Masih Perlukah LEM?

Datang dan berganti para pimpinan lembaga mahasiswa mencoba membenahi. Datang dan berganti membenahi karut-marut UII, dari apatisme, perselisihan, penyelewengan wewenang, pembodohan sistem sampai lunturnya jati diri. Datang dan berganti para mahasiswa yang merasa mampu dan peduli memperebutkan puncak pimpinan dari segala segi latar organisasi. Latar belakang organ ekstra atau intra tak masalah asalkan sang pemimpin mau memperjuangkan rakyat mahasiswanya dengan sepenuh hati. Latar belakang organ ekstra atau intra tak masalah asalkan tidak membawa kepentingan pribadi.

Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) adalah delegatoris dari Dewan Permusyawaratan Mahasiswa (DPM) yang berfungsi menjalankan aspirasi mahasiswa. Sudah selayaknya apabila program kerja yang dilaksanakan berdasarkan kebutuhan dan aspirasi mahasiswa pula. Mewakili sekitar dua puluh lima ribu mahasiswa UII tentunya menjadi suatu kebanggaan sekaligus amanah yang besar untuk Dhimas Panji sebagai ketua LEM terpilih periode 2015/2016. Pelantikan merupakan gerbang awal yang menandakan bahwa ia harus mulai bekerja dan mengabdi untuk mahasiswa yang diwakilinya. Sudah tidak ada waktu lagi untuk berleha-leha, bahkan membawa kepentingan pribadi atau organisasi ke dalam lingkungan keluarga mahasiswa UII.

Pernah dengar ungkapan bahwa kepanjangan LEM adalah Lembaga Event Mahasiswa? Ya, itu adalah bentuk kritik untuk LEM dimana kegiatannya hanya berorientasi pada kegiatan event-event yang bahkan tidak dibutuhkan mahasiswa. Untuk eksistensi? Gengsi? Buang-buang materi? Atau desakan koalisi? Tak taulah, yang jelas sudah banyak event yang dilakukan oleh mahasiswa UII selain LEM sampai memenuhi papan pengumuman. Oleh karena itu, tak perlulah lembaga sebesar LEM  ikut memenuhi ruang di papan dengan hal yang sama. Masih banyak hal lainnya yang  perlu diurus.

Sejatinya LEM adalah pelaksana aspirasi mahasiswa, tetapi dalam pelaksanaannya, yang dimaksudkan adalah mahasiswa yang mana? Apakah mahasiswa yang memiliki ideologi yang sama? Dan bagaimana LEM mengetahui apa saja aspirasi mahasiswa kalau diskusi dengan mahasiswa saja jarang dilakukan. Memang ruang untuk berkomunikasi tidak hanya diskusi, tapi dalam diskusi kita bisa saling bertukar pikiran, memberi saran dan kritik, serta menyatukan visi dan misi yang akan diperjuangkan demi menjadikan UII lebih baik. Diskusi rutin walaupun kecil sangat perlu dilakukan, karena dalam setiap diskusi akan banyak pemikiran baru yang muncul dan berkembang dengan adanya dinamika pemikiran peserta diskusi yang bermacam-macam. Bukan hal yang keliru apabila Bapak Wakil Rektor III, Abdul Jamil, mengatakan bahwa ini adalah periode yang kritis, dimana banyak sekali permasalaham yang dituntut untuk segera ditangani.

Saat seseorang sudah bersedia dan merasa sanggup untuk mengemban amanah sebagai perwakilan mahasiswa, maka mau tidak mau ia harus mengoordinasi seluruh mahasiswa dari berbagai golongan tanpa ada perlakuan khusus terhadap golongan tertentu, karena ia adalah perwakilan seluruh mahasiswa, bukan perwakilan beberapa golongan mahasiswa saja. Tapi hal tersebut pasti sudah dipertimbangkan oleh Dhimas yang berjanji akan mewakili mahasiswa dengan hati nurani.

Semoga tema integrasi nilai-nilai keislaman dan ke-UII-an dalam peran dan fungsi LEM guna mempersiapkan generasi muda yang progresif dan diridai Allah SWT, tidak hanya sebatas slogan yang selalu berganti tiap periodenya. Datang dan berganti para pemimpin lembaga mahasiswa mewakili, datang untuk terus membenahi dan berganti untuk terus mengabdi bukan ego yang selalu menghegemoni. (Sirojul Khafid – Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi 2012/Koordinator Bidang Jaringan Kerja LPM Himmah UII)

Berita sebelumyaPartisipasi Budaya
Berita berikutnyaIkhlas dalam kehendakNya

Podcast

Baca juga

Terbaru