Bangku Pendidikan Tanpa Uang

Judul             : Hindi Medium

Genre             : Comedy-drama

Sutradara        : Saket Chaudhary

Pemeran         : Irrfan Khan, Saba Qamar, Dishita Sehgal, Deepak Dobriyal

Produksi         : Dinesh Vijan, Bhushan Kumar, Krishan Kumar

Tanggal rilis    : 19 Mei 2017

Bahasa            : Hindi

Durasi             : 132 menit

Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya, termasuk pendidikan yang akan ditempuh buah hati mereka. Apapun akan dilakukan oleh orang tua agar masa depan anaknya sukses dan cemerlang. Begitu pula dengan Raj Batra (Irrfan Khan) dan Meeta (Saba Qamar) yang digambarkan dalam film berjudul ‘Hindi Medium’ ini.

Sudah tidak asing bagi dunia perfilman untuk menyuguhkan film bertema pendidikan. Saket Chaudhary sebagai sutradara sekaligus penulis Hindi Medium mencoba untuk memberikan sebuah fenomena yang jarang terjadi di dunia perfilman ini.

Berbeda dengan film-film bertema pendidikan yang lain, Hindi Medium mengangkat perjuangan orang tua untuk menyekolahkan anaknya di sebuah sekolah elite di Delhi, India. Hindi Medium dibuka dengan pertemuan Raj Batra dan Meeta saat mereka masih remaja. Saat itu Raj yang sedang membantu ayahnya sebagai penjahit, jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Meeta yang datang bersama ibunya.

Tidak mudah bagi Raj untuk mendapat Meeta, namun akhirnya mereka menikah dan memiliki seorang putri kecil yang manis. Raj merupakan seorang lelaki yang pekerja keras dan sederhana, berbeda dengan istrinya—Meeta yang ambisius dan ingin melakukan segala hal dengan sempurna. Salah satunya adalah masalah pendidikan putri kecil mereka, Pia Batra (Dishita Sehgal).

Berasal dari keluarga penjahit, Raj kemudian menjadi seorang pengusaha sukses dalam bidang pakaian. Meskipun sudah memilikii kekayaan namun mereka tetap hidup dalam lingkungan desa yang sederhana. Melihat lingkungan mereka tinggal, tiba-tiba Meeta ingin pindah ke perumahan elite, berkumpul dengan orang-orang yang ia rasa satu derajat dengan mereka. Awalnya Raj tidak setuju, dia sudah menganggap tetangga seperti keluarga. Sayangnya keinginan Meeta sudah bulat dan sebagai suami yang terlalu mencintai istrinya, dia tidak pernah menolak permintaan Meeta.

Meeta berandai-andai bahwa berpindahnya mereka pindah ke lingkungan elite akan membuatnya bahagia, ternyata tidak seratus persen menjadi nyata. Keluarga mereka harus mengikuti status sosial lingkungan mereka yang baru. Mereka harus berbicara dengan bahasa Inggris, dan juga berinteraksi dengan tetangga yang jauh berbeda dari biasanya.

Jika Meeta yang berlatar belakang pendidikan tinggi dan ingin berkumpul dengan orang-orang yang dia rasa satu derajat, Raj dan Pia lebih suka bergaul dengan masyarakat biasa. Mereka merasa berat untuk menjadi orang kaya yang sesuai dengan lingkungan mereka, terutama untuk Raj. Pia pun lebih mengikuti sang ayah yang bebas dan bahagia dengan kesederhanaan mereka.

Hal itu membuat Meeta marah, salah satunya karena insiden Raj yang menyanyikan lagu India (jika di Indonesia, lagu dangdut koplo) saat mereka mengadakan pesta di rumah baru mereka. Meeta benar-benar menuntut bahwa Raj dan Pia harus bertindak dengan keinginan Meeta, dan dengan berat hati mereka menuruti keinginan sang bunda dan istri tercintanya.

Waktu untuk pendaftaran sekolah pun tiba. Seperti keinginan orang tua pada umumnya, Raj dan Meeta ingin buah hati mereka mengenyam pendidikan yang sangat baik dan terjamin. Meeta sendiri memilih Pia untuk bersekolah di sekolah swasta.

Ternyata untuk mendaftar di sekolah swasta terbaik itu tidak mudah. Berbagai cara sudah mereka lakukan, mulai dari mengikuti tips-tips dari konsultan, kursus kepribadian, kursus akademik, dan berbagai kursus lainnya. Tentu saja untuk Pia, Raj dan Meeta.

Sayangnya Pia tidak diterima di empat sekolah teratas yang sudah mereka daftarkan. Hanya Delhi Grammar School yang tersisa. Meeta benar-benar frustasi, dia merasa menjadi ibu yang gagal bagi Pia. Dia sangat takut masa depan Pia hancur karena sejak awal putri kecilnya itu tidak bersekolah di tempat yang layak.

Ternyata anak dari karyawan Raj diterima di salah satu sekolah elite tersebut, lewat jalur tidak mampu atau RTE. Tentu kesempatan itu tidak mereka sia-siakan. Sudah menjadi rahasia umum jika banyak oknum yang dapat membantu dalam pemalsuan dokumen. Dalam waktu cepat Pia sudah terdaftar di Delhi Grammar School lewat jalur kurang mampu.

Sialnya, berita tentang pemalsuan dokumen mulai beredar. Tidak ingin nama sekolah tercoreng, pihak Delhi Grammar School mengutus guru untuk melakukan survey lapangan keluarga yang masuk dalam daftar RTE tersebut. Pihak sekolah tidak segan-segan untuk memenjarakan orang tua yang terbukti bersalah.

Hal tersebut membuat Raj dan Meeta kalang kabut. Meeta tentu saja sangat panik, dia tidak ingin suaminya masuk penjara. Bagaimana dengan dirinya dan Pia jika Raj dipenjara? Kenyataannya mereka bukan orang miskin. Mereka sudah muak dengan keadaan miskin saat muda dulu. Kemudian ide itu muncul, mereka akan berpura-pura menjadi keluarga tidak mampu.

Raj, Meeta dan Pia benar-benar pindah ke pemukiman kumuh di sudut kota. Mereka totalitas menjadi miskin kembali, memakai pakaian sederhana dan tinggal di sana. Awalnya mereka tidak bisa, mereka membuat keributan dengan para tetangga. Sampai akhitnya Raj butuh bantuan dan tidak ada yang mau membantu, kemudian muncul Shyam Prakash Kori (Deepak Dobriyal).

Pria itu membantu Raj memecahkan masalahnya, bahkan Shyam dan keluarganya meyakinkan peninjau bahwa mereka orang kaya yang bangkrut dan menjadi miskin ketika kecurigaan peninjau muncul. Hampir saja identitas mereka terbongkar jika Shyam tidak berbicara. Dengan polosnya dia berkata akan mengajarkan Raj dan keluarganya menjadi orang miskin yang baik dan benar.

Tulsi Kori (Swati Das), istri Shyam yang membantu Meeta dalam kebutuhan rumah tangga. Sedangkan Shyam membantu Raj dalam pekerjaannya yang baru, buruh di pabrik makanan. Tentu saja kedua anak mereka bersahabat, Pia dan Mohan (Angshuman Nandi).

Akhrinya Pia dapat mendaftar di Delhi Grammar School melalui jalur RTE, mereka terbukti miskin. Ternyata mereka butuh uang untuk kegiatan ekstrakulikuler di sekolah, sebesar 24000 Rupee. Uang yang kecil bagi Raj, namun perjalanan mendapatkan uang tersebut tidaklah mudah. Dia harus pura-pura mencuri dari ATMnya sendiri karena Shyamparkash mengikutinya.

Shyam tentu saja tidak setuju dengan aksi pencurian Raj itu. Dia bahkan rela tertabrak mobil dan memberikan uang medisnya kepada Raj, supaya Pia dapat bersekolah di Delhi Grammar School. Waktu pengundian nama pun tiba, nama Pia disebutkan, sayangnya Mohan tidak. Hal itu membuat Raj dan Meeta tidak enak hati, mereka merasa seperti merebut bangku Mohan untuk Pia.

Menilik dari kasus diatas, kita tentu sudah tidak asing dengan berbagai beasiswa kurang mampu dalam pendidikan di Indonesia. Salah satu program pendidikan kurang mampu di tingkat perkuliahan, yaitu program bidikmisi, sedangkan untuk sekolah menengah yaitu terdapat kuota sebesar 20% dari total kuota sekolah untuk siswa tidak mampu. Sayangnya, banyak orang yang memanfaatkan program ini untuk kepentingan pribadi dan juga untuk keberhasilan lolos di sekolah tersebut.

Salah satu syarat dalam pendaftaran program-program tersebut yaitu memiliki Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Di Indonesia yang sedang hangat-hangatnya terjadi, yaitu beredarnya SKTM palsu.

Dilansir dari beritagar.com berdasarkan data Dinas, sebanyak 78.065 SKTM palsu di gunakan untuk mendaftar di SMA atau SMK di seluruh Jawa Tengah. Dokumen palsu ini akhirnya di batalkan atau tidak di akui. Jumlah pendaftar untuk SMA sebanyak 113.092 siswa, mereka memperebutkan 113.325 kursi. Sedangkan calon siswa SMK ada 108.460 siswa, mereka berebut 98.486 bangku. Jadi 221.552 anak memperebutkan 211.811 bangku sekolah.

Penggunaan SKTM dalam Pendaftaran Peserta Didik Baru ini di jadikan modus untuk menaikkan peringkat calon siswa agar mendapat peluang lebih besar masuk ke sekolah yang mereka inginkan.

Kembali ke film Hindi Medium, setelah mereka kembali ke rumah, mereka membantu sebuah sekolah negeri supaya lebih baik lagi kualitasnya. Ternyata Mohan bersekolah di situ, Shyamparkash yang merasa bangga karena putranya dapat belajar dengan layak akhirnya mendatangi orang yang membantu sekolah tersebut, siapa lagi kalau bukan Raj.

Raj tentu saja terkejut bukan main saat melihat Shyamparkash di depan rumahnya. Awalnya dia akan jujur, namun Shyam berpikir lain, dia pikir Raj bekerja di rumah itu. Raj berpura-pura menjadi pembantu sampai akhirnya pembantu Raj datang dan mengatakan yang sebenarnya. Shyamparkash benar-benar terpukul, dia langsung pergi dan mengancam akan mengatakan hal yang sebenarnya pada Delhi Grammar School.

Raj dan Meeta langsung mengejar Shyam, di sana Shyam berhenti dan terenyuh melihat Pia yang menghampiri dengan polosnya. Shyamparkash batal untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Melihat kejadian itu, Raj sadar akan kesalahannya. Dia mengaku pada pihak sekolah bahwa Pia bukanlah anak orang miskin. Dia akan mencabut Pia dari sekolahnya.

Bukannya di keluarkan dari sekolah, Pia malah dipindahkan ke jalur reguler. Hal itu tentu saja membuat Raj bingung, kepala sekolahnya ternyata hanya berpura-pura menerima anak-anak dari jalur tidak mampu. Ternyata pemalsuan dokumen sudah menjadi hal yang biasa di sekolah tersebut, salah satu oknumnya ya kepala sekolah itu sendiri.

Raj marah besar, dia mengatakan hal yang sebenarnya terjadi di Delhi Grammar School saat penyambutan siswa-siswi baru. Setelah itu Raj memindahkan Pia ke sekolah negeri yang sudah ia bantu, sebagai bentuk kekecewaannya terhadap sekolah swasta yang ia hormati. Dia dapat membuktikan bahwa sekolah negeri pun dapat mendidik anak-anak dengan baik dan benar.

Pelajaran yang dapat kita ambil yaitu, tidak selamanya yang kaya harta juga kaya kebaikannya. Tidak semuanya yang miskin harta, juga miskin kebaikannya. Selain itu, jika satu kebohongan telah terucap, maka akan ada rentetan kebohongan yang mengikutinya.     

Baca juga

Terbaru