Peoples Temple: Pengorbanan Diri 909 Jiwa

Himmah Online Pada tanggal 18 November 1978 ratusan pengikut Peoples Temple melakukan aksi bunuh diri massal di sebuah perkebunan di Guyana, negara terpencil di Amerika Selatan.

Ini bermula dari adanya sebuah sekte Kristen di Indianapolis yang didirikan pada 1950-an, bernama Peoples Temple. Sekte ini didirikan oleh Jim Jones, seorang gerejawan yang menentang rasisme dan berkarismatik.

Dilansir dari laman The Guardian, Jim Jones lahir dari keluarga miskin di Indiana. Ia digambarkan sebagai anak yang cerdas dan aneh. Secara naluriah Jones memiliki ketertarikan pada agama, terutama tradisi Kristen Karismatik. Ia juga menjadi pengkhotbah jalanan dan seorang pengacara untuk kesetaraan ras.

Perpaduan dari Kekristenan Evangelis, spiritualitas Zaman Baru, dan keadilan sosial radikal berhasil menarik pengikut yang antusias. Jones menyebut gerejanya yang sedang berkembang dengan sebutan Peoples Temple.

Pengikut Jones distereotipkan sebagai orang-orang jahat dan bodoh yang telah dicuci otak. Namun, menurut seorang jurnalis bernama Tim Reiterman dalam bukunya yang berjudul Raven: The Untold Story Of the Rev, mereka adalah orang-orang baik, pekerja keras, dan peduli akan masyarakat sekitar. Beberapa dari mereka bahkan memiliki pendidikan tinggi. 

Orang-orang tersebut berkeinginan untuk membantu sesama mereka dan melayani Tuhan. Sebab Peoples Temple menganjurkan pengikutnya untuk memiliki kehidupan sosialisme serta menghargai kebutuhan masyarakat di atas kebutuhan dan hak individu mereka sendiri. 

Asal Usul Peoples Temple

Awalnya, Peoples Temple berlokasi di sebuah desa kecil daerah Indianapolis lalu berpindah pada tahun 1965 ke daerah Ukiah, California Utara. Jones menyimpang dari ajaran Kristen tradisional, menggambarkan dirinya dalam istilah mesianis, dan mengklaim ia adalah reinkarnasi dari tokoh-tokoh seperti Kristus dan Buddha. 

Jones juga mengklaim bahwa tujuannya selama ini adalah komunisme dengan memutarbalikkan diktum Marxisme yang terkenal bahwa agama adalah candu. 

Pada tahun 1970-an, Peoples Temple memperoleh pengaruh politik yang signifikan. Pembelaan sengit Jones untuk yang tertindas membuatnya dikagumi oleh ikon sayap kiri seperti Angela Davis dan Harvey Milk. 

Ia juga mendapat dukungan dari kelompok-kelompok seperti Black Panthers. Simpati politik tersebut salah arah secara tragis, mengingat bahwa lebih dari dua pertiga korban dari tragedi Jonestown adalah orang Afrika-Amerika.

Sudah ada tanda-tanda arus bawah yang menyeramkan dari sekte ini. Para pengikutnya diharapkan untuk mengabdikan diri mereka sepenuhnya pada proyek utopis gereja seperti menyerahkan kekayaan pribadi mereka, bekerja berjam-jam tanpa dibayar untuk gereja, dan sering memutuskan kontak dengan keluarga mereka.

Sebagai bukti komitmen, anggota Peoples Temple diminta untuk menandatangani kesaksian palsu bahwa mereka telah menganiaya anak-anak mereka, yang disimpan gereja untuk kemungkinan pemerasan.

Menurut Shiva Naipaul, seorang penulis buku dalam karyanya yang berjudul Journey to Knowledge mengatakan bahwa ajaran Peoples Temple adalah proyek keagamaan fundamentalis dan bukan merupakan wujud dari keadilan rasial atau sosialisme, namun hanya parodi mesianis dari kedua hal tersebut. 

Hal tersebut dibuktikan dengan keyakinan Jones yang telah lama meyakini bahwa Amerika Serikat (AS) berada dalam bahaya bencana nuklir yang akan segera terjadi sehingga harus mencari tempat untuk berlindung, di mana gerejanya adalah tempat yang aman selama peristiwa tersebut. 

Selain itu, banyak media menyebut Jones sebagai pemimpin dari Peoples Temple telah banyak melakukan penipuan, pencucian uang, pelecehan seksual, bahkan kekerasan terhadap anak-anak mendorong keinginan Jones untuk pindah.

Pada tahun 1977, Peoples Temple memindahkan kantor pusatnya ke daerah terpencil di hutan belantara Guyana. Guyana yang merupakan bekas jajahan Inggris di Amerika Selatan, dipilih karena rezim sosialisnya yang bersimpati secara politik. Di sini Jones menyatakan, mereka bisa membangun masyarakat utopis atau surga yang merata tanpa campur tangan dari pemerintah atau media.

Dengan kondisi iklim tropis yang terik serta keterbatasan sumber daya di Guyana, anggota Peoples Temple mulai membabat hutan lebat di sana dan menjadi sebuah komuni pertanian yang dikenal sebagai Jonestown.

Janji Palsu Utopia Jonestown

Jonestown ternyata bukan merupakan surga yang dijanjikan, sebagaimana yang disampaikan pemimpin mereka. Para anggota sekte tersebut harus bekerja sehari-hari di ladang dengan mendengarkan monolog Jones yang bertele-tele di gereja melalui megafon. 

Sedangkan di malam hari mereka wajib menghadiri kelas propaganda. Selain itu, surat perintah dari Jones ditegakkan oleh penjaga bersenjata yang disebut Brigade Merah.

Dalam aspek pemerintahan, Pemerintah Guyana sendiri merupakan republik yang dengan senang hati mengabaikan tanda-tanda kecenderungan otoriter dan paranoid sekte tersebut, Jonestown memiliki sedikit harapan dari campur tangan pemerintah Guyana.

Bagaimanapun, orang tua dari penduduk Jonestown yang tinggal di AS merasa prihatin dengan surat-surat aneh yang mereka terima atau kurangnya surat kabar dari anak-anak mereka. Sehingga, para orang tua melobi pemerintah AS untuk menyelidiki.

Setelah sebuah keluarga di AS memenangkan perintah hak asuh untuk seorang anak di Jonestown, paranoia dari masyarakat Jonestown mulai meningkat. Kemudian komuni menjadi kamp bersenjata yang dikelilingi oleh sukarelawan dengan senjata. Mereka bahkan mengancam akan melawan orang luar sampai mati.

Selama periode tersebut Black Panthers, Huey Newton, dan Angela Davis berbicara kepada penduduk Jonestown melalui radio bahwa mereka berada di garda depan revolusi dan berhak melawan apa yang disebut konspirasi mendalam terhadap mereka.

Di sisi lain, pada saat itu Jones mengalami penurunan kesehatan mental dan kecanduan obat-obatan. Ia meyakini bahwa pemerintah AS dan lainnya tengah bertindak untuk menghancurkannya. Dia meminta anggota komuni untuk memulai latihan yang disebut Malam Putih, yakni simulasi bunuh diri massal di tengah malam.

Kunjungan Anggota Kongres

Atas permintaan anggota keluarga di AS dan beberapa mantan anggota Peoples Temple, anggota kongres California Leo Ryan mengorganisir sejumlah delegasi jurnalis untuk membentuk misi pencarian fakta ke Jonestown.

Delegasi Ryan tersebut tiba di Jonestown pada 17 November 1978 dan menerima audiensi sipil dari Jones, tetapi kunjungan itu segera dibatalkan pada 18 November setelah seorang anggota komuni mencoba menikam Ryan dengan pisau. Beruntung, Ryan berhasil melarikan diri dari insiden tersebut tanpa terluka.

Ketika rombongan Ryan kembali ke lapangan terbang, mereka ditemani oleh selusin penduduk Jonestown yang meminta untuk meninggalkan komuni, dan dikawal oleh deputi Jones yang waspada.

Nahasnya delegasi tersebut tidak pernah berhasil kembali. Saat delegasi legislator dari AS naik ke pesawat, pengawal mereka dari penduduk Jonestown menarik senjata dan melepaskan tembakan. 

Pada kejadian itu Ryan tertembak mati setelah beberapa peluru bersarang di tubuhnya. Keempat orang lainnya juga tewas tertembak, termasuk dua fotografer yang menangkap rekaman serangan sebelum meninggal.

Orang-orang yang hidup dan selamat dari kejadian penembakan di lapangan terbang berusaha melarikan diri, sembari terluka mereka berlari atau menyeret diri mereka sendiri ke dalam hutan.

Tindakan Revolusioner

Segera setelah kejadian di lapangan terbang, Jones memerintahkan semua pengikutnya untuk berkumpul di paviliun utama dan mengumumkan bahwa sudah waktunya untuk melakukan Malam Putih, di mana para pengikut Jim Jones akan melakukan ritual bunuh diri massal. 

Jones mengatakan kepada penduduk bahwa anggota Kongres Ryan telah dibunuh, Ia mengatakan bahwa nasib komuni telah terkunci dan membuat bunuh diri revolusioner satu-satunya solusi yang mungkin dilakukan.

Beberapa penduduk Jonestown menerima dengan sukarela, sementara yang lain mungkin dipaksa. Mereka mengantri untuk menerima cangkir dan jarum suntik sianida. Anggota termuda dari Peoples Temple menjadi yang pertama mati. Lebih dari 300 anak diracuni dengan campuran sianida yang kuat.

Terdapat penjaga bersenjata yang mengelilingi paviliun menyebabkan mereka tidak bisa kabur ke mana pun. Para penjaga yang terakhir hidup, memilih menembak diri mereka sendiri mengikuti pemimpin mereka yang juga menembak dirinya sendiri.

Tangisan mereka terekam dalam kaset audio komuni itu sendiri yang kemudian ditemukan oleh Badan Investigasi Federal atau FBI.

Ratusan Mayat Tergeletak

Keesokan paginya, pihak berwajib Guyana tiba di kompleks Jonestown dan menemukan pemandangan yang sunyi dan menakutkan. Terdapat ratusan mayat yang tergeletak. 

Sejumlah kecil orang yang selamat, melarikan diri ke hutan. Terutama orang-orang yang bersembunyi selama keracunan, mulai muncul dari persembunyian. Sementara setidaknya beberapa lusin anggota Peoples Temple, termasuk putra Jones selamat karena sedang berada di bagian lain Guyana pada waktu itu.

Salah satu jurnalis yang diserang di lapangan terbang, Tim Reiterman dari San Francisco Examiner, selamat dari dua luka tembak dan kemudian menulis buku yang berjudul Raven: The Untold Story of the Rev. 

Reiterman berpendapat, bahwa tidak mungkin memisahkan Jonestown dari konteks politik dan sosialnya. Peoples Temple sama seperti halnya banyak komuni, kultus, gereja, dan gerakan sosial lain yang mendeklarasikan sebagai sebuah alternatif dari tatanan sosial yang mapan dan merupakan sebuah bangsa bagi dirinya sendiri. 

“Temple yang saya tahu tidak dihuni oleh masokis dan orang-orang yang bodoh, jadi diikuti para anggota yang memberikan kerja bertahun-tahun, tabungan hidup, rumah, anak-anak, dan dalam beberapa kasus, hidup mereka sendiri telah mendapatkan sesuatu sebagai balasannya”, ujar Reiterman.

Reporter: Magang Himmah/Aqila Nuruttazkia Ahsan 

Editor: Nawang Wulan

Podcast

Baca juga

Terbaru