Sifat Konsumtif dan Teknologi Kiamat Manusia

Judul  : Wall-E

Tahun : 2008

Genre : Fiksi Ilmiah, Animasi, Keluarga

Sutradara        : Andrew Stanton

Produksi         : Walt Disney dan PIXAR

Film animasi box office terbaik pada Academy Awards tahun 2009. Film ini menceritakan kehidupan sebuah robot bernama Wall-E sisa dari mega proyek yang dibatalkan oleh perusahaan Buy N Large yang bertujuan untuk membersihkan sampah bumi di abad 22 yang sudah tercemar dan tidak mungkin untuk ditinggali lagi oleh manusia. Tinggal sendirian di planet bumi dan ditemani hewan peliharaan seekor kecoa, Wall-E memiliki kebiasaan unik yaitu memungut semua sampah yang dia anggap menarik. Dia memiliki cukup banyak barang, mulai dari korek api hingga iPod bekas bahkan memiliki tanaman hidup terakhir yang ia tanam di sepatu bekas.

Di saat ia sedang bekerja, sebuah kapal luar angkasa mendarat di bumi dan mengeluarkan Eve, robot perempuan yang dikirim oleh manusia untuk mencari tanda kehidupan flora di Bumi. Wall-E mencoba medekatinya untuk berkenalan, setelah itu ia mengajak Eve pergi ke rumahnya dan Wall-E menunjukan tanaman kepada Eve, ia terkejut, dan memasukan tanaman kecil itu ke dalam tubuhnya sehingga menjadi non-aktif, dan akhirnya Eve pun dijemput pesawat luar angkasa karena sudah selesai akan tugasnya. Karena sudah jatuh cinta dengan Eve, Wall-E pun meninggalkan bumi untuk mengikuti pesawat tersebut.

Pada akhirnya Wall-E pun sampai ke pesawat induk AXIOM, sebuah armada kapal luar angkasa eksekutif yang dibuat untuk mengevakuasi seluruh manusia di Bumi. Begitu masuk kedalam AXIOM, Wall-E tercengang ternyata di dalamnya banyak sekali manusia, mereka duduk di kursi otomatis dan malas beraktivitas, hidup mereka bergantung akan teknologi, sehingga manusia-manusia tersebut menjadi gemuk karena terlalu malas bergerak.

Kehidupan mereka serba praktis, hanya dengan mengklik tombol-tombol tertentu, maka apapun yang mereka inginkan dapat terpenuhi. Aktivitas bersih-bersih di dalam pesawat AXIOM pun dilakukan oleh robot sepenuhnya. Bahkan, semua wewenang terhadap navigasi pesawat diserahkan pada sistem autopilot-nya yang disebut Auto.

Setelah berkeliling di dalam pesawat itu, akhirnya Wall-E menemukan Eve dan bibit tanaman itu. Kemudian mereka segera memberikan bibit itu kepada kapten AXIOM yang merupakan kabar gembira bahwa masih ada kehidupan di Bumi. Sang Kapten pun terkejut dan memerintahkan Auto untuk kembali ke Bumi. Namun Auto melarang sang Kapten dengan alasan bumi tidak bisa ditempati. Peperangan terjadi, Auto dan anak buah robotnya berusaha untuk menyingkirkan tanaman yang memaksa Wall-E, Eve, Kapten untuk menemukan cara untuk mengambil kembali tanaman dan menyelamatkan bumi. Akhirnya, peperangan pun dimenangkan oleh Kapten Wall-E, dan Eve.

Di sisi lain, manusia di dalam AXIOM berjuang untuk berdiri dan berjalan karena mereka dimanjakan dengan teknologi. Di saat para manusia itu kembali ke bumi, tubuh Wall-E rusak, kemudian Eve pun segera memperbaiki Wall-E dan akhirnya dia normal kembali.

Sejak saat itu, manusia dan robot bekerjasama dalam memperbaiki kehidupan di Bumi seperti sediakala dengan harapan baru. Seiring berjalannya waktu, kehidupan yang normal dapat dinikmati kembali oleh manusia.

Di balik film yang menghibur ini ada potret kondisi bumi yang menyedihkan seperti tanah gersang, langit tidak cerah sehingga udara sudah tidak bersih dan banyak sampah yang mengunung terutama sampah elektronik. Film ini mengkritik pola sifat konsumtif manusia dengan mengambarkan keadaan bumi yang hancur seperti kiamat. Terutama sifat konsumtif di negara-negara maju yang warganya mempunyai pola konsumtif sangat tinggi.

Film Wall-E sepintas mengingatkan kita bagaimana kondisi di negara Ghana yang menjadi tempat sampah elektronik dunia. Tepatnya di daerah Agbogbloshie, Setiap harinya mereka bernapas dalam asap dari pembakaran yang menghasilkan polusi udara yang beracun, sehingga mereka mempunyai penyakit masalah organ dalam. Bahkan anak-anak yang tinggal dan bekerja di sini punya beragam penyakit. Mulai dari penyakit ginjal sampai kerusakan hati.

Hal itu disebabkan oleh ratusan juta ton limbah elektronik secara ilegal dikirim setiap tahunnya. Kabel dan papan tercetak yang dibakar lalu diekstrak untuk diambil tembaga dan logam mulianya.

Proses untuk mengambil logamlah yang merupakan sangat beracun, seperti para pekerja sering tidak memiliki peralatan pelindung dan bernapas dalam kadar tinggi bahan kimia beracun. Racun seperti timbal, kadmium dan merkuri yang dibakar dengan konsentrasi yang dikatakan melebihi kata normal. Meskipun itu sangat berbahaya tapi hal itu telah menjadi tempat sumber ekonomi ribuan orang disana.

Sama halnya di India yang merupakan salah satu penghasil sampah elektronik terbesar di dunia. Di negeri Bollywood itu, terdapat pabrik di Kota Roorkee, Negara Bagian Uttarakhand, melakukan kegiatan “menambang” emas dan logam-logam berharga lain dari 1000 ton sampah elektronik per bulan. Logam-logam itu akan berekspansi ke Meksiko dan Irlandia.

Tak hanya di kota, pemandangan serupa juga terjadi di desa kecil di pinggiran Kolkata dan Krishna Vihar, Delhi. Dua peneliti India, Rashmi Makkar dan Sirajuddin Ahmed, sempat mempublikasikan hasil penelitian mereka di jurnal Current Science tentang pencemaran air tanah di Krishna Vihar.

Menurut mereka, air tanah di kampung itu mengandung logam berat timbal jauh di atas batas normal dan tak layak dikonsumsi. Meraka menambahkan bahwa di kampung-kampung kumuh, tempat pengolahan sampah elektronik biasanya dilakukan jauh dari kata aman, limbah elektronik bak “madu dan racun”. Barang ini mendatangkan uang dan pekerjaan, tapi sekaligus racun. Sampai sekarang, sampah elektronik adalah potensi pendongkrak ekonomi yang masih terus tumbuh di sana.

Lalu di China tepatnya di daerah Guiyu, Provinsi Guangdong China yang pernah mendapatkan julukan “tempat sampah elektronik terbesar dunia”. Wartawan CNN pernah meliput di sebuah gudang, di sana ada seorang pekerja mengaduk kepingan-kepingan plastik yang direndam dengan larutan kimia, dengan bertelanjang tangan layaknya mengaduk larutan gula. Untuk mengenali jenis-jenis material, mereka membakar plastik dengan korek, otomatis sebagian asap beracun itu mereka hisap. Selain itu banyak keluarga yang tinggal di sekitar pabrik, selama beberapa generasi dan hampir tak tampak pengaruhnya terhadap kesehatan mereka.

Pada tahun 2014, tim dari Sekolah Kedokteran Universitas Shantou meneliti pengaruh industri sampah elektronik terhadap anak-anak Guiyu. Mereka menemukan kandungan timbal jauh di atas normal dalam darah anak-anak Guiyu. Timbal dalam darah bisa merusak banyak organ dalam tubuh, tapi otaklah yang paling sensitif terhadap efek timbal itu.

Akhirnya tahun 2015, Pemerintah Provinsi Guangdong menghimbau agar semua industri rumah tangga pengolahan limbah elektronik di Guiyu pindah ke kawasan industri baru yang memilki fasilitas yang lebih ramah lingkungan dan lebih bersih. Sejak saat itu pemerintah Guangdong menerapkan pengawasan ketat terhadap arus impor ilegal sampah elektronik yang masuk Guiyu. Sekarang Guiyu sudah bersih dari industri rumah tangga pengolah sampah elektronik. Lingkungan di kota kecil itu juga sudah jauh lebih ramah terhadap penghuninya.

Begitu juga dengan Indonesia, sampah masih jadi persoalan yang belum bisa sepenuhnya diatasi, terutama di kota-kota besar. Meskipun bukan sampah elektronik tapi sampah plastik yang jumlahnya diperkirakan terus meningkat dari tahun ke tahun.

Mengingat sampah plastik tidak mudah terurai, jika tidak dikelola di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) atau didaur ulang, maka akan merusak lingkungan. Sampah plastik yang tidak dikelola ini biasanya tertimbun di tanah, atau ikut mengalir ke lautan.

Menurut data dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) di tahun 2013, untuk sampah nonorganik berjumlah 40 persen dan untuk organik sebanyak 60 persen. Lalu pada tahun 2017, jumlah sampah nonorganik meningkat menjadi 43 persen, sedangkan 57 persen lainnya merupakan sampah organik. Meningkatnya sampah nonorganik ditopang dari peningkatan sampah plastik.

Data sampah plastik di tahun 2013 berjumlah 14 persen dan meningkat menjadi 17 persen atau setara 10,35 juta ton di tahun 2017 artinya dalam jangka empat tahun sampah plastik meningkat menjadi 3 persen.

Dari data itu Provinsi Jawa Barat menghasilkan sebaran sampah paling banyak dikarenakan jumlah populasi penduduknya paling banyak di seluruh Indonesia. Penghasil sampah plastik terbanyak adalah DKI Jakarta dikarenakan perilaku masyarakatnya yang praktis dan perlu yang cepat.

Bahkan Kementerian LHK menyakini bahwa sampah tersebut akan terus meningkat. Tahun 2017, jumlah sampah mencapai 65,8 juta ton. Jumlah itu diproyeksi akan meningkat menjadi 67,8 juta ton pada 2020 dan 70,8 ton pada 2025.

Riset Analisis Arus Limbah Indonesia pada 2017 yang dibuat oleh Sustainable Waste Indonesia (SWI), bahwa ada 24 persen sampah yang belum terkelola. Yang artinya, sekitar 65 juta ton sampah yang diproduksi di Indonesia setiap harinya. Sekitar 15 juta ton mengotori ekosistem dan lingkungan karena tidak ditangani. Sedangkan, 7 persen sampah didaur ulang dan 69 persen sampah berakhir di TPA.

Dari riset itu ditemukan jenis sampah yang paling banyak dihasilkan seperti sampah organik sebanyak 60 persen, sampah plastik 14 persen, sampah kertas 9 persen, metal 4,3 persen, kaca, kayu dan bahan lainnya 12,7 persen.

Menurut Direktur SWI, Dini Trisyanti alasan sampah tersebut belum terkelola atau terurai dikarenakan sistem yang memadai untuk proses pengumpulan sampah. Biasanya proses dilakukan para pemulung atau petugas kebersihan yang mengangkat sampah-sampah dari tiap rumah tangga menggunakan truk. Tetapi pengumpulan sampah ini dinilai belum optimal, karena belum bisa menjangkau semua sampah. Selain itu, peningkatan Infrastruktur dan optimalisasi pelayanan sampah juga masih belum dijadikan prioritas oleh pemerintah dan kerap terkendala karena anggaran yang terbatas.

Dia menambahkan bahwa perilaku dan kebiasaan masyarakat Indonesia yang sering membuang sampah sembarangan menjadi faktor sampah Indonesia terus meningkat. Memang masyarakat tidak bisa sepenuhnya disalahkan, karena di Indonesia infrastruktur pelayanan sampah belum menjadi prioritas utama. Misalkan tidak adanya tempat pengumpulan sampah atau TPA di sekitar tempat tinggalnya, sehingga mereka bingung. Akhirnya masyarakat sering membuang sampah langsung ke sungai atau ke alam yang berujung mengotori dan merusak lingkungan.

Film yang penuh kritik ini juga tidak luput dari kekurangan. Seperti terlalu sedikitnya dialog antar pemain, sehingga penonton agak sulit untuk mengerti dan memang film ini perlu penghayatan yang lebih. Apalagi di awal film, sangat sulit untuk dimengerti apa maksud dari film ini jika tidak mengikuti alur cerita dari awal.

Di sisi lain film ini memiliki kelebihan yang berfungsi menjadi media edukasi terutama bagi anak-anak, seperti mengajarkan supaya tidak menjadi manusia pemalas. Manusia harus memiliki gaya hidup aktif yang memaksa tubuh agar beraktivitas ke luar ruangan, entah untuk olahraga atau untuk aktivitas lain sehingga tubuh menjadi sehat.

Film ini juga memberikan pelajaran bagi manusia supaya tidak terbuai oleh kecanggihan teknologi. Karena jika sudah dikuasai dengan kecanggihan teknologi, manusia menjadi tidak peduli terhadap pelestarian alam lingkungannya, maka bencana sewaktu-waktu pasti datang mengancam jiwa manusia. Karena hutan-hutan telah mereka tebangi untuk kemajuan industri dan teknologi telah habis, hutan dengan pohon-pohon yang besar kini tiada lagi yang tinggal hanya rumput ilalang dan lubang-lubang bekas tambang.

Kemajuan teknologi juga membuat manusia menjadi sombong, terlena dan terbuai oleh kecanggihannya sehingga membuat manusia tidak saling menghargai dan dapat menjadi senjata yang mampu memunculkan peperangan baru yang akan menambah angka kematian manusia.

Editor: Audy Muhammad Lanta

Baca juga

Terbaru