Surat untuk Wakil Mahasiswa

Kemarin, setelah pulang kuliah, saya mengobrol dengan teman sejurusan anak Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) di burjo. Dia cerita ke saya soal masalah lembaga yang ada di fakultas kami. Kemarin, fakultas kami kekurangan calon legislatif. Kemudian, ada masalah kecil yang kayaknya nggak baik saya umumkan di sini, tapi mas-mbak sekalian khususnya yang di FPSB tahu saja, kan ya?

Teman saya berpendapat,  lembaga-lembaga seperti disusupi hantu-hantu berwarna –seperti padang rumput di malam hari- dan ketika ada apa-apa, HMJ prodi saya ini suka susah juga gitu karena banyak hantu-hantu di lembaga. Sedangkan, caleg-caleg fakultas kami –yang alhamdulillah ya udah mencukupi kuota— beberapa ada yang berhubungan dengan hantu-hantu tadi. Saya sendiri sih mikir, apa iya kalau mau naik lembaga harus minta restu sama hantu-hantu berwarna gitu? Mas-mbak sendiri minta restu nggak sama hantu-hantu berwarna itu?

Kebetulan, obrolan kami ini agak nyambung sama gosip yang udah tersebar di fakultas. Ada anak-anak yang mencoba untuk berkampanye mendukung pilihannya, tapi sepertinya agak menyinggung hantu berwarna, jadinya dimarahin ama mbah-mbah hantu berwarna. Saya nggak tau itu bener apa nggak, soalnya saya hanya mahasiswa biasa.

Soal mahasiswa biasa, Saya pernah berpikir, kok mahasiswa biasa bisa nggak tau soal lembaga-lembaga di kampusnya sendiri? Saya coba menebak-nebak, barangkali karena kita kesusahan kali ya dapat info soal kejadian politik di kampus? Temen saya yang anak pers mahasiswa bilang, kalau merekanya sendiri kesusahan buat dapat info dari para pejabat kampus. Waduh, kalau anak pers mahasiswa sendiri nggak bisa dapat info, apalagi saya yang sekedar mahasiswa biasa. Semoga mas-mbak kalau terpilih bisa lebih terbuka ya sama teman-teman saya yang anak pers mahasiswa. Kasian soalnya para mahasiswa biasa kayak saya, cuman bisa denger dari gosip-gosip teman kami yang ada di dalam lembaga –itupun kadang bisa aja bias. Saya butuh kebenaran, duit saya sekian puluh rebu ada sama kalian. Setidaknya biarkan saya terhibur melihat drama kalian gitu.

Sepulang dari burjo, saya muter-muter dulu di kampus (lagi nggak ada kerjaan soalnya). Saya ngeliat mahasiswa yang latihan bela diri depan perpus, terus ngeliat anak menwa lagi duduk-duduk di kantor, ada juga ketemu teman saya dari fakultas sebelah yang hobi main game bareng sama saya. Saya sore-sore mikir di jalan, apakah mereka-mereka ini ikut tersejahterakan kah dengan kebijakan mas-mbak disana? Mungkin aja, teman-teman yang latihan bela diri itu butuh fasilitas juga di kampus. Yakali, mereka latihan depan perpus sama kahar mulu. Perpus tempat baca buku, kahar tempat kondangan bukan tempat latihan. Coba tanya ke mereka langsung deh nanti, mereka perlu bantuan nggak? Terus teman-teman menwa yang ganteng-ganteng dan cantik-cantik, saya jarang ngelihat mereka terlibat di acara kampus. Pernahnya paling waktu penutupan pesta kemarin sama mereka lagi latihan di parkiran belakang kahar. Mungkin aja mereka ini perlu diberdayakan juga, karena sayang loh mereka latihan malam-malam tapi saya sendiri nggak tahu mereka kerjaannya ngapain aja selain latihan.

Jadi, intinya surat saya ini, dari mahasiswa biasa yang mungkin nggak sekritis dan sekeren teman-teman lain yang penuh “kuwot-kuwot” kiri atau islamis. Nggak perlu menyalahkan mahasiswa UII itu apatis dengan Student Government UII, kayak kata mas petra di acara beberapa bulan lalu. Perlu jugalah berkaca, apa mungkin keapatisan itu tadi datang karena saya sendiri? Tanyakan diri sendiri, apakah saya sudah merangkul semua teman-teman mahasiswa yang punya latar belakang macam-macam? Jangan bergaulnya ama orang padang rumput malam hari mulu, atau sama orang-orang hutan. Bergaulah dikit sama kita-kita mahasiswa biasa nih, minimal kepoin kami lah di burjo. Dengan itu, kita-kita jadi sadar ama perjuangan mas-mbak, dan jadinya kita-kita bisa semakin percaya sama kalian.

Salam burjo-is.

(Rizky Eka Satya – Jurusan Ilmu Komunikasi 2015 )

Seri: