Depresi, Teman, dan Mahasiswa Psikologi

Sebuah refleksi untuk mahasiswa psikologi

Suatu hari, saya mendapat kabar bahwa teman dekat saya mengambil cuti kuliah untuk menjalani terapi psikologis, depresi berat katanya. Terus terang saya terkejut dan bertanya-tanya masalah apa yang kemudian membuatnya tumbang. Padahal, ia tidak pernah bercerita soal masalah yang dimilikinya. Saya mengira ia tidak punya masalah. Hidupnya terlihat baik-baik saja. Ia pun tidak pernah bercerita dan itu malah lebih baik. Namun, ternyata justru itulah penyebabnya: menyimpan sendiri beban yang ia derita dan menyembunyikannya dengan keceriaan.

Melihat kejadian ini, membuat saya mengingat-ingat kembali perkataan Sigmund Freud dalam bukunya Naluri Kekuasan. Freud mengatakan, setiap orang pasti memiliki sisi kelamnya masing-masing, yang kemudian Freud sebut dengan Id. Palung kepribadian, merupakan sebutan lain dari Id yang diartikan sebagai hasrat terdalam manusia yang menyimpan segala kebencian, nafsu angkara, dan sebagainya. Seseorang memang bisa memendamnya untuk waktu yang lama, bahkan sejak ia kecil. Namun, kata Freud, ibarat sebuah balon yang diisi terus-menerus oleh angin, suatu saat akan meletus. Seperti bom waktu, tinggal menunggu saja kapan ia akan meledak.

Teman saya ini bukan merupakan orang yang berlarut-larut dalam memendam masalah. Ia individu yang ceria, meskipun memang tidak mudah berbaur dengan orang lain. Kadang ia sedikit merasa tidak percaya diri ketika berada di ruang publik. Tapi, secara keseluruhan, awalnya saya yakin ia tidak memiliki masalah mental yang berarti.  

Mental

Menurut Schneider dalam Personal Adjustment and Mental Health, seseorang dapat dikatakan sehat mental apabila memenuhi ciri-ciri sebagai berikut: efisiensi mental, mengendalikan dan intergrasi pikiran, punya kendali perilaku, intergrasi motif, toleransi terhadap konflik dan frustasi, perasaan-perasaan dan emosi-emosi yang positif (sehat), ketenangan atau kedamaian pikiran, sikap-sikap yang sehat, konsep diri yang baik, identitas ego yang kuat, dan hubungan yang kuat dengan kenyataan.

Di antara semua ciri-ciri yang disebutkannya, saya masih penasaran mana yang tidak dipenuhi teman saya. Sehingga menjadi penyebab dirinya dirujuk kepada institusi psikologi. Akhirnya, waktu itu saya memutuskan untuk langsung mencari tahu dari sumber-sumber terdekatnya, seperti teman satu kontrakannya dan beberapa kerabat. Pasalnya, setelah saya mendapat kabar ia cuti, kami sudah tidak saling kontak. Itu semakin membuat saya kesulitan mencari tahu kelengkapan informasi.

Depresi

Setelah sekian lama saya berusaha menghubunginya dan tak ada hasil, singkat cerita ia kembali masuk kuliah. Saya sangat senang melihatnya, berharap kami bisa menikmati kopi tubruk kantin samping fakultas di sore hari seperti biasanya. Namun, karena ia cuti selama dua semester, banyak jadwal kuliah kami yang tidak senada. Hal itu membuat kami agak kesulitan mencari waktu luang. Ditambah lagi, ia tidak seceria sebelumnya. Sehari-hari saya selalu melihatnya menyendiri dan tidak terlihat berbaur hingga saat setiap saya mendatanginya.            

Saya jadi ingat pada sebuah kalimat yang ditulis oleh Seligman (yang dikutip Myers dalam Psikologi Sosial), dimana seseorang yang telah mengalami depresi akan cenderung menjadi pasif. Dirgayunita dalam jurnalnya berjudul Depresi: Ciri, Penyebab, dan Penangannya, menyebutkan bahwa diantara faktor yang menyebabkan gangguan depresi yaitu faktor biologi, kepribadian, dan sosial. Lalu, berbekal sedikit informasi dari kerabat teman saya itu, kemudian saya menerka-nerka penyebab terjadinya gangguan depresinya.

Banyak faktor yang saya temukan berdasarkan analisis serampangan saya. Pertama, masalah sosialnya, dimana dirinya ternyata memiliki beban dalam menjalani kuliahnya. Konon, ia dipaksa orangtuanya masuk jurusan psikologi dengan berbagai tuntutan dan harapannya. Selain itu, hubungannya dengan orangtua juga kurang harmonis. Kedua, faktor kepribadian, dimana dirinya bukanlah orang yang terbuka dan gemar memendam masalahnya seorang diri. Padahal, berbagi masalah dengan sesama teman itu sangat penting dan dapat membantu menimbulkan emosi positif seseorang.  

Teman

Teman sebaya merupakan salah satu faktor yang bisa mencegah terjadinya depresi. Menurut dua Geldard dalam bukunya Konseling Remaja: Pendekatan Profetik untuk Anak Muda, Pada dasarnya, seseorang lebih nyaman mencurahkan isi hatinya kepada teman sebayanya. Sebab, teman sebaya menurut Willis dalam Konseling Individu: Teori dan Praktek, dapat mengatasi seseorang menyelesaikan masalah dan membantu menyesuaikan dirinya dengan lingkungan. Membaca keterangan tersebut membuat saya jadi berpikir bahwa teman mestinya memberi dorongan kepada teman lainnya yang sedang memiliki masalah.  

Namun, lain halnya dengan teman saya tadi, yang sering mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan sepulangnya dari rehabilitasi. Banyak di antara teman kami yang ketakutan saat diajaknya bicara, malah menjauhinya. Bahkan, pacarnya yang dulu sangat ia sayangi kini memutuskan untuk mengakhiri hubungan itu. Konon dirinya sangat kalap ketika depresinya kambuh.

Menurut keterangan teman kontrakannya, ia membanting segala yang dilihatnya, dari meja, gelas, dan benda lainnya. Cerita itu cepat menjamur saat sebelum ia rampung dari terapinya. Namun, tak bisakah teman-teman bersikap biasa saja layaknya tidak ada apa-apa? Bukankah kalian mahasiswa psikologi yang dicekoki materi ini itu setiap hari? Pikir saya.

Alhasil, depresinya kambuh lagi karena tidak lain dan tidak bukan, lingkungan kuliahnya tidak lagi ramah terhadap penderita gangguan sepertinya. Padahal, saya selalu mengira bahwa mahasiswa psikologi pasti bisa menerapkan ilmu-ilmunya dalam kehidupan sehari-hari. Namun, nampaknya saya dipaksa untuk melihat realita yang ada berdasarkan kisah teman saya itu. Ya, tidak semua orang yang paham akan suatu ilmu dapat mengamalkannya dengan mudah.

Rehabilitasi

Pada semester selanjutnya, saya melihat sebuah poster open recruitment bagi mahasiswa untuk menjadi volunteer di sebuah kecamatan. Poster itu berisi ajakan untuk membantu mewujudkan kesehatan mental masyarakat desa bertajuk “Desa Siaga Sehat Jiwa: Menerapkan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat”. Tanpa pikir panjang, saya langsung mendaftarkan diri.

Singkat cerita, saya kemudian turut serta dalam kegiatan tersebut. Kegiatan yang diprakarsai oleh Puskesmas yang berlokasi di sebuah kecamatan asal Yogyakarta itu memiliki agenda rutin dalam menciptakan lingkungan yang ramah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Diantaranya yaitu pendataan jumlah orang yang memiliki keluhan kesehatan jiwa, membentuk kader kesehatan jiwa, dan pertemuan rutin sekaligus konseling korban gangguan jiwa. Gerakan yang dilakukan komunitas ini cukup mendasar.

Komunitas ini tidak hanya melakukan perlakuan khusus kepada korban gangguan jiwa, tapi juga kepada setiap warga desa. Mereka melakukan sosialisasi bulanan terkait kesehatan jiwa dan bagaimana semestinya perilaku warga terhadap orang yang terindentifikasi gangguan jiwa. Hal itu digalakkan di setiap desa yang ada di kecamatan tersebut. Contohnya, warga diminta membeli dagangan ODGJ yang berwirausaha dengan tujuan untuk mendorongnya terus berkegiatan positif. Tidak hanya itu, masih banyak upaya-upaya yang tidak bisa saya sebutkan semuanya.

Kesimpulan

Melalui kegiatan yang dilakukan komunitas ini, saya kemudian teringat pada kasus teman saya tadi. Memang benar teman saya telah sembuh dari depresinya, namun apakah lingkungan yang akan ia tinggali siap menerimanya atau tidak itu juga perlu diperhatikan. Padahal, lingkungan teman saya itu di kampus notabene mahasiswa yang mengerti ilmu psikologi. Tidak menutup kemungkinan kita yang merupakan mahasiswa psikologi bisa mengamalkan ilmu yang kita pelajari. Saya yakin, kalau mahasiswa psikologi itu pun masih tetap manusia biasa. Jadi, kami para mahasiswa psikologi pun tetap membutuhkan rehabilitasi berbasis lingkungan.

 

*Analisis/Retorika ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi Himmahonline.id.

 

Seri: