Sepucuk Surat Cinta untuk Pak Rektor

Yang kami banggakan,

Pak Fathul Wahid,

Di Kampus Perjuangan

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Hai, Pak Rektor! Apa kabar? Kami berdoa semoga Bapak sekeluarga  selalu dilimpahi rahmat dan kesehatan, ya, Pak. 

Tidak lupa juga kami selalu berharap kepada Allah SWT untuk selalu memberikan Bapak kekuatan dan kesabaran dalam mengemban amanah yang sedang dipikul saat ini.

Pak, surat ini adalah salah satu cara mengungkapkan perasaan cinta, bangga, serta apresiasi kami terhadap kebijakan terbuka pak rektor dalam merespon situasi sosial politik Indonesia akhir-akhir ini.

Kemungkinan besar Bapak tidak mengenali kami berdua karena banyaknya jumlah mahasiswa UII. Perkenalkan, kami berdua adalah Inda Sembiring dan Kenny Meigar, dua mahasiswa dari program studi Hubungan Internasional UII.

Kami bukanlah mahasiswa dengan segudang prestasi maupun aktivis ulung. Kami hanyalah mahasiswa biasa yang mencoba peduli dengan kampus kita tercinta.

Jadi, Pak Rektor hanya perlu duduk manis dan membaca surat ini dengan tenang.

Akhir-akhir ini, akun resmi media sosial UII aktif mengunggah konten mengenai prestasi kampus kita. Hal ini terjadi karena memang pada tahun 2019, UII mendapat beberapa penghargaan bergengsi.

Mulai dari PTS (Perguruan Tinggi Swasta) terbaik dalam kinerja penelitian, PTS terbaik dalam kinerja pengabdian masyarakat dan PTS paling lestari di Indonesia. 

Bahkan, berdasarkan QS Asia University Ranking 2020, UII kembali masuk jajaran 500 Universitas terbaik se-Asia!

Berbagai penghargaan tersebut diterima karena memang di periode Bapak kami melihat UII mulai menggencarkan peningkatan kualitas pelayanan di setiap aspek. Meskipun tidak banyak yang memperhatikan, salah satunya adalah penyediaan komputer khusus low vision di perpustakaan. Fasilitas ini tentu menunjukan bahwa UII merupakan kampus yang terbuka untuk semua orang.

Tapi Pak, sebenarnya masih banyak “PR” di kampus tercinta ini yang harus kita selesaikan bersama. Berikut dua hal yang semoga mendapatkan perhatian lebih dari bapak dalam beberapa tahun ke depan.

Pertama, meningkatkan kesadaran di lingkungan kampus agar lebih ramah terhadap perbedaan.

Kedua, menjadikan UII sebagai institusi yang dapat diakses oleh siapa saja.

Mari Pak, kita bahas satu per satu;

Meningkatkan Kesadaran di Lingkungan Kampus agar Lebih Ramah Terhadap Perbedaan

Bapak Rektor yang sangat kami banggakan, Bapak pasti sadar, akhir-akhir ini bapak sedang menjadi pusat perhatian dan perbincangan masyarakat Indonesia. Khususnya di kalangan para sivitas akademika. 

Kami bangga memiliki rektor yang mampu menghidupkan kembali esensi netralitas akademis di tengah hiruk-pikuk situasi politik Indonesia. Kami sangat bangga bahwa Pak Fathul Wahid berani “tampil beda” dari tokoh universitas lainnya.

Kami ingat betul Pak, bagaimana bapak turut berpartisipasi dalam demonstrasi dengan mahasiswa ketika aksi #GejayanMemanggil sebagai sarana menyampaikan aspirasi. 

Kami juga ingat betul Pak, bagaimana Bapak menerima UAS (Ustaz Abdul Somad) sebagai simbol bahwa penting bagi sebuah universitas untuk tetap mempertahankan ruang-ruang dialog di tengah kontroversi dan perbedaan yang ada. 

Hal ini senada dengan perkataan Bapak, yaitu berbeda bukan berarti tidak bisa hidup berdampingan.

Dalam ranah akademis, memang sudah seharusnya kita mengkaji sesuatu dari berbagai sudut pandang. Kami yakin Bapak sudah sangat paham akan hal ini, dan inilah semangat akademis di UII yang harus selalu kita jaga. 

Jangan sampai terdapat sivitas akademika UII yang berpikir pendek terhadap paham atau suatu hal hanya karena hal tersebut bersifat baru dan tidak terlalu familiar, seperti anggapan bahwa feminisme adalah produk gagal dan paham sesat dari Barat. 

Salah satu dosen kami pernah mengatakan, “kenapa ya, kita mudah sekali sesak napas terhadap perbedaan?” 

Tahun 2019 kemarin dalam memperingati hari ibu, UII mengadakan kajian dengan tema “Kemuliaan Perempuan dalam Islam” yang merupakan bagian dari rangkaian seminar moderasi Islam. 

Hal ini sangat luar biasa, Pak, kenapa? Karena UII mampu menunjukan bahwa kita dapat mengadakan kajian yang mengangkat isu gender di masjid. Bahkan, kami sangat senang pemateri yang dihadirkan adalah Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. yang merupakan satu di antara ahli tafsir terkemuka yang ramah gender.

Kami sangat senang, UII mulai memberikan perhatian terhadap isu kekerasan perempuan. 

Dalam salah satu Pojok Rektor tentang kajian RUU-PKS yang diadakan oleh UII, Pak Fathul pernah mengatakan bahwa memperjuangkan hak perempuan tidak bisa hanya dilakukan oleh perempuan sendiri, namun juga perlu melibatkan laki-laki.

Dari penjelasan di atas, kami dapat melihat bahwa Pak Fathul Wahid merupakan dosen yang ramah terhadap perbedaan dan memiliki semangat keadilan dan kesetaraan. 

Keterbukaan ini sangat penting pak, mengingat visi kampus kita yaitu terwujudnya UII sebagai kampus yang rahmatan lil’amin. UII hadir bukan hanya untuk orang Islam saja, namun juga bagi seluruh semesta. 

Di sinilah peran para akademisi UII menjadi penting, yaitu sebagai “jembatan penghubung” antara kitab kuning dan kitab putih, atau ajaran agama dan ilmu pengetahuan modern. 

Jadi, kami harap kedepannya jangan sampai terjadi pembatalan sepihak atau bahkan pembubaran kegiatan kajian akademis mahasiswa hanya karena isu yang diangkat dianggap sensitif di masyarakat.

Menjadikan UII Sebagai Institusi yang Dapat Diakses oleh Siapa Saja

Senang sekali rasanya ketika menyusuri Boulevard UII yang mendukung akses teman-teman penyandang tuna netra. 

Fasilitas yang mampu mengakomodasi berbagai kebutuhan manusia yang memang hakikatnya selalu berbeda. Perbedaan yang ada menjadikan ungkapan “There’s always room for improvement,” sangat relevan. 

Di UII misalnya, meskipun telah terdapat berbagai kemajuan, namun fasilitas yang mendukung mobilitas kelompok dengan kebutuhan khusus masih sangat minim. 

Terlebih lagi belum semua fasilitas di UII bersifat accessible. Dua di antaranya adalah Masjid Ulil Albab dan Gedung Kuliah Umum Prof. Sardjito. Memang ini hanyalah berdasarkan pengalaman pribadi yang kami alami, namun tetap dapat dijadikan catatan dan mendapat perhatian. 

Selain para disabilitas, pihak yang menghadapi kesulitan untuk mengakses Masjid Ulil Albab dan GKU adalah lansia dan ibu hamil. Sungguh disayangkan bahwa terdapat orang yang kesulitan hingga harus berfikir dua kali untuk mengakses Masjid Ulil Albab.

Tentu saja ibadah salat dapat dilakukan di banyak tempat yang aksesnya lebih mudah, namun pengalaman dan perasaan sense of belonging menjadi bagian dari UII ingin dirasakan pula. 

Bisa dibayangkan bagaimana jika ada orang yang menggunakan kursi roda ingin sholat di Masjid Ulil Albab? Apakah ada akses untuk mereka? 

Apalagi pengalaman melihat pemandangan Boulevard UII yang indah dari masjid, serta lampu menawan dan suasana syahdu yang dirasakan ketika berada di dalamnya. Rasa cinta dan syukur kepada Sang Pencipta sungguh dapat dirasakan. 

Beberapa waktu yang lalu, kami mendapati sosok guru berusia lanjut dan kondisi kesehatan terbatas dari salah satu sekolah naik ke lantai tiga GKU. Beliau tertatih dan menghela nafas berkali kali ketika tiba di lantai tiga. 

Sebuah pemandangan yang meremuk hati, khususnya ketika membayangkan apabila beliau adalah orang tua kita atau kita berada di posisi beliau.

Andai saja terdapat fasilitas yang mampu mendukung kebutuhan-kebutuhan tersebut.

Kami sangat berharap bahwa UII sebagai institusi yang sedang menggapai mimpi untuk menjadi universitas kelas dunia dapat menyelesaikan tantangan tersebut. 

Tentu banyak dari kita yang menemukan keluarga baru di institusi ini, sehingga UII adalah sebuah rumah. Layaknya rumah yang kita miliki sendiri, tentu kita semua ingin menjadikannya sebuah tempat yang nyaman dan berkesan baik. 

Dukungan dan Semangat untuk Pak Rektor

Pak Rektor, mungkin pengalaman dan pemahaman kami mengenai hidup dan kepemimpinan masih jauh lebih sedikit dibandingkan Bapak, sehingga tentu saja ini bukanlah nasihat atau tulisan yang bermaksud menggurui. 

Menjadi pemimpin pasti tidaklah mudah, ya, Pak, terdapat banyak sekali harapan dari berbagai pihak yang terus mengikuti Bapak.

Belum lagi berbagai pertimbangan pribadi yang Bapak miliki karena harus mempertanggungjawabkan semuanya kelak di akhirat. 

Namun, kami yakin bahwa Bapak telah melakukan usaha terbaik demi kemajuan dan cita-cita UII. Terimakasih atas perjuangan dan usaha bapak sejauh ini, kami berdoa agar Allah SWT memberikan kekuatan dan kebaikan yang sesuai untuk Pak Rektor beserta jajaran. 

Pak Rektor, ternyata benar bahwa amanah tidak perlu dicari-cari, namun ketika ia menghampiri, kita harus mengerjakannya dengan sepenuh hati, bukan lari. Kami merasakan kesepenuhatian Bapak. 

Pak Rektor, 

Sering kali memimpin terlihat tidak sukar,

Memang hanya lapisan luar lah yang sekilas membuat mata berbinar.

Namun, layaknya manusia lainnya, pemimpin mestilah gusar,

Berfikir mengenai apa apa yang dirasanya masih belum benar.

Menjadi pemimpin bukanlah perihal wajah sangar,

Apalagi lisan kasar dan ayunan tangan yang siap menggampar.

Namun, perihal bagaimana telinga selalu siap mendengar,

Dan tutur kata berbalut doa dari hati yang tegar,

Serta tangan penuh kesiapan untuk merangkul dengan balutan rasa sabar. 

Selamat berjuang, Pak Fathul Wahid.

Hormat Kami, 

Inda Sembiring dan Kenny Meigar

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

*Analisis/Retorika ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi Himmahonline.id.

Seri: