Konservatisme Menyentuh Kalangan Wartawan

(Dari Kiri-Kanan) Endy M. Bayuni Jurnalis Senior The Jakarta Post, Bambang MBK AJI Yogyakarta, Imam Shofwan Yayasan Pantau, Suhadi Kepala Divisi Penelitian Center of Religious dan Cross-Cultural Studies, Graduate School, Gajah Mada University menghadiri acara “Diskusi Tentang Persepsi Jurnalis Dalam Pemberitaan Agama (Islam) Dan Bedah Buku BLUR" (27/03/13). Acara ini mendiskusikan profesionalisme jurnalis dalam meliput berita agama.

(Dari Kiri-Kanan) Endy M. Bayuni Jurnalis Senior The Jakarta Post, Imam Shofwan Yayasan Pantau, Bambang MBK AJI Yogyakarta, Suhadi Kepala Divisi Penelitian Center of Religious dan Cross-Cultural Studies, Graduate School, Gajah Mada University menghadiri acara “Diskusi Tentang Persepsi Jurnalis Dalam Pemberitaan Agama (Islam) Dan Bedah Buku BLUR” (27/03/13). Acara ini mendiskusikan profesionalisme jurnalis dalam meliput berita agama.

Jurnalis harus dapat memposisikan diri ketika meliput berita tentang agama.

Yogyakarta, Himmah Online

Oleh: Moch. Ari Nasichuddin

Konservatisme tidak hanya terjadi di kalangan pemerintah dan masyarakat umum, tetapi terjadi pula pada level wartawan. Wartawan-wartawan kurang sensitif ketika memberitakan kekerasan terhadap minoritas. Seringkali mereka menggunakan kata-kata yang memojokan minoritas seperti “bentrok”, “sesat”, ”harus ditobatkan”. Hal itu diungkapkan oleh Imam Shofwan dari Yayasan Pantau dalam acara “Diskusi Tentang Persepsi Jurnalis Dalam Pemberitaan Agama (Islam) Dan Bedah Buku BLUR”.  Selain Imam Shofwan, acara yang diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta bekerja sama dengan Yayasan Pantau dan LPM Balairung ini juga dihadiri oleh Endy M. Bayuni, Jurnalis Senior The Jakarta Post, dan Suhadi, Kepala Divisi Penelitian Center of Religious dan Cross-Cultural Studies, Graduate School, Gajah Mada University.

Survei yang dilakukan oleh Yayasan Pantau menghasilkan data-data diantaranya 600 responden yang menyatakan diri sebagai orang Indonesia menurun menjadi 38% dan yang menyatakan diri muslim meningkat hingga 41,5%. Responden yang menyatakan syariat Islam tidak perlu diterapkan di Indonesia menurun menjadi 46,3%,  responden sementara yang menjawab perlu meningkat menjadi 45,3% responden. Terkait keberadaan Front Pembela Islam (FPI) presentase yang cukup setuju menurun drastis hingga 3,5%, responden dan yang sangat setuju juga turun menjadi 1,5%, dan mayoritas responden 72,7% tidak setuju dengan FPI.

Menanggapi hasil survei tersebut, Endy M. Bayuni menyatakan survei ini penting karena sebagai gambaran pertentangan dalam diri jurnalis ketika memposisikan diri sebagai wartawan atau sebagai bagian dari agama yang dianut. Menurut Endy, pada umumnya media bagian dari masalah. Mereka ikut membangun stereotip dan rasa kebencian antar kelompok. Media juga acapkali melanggar prinsip-prinsip jurnalisme ketika meliput konflik atau ketegangan antara kelompok beragama entah sengaja atau tidak.

Berdasarkan slide milik Endy, fenomena tentang agama terjadi tidak hanya di Indonesia saja. Kasus seperti itu juga muncul di Amerika, Eropa, dan Australia. Pun terjadi juga di kawasan Asia diantaranya Thailand, Filipina, Myanmar Timur Tengah, India. Jika di Indonesia muslim menjadi mayoritas, di Myanmar muslim hanya 4 persen.

Lanjut Endy, agama ada dalam semua aspek kegiatan negara atau masyarakat, seperti dalam aspek pemerintahan, ekonomi, politik, sosial-budaya. Sudah menjadi kewajiban sebuah negara untuk mengakomodir nilai-nilai agama yang universal dalam penyelanggaraan pemerintahan. Seharusnya konstitusi menjamin kebebasan beragama dan hak melaksanakan ibadah. Namun faktanya keragaman agama telah dibatasi oleh undang-undang yang hanya mengakui enam agama.

Untuk itu, jurnalis agama punya peran penting untuk menjembatani kelompok beragama yang ada di masyarakat agar membangun rasa saling pengertian. Tugasnya bukan menyebar pesan agama layaknya ustadz atau pendeta tapi untuk melakukan reportase kehidupan beragama dan hubungan antar kelompok. Endy mengakui dalam masalah agama, sulit bagi jurnalis melakukan peliputan dengan adil. Jurnalis tidak bisa menanggalkan agama atau kepercayaanya seperti ketika meliput politik. Seringkali, jurnalis justru memperlihatkan bias dan rasa kebenciannya dalam melakukan peliputan tentang agama

Suhadi Cholil angkat bicara, ia berpendapat jurnalis sekarang belum diimbangi dengan pemenuhan knowledge sector dengan baik dari sebagian elemen kunci masyarakat sipil. Dan negara tidak seharusnya mengambil-alih otoritas keagaman dengan menentukan apa yang dianggap terbaik bagi suatu komunitas agama.

Imam Shofwan menambahkan wartawan seharusnya menyuarakan orang yang tidak bersuara, tidak malah memproduksi kebencian.

Berita sebelumyaKonflik Mencoreng Sportivitas
Berita berikutnyaPerampokan Pegadaian

Podcast

Baca juga

Terbaru