Sosok di Balik Bersihnya Taman UII

Nur (59), salah satu petugas kebersihan yang bekerja menyapu area boulevard UII. Foto: Himmah/Ika Rahmanita.
Pukul 03:00 WIB Nur menyiapkan sarapan. Foto: Himmah/Ika Rahmanita.
Setelah berwudu untuk salat subuh. Foto: Himmah/Ika Rahmanita.
Berangkat pukul 05:15 WIB. Foto: Himmah/Ika Rahmanita.
Menyapu trotoar. Foto: Himmah/Ika Rahmanita.
Terkadang menyapu tanpa alas kaki. Foto: Himmah/Ika Rahmanita.
Saat malam Nur rehat dengan menonton televisi. Foto: Himmah/Ika Rahmanita.
Begitu sampai di kampus, Nur bergegas untuk menyapu. Foto: Himmah/Yola Ameliawati Agustin.

Bekerja dengan ikhlas dan penuh ketulusan hati, adalah hal dasar yang sangat jarang sekali orang perhatikan. Kebanyakan orang jauh lebih mengukur  usaha kerjanya dengan upah gaji yang akan diterima. Namun, berbeda dengan Nur, seorang Petugas Lingkungan di Universitas Islam Indonesia (UII).

Wanita yang berumur 59 tahun tersebut sudah bekerja di lingkungan kampus UII sejak sembilan tahun yang lalu. Di awal tahunnya bekerja, Nur mengikuti proyek pelebaran jalan selama kurang lebih tiga tahun. 

Tugasnya saat menjadi kuli di proyek pelebaran jalan Ia akui sangat tidak mudah. Nur harus menyesuaikan ritme pekerjaan bangunan dengan kondisi umur yang sudah tidak muda lagi.

Setelah proyek tersebut selesai, Nur mendapatkan tawaran untuk menjadi petugas kebersihan di lingkungan kampus terpadu UII. Bersama dengan dua rekan lainnya, Nur mendapat pekerjaan untuk menyapu di area boulevard.

Ketika waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi, Nur berangkat menggunakan sepeda motornya dan langsung memulai pekerjaannya begitu sampai ke tempat kerja. Hanya saja, ketika kampus hendak mengadakan acara, Nur harus berangkat lebih awal dari biasanya agar tidak kewalahan nantinya. Belum lagi saat kondisi sedang hujan, akan sangat sulit baginya untuk menyapu daun-daun dan sampah yang basah.

Terlepas dari semua hal itu, Nur sangat menikmati pekerjaannya. Terlebih lagi, hasil upah yang diterimanya sangat berarti untuk kehidupan keluarga sehari-hari. Ia tak pernah mengeluh. Alasan yang ia berikan karena lingkungan kampus yang baik dan juga pekerjaannya tidak terlalu sulit.

Menurutnya, pekerjaan memang sangat penting. Setiap manusia tidak bisa memungkiri bahwa mereka membutuhkan uang. Tapi, tidak kalah pentingnya untuk meniatkan setiap pekerjaan yang dilakukan sebagai sebuah ibadah.

Narasi: Yola Ameliawati Agustin

Reporter: Ika Rahmanita, Adim Windi Yad’ulah, Yola Ameliawati Agustin

Terbaru