Sejarah Imlek, Dari Mao Hingga Gus Dur

Himmah Online – Imlek merupakan perayaan tahun baru bagi masyarakat Tionghoa. Perayaan Imlek merupakan tradisi tertua dan terpenting dalam kehidupan komunitas Tionghoa. Pada tahun ini, perayaan tahun baru Imlek jatuh pada 5 Februari 2019 dan akan diperingati dengan berbagai perayaan hingga 15 hari kedepan.

Perayaan tahun baru Imlek juga dikenal sebagai Chūnjié (Festival Musim Semi/Spring Festival), Nónglì Xīnnián (Tahun Baru), atau Guònián atau sin tjia.

Kata Imlek terdiri atas dua suku kata, “im” berarti bulan, dan “lek” berarti penganggalan. Akar katanya berasal dari dialek Hokkian atau Mandarinnya Yin Li yang berarti kalender bulan.

Dilansir dari laman History.com, sejarah penanggalan kalender Cina pada awalnya ditemukan pada sebuah tulang ramalan (oracle bones), yang bertuliskan catatan-catan astronomoni kuno pada awal abad ke-14 SM, semasa Dinasti Shang. Tidak seperti kalender Gregorius, kalender tahun baru Imlek selalu berubah setiap tahunnya – penanggalannya diatur oleh Kaisar yang sedang berkuasa.

Perayaan tahun baru imlek dimulai ketika bulan baru muncul, di antara akhir bulan Januari hingga pertengahan bulan Februari. Hari pertama bulan pertama di penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh di tanggal ke-15 atau pada saat bulan purnama.

Festival Musim Semi di Tiongkok

Bermula pada tahun 1912, seperti yang dijelaskan di History.com, masyarakat Tionghoa mulai banyak mengadopsi sistem penanggalan Gregorius yang dibawa oleh para misionaris Jesuit ke Tiongkok pada tahun 1582. Sehingga masyarakat Tionghoa juga ikut merayakan 1 Januari sebagai tahun baru, namun tetap menganggap Imlek sebaga sebagai perayaan tahun baru terbesar.

Kemudian tahun tahun 1949, ketika Tiongkok dikuasai oleh Partai Komunis yang dipimpin oleh Mao Zedong, pemerintah Tiongkok melarang perayaan tahun baru Imlek dan hanya mengikuti kalender Gregorius karena perjanjian dengan pihak barat.

Hingga pada akhir abad ke-20, pemimpin Tiongkok kembali memperbolehkan perayaan tahun baru tradisional mereka. Pada tahun 1996, pemerintah Tiongkok memberikan jadwal libur panjang kepada warganya, yang kemudian dikenal sebagai Festival Musim Semi.

Bagi orang Tionghoa, perayaan, Imlek selalu identik dengan musim semi. Berbagai festival diadakan selama perayaan Imlek hingga Cap Go Meh. Salah satu tradisi perayaan Imlek yang terkenal adalah pembagian angpao. Angpao adalah amplop merah yang berisikan uang sebagai hadiah tahun baru Imlek.

Mengutip dari para peneliti antropologi di Universitas California, Irvine, tradisi memberikan angpao sudah bermula sejak Dinasti Sung. Menurut legenda diceritakan, seorang anak laki-laki yatim piatu yang hidup di masa Dinasti Sung  berhasil menang melawan iblis meneror warga di desa Chain-Chieu. Sebagai hadiah, warga desa memberikan anak itu sebuah amplop merah yang berisi sejumlah uang.

Hampir di seluruh bagian dunia, masyarakat Tionghoa dari berbagai golongan selalu merayakan tahun baru Imlek setiap tahunnya. Tahun baru Imlek pun dirayakan dengan akulturasi dengan budaya setempat.

Perayaan Imlek di Indonesia

Awalnya, sejak kemerdekaan Indonesia, di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno, masyarakat Tionghoa dapat dengan bebas merayakan Imlek. Hal tersebut diatur di dalam Penetapan Pemerintah No. 2/OEM-1946 yang mengatur tentang perayaan hari raya umum dan agama.

Namun pada tahun 1967, ketika Soeharto berkuasa, melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 tahun 1967, yang menyebutkan bahwa segala hal yang berbau Tionghoa, diantaranya adalah Imlek ataupun perayaan-perayaan keagamaan lain yang dilakukan oleh etnis Tionghoa dilarang dilakukan mencolok diruang publik.

Baru kemudian ketika pasca reformasi, Presiden Abdurahman Wahid mencabut Inpres No. 14 Tahun 1967 tersebut dan menyatakan bahwa Imlek bebas dirayakan oleh siapapun dan dimanapun di ruang publik.

Pada tahun 2002, Presiden Megawati Soekarnoputri mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Kepres RI) No. 19 Tahun 2002 yang menyatakan bahwa tahun baru Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Hingga hari ini, warga Tionghoa di Indonnesia masih dapat dengan bebas untuk merayakan Imlek. Berbagai kegiatan dilakukan oleh warga Tionghoa untuk merayakan Imlek. Seperti yang dilakukan oleh Klenteng Poncowinatan yang mengadakan syukuran dalam menyambut hari raya Imlek, seperti yang dilansir dari Himmahonline.id.

Editor: Zikra Wahyudi