Tidak Ada Surga Hari Ini

Boleh jadi saat anda masih kecil, dalam kajian agama, anda tidak asing dengan pernyataan ‘kalau kamu rajin salat maka kamu akan masuk surga’. Atau pernyataan lain seperti ‘kalau kamu membelikan teman kamu cilok di kantin, nanti kamu akan diganjar surga oleh Tuhan’. Serta pernyataan-pernyataan dengan mengganti predikat ‘salat’ dan ‘membantu’ dengan predikat lain, walakin dengan objek yang sama yaitu ‘surga’. Pernah?

Saya pun pernah menemuinya. Terpengaruh pernyataan tersebut, saya menjadi orang yang rajin salat dan membantu teman. Agar setelah meninggal nanti, saya mendapat surga yang dijanjikan. Saya menerka paradigma apabila ‘melakukan ini’ maka kamu akan mendapatkan ‘imbalan ini’ (agar mempermudah, kita namakan saja ‘beragama oportunisme’) bisa menjadi permasalahan serius. Terlebih untuk manusia yang semakin dewasa.

Dahulu, paradigma beragama oportunisme dilakukan untuk melatih anak kecil berbuat baik. Dengan harapan ke depan sifat mengharap imbalan lama-kelamaan akan hilang berganti ikhlas. Sama dengan latihan puasa anak kecil. Awalnya hanya puasa setengah hari dan diberi imbalan, baik berupa uang atau lainnya. Begitu seterusnya sampai dia sudah dewasa dan menjalankan puasa dengan kesadarannya sendiri.

Dalam beragama, terlebih untuk manusia yang sudah dewasa, apabila paradigma beragama oportunisme masih melekat, justru menunjukan bahwa agama layaknya dagangan. Menjalankan agama karena ingin keuntungannya semata. Paradigma seperti ini jelas-jelas menunjukan kegiatan beragama yang belum mencapai esensi, masih di permukaan. Sebagai contoh saat salat, kenapa yang ditonjolkan nanti kita akan mendapatkan apa kalau salat? Bukan justru yang muncul pertanyaan, kenapa kita harus salat dan ada apa di salat?

Jujur, adanya surga dan neraka justru menghalangi kenikmatan ber-Tuhan. Baik ibadah ritual maupun ibadah non ritual (hubungan dengan sesama ciptaan Tuhan) dengan mengharap imbalan justru menghalangi dalam pencapaian bersatu dengan Tuhan.

Namun apakah beribadah dengan mengharap surga itu salah? Tentu tidak. Toh imbalan surga neraka juga tertulis dalam Al-Quran. Tapi yang jelas surga bukanlah tujuan, tapi dampak atas apa yang telah kita perbuat.

Dalam salah satu syairnya, Chairil Anwar pernah menuliskan.

Seperti ibu + nenekku juga

Tambah tujuh keturunan yang lalu

Aku minta pula supaya sampai di sorga

Yang kata Masyumi Muhammadiyah bersungai susu

Dan bertabur bidari beribu

Tapi ada suara menimbang dalam diriku,

Nekat mencemooh: Bisakah kiranya

Berkering dari kuyup laut biru,

Gamitan dari tiap pelabuhan gimana?

Lagi siapa bisa mengatakan pasti

Di situ memang ada bidari

Suaranya berat menelan seperti Nina,

Punya kerlingnya Yati?

Saya menemukan syair tersebut pada catatan pinggir majalah Tempo yang ditulis oleh Gunawan Mohamad. GM (panggilan Gunawan Mohamad) menafsirkan bahwa Cahiril Anwar meragukan adanya janji surga. Chairil “mencemooh” mana mungkin surga lebih mengasyikkan ketimbang kehidupan di dunia yang tiap kali menawarkan kenikmatan “gamitan dari tiap pelabuhan”. Di surga diceritakan ada banyak bidadari “bidari beribu”. Tapi bukankah lebih pasti perempuan yang ada di bumi: Nina dengan suara serak-serak basah, Yati yang memikat dengan kerling matanya.

Pada akhir catatan pinggirnya, GM mencantumkan kata-kata yang cukup terkenal dari Rabia Al-Adawiya, yang dikutip Farid al-Din Attar: “Akan kupadamkan api neraka, dan kubakar hadiah surga. Mereka menghalangi jalan ke Allah.” Ia bersujud akrab kepada Tuhan sepenuhnya karena cinta.

Berbicara tentang surga, saya ingat beberapa guyonan Abdurrahman Wahid di beberapa diskusi publik. Gus Dur (panggilan Abdurrahman Wahid) bercerita pada suatu teater ludruk terjadi percakapan yang kira-kira seperti ini:

“Lho Mad, kamu kok di sini? Kok enggak di akhirat saja? Di sana banyak bidadari dan segala macamnya.”

“Ah lebih enak di neraka saja.”

“kenapa?”

“Sekarang neraka sudah pakai Air Conditioner (AC) semua.”

“Tapi kan di surga banyak bidadari?”

“Di neraka juga segala bintang film ada.”

Ada juga cerita Gus Dur tentang surga yang lain. Saat berbagai jenis orang sedang antre memasuki surga, ada satu orang yang dituntun malaikat memasuki surga. Dia adalah supir bus yang sering mabuk dan ugalan-ugalan. Orang lain protes kenapa dia justru dituntun dan didahulukan masuk surga.

“Saat supir ini ugal-ugalan, apa yang kamu ucapkan?” Kata malaikat.

“Saya berdoa supaya saya diberi keselamatan.”

“Nah itu.”

Saya mencantumkan kata-kata dari orang terkenal di atas seperti Chairil Anwar, Rabia Al-Adawiya dan GM serta Gus Dur, karena ada beberapa orang yang gampang terpesona, apabila mendengar kata-kata mutiara dari para tokoh terkenal. Apapun isinya. Jadi saya mencantumkan kata-kata tersebut agar terlihat kredibel dan meyakinkan.

Tapi satu hal yang perlu saya tekankan, jangan sekali-sekali percaya dengan argumen pada opini ini. Terutama tentang surga. Saya mengatakan bahwa surga bukan segala-galanya harapan dalam beribadah karena satu hal. Mungkin ini rahasia, tapi perlu saya paparkan untuk anda.

Jadi beberapa hari yang lalu saya bermain Facebook. Ada satu unggahan dari orang yang tidak saya kenal membagikan artikel keagamaan. Sebenarnya artikelnya biasa saja, bahkan cenderung kurang data dan klarifikasi. Namun di akhir tulisan ada kata-kata yang membuat saya tercengang. Tulisannya, “Jika anda umat Islam maka ketik amin dan bagikan kepada umat yang lain. Maka kamu akan masuk surga.” Ini jelas-jelas peluang. Pada akhir membaca artikel tersebut saya ketik amin dan membagikan tautan tersebut.

Singkat kata, saya sudah dijamin oleh orang tidak dikenal nan baik hati akan memperoleh surga. Hal itulah yang memberanikan saya menulis argumen ini. Tentunya jaminan surga tersebut masih terbuka melalui akun yang bertebaran di Facebook. Silahkan cari dan masuklah surga bersama-sama.

Satu lagi, kalau ingin masuk surga karena telah membantu membagikan informasi kepada sesama Islam, jangan lupa setelah selesai membaca opini ini ketik amin di kolom komentar dan bagikan tautan ini kepada umat Islam seluruh dunia. Apabila banyak yang ketik amin dan membagikan tautan ini, beberapa waktu ke depan akun yang menaungi tulisan ini akan berubah menjadi akun jualan. Iya, seperti akun baik yang menjamin saya surga terdahulu.

Podcast

Baca juga

Terbaru