hingga awal 2019 tersebut total yang diidentifikasi sebagai hoax berjumlah 620 hoax.

Bagaimana kabar-kabar bodong itu ikut-ikutan (atau dilibatkan) nimbrung memerankan diri sebagai senjata politik untuk meruntuhkan para oposan di sudut-sudut oposisi. Hoax dan politik tampaknya memiliki sebuah perjanjian. Sebuah kontrak politik untuk berkoalisi dalam jangka waktu yang abadi sangat lama.

Kita tentu paham betul bahwa hoax ini sendiri adalah sesuatu yang diproduksi masif. Penyebarannya pun kian menguat di era media sosial yang mampu membuat sang produsen tampil anonim. 

Bahkan, segelintir pihak lebih ‘berani’ tampil asli baik sebagai produsen maupun sebagai agen distribusi dengan modal tombol share, re-tweet, screenshot dan metode-metode sejenisnya.

Hal ini juga didukung oleh hasil survei yang dilakukan Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) bahwa media sosial menjadi saluran favorit bagi konten hoax melancarkan aksi. Menjamur kemana-mana dan dengan mudahnya dipercaya.

Lalu, kenapa konten-konten yang tidak jelas validitasnya ini bisa begitu digdaya? Meningkat dari waktu ke waktu. Apalagi tahun politik tampak seperti momentum untuk hoax ter-produksi secara massal. Pemilu 2019 sampai momentum demonstrasi mahasiswa kemarin lalu; pun tak luput jadi sasaran agresinya.

Tidak berhenti di hari-hari menjelang tanggal pencoblosan saja, hoax-hoax baru terus bermunculan baik di hari pencoblosan maupun setelah pemilihan. Itupun diperparah lagi ujaran-ujaran kebencian yang terpampang di linimasa dunia maya.

Bagaimana cara kita melihat manuver politik segelintir elit hari ini? Penuh dengan efek kejut, begitu pula hoax menampilkan wataknya. Penuh muatan gosip, kesumbangan yang tampil mampu hadir dengan sensasi fenomenal.

Hoax seringkali dibenarkan untuk dieksploitasi sebagai alat pembenaran dalam membenarkan. Kalaupun kemudian diperdebatkan, perdebatan yang lahir justru lebih cenderung dengan munculnya hoax tandingan. Kabar palsu baru yang naik tayang.

Langkah politik; bukan rahasia lagi jika hitungannya tidak sesederhana step by step yang kasat mata saja. Melainkan jauh daripada itu, selubung di balik selimut penuh dengan ketidakpastian. Blur!

Manuver politik, mungkin tidak dapat mutlak disama-samakan dengan manuver-manuver hoax. Tapi, sebagai alat pembenar, politik dan hoax saling mendukung. Seolah-olah menjalin hubungan karib yang begitu erat. Bisa dibilang kerabat.

Irisan tipis ini menjadikan kedua variabel tersebut mengafirmasi terbentuknya koalisi-koalisi. Politik bukan hanya sekadar pola kaderisasi ataupun keanggotaan orang per orang, melainkan juga bagaimana narasinya dimainkan dengan begitu sexy dan seductive.

Era media sosial yang kian kuat ini membuat hoax ikut menguat. Apalagi, kecepatan sebarnya juga tidak diimbangi oleh ketepatan akurasinya sebagai kebenaran yang benar-benar ada. Sumber-sumbernya tidak mudah dideteksi.

Belum lagi dengan pola sistemisasi algoritma yang memberi kesan: aktif mendukung penyebarannya. Hoax dengan segala watak ‘uniknya’ ini semacam mempunyai ruang dan aksesibilitas untuk menggapai status “viral” kemudian trending topic.

Kebenaran politik seringkali hanya jatuh sebagai janji-janji utopis. Benar-tidaknya, terselubung dalam niat dan tekad yang manipulatif. Definisi salah-benar bisa saja bertukar dalam ruang-ruang politik. Sementara peredaran informasi palsu mengukuhkan asumsi tersebut.

Jauh sebelum era digital seperti saat ini, hoax beserta elemen-elemen kawanannya sendiri bukanlah hal yang baru. Kelas gosip-gosip tetangga sampai sekaliber teori-teori―cocoklogi―konspirasi ataupun propaganda elit global; sama rentannya menjadi medium penyebarannya. Politik praktis, apalagi...

Kita bisa memutar waktu ke belakang dimana Eropa di abad ke 15-18 dulu terhias oleh kasus perburuan penyihir yang timbul cuma karena tuduhan desas-desus. Atau, bagaimana buku-buku dimusnahkan karena ‘kebenarannya’ yang ditakutkan, disalahkan, atau sekadar tak disukai, seperti yang diungkapkan Fernando Báez dalam bukunya: Penghancuran Buku dari Masa ke Masa.

Dan pada era digital yang "serba cepat tersambung-tersebar" zaman ini, terbukti menjadikannya kian lincah merangsek masuk ke dalam rongga-rongga otak para 'konsumennya'. Lagi-lagi, siapa produsen dan agen-agennya? Seperti apa pola dinamika yang (sebenarnya) bermain?

Tenang, siapapun bisa menjadi apapun. Apalagi jika kita membicarakan tatanan ruang maya. Di jauh sana yang entah di mana itu, aku, kamu, mereka, dan kita semua bisa berubah jadi anonim, orang lain, orang alim, kep*r*t, bahkan tuhan sekalipun!

Sebenarnya, bukan hanya konten unggahan saja yang masuk kategori hoax. Melainkan juga akun. Dunia yang sekarang ini sudah bisa digenggam lewat kepalan ponsel pintar, memberikan kita kebebasan bagaimana kita bermanuver di dalamnya. Ingin tampak asli, atau tampil palsu? Atau, menggabungkan keduanya sekaligus.

Lihat bagaimana akun Twitter Vladimir Putin dipalsukan beberapa waktu lalu. Simaklah para pengobral tombol likes yang mengatasnamakan simpati, dan pakar-pakar komentar bekerja di linimasa. Cermatilah senyum orang-orang yang mengenakan rompi oranye buatan KPK. Perhatikan juga wajah-wajah garang ‘tukang parkir’ birokrasi yang meminta jatah retribusi lebih dengan dalih regulasi itu.

Tidak ada bedanya: online maupun offline, yakinlah bahwa kepalsuan itu sulit dipisahkan dengan jalannya peradaban. Fakta sejarah yang kemudian berubah menjadi mitos, begitu pula sebaliknya; sepertinya memang naluriah. Eksistensi kita ini merupakan konten zaman yang mungkin akan terus merapat pada poros fitnah, hoax, agitasi, dan kawan-kawannya yang lain.

Sebab, kita semua adalah entitas jelmaan dari hoax itu sendiri. Manusiawi sekali, karena, sebagaimana politik, kita sudah menjadi bagian kekerabatannya secara psikologis. Menyalahkan hoax, sama saja dengan menyalahkan diri sendiri. Membenarkan hoax, berarti membenarkan ketidakbenaran, kebohongan, dan kepalsuan itu sendiri. 

Kita bisa bicara soal ruang maya yang berdinding batas tipis dengan dunia nyata. Kita pun boleh saja berkicau tentang bagaimana politik itu bergaya. Antara sertaan idealitas ideal, atau melulu sama seperti anggapan-anggapan yang ada selama ini: kekuasaan dan kelicikan penguasa.

Internet adalah segala ruang tentang realitas virtual yang aduhai. Sementara politik adalah definisi dari definisi-definisi yang apalah namanya. Tapi, keduanya adalah dunia yang sama-sama gaduh karena kebanyakan noise. Membingungkan. Bukan begitu, Esmeralda-chan?

Lalu, mengapa hoax tidak mendapatkan celaan layaknya kebencian otak-otak apolitis kita terhadap politik? Alih-alih apatis, hal tersebut justru begitu mudahnya disenangi, dan dikonsumsi. Kurang rasional, atau mungkin kitanya saja yang terlalu emosional. Padahal, hoax layaknya drama rekaan dan janji-janji bohong para politisi pemburu kursi. 

Eh, tapi… kita juga masih keseringan lupa menagih dan mengkritisi janji-janji klise politisi, lho! Tapi, tapi lagi nih, gimana mau lupa, lha wong ingat saja belum, kok. Haddeuh...


*Analisis/Retorika ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi Himmahonline.id.