Demensia

Angin berdesir kencang menyalak sebuah mesin usang

Berdebu tebal tertutup asap kematian

Hilang semua memori, terkubur dalam pemberangusan api penguasa

Gelap, kelabu, hening, penuh luka

 

Aku mencoba menggariskan kembali kelabu itu

Aku mencoba menyalakan kembali mesin rusak yang terhenyak oleh peristiwa

Mencoba menjadi anomali dalam derap langkah komando para serdadu

Teka-teki bukan lagi teka-teki

 

Tuan dan nona sedang asyiknya bercengkrama

Investasi, jual beli, dan pemikiran tanpa apriori

Sedang si miskin tertindas akan luka

Nestapa, karena ayahnya tak kunjung pulang

Atau mungkin, lenyap dianggap lawan, hilang dianggap setan, disapu bak musuh

 

Lebih baik menimbang saham daripada HAM

Lebih baik tak acuh daripada terjebak ambivalensi

Lebih baik berceloteh tentang harta karun

Culas, rakus, kikir, lupa akan derita rakyatnya

 

Apa artinya revolusi, reformasi, demokrasi, kalau rakyat masih ditipu

Apa negaraku sudah pikun atau pura-pura pikun?

Luka rakyatnya bukan lagi luka penguasa

Mesinnya dingin, membeku, kotor, karena terlalu lama menjadi budak pembangunan

(Fahmi Ahmad B.)

Berita sebelumyaKacamata Pejalan
Berita berikutnyaLPM Meraba Zaman

Podcast

Baca juga

Pagebluk

Terbaru