Eksistensi Gerabah di Tengah Gempuran Warna-warni Zaman

Proses pembuatan gerabah dengan teknik putar oleh Pareng (55). Foto: Himmah/Della Syaharani
Mitro (70) sedang meletakkan kayu bakar untuk proses pembakaran gerabah. Foto: Himmah/Ista Setia Pangestu
Salah satu teknik pengelasan yang dilakukan Supriyadi (50) dalam proses pembuatan gerabah. Foto: Himmah/Ista Setia Pangestu
ni (43) sedang mengoles gerabah yang telah selesai pengelasan. Foto: Himmah/Ista Setia Pangestu

Proses pengamplasan gerabah oleh Selo (62) sebagai salah satu tahap menuju finishing. Foto: Himmah/Ista Setia Pangestu

Gerabah yang telah siap untuk dikirim ke Luar Negeri melalui Solo. Foto: Himmah/Ista Setia Pangestu

Ruang pengeringan dan penyimpanan gerabah. Foto: Himmah/Ani Chalwa Isnani
Ruang pengeringan dan penyimpanan gerabah. Foto: Himmah/Ani Chalwa Isnani
Revolusi berbagai bentuk gerabah dari bentuk sederhana hingga bentuk manusia. Foto: Himmah/Fathoni Abdul Mukti
Revolusi berbagai bentuk gerabah dari bentuk sederhana hingga bentuk manusia. Foto: Himmah/Fathoni Abdul Mukti

Himmah OnlineGapura bertuliskan “Selamat Datang Sentra Industri Kerajinan Gerabah Kasongan” menyambut kehadiran kami. Menandai perjalanan kami telah sampai di sentra industri gerabah terbesar yang berada di Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tak hanya pengrajin, di sini juga menjual banyak macam hasil kerajinan gerabah.

Kehadiran kami disambut Eni, salah satu pengrajin gerabah di Kasongan yang telah berkecimpung selama 20 tahun. “Gerabah itu bahan bakunya dari tanah liat dengan bentuk macam-macam. Tapi, awal-awalnya kan cuma untuk alat masak ada kuali, tungku, cowet itu awal-awalnya seperti itu,” tutur Eni.

“Setelah itu, berubah bentuk jadi hiasan rumah hingga untuk pot bunga. Sekarang model itu kan jadi macem-macem tergantung pesanan,” lanjut perempuan berusia 45 tahun tersebut kepada reporter himmahonline.id pada Kamis (4/8).

Berdasarkan catatan buku Sejarah Nasional Indonesia II, gerabah atau tembikar di Indonesia sudah ada sejak zaman neolitikum, yang ditemukan di beberapa tempat di Indonesia dari 5000-3000 SM. Hingga saat ini, gerabah masih eksis di tengah perkembangan zaman.

Dalam pembuatannya, secara turun-temurun bahan baku gerabah berasal dari tanah liat. Namun, seiring perkembangan zaman bahan baku yang semula tanah liat, sekarang merambah menggunakan bahan baku Glass Reinforced Concrete (GRC).

Metode pembakarannya pun saat ini lebih variatif, dari yang sebelumnya menggunakan tungku, saat ini sudah merambah pembakaran menggunakan gas.

Bukan hanya itu, gerabah juga memiliki arsiran atau ukiran yang selalu berevolusi terhadap perkembangan zaman. Mulai dari desain yang tanpa pola, hingga berbentuk manusia maupun hewan.

Di tengah gempuran warna-warni bahan perabot rumah tangga, hingga saat ini gerabah masih eksis. Hal ini terbukti dari penjualan toko milik Eni yang menjangkau sampai ke mancanegara seperti Jepang, Jerman, Australia, dan Perancis.

Reporter: Himmah/Ani Chalwa Isnaini, Della Syahrani, Fathoni Abdul Mukti, Ista Setia Pangestu

Narasi: Himmah/Fathoni Abdul Mukti

Editor Narasi: Monica Daffy

Terbaru

Skip to content