Satu Hari Dua Aksi: Dari Tolak Rasisme Hingga Bebaskan Papua

Himmah Online, Yogyakarta Asrama Papua Kamasan I yang terletak di Jalan Kusumanegara, Yogyakarta hari itu, Kamis, 5 September 2019 pukul 09.30, tampak sepi dan lengang. Tidak ada tanda-tanda akan terjadinya aksi hari itu. Selang satu hari sebelumnya, beredar poster seruan aksi yang dijadwalkan pukul 09.00. Hanya ada enam motor parkir dengan gerbang yang sedikit terbuka. Beberapa orang dengan motornya silih berganti masuk dan keluar asrama. 

Sampai asrama mulai ramai menjelang pukul 10.00. Dari lelaki mengendarai sepeda motor bermerek Mio dengan sepatu hitam, dilanjutkan lelaki dengan rambut diikat belakang mengenakan sepeda motor Mio yang berbeda, keluar asrama. Tatapan mereka sesekali terfokus pada mobil polisi yang bertengger di depan sebuah warung makan, 200 meter dari seberang asrama. 

Tak lama kemudian, satu mobil polisi lainnya berjalan masuk dan parkir di depan Fave Hotel, yang terletak persis di samping Asrama Papua pada pukul 09.47. 

Dua orang berseragam polisi yang berada di warung makan seberang asrama, kemudian keluar dari warung untuk berfoto; satu memegang handphone, bersiap mengambil foto, sedang yang lainya berpose memegang senapan dan menempelkannya ke dada sambil tersenyum. 

Setelah keduanya masuk ke warung kembali, tampak lelaki berkaus merah dengan tas sandang cokelat dominan hitam memasuki asrama. Lalu diikuti dengan lelaki, kurus, berbaju hijau yang memarkirkan sepeda motornya di depan asrama. 

Tidak berselang lama, pukul 10.02, tiga personel polisi datang dengan tiga motornya yang parkir 200 meter di samping asrama, tepat berseberangan dengan warung makan di tempat mobil polisi yang pertama parkir. Beberapa menit setelahnya, dua personel polisi juga sempat tampak berdiri 50 meter dari warung makan, sebelum akhirnya pergi dari tempat. 

Dalam warung makan tersebut, terdapat enam orang polisi di dua meja makan. Satu meja terdapat satu orang polisi, dan di meja depannya terdapat lima polisi ditemani satu orang yang tidak berseragam, memakai topi, denim biru, berwajah tambun, dan memiliki bentuk hidung yang besar dan mancung. Mereka bercakap-cakap santai, sesekali tergelak tawa. 

Pukul 10.30, makanan yang dipesan oleh para polisi itu tiba, tepat saat suara ramai mulai terdengar melewati warung, salah satu polisi sontak langsung keluar warung dan suara itu mulai terdengar jelas.

“Free West Papua!! Free West Papua!! Free West Papua!!” teriak massa aksi.  

Segerombolan mahasiswa Papua mulai bergerak aksi dari asrama berjalan lurus sampai ke Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Bermodalkan megaphone dan tali rafia yang mengelilingi, mereka melakukan longmarch dengan satu orang berada di depan sebagai orator, serta satu polisi yang mengawal di depan memakai motor, dan empat polisi yang mengawal di belakang.

Jauh di depan massa aksi berjalan, sedikitnya tiga polisi bersiaga setiap 500 meter sepanjang rute perjalanan dengan mobil polisinya, dan sempat pula mobil yang biasa membawa gas air mata juga melintas di rute perjalanan.

Mendekati Titik Nol Yogyakarta, para polisi sibuk mengatur lalu lintas. Mereka memblokade jalan dan mengarahkan para pengemudi yang melintas untuk melewati arah lain selain arah ke Titik Nol Yogyakarta. Jalan dan akses ke Titik Nol, di mana massa aksi mahasiswa Papua akan melakukan demonstrasi, benar-benar ditutup. 

Massa aksi tiba di Titik Nol Yogyakarta pada pukul 11.00. Sekitar kurang lebih 52 massa aksi berkumpul di tengah persimpangan dengan membentuk lingkaran. Satu per satu orator menyampaikan tuntutannya. Tampak beberapa wartawan ikut mengabadikan momen tersebut. Aksi itu dikawal aparat keamanan. Di Timur 0 KM, terdapat puluhan polisi berjejer, dua TNI dan dua Satpol PP di sebelah barat, dan beberapa polisi di sebelah utara arah ke Alun-alun.

Beberapa massa aksi tampak membagi tugas. Ada yang membagikan air minum, ada yang orasi, beberapa berkeliling memantau aksi, dan satu orang membagikan selebaran siaran pers aksi. 

Di awal siaran pers tersebut dituliskan, tindakan rasisme di Surabaya, Malang, dan Semarang menjadi pemicu awal aksi ini. Tentang hal tersebut Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) dan Persatuan Rakyat untuk Pembebasan Papua Barat (PRPPB) menuliskan dalam siaran persnya, “Dalam kasus ini, Indonesia telah memperlihatkan bagaimana mereka tidak punya kepentingan untuk menjamin hak asasi manusia seutuhnya bagi rakyat Papua.”

Tuntutan massa aksi dalam siaran pers juga membahas lebih jauh tentang: penjajahan oleh Indonesia yang dilakukan selama hampir 57 tahun. Diawali dengan adanya PT. Freeport, perlawanan mereka terus mendapatkan pelanggaran HAM. Mereka mencantumkan data dari Lembaga Asian Humans Rights Comission (AHRC) dan Human Rights and Peace for Papua (ICP), yang mencatat setidaknya 11 ribu jiwa dibunuh oleh militer Indonesia pada 1977-1978. Pada kurun waktu 2010-2018, laporan Amnesty International juga mencatat terdapat 95 pembunuhan di luar hukum yang dilakukan militer, polisi, dan Satpol PP.

Yance, koordinator umum aksi saat itu angkat bicara. Dia menjelaskan bahwa aksi ini sebenarnya juga dilatarbelakangi oleh perjuangan Papua Barat melawan pembangunan infrastruktur. Menurutnya, hal itu hanya digunakan untuk mengeruk sumber daya alam, diinvestasikan, kemudian menjadi lahan bisnis pemodal elit Jakarta. 

“Kalau kami dari Aliansi Mahasiswa Papua tidak bisa melihat hal ini sepele. Artinya hal ini adalah hal yang harus dilawan. Dilawannya dengan apa, membangkitkan nasionalisme anak Papua, dan seluruh tanah Papua dan segera referendum itu,” tukasnya. 

Yance juga ikut menanggapi terkait pengawalan ketat yang dilakukan oleh aksi mereka kali ini. Dia berpendapat empat ruas jalan di Titik 0 KM ditutup dengan sengaja agar warga Jogja tidak mengetahui apa yang sedang terjadi dan memainkan isu ini seakan baik. 

“Tapi sebelum sebelumnya kita bisa lihat bahwa pembungkaman selalu terjadi. Contohnya kayak 1 Mei kemarin kita dibungkam habis-habis, disemprot pakai gas air mata, dipukul sembarang, bahkan teman saya luka-luka gitu,” lanjutnya. Lalu Fabe, temannya yang saat itu berada di samping Yance, menunjukkan luka yang dimaksud. 

“Kemarin, luka di sini,” tunjuknya ke bekas luka di pelipis mata kanan. 

Mengenai hoaks yang terjadi di masyarakat, Yance mempunyai pandangan lain. Yance beranggapan media yang disokong oleh partai-partai borjuasi yang memproduksi hoaks. 

“Pokoknya mungkin beberapa elit politik yang juga punya media-media yang selalu mengangkat derajat elit-elit politik tinggi, sedangkan derajat kaum tertindas tidak terangkat. Hoaks benar-benar terjadi di Papua,” pungkasnya. 

Yance terakhir berpesan kepada media untuk jangan membela pihak elit dan berjalan dengan independen dalam mengawal berita.

Mengakhiri aksi, kordum aksi membacakan 19 tuntutan yang disuarakan, beberapa di antaranya yaitu: Stop pengiriman pasukan Papua dan tarik militer (TNI-POLRI) organik maupun non-organik dari tanah Papua; Buka kembali jaringan telekomunikasi dan internet di Papua; Bebaskan 45 orang di Timika dan belasan orang di Manokwari yang ditangkap saat aksi unjuk rasa tolak rasisme; 

Adili pelaku penembakan yang menyebabkan 6 orang meninggal dunia dan dua luka berat saat melakukan aksi protes rasisme di Deiyai; Buka akses jurnalis independen nasional dan internasional untuk melakukan peliputan di Papua; Hentikan penjajahan terhadap bangsa West Papua; Hentikan pemalsuan sejarah bangsa West Papua; 

Tangkap, adili, dan penjarakan tentara, polisi, Satpol-PP, pejabat dan kelompok reaksioner yang melakukan tindakan rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya, Malang, Semarang, dan Makassar; Adili dan tangkap pelaku diskriminasi terhadap mahasiswa Papua di Surabaya; Berikan Hak Menentukan Nasib Sendiri bagi Bangsa West Papua (HMNS).

Setelah aksi selesai pada pukul 13.10, massa aksi kembali membentuk barisan dan kembali berjalan kaki menuju asrama.

Satu Panser TNI AD dengan personel bersenjata lengkap Yonif 403/WP, 5 Truk TNI AD Yonif 403/WP, Pikap TNI AD Yonif 403 sepintas melintasi area aksi dari barat menuju ke selatan.

Reporter Himmah Online mencoba menghubungi Kapolresta Yogyakarta, Kombes Pol Armaini untuk menanyakan terkait pengamanan aksi Aliansi Mahasiswa Papua. Namun, hingga berita ini dimuat, masih belum ada konfirmasi dari yang bersangkutan.

Aksi BEM se-DIY, aksi untuk siapa?