Larungan Bekti Pertiwi, Rasa Syukur dan Semangat Baru Warga Mancingan

Himmah Online, Yogyakarta – Warga Dusun Mancingan, Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar upacara adat Bekti Pertiwi dan Pisungsung Jaladri pada Selasa (07/06) sebagai wujud rasa syukur dan semangat baru setelah badai pandemi Covid-19.

“Dari upacara Bekti Pertiwi itu ungkapan dari warga Mancingan atas nikmat syukur kepada Allah SWT, karena telah diberikan hasil panen yang melimpah,” ungkap Handri Sarwoko (46), Kepala Dusun Mancingan.

Selain wujud rasa syukur, upacara adat Bekti Pertiwi dan Pisungsung Jaladri ditujukan sebagai semangat baru untuk menambah daya tarik wisatawan setelah pandemi Covid-19 melanda. “Dan juga bentuk upaya menarik perhatian wisatawan,” imbuh Handri.

Upacara adat Bekti Pertiwi dan Pisungsung Jaladri diikuti oleh warga Mancingan yang terdiri dari delapan Rukun Warga (RT). Upacara tersebut digelar setiap tahun pada hari Selasa Wage di bulan Zulkaidah (bulan ke-11 tahun Hijriah).

Setelah 2 tahun menggelar upacara secara tertutup dan dibatasi pesertanya karena pandemi Covid-19. Upacara adat Bekti Pertiwi dan Pisungsung Jaladri tahun ini diselenggarakan secara terbuka dan meriah.

Rangkaian acara diikuti kurang lebih 1500 warga, dengan mengenakan kostum atau pakaian adat. Masing-masing RT membawa hasil bumi untuk upacara adat. “Ada sayuran, umbi-umbian, buah-buahan, yang dihias jadi gunungan,” ujar Suraji, salah satu pemangku adat Mancingan.

Pada pukul 10.00 WIB warga berduyun-duyun memulai kirab menuju titik kumpul di Joglo Kebudayaan Parangtritis. Sesampainya di sana, dilanjut dengan doa untuk mengawali upacara adat tersebut.

Setelah prosesi doa selesai, kirab dimulai kembali dari Joglo Kebudayaan Parangtritis menuju Cepuri Parangkusumo. Suraji menuturkan bahwa setelah sampai di Cepuri Parangkusumo, sedekahan warga masih didoakan kembali sebelum dilarungkan. Selanjutnya, warga mulai melarung sejumlah pakaian dan hasil bumi ke tepi Pantai Parangkusumo.

Terkait dana yang digunakan, Handri menuturkan bahwa upacara adat ini berhasil diselenggarakan dari dana warga dan pengajuan ke Dinas Kebudayaan Provinsi D.I. Yogyakarta.

“Dananya kurang lebih 80% dari masyarakat, tapi kami juga mengajukan ke Dinas Kebudayaan Provinsi (DIY),” ujar Handri.

Reporter: Himmah/Muhammad Prasetyo, Yola Agustin 

Editor: Pranoto

Podcast

Baca juga

Terbaru