ARTJOG 2019: Kesenian Sebagai Ruang Pengetahuan Bersama

Foruk | Kekayaan tradisi menyebabkan masyarakat Indonesia hidup dengan berbagai legenda, mitos, dan cerita rakyat. Bukan semata-mata untuk pengantar tidur, cerita-cerita itu bahkan kerap kali dianggap nyata. Agan Harahap menyusun tafsirnya atas sejumlah legenda, mitos, dan cerita-cerita rakyat lokal ke dalam sebuah fiksi. Legenda, mitos, dan cerita rakyat telah terbukti berperan penting dalam memelihara keseimbangan, keteraturan, serta kelarasan hubungan manusia dengan alam lingkungannya.

Daun Khatulistiwa (Domus Frosiquilo) | Kegemaran menyelam membawa Teguh Ostenrik untuk menciptakan instalasi dalam air. Ia memulai proyek yang disebutnya ARTificial Reef pada 2013. Daun Khatulistiwa yang tampil dalam pameran ini adalah ARTificial Reef Teguh yang ke-9, rencananya akan diceburkan ke wilayah Pantai Jikomalamo, Ternate, Maluku Utara, sebagai media untuk koral tumbuh dan tempat tinggal berbagai jenis biota laut lainnya. Serupa kubah, patung ini terbangun atas kerangka besi yang bentuk dasarnya dikembangkan dari anatomi daun jati. Baik terumbu karang maupun daun memberikan peran besar untuk kehidupan di bumi, yaitu sebagai penghasil oksigen yang kita hirup.

19101 (Self-Recovery) | Ide dari judul karya ini didapat dari cara alam ini bisa menyembuhkan diri sendiri. Yusra Martunus seniman dari Padang Panjang, Sumatera Barat, dikenal sebagai anggota kelompok seni Jendela yang banyak berkarya melalui medium instalasi. Karya ini berbicara tentang antroposentrik, bagaimana manusia ini menjadi sosok superior dalam skema alam. Ia mencoba untuk mentafsirkan petatah-petitih Minangkabau yang berbicara tentang bagaimana alam itu menjadi guru untuk kita hidup dan belajar. Karya ini merupakan karya interaktif dan menginginkan pengunjung untuk menyentuh dan berinteraksi dengan permukaan karya.

Domain | Tromarama (Febie Babyrose, Ruddy Hatumena dan Herbert Hans), idenya sendiri berangkat dari pengalaman mereka ketika makan di sebuah restoran di Jakarta Barat yang mempunyai akuarium berisi Penguin Humboldt, di mana ditayangkan sebuah proyeksi dari kondisi kutub utara. Bagaimana tidak, hanya manusia yang sekarang ruang-ruang realitasnya sudah bergeser lewat perangkat teknologi tapi juga dunia binatang. Itu mengapa warna-warna yang ditampilkan di karya mereka hanya warna hijau, ungu, dan biru, karena warna-warna ini adalah warna-warna yang biasa dilihat oleh mata penguin.

Superiorepeatedly | Pengalaman Agung ‘Agugn’ Prabowo memandang tradisi masyarakat kita (Indonesia) di saat hari-hari besar agama. Bagaimana penjagalan binatang terjadi besar-besaran, sementara keperluan konsumsi tidak terlalu dibutuhkan. Bagaimana kita dapat memandang dominasi manusia yang kuat dalam rantai makanan dan lingkungan sosial yang membahayakan manusia sendiri. Dunia hari ini tidak lagi digerakkan oleh relasi alam dan manusia yang harmonis.

Post-Colonial Aphrodisiac | fotografi dari salah seorang model yang terlibat dalam karya Octora Chan. Idenya sendiri berangkat dari bagaimana berbicara tentang kedaulatan atas tubuh. Dari karya ini ia menunjukkan bagaimana laki-laki yang selama ini selalu dikonstruksi menjadi seorang yang punya tubuh kuat, agresif, dan harus melindungi perempuan. Sebenarnya stereotip-stereotip ini dipertanyakan di dalam karya performance ini. Ia juga curiga bahwa sebenarnya konstruksi ini dibangun dari konstruksi kolonial, bagaimana laki-laki harus memiliki sifat yang khusus dan perempuan harus mempunyai sifat yang khusus juga.

Argo-Meru-Api | Manusia telah menciptakan berbagai jenis teknologi preservasi sebagai tendensi alamiah manusia untuk melawan waktu. Konsep karya ini dibuat oleh Arin Dwihartanto Sunaryo, seniman dari Bandung yang mempunyai gaya abstrak kuat. Material dalam karya ini menggunakan resin dan abu vulkanik Gunung Merapi. Arin mencoba menangkap dan mengawetkan momen peristiwa alam yang tak terhindarkan.

Festival Seni Rupa Kontemporer Internasional Yogyakarta, ARTJOG ke-12 kembali digelar pada 25 Juli hingga 25 Agustus 2019. ARTJOG 2019 konsisten mempertahankan Jogja National Museum (JNM) menjadi lokasi penyelenggaraannya. Mulai 2019 hingga 2021, ARTJOG akan dirangkai dengan sebuah tema besar, Arts in Common. Tema tersebut akan menjadi sub tema kedalam tiga edisi festival setiap tahunnya. Tema yang dibawa pada ARTJOG 2019 adalah Common Spaces. Tema tersebut dihadirkan untuk memaknai ARTJOG 2019 menciptakan kesenian sebagai ruang pengetahuan bersama.

Foto dan narasi : Pradipta K

Reporter : Yustisia Andhini, Pradipta K

Redaktur Foto : M. Billy Hanggara

Editor Naskah : Armarizki Khoirunnisa D.

Terbaru