Ketika Le Smoking Merubah Cara Pandang dalam Berpakaian

“Bagi seorang wanita, tuksedo adalah pakaian yang sangat diperlukan di mana dia akan selalu merasa bergaya, karena itu adalah pakaian yang bergaya dan bukan pakaian yang modis. Mode memudar, gaya abadi.“ Yves Saint Laurent

Himmah Online – Prancis masuk dalam masa les trente glorieuses atau masa industrialisasi dan pembangunan infrastruktur yang berlangsung selama 1945-1975. Salah satu bidang yang mengalami kemajuan ialah industri tekstil, terutama dalam dunia mode.

Dampak dari industrialisasi itu, pertumbuhan ekonomi semakin membaik, kemudian muncul istilah kelas menengah. Begitu juga kelas bawah yang merasa memiliki taraf hidup yang lebih baik dari sebelumnya, hal itu menyebabkan perubahan psikologis mereka yang ingin tampil sama layaknya kelas borjuis dalam hal berpakaian.

Karena kemajuan dunia mode pada saat itu, tahun 1966 seorang perancang busana terkemuka Prancis, Yves Saint Laurent (YSL), mengeluarkan koleksi karya Le Smoking untuk pagelaran busana musim dingin-gugur. 

Le Smoking adalah setelan tuksedo untuk wanita yang terdiri dari jaket makan malam klasik berbahan wol atau satin hitam, kemeja putih, kerah feminin, garis blus menyempit, dasi kupu-kupu, ikat pinggang lebar satin, dan garis celana yang disesuaikan agar menampilkan ilusi kaki jenjang.

Tuksedo awalnya dirancang hanya untuk kaum pria agar terhindar dari bau asap rokok saat berada di area merokok. Namun, YSL mendobraknya menjadi busana wanita.

Ketika YSL memamerkan koleksinya di panggung runway tahun 1966, seketika busana Le Smoking menjadi kontroversial. Karena dianggap melawan hakikat dan fitrah seorang wanita yang seharusnya mengenakan rok dan gaun.  Le Smoking menjadi pelopor busana gaya panjang, minimalis, dan menjadi simbol androgini wanita. 

Bagi para editor mode, Le Smoking dianggap melawan tatanan kodrat dan membuat kebingungan gender, juga dianggap pemberontak mode karena tidak takut untuk terbuka dan menentang dogma tentang peran dan posisi pria-wanita kontemporer. 

YSL juga mendapat banyak cibiran dari para pelanggan haute couture-nya (busana berkelas), terlebih dilihat cara berpakaian kaum borjuis yang anggun dan sopan dengan rok serta sepatu hak tinggi.

Le Smoking tidak langsung populer untuk kelas menengah dan kelas bawah, karena pada tahun 1960-an masyarakat dinilai masih konservatif. Baru memasuki dekade 1970-an, generasi tersebut memiliki pemikiran yang lebih terbuka dan mulai menghidupkan kembali androgini dalam mode.

Lantas, mengapa hal ini menjadi keterbukaan terhadap masyarakat Prancis?

Koleksi Le Smoking menjadi salah satu mode yang mampu diikuti oleh semua kalangan karena Le Smoking memang dirancang tidak ditunjukkan untuk kaum borjuis, tetapi untuk kelas sosial di bawahnya. Le Smoking juga masuk dalam kategori busana pret-a-porter atau pakaian yang diproduksi secara masal dan menggunakan mesin. 

Mulai terbukanya cara pandang dan pengaruh androgini dalam mode berdampak pada aktris Bianca Jagger yang mengenakan blazer putih di acara pernikahannya pada 1971, sehingga hal itu menjadi gaya berbusana bagi Jagger sendiri.

 Tahun 1975 seorang fotografer Helmut Newton memotret Vibeke Knudsen untuk Vogue Paris. Knudsen dirias dengan gaya rambut disisir ke belakang dan sebatang rokok di jarinya dengan menggunakan setelan Le Smoking. Hasil potretnya itu menjadi geger dan berhasil membuat tren baru dalam masyarakat.

Aktris Catherine Devenue juga menjadi pusat perhatian karena pada masa itu ia dinilai sebagai simbol feminitas. Suatu ketika ia sedang mengenakan Jas YSL, hal itu menjadi kesan bagi Devenue yang terlihat androgini dan predatori. Namun tidak menghilangkan kesan elegannya. Seketika karena Devenue, membuat wanita merubah cara pandang berpakaiannya.  

Kegegeran ini juga terjadi pada Nan Kempner, seorang sosialita asal Amerika Serikat. Saat itu ia sedang mengenakan setelan tuksedo YSL untuk menghadiri makan malam di Le Cote Basque, New York. Tetapi, Kempner ditolak karena mengenakan celana panjang.

Namun, ia tak kehabisan akal, ia melepas celana panjangnya dan hanya menyisakan blazer dan menganggap sebagai gaun mininya. Tentu hal ini menjadi ledekan bagi pihak restoran karena ini adalah suatu penolakan dan balasan yang paling memalukan sepanjang sejarah Le Smoking

Dari kejadian tersebut YSL berhasil membuat cara pandang wanita berubah, tidak lagi konservatif. YSL dianggap dapat membantu para wanita untuk beremansipasi dalam berpakaian. Le Smoking juga menggeser posisi rok dan gaun lantaran setelan jas menjadi busana yang dikenakan dalam acara formal atau pesta. 

Aktor Film The Karate Kid, Jaden Smith, tahun 2016 membintangi kampanye pakaian wanita Louis Vuitton. Alhasil memberikan suatu pencerahan bahwa berpakaian itu tidak spesifik gender, artinya pria dapat mengenakan rok, contohnya kilt, merupakan pakaian tradisional Skotlandia. Pun wanita dapat mengenakan celana boxer apabila menginginkan. Seperti yang kini jadi gaya busana Harry Style dan Billie Eilish yang tidak ragu untuk menampilkan androgini mode.

Demikian Le Smoking menjadi suatu perubahan regulasi gender dalam berpakaian. Le Smoking menjadi pembuka bagi perempuan dalam menggunakan celana panjang. Konsep yang tak akan lekang oleh waktu dan keterbukaan mode saat ini adalah hasil dari kreativitas yang harus terus dikembangkan inovasinya tanpa maksud menghilangkan nilai dan norma yang ada.

Reporter: Himmah/Syahnanda Annisa

Editor: Zumrotul Ina Ulfiati

Podcast

Baca juga

Terbaru