Mengenang Mas AE, Pemimpin Redaksi Terakhir Muhibbah

Nama Anang Eko Priyono atau biasa dipanggil Mas AE mungkin sudah familiar di kalangan mahasiswa UII dan aktivis mahasiswa Yogyakarta paruh awal 1980-an. Sebab ia aktivis mahasiswa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) saat itu dan dikenal juga karena tulisan-tulisannya, terutama dalam produk majalah pers mahasiswa UII saat itu, Muhibbah, di mana ia menjadi pemimpin redaksinya. Mas AE jugalah yang merupakan pemimpin redaksi terakhir majalah tersebut, sebelum akhirnya berubah menjadi Himmah.

Kebiasaan hidup dalam lingkaran aktivisme sosial, riset, kajian islam dan politik, serta menulis inilah yang barangkali terus dilakoninya hingga ia menghembuskan nafas terakhir pada Minggu, 12 April 2020 kemarin. Saat kabar duka itu datang, sahabat dan koleganya menulis Mas AE melalui obituari singkat dan seolah-olah semua sepakat mengenang AE terutama melalui tulisan-tulisannya. 

Sebab hal yang sama saya alami. Mulai dan terus mengenal Mas AE ‘hanya’ melalui tulisannya.

Saat awal-awal menjadi mahasiswa UII, saya disodorkan oleh senior sebuah buku hasil suntingan Mas AE, yaitu Api Putih di Kampus Hijau: Gerakan Mahasiswa UII Dekade 1980-an. Buku yang merangkum kumpulan tulisan tersebut terutama menceritakan untuk mengenang salah satu sosok aktivis mahasiswa UII saat itu, Slamet Saroyo yang meninggal (tahun 1989) akibat konflik antara mahasiswa dengan dalang berasal dari birokrat kampus maupun badan wakaf. 

Motifnya diiringi dugaan korupsi dalam proyek pembangunan kampus Antara yang kini adalah gedung Ace Partadiredja atau kompleks Fakultas Ekonomi UII yang berada di Condong Catur, Yogyakarta.

Dalam pengantarnya, Mas AE menulis meski tak mengenal secara pribadi dengan Slamet Saroyo (mungkin karena rentang angkatan yang cukup jauh), tetapi kematiannya tak boleh begitu saja dilupakan. Ia bahkan mengusulkan nama Slamet Saroyo diabadikan menjadi auditorium UII di Jalan Cik Di Tiro, Yogyakarta.

Dari tulisannya, Mas AE juga tak hanya menceritakan kronologi kematian Slamet Saroyo, tapi lebih jauh lagi menggambarkan lanskap gerakan mahasiswa UII dan Yogyakarta dekade itu. Mulai dari fragmentasi isu mahasiswa yang ingin dikawal (antara isu dalam atau luar kampus), internal HMI, cikal bakal terbentuknya gang rode, dan lain sebagainya.

Dari situ saya mulai mengikuti Mas AE melalui laman Facebook-nya. Saat itu, sekitar tahun 2014 dan 2015 ia sering menulis dan membagikan tulisan tentang gerakan Civic Islam. Makanya saat ia sedang berada di Yogyakarta untuk menjadi narasumber dalam bedah buku Api Putih di Kampus Hijau yang digelar oleh HMI, beberapa pengurus Himmah “menculiknya” dan membawa ke sekretariat usai acara selesai, untuk berdiskusi tentang Civic Islam (beruntung hasil diskusi tersebut terekam di sini).

Kelakar Mas AE saat diskusi bersama kami di sekretariat,” lho, sekarang pengurus kalau diskusi dan rapat di atas lantai, dulu pas zaman saya ada kursi hingga meja. Mau makan tinggal pesan.”

Kelak, setelah saya menjadi alumni dari organisasi dan kampus yang sama, saya masih terus mengikuti tulisan-tulisan Mas AE lewat Facebook-nya. Dua tahun belakang, tema tulisan yang Mas AE bagikan sedikit berubah menjadi Islam dan Sufisme. Ia bahkan membuat grup untuk membagikan soft file buku dengan tema yang sama untuk diresensi anggota grup.

Pemimpin Redaksi Muhibbah Terakhir

Pada tahun 2017, Redaksi Himmah memutuskan untuk mengangkat laporan sejarah majalah Muhibbah/Himmah karena bertepatan sekaligus untuk memperingati setengah abad LPM UII. Saat itu kami juga ingin tahu lebih banyak bagian-bagian yang hilang, terutama pasca pemberedelan Muhibbah tahun 1982 hingga akhirnya berubah menjadi Himmah pada tahun 1983.

Pada periode kepengurusan LPM UII tahun 1982, Mas AE menjadi Pemimpin Redaksi Muhibbah dengan Mahfud MD (yang kini menjadi Menkopolhukam) sebagai Pemimpin Umum. Ini bukan perjumpaan pertama Mas AE dengan Mahfud MD dalam satu kepengurusan. 

Sebelumnya keduanya aktif di LPM UII tingkat fakultas dengan produknya majalah Keadilan di mana Mas AE menjadi Pemimpin Umum dan Mahfud MD sebagai pemimpin redaksi. Keduanya juga sama-sama aktif di HMI Komisariat Fakultas Hukum UII di mana Mas AE jadi ketuanya dan Mahfud MD jadi salah satu wakilnya.

Sebagai orang nomor satu di Redaksi Muhibbah, Mas AE punya pengaruh besar dalam menentukan orientasi redaksi. ”Saat itu ada upaya depolitisasi pemerintah terhadap mahasiswa,” ujar Mas AE, dikuti dari Majalah Himmah No.1 Tahun 2017. “Kami mengevaluasi Muhibbah sebelumnya. Ini jurnalistik standar saja, hanya isu kampus dan tidak mendalam.”

Iman Masfardi, Redaktur Muhibbah saat itu, menjelaskan pada rapat redaksi segalanya diperhitungkan. Dari pemilihan kasus, pemilihan narasumber, sampai kemungkinan mendapat teguran bahkan sampai pembredelan. Menurut Iman, Muhibbah mencoba mengungkap hal-hal yang tidak mungkin diungkap oleh pers umum saat itu.

Hal ini bisa dilihat dari beberapa laporan utama yang disajikan Muhibbah. “Menggugat Parpol Islam” menghadirkan narasumber yang berasal dari anggota petisi 50 yang kontra dengan Soeharto saat itu. “Rezim Militer Kita” mengkritik dwifungsi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) yang sedang berada di puncak kekuasaan. Lalu “Posisi Kita Dimana” yang membahas doktrin bebas aktif politik luar negeri.

Namun kini, dari sembilan edisi yang diterbitkan Muhibbah tahun 1982 hanya terarsip lima edisi terakhir. Saya pernah menemui Mas AE di Stasiun Pondok China, di dekat rumahnya, untuk meminta beberapa edisi yang tidak ada. Namun, ternyata Mas AE hanya menyimpan majalah edisi yang sama dengan yang terarsip di sekretariat.

Konten kritis itu pula yang membuat Muhibbah sering mendapat teguran dari Menteri Penerangan, Rektorat UII, Komando Daerah Militer (Kodam), dan Komando Resort Militer (Korem), baik melalui lisan maupun surat. Bahkan terdapat penulis-penulis yang sudah dicatat sebagai pembangkang. Hal itu pula yang akhirnya membuat Muhibbah diberedel dan mati lalu berganti menjadi Himmah.

Mas AE dan Iman merupakan dua dari beberapa penulis yang di-blacklist dari kepengurusan saat itu, jika LPM UII ingin tetap mengeluarkan produk jurnalistik. Syarat yang lain mengharuskan nama Muhibbah diganti yang akhirnya berubah menjadi Himmah dan tidak boleh lagi mengangkat dengan tema sosial dan politik, tetapi hanya konten keislaman saja (makanya bagi Iman sampai saat ini, Himmah adalah monumen pengkhianatan aktivis pers mahasiswa). 

Sebenarnya faktor kepemimpinan sosok rektor saat itu turut berpengaruh terhadap gerakan kemahasiswaan. Mas AE mengatakan Rektor UII saat itu, GBPH Prabuningrat (yang notabene orang Kraton dan meninggal pada 31 Agustus 1982) lebih mengayomi dibanding rektor setelahnya, Ace Partadiredja.

“Zaman pak Ace itu, kan dia penakut. Dia ditelpon aja marah-marahnya ke kami. Pak Prabu itu sangat mem-back up mahasiswanya. Contohnya, setiap sidang Maqdir dia datang ke pengadilan,” kata Mas AE. Maqdir Ismail merupakan salah satu akivis UII yang ditangkap oleh pemerintah karena ikut menghadiri perkumpulan Dewan Mahasiswa di Bandung.

Karier Mas AE selalu ada dalam lingkaran aktivisme sosial, riset, kajian islam dan politik, serta penulisan. Intelektual ini juga dikenal banyak terutama dari buku-buku yang disuntingnya maupun yang ditulisnya. Mulai dari pemikiran-pemikirannya tentang Kuntowijoyo (salah satu dosen FIAI UII, Yusdani, bahkan menyebut Mas AE ini sangat Kuntowiyan sekali), Islam, demokrasi, hingga politik.

Sebagaimana kebiasaan Mas AE yang gemar menulis, mungkin ia juga ingin dikenang hanya melalui tulisan-tulisannya. Lahul Al-Fatihah.

Baca juga

Terbaru