Colony Colapse Disorder Tidak Pengaruhi Ternak Lebah di Indonesia

Colony Collapsed Disorder (CCD) yang terjadi di Eropa dan USA semenjak abad XIX dan booming kembali satu dekade terakhir, nyatanya tidak memberikan dampak besar pada kondisi lebah di Indonesia.

Fenomena yang membuat Bayern menghentikan produksi neonicotinoid itu tidak mampu mencuri perhatian khusus para pakar Indonesia. Tidak adanya laporan mengenai CCD membuat penelitian terkait hilangnya sejumlah besar lebah pekerja itu minim.

Tercatat ada 42 genus lebah di Indonesia dan yang paling sering dikembangbiakkan adalah jenis Apis mellifica dan Apis cerana. Dalam buku Beternak Lebah (Soedjono & Nuryani, 1991), Apis mellifica merupakan lebah impor dari Italia yang kemudian dikembangkan di Indonesia dan setiap tahunnya mampu menghasilkan madu hingga 45 kg.

Sedangkan Apis cerana adalah lalat lebah yang bahasa Jawa disebut tawon leler atau ondoan. Panjang sekitar 1,1 cm. Tinggal di sekitar manusia dan suka berkerumun di pasar sekitar tempat gula-gula. Dapat menghasilkan madu sekitar 7 kg tiap tahunnya.

Penyebab CCD belum pernah disebutkan secara pasti di berbagai jurnal internasional. Hal ini dikarenakan tidak adanya bukti kuat lebah mati disekitar sarang. Lebah pekerja pergi meninggalkan koloninya tanpa jejak sama sekali. Para penelitu pun hanya mampu menyediakan beberapa hipotesis terkait kejadian tersebut.

Hari Purnomo, seorang dosen biologi Univeristas Gajah Mada (UGM), menerangkan bahwa faktor-faktor yang diasumsikan sebagai pemicu CCD, seperti terjangkitnya lebah oleh varroa destructor, tidak terdeteksi di Indonesia.

“Belum ada penelitian (di Indonesia). Destructor (pada Apis) melifera Indonesia saya cari tidak ada, berarti populasi di Indonesia rendah karena peternak Indonesia menggunakan akarisida atau pestisida,” terang Hari.

Senada dengan penjelasan di atas, sebuah penelitian berjudul Tungau Varroa (Mesostiqmata: Varroidae) pada Lebah Madu Apis Mellifera Linnaeus, 1758 dan Apis Cerana Fabricius, 1793 (Nathania B, 2018), menyimpulkan bahwa Varroa destructor belum pernah ditemukan dan berkembangbiak pada lebah madu Apis mellifera. Nathania hanya menemukan Varroa jacobsoni dan Varroa underwoodi pada Apis cerana yang merupakan inang alaminya.

Kedua jenis Varroa tersebut hubungannya setimbang sehingga tidak akan membahayakan hingga membunuh Apis cerana.

Faktor CCD lain terkait habitat lebah madu seperti pemanasan global yang berdampak pada iklim Indonesia, dirasakan peternak lebah. CCD mungkin tidak terjadi, namun penurunan efektivitas produksi telah dirasakan para peternak.

Seorang peternak lebah asal Kaliurang, Sleman, Suparlin, menyatakan pernah merasakan fluktuasi produktivitasnya. “….karena ini berkaitan dengan alam, pernah saya kehabisan karena apa? Ada gangguan panen musim….,” terang Suparlin. 

Musim memengaruhi tumbuh kembang tanaman dimana lebah mendapatkan makanannya sehari-hari. Pertumbuhan yang tidak optimal menjadikan lebah kesulitan mengumpulkan nektar bagi koloninya.

Sebenarnya tidak hanya musim, pengalihfungsian pada sektor kehutanan pun mampu menimbulkan masalah ketersediaan pangan lebah.

Pohon randu itu yang dulu (di) Jawa Tengah itu banyak karena kapuknya gak payu (red: laku) dijual, kan diganti busa, akhirnya do ditebangi, kayunya untuk kerjinan, punya petani habis,” jelas Suparlin.

Pemerintah, utamanya Dinas Kehutanan, telah melakukan upaya yang disebutnya melindungi peternak lebah. Di daerah Yogyakarta, penanaman pohon alpukat yang menggaet stakeholder luar negeri sudah pernah direncanakan.

Survei lokasi dan jajak pendapat praktisi telah dilewati. Sayangnya menurut Suparlin hal itu dirasa kurang memberikan solusi karena dari alamnya pun, musuh lebah madu Indonesia tidak terbendung jumlahnya, tawon siring misalnya.

Penggunaan pestisida yang disebut-sebut menjadi salah satu pemicu terjadinya CCD di Eropa pun, tidak nampak di Indonesia. Pestisida yang mengandung neonicotoid itu hanya menurunkan produktivitas ternak. Jika seekor lebah membantu penyerbukan tanaman yang diberi pestisida, maka nektar yang ia serap pun akan terkontaminasi senyawa kimia mirip nikotin tersebut. Saat lebah kembali ke sarangnya, disitulah waktu yang tepat menyebarkan penyakit lumpuh sayap kepada lebah satu koloni hingga madu yang dikumpulkannya menurun.

Dikutip dari jurnal Potensi Madu Hutan dan Pengelolaannya di Indonesia oleh Teguh Muslim (2014), Indonesia masih mengimpor 70% madu untuk mencukupi kebutuhannya di dalam negeri.

Impor yang besar ini diperkirakan karena rendahnya produksi madu di dalam negeri. Sejumlah 3.600 – 4.000 ton per tahun madu dikonsumsi rakyat Indonesia, namun sayangnya bangsa ini hanya mampu memenuhi 1.000 – 1.500 ton per tahun.

Sebagian besar produksi madu Indonesia masih mengandalkan alam (hutan) sehingga produktivitasnya pun sangat bergantung kepada kondisi alam kembali.

Proses beternak lebah di Indonesia sendiri tidaklah mudah dan cukup memakan waktu. Hal yang utama adalah mempelajari karakter dan kebiasaan lebah sehingga teknik beternaknya pun bisa tepat.

Lebah yang diternak harus dibawa sekitar seratus hingga dua ratus meter mendekati sumber pangannya. Biasanya para peternak akan menyewa sebuah perkebunan tertentu yang mana lokasinya cukup jauh dari perkotaan guna menghindari bising serta meningkatkan kecepatan produksi.

Setelah lima belas hari, madu pun dipanen dalam waktu yang singkat, yaitu sekitar dua jam. Panen dilakukan dengan alat yang bernama blum, sebuah wadah penuh berisi madu, yang apabila telah selesai harus ditutup rapat dan segera dijauhkan dari lebahnya sendiri.

Dari perkebunan, blum dibawa ke rumah produksi untuk selanjutnya disaring serta dikemas dalam botol kaca. Kemasan madu asli tidak bisa menggunakan bahan plastik. Karena plastik akan bereaksi sehingga membuat madu berbau.  

Tak seperti di Indonesia, Suparlin mengaku beternak lebah di luar negeri dirasa jauh lebih menguntungkan. Melimpahnya serangga lain, seperti kupu-kupu, menjadikan perkebunan Indonesia tak membutuhkan bantuan khusus lebah untuk penyerbukan.

Hal ini tentu berbeda dengan luar negeri yang kehadiran serangganya sangat minim. Saya dapat tamu dari Korea, dia juga berternak lebah. Bedanya apa peternak luar negeri dan disini, kalau diluar negeri itu, yang punya ternak lebah itu dicari oleh perkebunan, perkebunan kurma, perkebunaan anggur, mencari peternak lebah, kita ambil madunya, yang sana lancar”, tambah Suparlin.

Baca juga: Colony Collapsed Disorder: Kontribusi Manusia Pada Kepunahannya.

Madu asli yang diproduksi lebah memerlukan waktu cukup lama sehingga jika dipikir kembali, akan sangat sulit memproduksi sari madu secara massal dan terus-menerus. Banyak madu yang dipasarkan dengan klaim 100% madu murni, namun kenyataannya telah dicampur penjualnya untuk mendapat keuntungan besar.

Tingginya predator, lokasi ternak yang jauh, serta hasil produksi yang cukup minim dibanding permintaannya, menjadikan madu asli dibanderol dengan harga mahal.

Manusia berdampak besar bagi kelangsungan hidup lebah. Secara langsung, manusia bisa menjadi predator utama lebah di muka bumi.

Bagi mereka yang tidak mengerti bahkan memang tidak peduli, madu yang dihasilkan lebah bisa saja diambil seluruhnya. Padahal madu pun harus disisakan sedikit bagi kehidupan lebah selanjutnya.

Keseimbangan dan pelestarian alam harus dilakukan sehingga fenomena Colony Collapsed Disorder apalagi mencapai kepunahan lebah tidak terjadi di Indonesia.

Penulis: Janneta Filza A.

Reporter: Ananta Dhia, Janneta Fildza A., Ika Rahmanita, Dadang Puruhita

Editor: Zikra Wahyudi

 

Baca juga

Terbaru