Menanti Kebangkitan Aktivis Kampus

Kamis (30/8) Stadium general pesona ta’aruf Universitas Islam Indonesia bersama H.R Erwin Moeslimin Singajuru.

 

 

 

 

 

 

 

 

“Aktivis itu bukan hanya aktif wadahnya saja, tetapi aktif pikirannya juga. Afala ta’qilun afala tatafakkarun, dia berpikir, dia merenung.”

Oleh Hasinadara P.
Demikianlah sepenggal kalimat yang diucapkan Erwin Moeslimin Singajuru ketika Stadium General PESTA 2012 (30/8). Dengan tema “Optimalisasi Peran dan Fungsi Mahasiswa sebagai Harapan Bangsa dengan Internalisasi Nilai Kemahasiswaan dan Sejarah Kampus”, diharapkan dapat memberi pemahaman kepada mahasiswa baru mengenai ke-UII-an dan kemahasiswaan, serta peran dan fungsi mahasiswa bagi kemajuan bangsa.
Sebagai seorang mantan aktivis kampus, Erwin mengawali kuliah umum tersebut dengan menceritakan pengalamannya berkecimpung di organisasi internal dan eksternal kampus dengan harapan mahasiswa baru angkatan 2012/2013 ini mampu menjadi aktivis. “Aktivis itu mahasiswa yang peduli terhadap persoalan kebangsaan, kenegaraan, kemiskinan, ketidakadilan juga peduli terhadap persoalan dunia. Kenapa di dunia ini masih tidak ada keadilan. ” papar Erwin
Erwin menambahkan, ketika mahasiswa menjadi aktivis maka secara tidak langsung ia telah menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar melalui amanah-amanah yang ia jalankan. “Selain itu menjadi aktivis akan memunculkan banyak kreativitas yang memunculkan inovasi sehingga terlaksanalah amanah untuk kemaslahatan”, sambungnya.
Erwin mencontohkan peran mahasiswa dalam sejarah Indonesia. Para aktivis di masa lalu telah mampu meruntuhkan pemerintahan Orde Lama dengan Soekarno sebagai presidennya karena dirasa kurang demokratis. Begitu juga dengan zaman Orde Baru, presiden Soeharto yang otoriter mampu dilengserkan oleh aksi demo yang dilakukan mahasiswa.
Sayangnya saat stadium general berlangsung, tidak semua mahasiswa baru dapat menyimak materi yang disampaikan pembicara dengan nyaman. Hal ini karena kapasitas gedung Kahar Muzakir yang melewati batas sehingga banyak jamaah yang terpaksa menempati luar gedung. Salah satu mahasiswa baru yang merasakan ketidaknyamanan tersebut adalah Alfi Ikhmaul Ulfa. Mahasiswa dari Jamaah Ahmad Dedet ini mengaku tidak dapat mendengar apa yang dibicarakan saat Stadium General dan saat di luar gedung ia mengikuti semacam permainan yang disajikan oleh Wali Jamaah.
Salah satu wali jamaah, Fathushalih Ensy dari Fakultas Hukum menjelaskan bahwa hal tersebut terjadi di luar rencana. Panitia tidak menyangka jumlah mahasiswa baru meningkat hingga hingga 5400 orang. Akhirnya para Wali Jamaah diberi instruksi untuk menempatkan mahasiswa dan mahasiswi baru di sekitar area Kahar Muzakir
Reportase bersama Metri Niken Larasati

Podcast

Baca juga

Terbaru