Menyebarkan Perdamaian dengan Agama

Oleh : Moch, Ari Nasichuddin

Yogyakarta, HIMMAH ONLINE

Sejak peristiwa serangan 11 September 2001 atas Menara Kembar World Trade Center di New York, sebagian orang memandang agama dipandang sebagai salah satu penyebab kekerasan dan konflik. Padahal agama juga bisa dipakai untuk perdamaian. Di dunia ini sudah banyak usaha untuk menjalin perdamaian dengan agama. Hal ini dibahas dalam diskusi bulanan yang diselenggarakan oleh Institut Dialog Antariman Dian Interfidei pada Kamis 11 September 2014. Bertajuk “Agama untuk Perdamaian”, diskusi ini dipantik oleh Utami Sandyarani, seorang alumni Hubungan Internasioanl UGM. Dalam diskusi ini Utami mempresentasikan hasil skripsinya tentang usaha untuk menegakkan perdamaian dengan agama sebagai alatnya. Studi kasus hasil penelitian ini bertempat di Desa Wayame, Provinsi Maluku.

Dalam mempresentasikan hasil penelitiannya, Utami menjelaskan salah satu cara menyebarkan perdamaian di sana antara lain dengan membentuk Tim 20 Wayame. Tim ini berisi 10 orang Islam dan 10 orang Kristen. Ada beberapa poin terkait keberadaan tim ini yang mana poin tersebut menjadi faktor perdamaian di sana. Pertama, ketika melakukan pertemuan mereka melakukannnya di rumah ibadah. Hal itu efektif untuk menumbukan rasa menghormati rumah ibadah agama lain pada setiap orang di sana. Kedua, menjaga kelompok agama masing-masing agar tidak menyerang kelompok agama lain. Ketiga, adanya komitmen pemuka agama untuk menjaga kerukunan antar agama. Keempat, jaringan keagamaan digunakan untuk perdamaian.

Selain adanya Tim 20 Wayame ini, di sana juga ada sebuah lembaga antar iman Maluku. Lembaga ini berperan menjembatani institusi keagamaan di Maluku. Menurut alumni UGM ini, interpretasi mereka sangat pro perdamaian. Nilai yang dikedepankan lembaga itu yaitu, “Religi untuk Kehidupan”. Mereka melakukan ritual keagamaan untuk mrnyebarkan perdamaian. Contohnya, menyelenggarakan khotbah yang berisi ajakan untuk tetap damai. Nantinya hasil dari khotbah itu disebar di rumah-rumah ibadah. Khotbah itu membicarakan hal-hal yang sifatnya umum terlebih dahulu sebelum membahas yang sifatnya sensitif. “Ini disebut strategi memakan bubur panas,” jelas Utami.

Di akhir diskusi, forum diskusi yang dimoderatori oleh Wening Fikriati dari Dian Interfidei ini merefleksikan kejadian konflik antar agama di Indonesia, tidak hanya di Maluku saja. “Kita mesti memahami apa saja yang menjadi penyebab terjadinya konflik,” tutur Wening menutup diskusi.

Skip to content