Mari Berorganisasi

Karena pertimbangan puasa, stadium general dilaksanaan di Auditorium Kahar Muzakkir. Namun tidak seluruh mahasiswa baru tidak ikut masuk.

Oleh Maya  I. Cashindayo

Kampus Terpadu, Kobar

Sabtu (06/08), Untuk pertama kalinya dalam sejarah Universtas Islam Indonesia (UII), kegiatan penyambutan mahasiswa baru atau Pesona Taaruf (Pesta) diadakan  saat bulan suci ramadhan. Mahasiswa baru ini terlihat antusias mengikuti jalannya kegiatan Pesta. Hal ini dinilai ketika acara stadium general berlangsung. Banyak mahasiswa maupun mahasiswi baru (maba-miba) yang berlomba mengajukan pertanyan kepada pembicara saat stadium general berlangsung.

Eko Prasetyo, yang merupakan alumnus Fakultas Hukum (FH UII) serta pimpinan Pusat Studi Hukum dan HAM (PUSHAM UII) menjadi pembicara di stadium general (kuliah umum) siang itu.

“Sebelumnya kami menghubungi pak Busyro Muqoddas, Mahfud MD, Suparman Marzuki dan Pak Harun Alamsyah. Tapi beliau menolak karna kesibukan” terang M. Najihuddin, ketua SC Pesta kali ini. Sebelumnya Busyro setengah menyanggupi menurut najihuddin, namun mendadak ketua KPK ini ke tanah suci untuk umroh.

Stadium General tidak diselenggarakan di halaman FPSB seperti yang sudah-sudah. Gedung Kahar Muzakkir, yang pada tahun lalu hanya menjadi pos kesehatan pun  diberdayakan sekarang. “Di kahar Muzakkir aja, kasian puasa, panas,” ungkap Najihuddin.

Fungsi dan Peran Mahasiswa UII dalam Mewujudkan Masyarakat Madani, tema kali ini. Dengan mengenakan batik serta dipadu celana kain hitam, Eko pun mulai membuka kuliahnya pada pukul 09.30 WIB. Dengan suara lantang ia berkata “Selamat tinggal masa-masa SMA yang menakutkan dan menjengkelkan. Selamat tinggal UAN yang gak mutu.”

Dengan bahasa yang lugas Eko mulai bercerita mengenai penderitaan TKW yang berada di negeri jiran, Malasyia. Dengan sedikit bercanda ia membuka pertanyaan mengenai TKW yang diberikan telepon genggam, dan dijawabnya sendiri, “Emang kalo mau diperkosa sms dulu,” ujarnya.

Sekitar 60 menit, siang itu kuliah diisi dengan motivasi untuk maba-miba. Eko berpendapat bahwa kita sebagai bangsa Indonesia harus mampu untuk membangun bangsa, jangan mudah tertipu oleh slogan atau iklan. Demonstrasi sendiri menurutnya itu perlu karena hal ini merupakan pernyataan atas keinginan kita. Iya atau tidak.

Kecerdasan intelektual dari sudut pandang Eko tidak semata didapat dari perkuliahan. Disebutkannya bahwa organisasi lah yang diperlukan. Sebagai pembanding dia mengambil contoh dari film Social Network, film yang diadaptasi dari kisah nyata. Tokoh utamanya, yaitu Bill Gates merupakan seorang penemu facebook. Meskipun Bill, tidak berhasil dalam perkuliahannya di Universitas Harvard tapi seluruh penduduk di muka bumi bisa merasakan mafaat atas apa yang dia ciptakan. “Dia (Bill Gates) tidak selesai kuliah di harvard, tapi bisa kita lihat sekarang pengaruh dia di dunia,” ujar Eko.

Seakan hafal dialog film Social Network. Eko mengulang dialog yang diucapakan Bill Gates saat mengisi ceramah di harvard, “Aku berdiri disini karena tidak duduk seperti kalian. Aku berdiri disini karena tidak seperti kalian.” Setelahnya, untuk kesekian kali ia kembali menyerukan, “Belajarlah berorganisasi,” semangatnya.

Seperti yang disinggungnya di awal mengenai ketidakmutuan UAN, ia pun mulai mengkritisi kembali soal pola pendidikan di Indonesia. Menurut pria berkacamata ini UAN sendiri bukan merupakan penentu kelulusan. UAN disini merupakan penentu mutu lembaga pendidikan itu sendiri. Semisal contoh kasus yang ada, seorang siswa yang merupakan juara olimpiade justru di saat UAN tidak lulus. Yang mengetahui layak tidaknya seseorang lulus UAN yakni guru mereka masing-masing menurut Eko.

Berbagai pertanyan maupun pernyataan pun diajukan oleh maba maupun miba. Salah satunya adalah Hilal, mahasiswa baru ilmu hukum. Hilal mengajukan pernyataan bahwa yang dibutuhkan saat ini bukan hanya sumber daya manusia (SDM) yang unggul melainkan pula SDM yang berakhlak. Dan atas apresiasinya inilah Hilal berhasil meraih sebuah bingkisan kecil dari Eko.

Tanggapan pun datang dari Rezki Pratama, mahasiswa baru FIAI. Menurutnya pembicara kali ini sangat menarik, sehingga ia mampu termotivasi. Tetapi ia  menyayangkan karena tak semua maba maupun miba bisa mengikuti stadium general secara nyaman. “Masih banyak yang diluar, desak-desakan lagi. Semoga selanjutnya lebih bisa terorganisir,” keluhnya.

Pernyataan Rezki pun diamini oleh Vinda Karunia, mahasiswi baru Fakultas Ekonomi yang berada di luar ruangan. “Cuma denger dikit. Orang aku di luar mbak. Tapi bagus kok.” Vinda mengharapkan agar maba serta miba kedepannya mampu dikoordinir secara lebih terarah.

Harapan serupa juga diungkapkan oleh Suryo, mahasiswa baru Fakultas Hukum. “Tempat atas kan masih ada? Kenapa gak dimaksimalin? Aku aja mesti desek-desekan buat bisa masuk kedalam” tutupnya.

Reportase bersama Dyah Ayu Ariestyasiwi

Berita sebelumyaPesta di Bulan Suci
Berita berikutnyaLembaga yang Tidak Berpesta

Podcast

Baca juga

Terbaru