Hempasan-hempasan Adel

an image
Ilustrasi: HIMMAH/Yustisia Andhini L.

Adel tiba-tiba mengagetkan suasana diskusi di kelasnya. Dosennya pun tersentak dengan kelakuannya ini, seperti biasa. Suara hempasan meja dan lemparan kursi kosong di samping kanan kirinya mengejutkan semua orang. Di dalam maupun di luar kelas menengok ke arahnya. Mendadak terdiam. Menganga. Jejeran jendela penuh dengan pandangan mata penasaran dari luar, apa yang terjadi?

Lagi-lagi, ia sudah membuat masalah bagi dirinya sendiri. Ia sepenuhnya sadar dengan apa yang dibuatnya. Gelegar suara itu membentuk sebuah pola domino di deretan kursi paling belakang. Kursi-kursi tak berpenghuni itu begitu ringan baginya. Ia duduk di kursi tengah, masih tegak sebagai pemisah. Memutus garis rapi dari kursi yang terjungkal. Satu garis rata ke arah kanan dan satunya lagi ke arah kiri.

Sang dosen turut heran, namun tetap maklum. Pasalnya, hempasan dan kursi yang terjungkal itu sudah sangat biasa bagi dirinya. Kepala separuh plontosnya yang silau, tetap tenang memancarkan sikap skeptis. Tak gentar, beliau berencana melanjutkan aktivitas mengajarnya setelah para mahasiswa kembali tenang.

“Perasaan enggak ada gempa deh barusan,” celetuk salah seorang di dalam ruangan itu.

“Kalaupun gempa, nggak mungkin bisa simetris rapi macam itu,” bantah seorang yang lain lagi dengan kritis.

Mahasiswa terpintar beranjak dari tempat duduknya. Badannya yang tidak pernah bisa tegak lagi itu mencoba mencuri perhatian. Kacamatanya yang memperkuat citranya, mencengkeram kuat mukanya yang selalu serius. Ia mendekati kursi kosong yang tegak itu.

Menyentuhnya, lalu merapikan kursi-kursi yang jatuh kembali dalam posisi semula. Adel tetap memperhatikan pria tanggung itu dari kursinya. Menatap sinis ke arahnya. Anak muda yang sungguh punya inisiatif, katanya. Namun, anggapan itu hanya anggapan kosong.

Paling-paling, si pintar ini cuma memanfaatkan momentum demi mendulang pujian.

***

Setelah semua kursi kembali semula dan si pintar kembali duduk, sang dosen yang terhormat merealisasikan rencananya. Melanjutkan kesempatan waktu bagi kegiatannya di depan kelas yang mempunyai pendingin ruangan ini. Pancar proyektor mengikuti arahan mengganti pemandangan suci yang mendandani papan tulis putih.

Adel tahu, sang dosen melihat ke arahnya saat setelah perbuatannya tadi. Menghujamkan perhatian penuh padanya sampai kelas usai di pertengahan hari. Sepanjang waktu, beliau mencuri-curi pandang dan membuat Adel sedikit merasa gusar. “Kita tidak sedang ujian, Pak!” Bentak Adel. “Biasa saja, cukup kepala botak itu saja yang

bikin silau,” lanjutnya.

Sang dosen diam tak menanggapi, begitu juga mahasiswa-mahasiswa lainnya. Adel tersenyum, memaklumi sikap-sikap yang dirasakannya selayaknya aksi diskriminatif paling

lucu. Adel hanya perlu menelantarkan semua itu ke dalam kepalanya. Termasuk dengan suara-suara rundungan yang sumbang untuk dikunyah telinganya hampir setiap hari.

Menertawai semuanya. Kekacauan demi kekacauan sudah sangat sering diperbuat Adel. Hampir semua orang di kampus itu menganggapnya hal biasa. Hal yang paling lumrah. Memang, kelakuannya ini sempat membuat orang-orang risih ketakutan, terlebih bagi orang-orang baru. Mereka hanya perlu beradaptasi agar terbiasa dengan ulahnya ini.

Tidak hanya di dalam kelas, ia juga bikin ulah di luar kelas. Di semua area kampus tidak lepas dari keanehannya ini. Rambut panjang yang diikat, baju kaos putih dan celana jeans panjang disertai sepatu sneakers putihnya, selalu menjadi setelannya melakukan hal-hal itu.

Hempasan demi hempasan itu adalah hobinya. Pernah beberapa kali, ia menghempaskan buku yang sedang dibaca si pintar. Ia juga sering membanting pintu ruangan untuk mengejutkan seseorang yang memasang tampang sok sibuk. Tampang yang membuatnya kesal setengah hidup. Dosen-dosen hingga rektor sekalipun, tak luput dari gangguannya. Akibatnya, umpatan demi umpatan seringkali mendarat untuknya.

Ia senang membuat orang jadi latah terkaget-kaget. Orang-orang kaget dianggapnya telah kejatuhan martabat. Harga diri yang hilang sesaat sebelum akhirnya kembali lagi dengan pikiran-pikiran kritis, sok ilmiah, sok logis dan sistematis, sampai sok-sokan lainnya. Kejutan membuat semua orang kehilangan sisi objektivitas dalam dirinya sendiri. Tolol! Tolol sekali. Salah satu contoh ketololan yang paling ia senangi adalah ketika ia mengejutkan orang- orang yang sedang berada di toilet. Baginya, orang yang tengah buang hajat merupakan sasaran seru untuknya. Lucu melihat konyolnya orang-orang pintar itu tergesa-gesa keluar dari kamar mandi walaupun mereka belum benar-benar selesai dengan urusannya di tempat favorit para hantu; membangun kandang dan berkoloni.

Ah, hantu? Adel sudah seperti pimpinan kekacauan di sana. Sekadar hantu saja mungkin sudah terbirit-birit ketika melihat mukanya yang manis menyeramkan. Adel pandai memainkan raut agar ia disegani, ditakuti, dan dihindari. Semua itu bukanlah bakat alami, itu semua hanyalah keinginan terkuatnya. Persetan dengan anggapan orang-orang. Ia tidak peduli kalau sampai tidak punya teman satu pun. Satu pun! Toh, sejak awal ia berkegiatan di kampus itu ia seperti anak tiri. Makhluk yang tersingkir. Menjadi alien tersubordinasi yang sangatlah nikmat untuk mencari-cari perhatian. Demi mendapatkan popularitas singkat, selain sensasi, kekacauan adalah cara yang paling pantas.

***

Keluar dari kelas, Adel memilih keluar melalui pintu yang sedikit terbuka. Badan rampingnya masih cukup melewati celah sempit. Tanpa suara ia lenyap dari ruang itu. Beberapa saat sebelum kelas benar-benar dibubarkan oleh sang dosen. Ia masih bisa melihat tampang- tampang beloon orang-orang di dalam sana. Lebih tampak seperti napi ketimbang

akademisi, menurutnya.

Hanya perlu beberapa langkah dari tempat itu, ia sudah bisa melihat papan mungil sebagai penanda sebuah tempat bernama perpustakaan. Ia mendongak mengintip dari celah lubang angin. Karena tidak mendapat penampakan yang pas, ia mengalihkan kepalanya menembus pintu agar lebih leluasa.

Melihat gersangnya buku-buku berdebu, Adel kecewa. Bukan karena sepinya pengunjung.

Kekecewaannya justru lebih berujung pada kondisi yang tidak memungkinkan. Tidak cocok untuk menimbulkan kekacauan. Lagipula, buat apa tukang onar bikin onar di tempat sepi?

Bukannya populer, kalian hanya menimbulkan rasa penasaran berskala massal.

Cukuplah penjaga perpustakaan memasang tampang gobloknya setiap hari. Adel tidak tega menghempaskan buku-buku. Susunan indeks bibliofil sentris di rak-rak di dalam sana. Jaring laba-laba dan serangga-serangga lain juga sudah cocok menyimbolkan sebuah ironi yang paling miris.

Tempat-tempat baik yang sepi sudah cukup memuaskannya. Seperti perpustakaan dan musala kampus adalah tempat-tempat yang jarang didatanginya. Untuk apa juga mendatangi tempat kosong. Tempat yang hampir pasti menjadi artefak simbolis macam itu?

Adel hanya masih iri dengan orang-orang yang mampu menelurkan kekacauan di luar ranah realitas. Adel khawatir dengan kondisi manusia-manusia hari ini.

***

“Ngapain lagi kamu di sini?” Kata seseorang yang berdiri membelakanginya. “Orang-orang sudah muak, tapi sudah kadung terbiasa dengan ulahmu.”

Adel terkejut dengan sumber suara itu. Ditengoknya orang itu. Ia heran, sudah banyak ia menemukan orang gila berbicara sendiri. Bahkan, menurutnya orang gila sekarang, kebanyakan sudah melepas kebiasaan kolot ini. Bisa dibilang sudah ketinggalan zaman.

Adel memberhentikan layangan langkahnya. Sumber suara adalah seseorang dengan perut dan lengan gendut yang tengah bersandar di tembok penyangga lorong menuju kantin. Ia berpikir untuk mendorong badan gempal itu supaya terguling-guling membilas keringatnya dengan tanah.

“Aku bicara padamu, bodoh!”

“Oh, wow!” Kata Adel. “Kau masih mengenaliku ternyata.”

“Iya, aku cuma rindu berbicara dengan makhluk asing.”

“Setan!” Tapak tangan Adel mengayun ke arah pipi kanan si gendut, namun tak mengenai

apa pun.

“Kau sudah tahu, kau tidak mampu mengenaiku, bukan?”

Muak dengan si gendut, Adel mendekatkan wajahnya. Ia membalas ingatan itu dengan jawaban bahwa dirinya paham akan hal tersebut. Adel hanya sekadar menunjukan ekspresinya ketika merasa dilecehkan. Terlebih si gendut, yang dianggapnya musuh, segumpal hama pengganggu.

“Beristirahatlah, itu saranku.”

“Apa pedulimu? Apa kau sedang bingung merawat perut gendut ini, hah?” Adel berusaha

mempertahankan tabiatnya.

“Kau masih saja lucu, masih seperti tahun keduaku dulu,” tawa lepas si gendut mengguncang-guncang perutnya.

Adel hanya membalasnya dengan senyum sinis. Si gendut tidak melepaskan kata-kata dari mulutnya, melainkan merogoh ponselnya dan menunduk. Leher pendek si gendut lenyap dari pandangan Adel. Tertutup oleh dagu lebar yang meluber. Tampak seperti jenggot tebal.

“Dietlah, bukan begitu cara menjalankan sunah kepercayaanmu.” Ejekannya berhasil mengalihkan perhatian si gendut untuk kembali mengangkat muka dan melepas

sandarannya. “Jenggot terdiri dari bulu-bulu, bukannya lemak berlebihan seperti itu,” lanjutnya.

“Oh, sepertinya kita sudah terlalu banyak bicara membuang-buang waktu, aku sudah bilang, aku hanya sedikit rindu, itu saja.”

“Dasar, sombong!” Adel membuang muka, meniru gestur meludah. Si gendut membuatnya jijik. Bola daging dengan mulut busuk. Ia tidak rela jika orang itu berbakat mengganggunya secara langsung.

“Tenanglah, aku cukup toleran untuk membiarkanmu beribadah,” katanya. “Saling ejek itu biasa, bukan?” Timbul perasaan setuju dengan pernyataan tersebut. Si gendut beranjak pergi menyeberangi lorong menuju seberang. Kemudian pelan-pelan mengikutinya sembari memperhatikan jarak. Ia paham jika aksi menguntitnya ini jelas disadari oleh si hama gendut ini. Si gendut pemalas—mahasiswa tua yang tak pantas tiru—berjalan menyeimbangkan bobot bokongnya sendiri.

“Sialan, kau mau sok alim di depanku, gendut?”

“Kau sendiri yang mengekor, tolol!” Melihat Adel menunjukkan gelagat minggat, si gendut mencegahnya untuk tidak terburu-buru.

“Tidak, terima kasih.” dijawab ketus. “Aku merasa harus mengerjakan tugasku lagi.”

“Sebentar, memangnya kau tidak ingin masuk sekali lagi?”

“Untuk apa?” Masih ketus. “Untuk melakukan hal yang dipastikan sia-sia, begitu

maksudmu?”

“Cobalah, aku jamin tidak akan berpengaruh buruk untuk keutuhanmu.”

Berbalik badan, Adel penasaran. Apakah bakal sakit jika masuk kembali ke tempat itu. Ia tidak akan tahan di dalam sana barang semenit pun! Ia tahu, ia hanya perlu memberanikan diri. Pura-pura berani juga tidak apa-apa, pikirnya.

“Ayolah, coba saja, tempat ini sudah berubah. Jauh dari bayanganmu di masa lalu,” terang si gendut sambil mengusap-usap basah di tubuhnya.

“Maksudmu aku ...” belum sempat Adel menyelesaikan kata, si gendut langsung menjelaskan bahwa tempat simbolis ini kini beralih fungsi. Saban malam, bilik mungil ini menjadi tempat favorit; nyaman dan teraman untuk melakukan transaksi asmara. Kadang, transaksinya sudah lebih cerdik. Beberapa di antaranya, bahkan mengatasnamakan Tuhan hanya untuk diperalat sebagai dalih bermaksiat.

Tidak bisa menahan tawa, penjelasan panjang si gendut dianggapnya sebagai bualan kosong yang lumer ke tanah layaknya liur hewan-hewan penjaga. Gendut yang benar-benar pandai membuang waktu menyumpal otaknya dengan sampah.

“Kau hanya takut, gerak-gerikmu terlihat bodoh sekali.”

Adel melangkah pelan-pelan. Mendekatkan jarak ke bibir pintu masuk. Ia perhatikan karpet- karpet dan plakat—simbol ketuhanan dari salah satu kepercayaan—yang menempel di dinding dalam ruang utama. Ia takut, tapi provokasi melayang-layang kuat di kepalanya.

Salah satu tempat yang dibenci Adel. Tempat yang sepi. Areal pojokan kampus yang kian kehilangan minat para mahasiswa. Si gendut masih menunggu dan melanjutkan penjelasan. Adel beranjak masuk. Tidak ada rasa sakit. Si gendut mengulang-ulang gestur jenggot lemaknya.

“Jadi, kapan kau naik tingkat?” Tanya si gendut lagi.

“Aku sedang melakukannya!” Tak lama setelahnya, mimbar kayu terlempar. Jam dinding jatuh. Bercak cakaran di langit-langit. Bohlam pecah. Kaca retak. Jejer-jejer karpet berantakan ke sana-sini. Semua terhempas bersamaan.

Di tengah Adel menghempas-hempaskan, si gendut lenyap menghilang. Pergi meninggalkan dendamnya. Membenci apa yang dibenci Adel.

“Kau berlaku aneh lagi hari ini,” si pintar menepuk pundak si gendut yang sudah menunggangi motornya. Melamun.

“Latihan monolog, seperti yang kukatakan lewat pesan tadi.”

“Ya, aku membacanya, tapi sekarang si plontos itu mencarimu,” Kata si pintar, diikuti gerakan jari meluruskan kacamatanya.

“Pasti urusan klasik itu lagi,” muka masam si gendut memberikan petunjuk gairahnya. “Di mana dia?” lanjutnya.

“Itu, di sana,” si pintar menunjuk ke arah kerumunan dengan raut terkejut.

Pandangan si gendut mengikuti petunjuk. Si plontos sudah ikut masuk dalam baris kerumunan. Barisan yang meratakan derajat dan kuasa. Apa yang terjadi, mereka penasaran. Adel turut berdiri, membaur dengan orang-orang itu.

Si gendut melihatnya berada tepat di belakang punggung kepala silau itu. Si pintar menjauh, mendekati titik. Di tengah orang yang berdesak-berdesakan itu, Adel memutar kepalanya.

Mengangguk melempar senyum aneh.

“Sama-sama,” balas si gendut, puas. Tersenyum di posisi yang sama.

Pada saat yang sama pula, si pintar sampai tak sengaja menabrak Adel, namun tak menghantam apapun selain menabrak punggung orang di depannya. Adel pun lenyap—tak nampak tiba-tiba saat itu. Satu langkah mundur, si pintar meminta maaf kepada empunya punggung.

Kepala plontos justru meresponnya dengan sebuah tanya, “a ... apa …” ia tergagap, “tadi ada gempa bumi, ya?” Heran dengan pertanyaan itu, hanya ada kata 'goblok’ sebagai pilihan satu-satunya di dalam kepala pintarnya. “Goblok”, si pintar teriak tanpa suara dan gerak bibir. Menurutnya, pria itu telah mempertaruhkan martabat dan harga dirinya. Batinnya melanjutkan, “Kau itu hanya ketakutan, wahai Pak Tua.” Goblok! Goblok sekali.