Syukuran Menyambut Imlek

Menancapkan Dupa di Altar Tuhan Yang Maha Esa. Foto oleh: Pradipta Kurniawan
Memukul Lonceng. Foto oleh: M. Billy Hanggara
Sembahyang. Foto oleh: M. Billy Hanggara
Berdoa. Foto oleh: M Billy Hanggara
Berebut Tumpengan. Foto oleh: M. Billy Hanggara
Ramah Tamah. Foto oleh: Nalendra Ezra

Narasi oleh: Yustisia Andhini

Suasana meriah menjelang perayaan Imlek tahun ini sudah terasa di Klenteng Poncowinatan, pada Minggu, 3 Februari 2019 kemarin, dua hari sebelum rangkaian perayaan Imlek di mulai.

Dalam rangkaian menyambut datangnya Imlek, Klenteng Poncowinatan mengadakan syukuran yang juga bertepatan dengan ulang tahun berdirinya Klenteng tersebut. Selain itu syukuran juga untuk mengenang hari lahirnya Dewa Kwan Gong.

Memasuki kawasan Klenteng, pengunjung akan disambut oleh wewangian dupa dan aktivitas jemaat yang mulai ramai memadati persiapan doa bersama. Di luar Klenteng, terlihat juga beberapa aparat kepolisian di sekitar Klenteng yang bersiaga mengawal jalannya acara.

Kelenteng Poncowinatan yang nama aslinya Zhen Ling Gong ini, terletak di Jalan Poncowinatan, Kranggan, Yogyakarta. Akses menuju kelenteng pun sangatlah mudah. Pengunjung dari Tugu bisa menuju beberapa meter ke arah utara melalui jalan AM Sangaji, kemudian belok ke arah barat menuju Jalan Poncowinatan. Dari situ, pengunjung akan langsung menemukan Klenteng Poncowinatan yang berada di utara jalan.

Ketika Acara doa bersama akan di mulai, jemaat dan pengunjung Klenteng yang telah datang, dikumpulkan di altar utama. Rangkaian acara syukuran ini dimulai dengan pemukulan lonceng yang disusul ditabuhnya bedug. Kemudian pembacaan doa dilakukan secara khidmat, dipimpin oleh Aji Chandra, dari Masyarakat Agam Khonghucu Indonesia (MAKIN).

Di penghujung acara, dilakukan pemotongan tumpeng oleh pemimpin doa dan ketua Yayasan Bakti Loka. Menurut Aji Chandra dilakukannya pemotongan tumpeng ini sebagai simbol kemakmuran dan juga tradisi Klenteng yang telah dilakukan selama turun temurun. “Kalau mau motong, ya harusnya kue keranjang karena ini waktunya, tapi tidak. Hal ini juga merupakan lambang simbol pembauran dari Budaya Cina dengan Budaya Jawa,” ujarnya.

Hal yang kemudian menjadi menarik dari acara syukuran tersebut, selain dihadiri oleh jemaat Klenteng, kegiatan hari itu juga dihadiri oleh pengunjung dari berbagai golongan. Mariyatul Qibti, salah seorang pengunjung yang merupakan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) juga turut mengikuti rangkaian ibadah hingga selesai. “Disini kita mau belajar agama-agama yang berbeda, yang tentunya ini menarik. Sebenarnya ini juga bagian dari pertemuan pertama saya di semester dua yang mempelajari kehidupan beragama di keyakinan yang lain,” ujarnya.

Di akhir acara Aji berharap, melalui acara syukuran terebut, diharapkan agar sesuatu yang baik terjadi di negara tahun ini. “Di tahun politik ini, kita masyarakat hanya berharap hasil dari politik ini menjadi sesuatu yang baik. Kalau negara keadaannya baik, pasti rakyatnya juga baik,” tegas pria 62 tahun itu.

Reporter: Pradiphta Kurniawan,Yustisia Andhini, M. Billy Hanggara, Nalendra Ezra.

Editor narasi: Zikra Wahyudi

Baca juga

Gawai yang Merubah

Pasar di Kala Pandemi

Terbaru