Beranda blog Halaman 101

Himmah Berbicara: Postkolonialisme

0

Sabtu, (20/12) “Himmah berbicara” kali ini mendiskusikan mengenai postkolonialisme. Postkolonialisme merupakan suatu alat untuk melawan sisa-sisa kolonial. Postkolonialisme terdiri dari kata posko yang berarti sebagai wadah sedangkan kolonialisme berarti usaha suatu daerah atau negara untuk memperluas wilayahnya, misal Indonesia yang ingin memperluas wilayahnya ke Malaysia. Di sini, terdapat perbedaan definisi antara kolonialisme dan imperialisme. Imperialisme merupakan suatu sifat yang menyerap apa yang ada di negara atau pun daerah lain.

Menurut Morand Gilbert, postkolonialisme lahir pada abad 20 dengan tujuan untuk melawan kolonialisme. Di Indonesia sendiri, postkolonialisme terjadi ketika Indonesia berada pada masa orde baru. Sedangkan pada masa orde lama, terdapat pembatasan masuknya negara barat ke Indonesia. Postkolonialisme tidak hanya berdampak pada bidang ekonomi saja, tetapi berdampak pada semua aspek negara. Penguasan negara yang ada pada masa postkolonialisme ini adalah ketika suatu bangsa menguasai daerah lain melalui culture dan pemikiran contohnya adalah pemikiran tentang paham ketimuran. Pemikiran paham-paham ketimuran tidak lebih baik dari paham-paham barat seperti bagaimana kita menggunakan teknologi.

Dampak dari sisa-sisa kolonial ini dalam bidang ekonomi dimulai semenjak Indonesia bebas dari belenggu penjajahan Belanda, Indonesia mulai mengalami krisis ideologis. Krisis ideologis tersebut dimanfaatkan oleh bangsa barat, seperti Amerika untuk membuat Indonesia terus bergantung pada bangsa barat. Saat Indonesia sedang berusaha ingin menumbukan perekonomiannya, bangsa barat datang dengan memberikan pinjaman kepada Indonesia hingga membuat Indonesia terjerat hutang dengan IMF dan Bank Dunia.

Bukan berarti segala sesuatu yang berasal dari barat tidak diterima. Bangsa Indonesia harus mampu memnyaring budaya yang masuk agar sesuai dengan nilai yang sedang berkembang di Indonesia.

Sampah Visual Mengganggu Fungsi Rambu-rambu Lalu Lintas

0

HIMMAH ONLINE, Yogyakarta – Dalam berkendara masih sering dijumpai keberadaan rambu-rambu lalu lintas yang dirusak atau tertutupi oleh sampah visual. Sampah-sampah visual mengganggu fasilitas rambu-rambu lalu lintas yang berupa petunjuk jalan. Keberadaan sampah-sampah visual yang berupa iklan luar ruangan seperti banner, reklame, baliho tidak menempati tempat yang tepat. Kebanyakan menutupi rambu-rambu lalu lintas.

Punadi, selaku Staf Manajemen dan Rekayasa lalu lintas dari Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dinas Hubkominfo) Kabupaten Sleman, Yogyakarta, menjelaskan mengenai pengerusakan rambu-rambu lalu lintas yang terjadi selama ini. “Rambu-rambu yang sering dirusak adalah rambu-rambu larangan dan rambu-rambu petunjuk pada sebuah jalan”. Pernah suatu ketika Dinas Hubkominfo membuat rambu-rambu petunjuk pengklasifikasian jalan untuk kendaraan umum atau kendaraan tertentu. Tujuan dari rambu-rambu tersebut adalah untuk meminimalisir kerusakan jalan, namun ada pihak-pihak yang tidak mengindahkan rambu-rambu dan memilih menggunakan jalan tertentu. Akibat dari hal ini, rambu-rambu banyak yang dihilangkan, dirusak, dicorat-coret sampai merubah makna asli dari rambu-rambu itu sendiri.

Dalam UU No. 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan Pasal 28 Ayat 2. Di dalamnya dijelaskan bahwa “Setiap orang dilarang melakukan perbuatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi perlengkapan jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1). Dalam UU ini juga terdapat aturan yang melarang mengubah arti atau mengubah rambu-rambu lalu lintas, dan terdapat juga denda di dalamnya.

Dalam aturannya juga dilarang melakukan perusakan terhadap jenis-jenis rambu yang disebutkan dalam Pasal 25 ayat (1) yang berbunyi “Setiap jalan yang digunakan untuk lalu lintas umum wajib dilengkapi dengan perlengkapan jalan berupa: Rambu Lalu Lintas; Marka Jalan; Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas; alat penerangan Jalan; alat pengendali dan pengaman Pengguna Jalan; alat pengawasan dan pengamanan Jalan; fasilitas untuk sepeda, Pejalan Kaki, dan penyandang cacat; dan fasilitas pendukung kegiatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang berada di Jalan dan di luar badan Jalan.”

Tindak lanjut dari Dinas Hubkominfo mengenai rambu-rambu yang dirusak atau ditempeli adalah, apabila ada rambu-rambu lalu lintas yang ditempeli dan sebagainya, Dinas Hubkominfo akan berusaha menghilangkan hal tersebut (sampah visual). Pada lampu apil yang ditempeli setiker atau apapun, hal yang Dinas Hubkominfo lakukan sementara ini adalah dengan patroli membersihkan dan menghilangkannya seperti pembersihan benda-benda semacam pamflet, stiker, dll. Belum sampai pada tindakan pemberian denda pada pelaku perusakan rambu-rambu lalu lintas. Apabila ada yang sifatnya permanen akan masuk dalam kewenangan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan (DPUP) Kabupaten Sleman.

Punadi juga menjelaskan informasi mengenai rambu-rambu lalu lintas melalui brosur, internet (www.hubdat.dephub.go.id), dan juga pengadaan Sosialisasi Tertib Berlalu lintas dengan target adalah siswa-siswi dari kalangan TK, SD, SMP, SMA. Diadakannya sosialisasi tersebut diharapkan mereka nantinya dapat berbagi pengetahuan dan menyebarkannya kepada keluarga dan lingkungannya.

Salah satu mahasiswa Ilmu Komunikasi UII Jaka Farih Agustian, sebagai pengendara kendaraan bermotor berpendapat bahwa sampah visual mengganggu pemandangan dan pengelihatan dalam berkendara. “Sebaiknya ada penempatan yang lebih baik untuk baliho dan iklan-iklan yang berkategori besar” tutur Jaka. Ia juga berharap bahwa pemerintah perlu menyediakan penyuluhan, tempat aspirasi, serta mempertegas peran pemerintah sebagai regulator. Dijelaskan juga mengenai aspek undang-undangnya agar masyarakat tahu dan tidak salah menafsirkan dalam memahami rambu-rambu lalu lintas. (Aji Muhammad Said)

Imbas Sosial Salah Satu Kebohongan Amerika

Menonton film dengan genre action tak pernah gagal membuat saya penasaran ingin menonton film tersebut, begitupun dengan film Non Stop yang dibintangi oleh Liam Neeson. Pertama kali melihatnya dalam film Taken membuat ia menjadi salah satu aktor laga favorit saya, Liam Neeson yang bertubuh besar dan kekar memang sangat cocok untuk memerankan genre ini, ditambah dengan dengan tipikal peran tak banyak cakap yang selalu dimainkannya membuat ia selalu terlihat garang di mata penonton.

Non Stop bercerita tentang pembajakan pesawat British Aqualantic yang berangkat dari New York ke London dari perspektif seorang polisi udara, yaitu polisi yang bertugas mengamankan perjalanan udara dari dalam pesawat. Ketika menonton film ini ada sebuah pertanyaan yang muncul dari benak kepala saya terkait film dengan tema yang sama. Film dengan tema pembajakan pesawat terbang pada umumnya menceritakan alur pembajakan pesawat terbang dari perspektif sang pembajak, ada sekelompok orang yang gugup memasuki pesawat dan ketika ditengah perjalanan, sekelompok orang tersebut mulai menjalankan aksinya dengan mengalungkan bom di badannya, dan yang dipertanyakan ialah mengapa di setiap film tersebut tidak ada polisi udara yang bertugas?

Pada awal alur film ini, hadir Mark William (Liam Neeson) yang sedang merokok dan menenggak minuman beralkohol yang dengan jelas menceritakan bahwa ia adalah seorang alcoholic, dan di awal alur film ini juga ditampilkan seorang laki-laki yang identik dengan islam, berjenggot dan memakai peci, yang membuat saya menduga-duga bahwa film ini layaknya film dengan tema yang sama dengan lainnya, pelaku pembajakannya adalah komplotan beragama islam yang ingin membalas dendam atas invasi yang dilakukan oleh Amerika Serikat ke negara-negara di timur tengah yang jelas-jelas sangat memojokkan kaum muslim, dan belakangan diketahui dugaan saya salah.

Awal konflik dari film ini dimulai ketika Mark mendapatkan sebuah pesan singkat dari seorang yang tak dikenal di jaringan aman, yaitu jaringan intranet yang hanya memperbolehkan orang-orang tertentu masuk ke dalam jaringan dengan luas area tertentu yang dalam konteks ini adalah jaringan yang dikhususkan untuk anggota polisi udara. Pengirim pesan singkat tersebut meneror dan meminta uang tebusan sebesar 150 juta dollar ke nomor rekening yang ia tuliskan ke pesan singkat tersebut, dan ia mengancam akan membunuh penumpang satu persatu setiap 20 menit jika permintaannya tidak terpenuhi. Di awal konflik ini Mark mengkhususkan diri untuk mencari pengirim pesan singkat tersebut, mulai dari menganalisis penumpang yang sedang menggunakan hand phone, hingga mengirimkan nomor rekening tersebut ke kepolisian, dan belakangan diketahui bahwa nomor rekening tersebut adalah nomor rekening Mark sendiri, sehingga Mark lah yang dituduh menjadi dalang pembajakan pesawat tersebut, sehingga pistol dan lencana kepolisian Mark di sita oleh kapten pilot.

Dalam klimaks film ini, dua orang telah menjadi korban pembunuhan yang dilakukan dengan cara meracuni korban tersebut, dan diperparah dengan status Mark tertuduh sebagai pembajak, sehingga membuat para penumpang melakukan perlawanan, namun hal tersebut dapat dengan cepat diatasi oleh Mark dengan meyakinkan para penumpang bahwa ia bukan pelakunya, kemudian pada sesi antiklimaks, Mark menemukan pelaku tersebut secara tidak sengaja, ia kebetulan melihat video rekaman salah seorang penumpang. Motif dari pelaku adalah kekecewaannya terhadap negara yang dinilai tidak bisa melindungi warga negaranya, dan film ini ditutup dengan terbunuhnya para pelaku pembajakan tersebut.

Hal yang menarik dari film ini adalah motif si pelaku pembajakan, yaitu kekecewaan terhadap negara. Amerika dikenal dengan negara yang memiliki anggaran keamanan tertinggi di dunia, namun hal tersebut tidak lantas membuat warga negara Amerika aman dari segala macam bahaya. Sebut saja legalisasi senjata api yang menurut pemerintah bertujuan untuk meningkatkan keamanan warganya, dan yang terjadi malah banyak sekali pembunuhan menggunakan senjata api. Anggaran perang yang tinggi pun begitu, perang yang dilakukan Amerika di berbagai negara tidak lantas memberi rasa aman bagi warga negaranya, Amerika pun menjadi salah satu negara dengan tingkat kriminalitas tertinggi di dunia. “Keamanan adalah kebohongan terbesar negeri ini, di rumah kita, di kota kita, di pesawat, tak ada yang aman. Suatu hari orang yang lebih buruk dariku akan menyingkapnya, dan hal terakhir yang akan dilihat anak-anak kita adalah kehancuran mereka”.

Dari segi alur cerita, film ini memberikan pengalaman tersendiri bagi saya, ketegangan yang diciptakan selama alur cerita membuat kita berubah menjadi ‘detektif’ sesaat, menebak-nebak siapakah pelakunya, karena memang jika di telusuri ada banyak penumpang yang masuk ke dalam kategori suspected. Namun dari segi efek, film Hollywood ini masih terasa kurang mumpuni. Efek pesawat jatuh yang sangat terlihat begitu ‘kasar’, dan cenderung dipaksakan itu membuat saya merasa kurang puas dari segi efek, namun bagi saya efek bukanlah segalanya, film dengan efek yang luar biasa tanpa alur cerita yang mempesona akan terasa hampa bukan? (Nurcholis Ainul R. T.)

Himmah Berbicara : Tinjauan Kritis Visi Maritim Jokowi

0

Minggu lalu (7/10) “Himmah Berbicara” mencoba mendiskusikan gagasan Joko Widodo terkait rencana pembangunan tol laut pada Desember 2014. Akan ada 24 pelabuhan di 50 kota di Indonesia yang disertai dengan pengadaan dan pembelian 609 kapal (kapal container, perintis dan kapal-kapal kecil) untuk mendukung jalannya konektivitas antar pulau. Hal ini untuk mewujudkan visi Jokowi yang mengusung arah gerak pembangunan Indonesia yang baru sebagai poros maritim dunia.

Dilihat dari sisi ekonomi dan pembangunan, Redaktur Artistik Himmah, Muhammad Hanif Alwasi sebagai pemantik diskusi kali ini mengutarakan bahwa tujuan pembangunan tol laut adalah untuk efektivitas biaya logistik. Karena dalam prakteknya, terjadi ketimpangan harga kebutuhan pokok antar wilayah Indonesia “Umpamanya di Papua bisa sampai 500 ribu. Padahal di Jawa ga sampai 500 ribu. Tapi apapun itu, yang namanya pembangunan perlu untuk dikritisi, jangan sampai kita terlena dengan gagasan yang sekiranya wah.” ungkapnya.

Menurutnya, proses pembangunan ini perlu ditinjau agar tidak mengorbankan rakyat kecil. Jangan sampai pembangunan malah justru menjadi produk elit dan hanya segelintir orang yang bisa merasakan manfaatnya. Yang ditakutkan nantinya adalah terjadinya developmentalisme yaitu pembangunan sebagai satu-satunya jalan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mengatasi kemiskinan. Cara ini cenderung mengabaikan pemerataan ekonomi dan tidak memperhatikan keadilan sosialnya karena pembangunan dianggap solusi satu-satunya dalam menyelesaikan masalah kemiskinan.

Robert Chambers, mengatakan ada lima hal yang perlu diperhatikan dari kemiskinan yakni kemiskinan itu sendiri, kelemahan fisik, keterasingan, kerentanan, dengan ketidakberdayaan. Di sini Hanif lebih menekankan konteks keterasingan dan kerentanan. Dari segi keterasingan, masyarakat pesisir Indonesia terisolasi karena tidak adanya konektifitas yang memadai dan tol laut mungkin dapat menjawab hal itu. Lalu kerentanan adalah bagaimana nantinya kita dapat mengatasi terjadinya bencana dan musim panceklik. Seperti yang kita tahu, musim hujan adalah musim panen para nelayan, tapi tidak dengan musim kemarau. Mungkin ada usaha lain yang bisa diterapkan untuk menambal duit mereka. Hanif pun mewanti-wanti jangan sampai hal ini menjadi dalih untuk pemerintah kembali menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk membayar pembangunan tol laut

Arieo Prakoso, Staf Redaksi Himmah mencoba memandang dari aspek politik dimana menurutnya kebijakan Jokowi untuk memfokuskan tujuannya ke arah maritim ini cukup unik. Arieo berpendapat bahwa Jokowi perlu waktu yang sangat panjang untuk mempersiapkan ini agar tidak menguntungkan satu pihak saja. Ia seharusnya melakukan kajian tentang aspek-aspek apa saja yang perlu dilindungi. Harus ada sistem dan kebijakan yang jelas untuk mengatur dan melindungi agar masyarakat pesisir punya kapasitas yang besar untuk mendapatkan keuntungan.

“Kita jangan sampai dipolitisasi dengan visi Jokowi. Rasionalkah pembangunan ini?” Mochammad Ari Nasichudin sebagai Pemimpin Umum Himmah menanggapi. Menurutnya, visi Jokowi menimbulkan beberapa implikasi. Yaitu ke dalam aspek politik, lingkungan, dan pendidikan. Ada pergeseran sistem politik dimana awalnya masyarakat menganut sistem feodal atau kolonial. Dan pola ini tidak bisa dijalankan jika Indonesia belum cocok dengan kemaritiman itu. Hal ini menjadi tugas pemerintah untuk mengarahkan budaya politik Indonesia menjadi poros maritim dunia.

Selain itu, masalah kependidikan adalah yang paling mendasar. “Yang perlu dibangun bukan masalah fasilitasnya, tapi bagaimana membuat masyarakat Indonesia paham bahwa negara kita adalah negara maritim. Niat pemerintah ini bagus tapi sayang belum dipahami oleh masyarakat.” ucap Ari. Sosialisasi seharusnya mulai digencarkan dengan membangun pola pikir masyarakat bahwa Indonesia adalah negara matirim. Pembangunan itu mudah, tapi mengembangkan mindset-nya yang sulit. Begitu pula dengan lingkungan. Ketika masyarakat kita tidak paham dengan memanfaatkan lingkungan kemaritiman ini, imbasnya maka akan terjadi eksploitasi. Timbul pertanyaan sebenarnya apa saja indikator sebuah negara dikatakan maritim?

Hanif berpandangan bahwa idealnya suatu negara dapat dikatakan negara maritim tergantung dari kondisi geografis yakni wilayah lautannya lebih mendominasi daripada daratannya. Dan juga faktor sejarahnya dimana suatu negara dulunya memiliki angkatan laut yang kuat. Selain itu, poros maritim juga berarti menguasai perdagangan di sektor maritim itu sendiri seperti perikanan dan distribusi barang. Contohnya saja Sriwijaya. Hubungan Sriwijaya dengan antar negara yang dipisahkan dapat disatukan dengan armada laut yang kuat.

Hanif menceritakan bagaimana sebuah faktor sejarah membuat Indonesia melupakan laut. Dahulu, semenjak Belanda datang mereka membentengi dan menguasai pelabuhan. Pelayaran-pelayaran bahkan tiap kapal yang berlayar di Bali diteror, di bom oleh Belanda agar tidak melayar. Akhirnya kebutuhan pokok beralih ke sektor daratan dan ini yang menjadi momentum perubahan Indonesia menjadi negara agraris.

“Padahal wilayah laut lebih luas daripada darat, otomatis sumber daya ada di lautan. Dan kita tak akan cukup memenuhi kebutuhan dengan hanya mengandalkan sektor daratan. Karena daratan juga untuk pemukiman dan pembangunan lainnya. Namun kita jangan terlena oleh sebutan Indonesia menjadi negara agraris, kalau perlu pertanian tinggalkan bila tidak layak. Memang benar Jokowi perlu bangun mindset kemaritiman sebagai pondasi kebijakan berikutnya. Percuma jika punya mimpi gagasan tol laut tapi paradigma masyarakat berbeda, tidak satu paham.” tegas Hanif.

Sependapat dengan keduanya, Arieo kembali menuturkan bahwa pemerintah harus dapat menyamaratakan pendidikan masyarakat agar tahu bahwa Indonesia adalah negara maritim. Dan untuk menjadi poros maritim maka Indonesia perlu membangun konektivitas. Mungkin di jaman Sriwijaya, dia membangun konektivitas antar negara sehingga dapat berkuasa di wilayah Asia. Tapi dilihat dari sekarang, armada Indonesia belum banyak jumlahnya dan kebanyakan sektor kelautan kita dikuasai oleh orang asing. Arieo berharap pembangunan maritim ini bisa terealisasikan dalam jangka panjang. “Yang terpenting adalah semua masyarakat Indonesia harus paham dulu potensinya baru kita menyentuh akar sektornya itu.” jelasnya. Arieo menambahkan bahwa kemantapan ideologi juga merupakan kunci keberhasilan negara kita dimana tujuan awal pancasila serta faktor historisnya di kuasai oleh masyarkat luas.

Ari pun menyarankan agar hakekat kita sebagai negara maritim dimasukkan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN). Sehingga nantinya visi ini dapat menjadi tanggung jawab dan acuan setiap pemerintahan. “Harus ada regulasi yang dipatenkan karena hitam diatas putih itu penting. Dan presiden sendiri kan menjalankan RPJPN. Semisal kita koreksi, yang perlu dibenahi RPJPN nya bukan Jokowi.” sambungnya.

Terlepas dari aturan, menyikapi saran Ari dengan pemberlakuan visi di RPJPN, Hanif merasa yang paling penting untuk disadari adalah dari segi filosofis, Indonesia adalah negara maritim dan landasan idealisnya adalah pancasila bahwa pancasila mengandung keadilan sosial. Tugas Jokowi adalah bagaimana mengaitkan maritim dengan pancasila dan bagaimana membangun penerapan ideologinya dan pemantapan ideologinya agar pembangunan ini menjadi pembangunan berkelanjutan.

Staf Pelita, Al-Aina Radiyah yang menjadi moderator pada diskusi ini, menyimpulkan bahwa program tol laut diharapkan dapat mengefisiensikan biaya logistik dan dapat menyelesaikan masalah keterisolasian khususnya bagi masyarakat kepulauan.

KAHAM Peringati Hari HAM Sedunia

HIMMAH ONLINE, Kampus Terpadu – 10 Desember diperingati sebagai hari Hak Asasi Manusia (HAM) sedunia. Klinik Advokasi Hak Asasi Manusia (KAHAM) Universitas Islam Indonesia (UII) juga turut memperingatinya. Tema yang diangkat pada peringatan kali ini adalah terkait pencegahan kekerasan terhadap anak. Serangkaian acara telah dipersiapkan dari tanggal 8-10 Desember. Pada tanggal 8 Desember diadakan kegiatan penggalangan dana dan buku. Rencananya, buku tersebut diberikan kepada anak-anak jalanan sedangkan dana yang terkumpul digunakan untuk membuat acara pada tanggal 10 Desember yang merupakan puncak acara. Nol kilometer menjadi tempat pilihan untuk melangsungkan acara puncak tersebut. Acara puncak akan diisi dengan renungan malam dan pembacaan puisi oleh anak-anak jalanan. Sedangkan tanggal 9 Desember diadakan roadshow keliling UII dengan menggunakan sepeda. Rute yang ditempuh dimulai dari Syari Mart kemudian mengelilingi semua fakultas yang ada di kampus terpadu dan berakhir di gedung Kahar Mudzakir yang merupakan tempat untuk orasi. Fery Ardi, sekertaris acara KAHAM. Mengatakan bahwa tujuan roadshow ini untuk mengadvokasi mahasiswa agar membantu anak-anak jalanan.

Ditanya terkait tema, Amjad Fauzan selaku Direktur KAHAM UII mengatakan bahwa sekarang ini banyak fenomena-fenomena yang mendorong anak melakukan kekerasan baik anak sebagai korban maupun pelaku, sehingga ini menjadi tugas KAHAM untuk memperingatkan hak anak itu seperti apa. Fery menambahkan bahwa banyak anak yang mengamen. Orang tuanya yang menyuruh mereka untuk mengamen. Anak-anak seharusnya memperoleh pendidikan yang baik, karena sebenarnya mereka adalah anak-anak yang cerdas. Namun, yang mempersulit adalah orang tua sendiri. Harapannya agar mahasiswa aktif mambantu anak-anak ini, karena anak-anak adalah generasi penerus bangsa. “KAHAM berbasis kemanusiaan, kita selalu menyuarakan yang haknya harus terpenuhi. Manusia itu harus dimanusiakan,” ujarnya. (Rabiatul Adawiyah)

Rumah (1)

0

Aku mau cari rumah,

katamu di suatu waktu

Ya sudah,

aku mengangkat bahu

Tak menolak,

tak juga mengiyakan

 

Kamu tersenyum

Tatapanmu hambar

 

Baris garis muncul di kening

Sepekat rasa mengejarku

Saling bertanya, jerit-jemerit

Mendebat apa arti senyummu,

mengapa proporsinya begitu?

 

Apa rumah ini begitu penting

hingga kamu begitu ingin?

Apa aku salah mengartikan

yang kau maksud rumah?

 

(Adilia Tri H.)

Mahasiswa Papua Menuntut Presiden Menuntaskan Tindak Kekerasan Aparat di Paniai

0

HIMMAH ONLINE, Yogyakarta – Front Mahasiswa Papua Yogyakarta (FMPY) mengadakan aksi di Bundaran Universitas Gadjah Mada kemarin sore (9/12), pukul 16.00 WIB. Berdasarkan selebaran yang disebarkan ketika aksi, FMPY menceritakan kronologi penembakan lima warga sipil dan tujuh belas korban kekerasan di Kabupaten Paniai yang dilakukan oleh gabungan polisi, brimob, dan tim khusus 753 dari TNI Angkatan Darat.

Kekerasan itu bermula pada Senin, 8 Desember, pukul 02.00 WIT seorang anak yang mengingatkan mobil patroli milik Polres Paniai agar menyalakan lampu. Tak terima ungkapan anak tersebut, polisi turun dari mobil dan memukulnya dengan popor senjata hingga pingsan setelah sebelumnya mengejek dengan bahasa tidak pantas.

Tak terima atas kejadian itu, warga Ipakiyee melakukan aksi menuju kantor Polres Paniai di Madi. Dalam perjalanannya mereka dihadang aparat polisi, TNI, Tim Khusus 753 yang berada di Paniai, Papua.

Sebagian warga yang telah berkumpul di lapangan sepak bola Karel Gobay, Enarotali berkomunikasi dengan aparat kepolisian dan brimob tapi tidak ditanggapi. Karena kecewa warga melempari kantor koramil dengan batu yang letaknya di dekat lapangan. Aparat meresponnya dengan menembak ke arah warga hingga menewaskan lima warga sipil dan sebelas warga lainnya mengalami luka berat. Sempat Wakil Bupati Paniai, Yohanis You, mendatangi TKP untuk bernegosiasi dengan aparat namun tak menghasilkan apa-apa.

Berdasarkan keterangan Emanuel Gobai dari Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta sebagai Staf Pembela Umum, aksi yang dilakukan oleh FMPY adalah sebagai bentuk respon atas terjadinya pelanggaran HAM di Papua, dan menuntut agar ada tindakan tegas oleh negara untuk memproses dan menindak pelaku pelanggaran HAM tersebut. Menurutnya kasus yang terjadi di Papua merupakan murni pelanggaran HAM yang dilakukan oleh gabungan keamanan TNI dan Polri terhadap warga sipil yang meninggal dan luka-luka. Apa yang dilakukan oleh demonstran adalah untuk menyampaikan pesan kepada Jokowi agar menindak tegas pelaku tersebut dengan hukuman yang berat. “Pada prinsipnya untuk langkah selanjutnya kami akan mengadukan kepada pihak Komnas HAM karena kasus yang terjadi di Papua konteksnya adalah pelanggaran HAM, dan menuntut agar kasus ini diselidiki dan dibawa di pengadilan. “ tambah Emanuel. Secara khusus harapannya adalah agar rasa keadilan diberikan kepada keluarga korban yang ditinggalkan, dalam konteks yang luas karena persoalan ini sering terjadi di seluruh wilayah Papua dan itu murni dilakukan oleh TNI dan Polri, maka dengan tegas mereka berharap agar ada penarikan TNI dan Polri. Karena kehadiran mereka di Papua menjadi penyebab utama pelanggaran HAM di Papua. Dalam tujuan lain dalam aksi ini mereka menuntut untuk diberi hak untuk menentukan nasib sendiri melalui refrendum.

Dalam pernyataan sikapnya, FMPY menyatakan peristiwa kekerasan yang menelan korban masyarakat sipil di Paniai merupakan bentuk pelanggaran HAM. Hal itu karena saat warga Paniani melakukan aksi menuntut pertanggungjawaban, aparat menggunakan alat negara dalam menyikapi aksi hingga merenggut nyawa lima warga sipil dan tujuh belas kritis.

Dalam poin sikapnya, FMPY menuntut:

1. Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo harus menuntaskan tindak kekerasan yang dilakukan oleh aparat keamanan dengan menewaskan lima sipil di Paniai.

2. Komnas HAM segera mengidentifikasi kasus kekerasan di Paniai dan menyampaikan kepada publik mengenai fakta peristiwa terutama dalam mengungkapkan pelaku kekerasan yang menewaskan beberapa warga sipil.

3. Negara segera merehabilitasi keluarga korban yang telah kehilangan anggota keluarganya akibat dihabisi nyawanya dengan menggunakan alat negara.

4. DPRP dan MRP sera mengawal kasus kekerasan di Paniai dalam proses mengungkapkan pelaku hingga diadili di pengadilan sipil agar keadilan bagi keluarga korban dapat ditegakkan dalam proses hukum.

5. Bupati dan ketua DPRD Paniai segera melakukan negosiasi dengan pimpinan tim khusus 753 agar anggotanya ditarik dari Paniai karena Paniai bukan Daerah Operasi Militer (DOM) dan bukan pula darurat militer.

6. Negara segera menjamin hak hidup masyarakat asli Papua dengan mengurangi jumlah TNI/Polri di Papua.

(Moch. Ari Nasichuddin)

Membangun Budaya Anti-Korupsi Berbasis Keluarga

0

HIMMAH ONLINE, Yogyakarta – Selasa, 9 Desember 2014 Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyelenggarakan Festival Anti-Korupsi dalam memperingati Hari Anti-Korupsi se-Dunia yang bertempat di Graha Sabha Pramana, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Dalam konferensi pers yang diselenggarakan KPK, Abraham Samad selaku ketua KPK menyampaikan pengantar bahwa Yogyakarta dipilih sebagai tempat penyelenggaraan acara ini terkait integritas wilayah Yogyakarta yang menempati salah satu peringkat atas persepsi masyarakat anti-korupsi tingkat nasional. Dan Ia menjelaskan terkait latar belakang di adakannya acara ini yaitu, mengenai salah satu program KPK dalam tindak pencegahan korupsi dengan membangun budaya pendidikan anti-korupsi berbasis keluarga.

Menurut Abraham Samad, “Berangkat dari keprihatinan KPK melihat kasus-kasus korupsi yang ditangani KPK selama ini banyak berasal dari satu keluarga. Contoh, seperti kasus Bupati Palembang, Bupati karawang, Gubernur Banten dan lainnya. Sebagian besar mereka terjebak dalam kasus korupsi karena hubungan keluarga. Dari situ kami mencoba melakukan pemetaan dan observasi apa yang salah dari keluarga tersebut hingga terjebak dalam tindakan korupsi.” Tegasnya. Dan hasil yang didapatkan tim KPK pun memprihatinkan, bahwa rata-rata anak remaja terutama di wilayah perkotaan saat ini tidak lagi menjadikan orang tua sebagai referensi nilai-nilai yang dapat dijadikan teladan, malah kebanyakan dari mereka mengambil nilai-nilai dari teman-teman grup atau kelompok masing-masing. “Dan bahayanya ialah ketika teman-teman di grupnya memberikan contoh yang buruk maka itulah yang akan dijadikan nilai, sungguh miris.” Ungkapnya.

Yang kedua dari hasil survei KPK menjabarkan sesuatu hal yang menarik bahwa ternyata peran orang tua membangun sebuah budaya dalam keluarga khususnya ayah sangat minim sekali disebabkan oleh pekerjaan dari ayah yang sangat menyita waktu. “Peran ayah kurang memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap pembentukan kepribadian anak-anaknya. Oleh karena itu, dengan proyek pendidikan anti-korupsi berbasis keluarga, kita coba memberikan intruksi kepada kelompok-kelompok Ibu Rumah Tangga (IRT). Diharapkan bahwa kelompok IRT yang memiliki waktu luang yang lebih banyak di rumah dapat memberikan kontribusi yang cukup signifikan atas pendidikan anti-korupsi kepada anak-anak mereka.” jelasnya.

Adapun terkait teknis penerapan pendidikan anti-korupsi yang dibangun KPK menurut Bambang Widjojanto selaku Wakil Ketua KPK mengatakan, “Mengingat kejahatan tidak hanya berasal dari sistem namun juga dapat berasal dari keluarga maka, kami mulai membangun dan menumbuhkan 9 nilai anti-korupsi.” Nilai tersebut dapat dibangun melalui sebuah permainan yang mengandung konsep studi kejujuran, dimana permainan tersebut salah satunya berupa permaianan Jujur Bersama. Dari permainan tersebut dapat dijadikan sebuah mekanisme kontrol berbudaya jujur dalam keluarga. (Putri Werdina C. A.)

Fasilitas Warnet Cyber Space UII Terbatas Penggunaannya

HIMMAH ONLINE, Kampus Terpadu – Universitas Islam Indonesia (UII) sebagai sebuah perguruan tinggi swasta di Indonesia banyak menyediakan fasilitas-fasilitas yang menunjang kebutuhan warga kampusnya. Khusus untuk menunjang kebutuhan akses informasi dan komunikasi, berupa layanan internet, maka UII menyediakan fasilitas warung internet (warnet) Cyber Space. Fasilitas warnet Cyber Space ini berada di basement Gedung Rektorat Kampus Terpadu. Di sini mahasiswa dapat meminta akses untuk fasilitas hotspot yang terintegrasi (Hotspot Express). Hal ini merupakan fasilitas yang umumnya digunakan untuk koneksi internet (browsing), selain itu juga bisa digunakan untuk pelatihan karyawan atau registrasi pendaftaran bagi calon mahasiswa.

Dalam pengelolaannya, Badan Sistem Informasi (BSI) UII bekerjasama dengan salah satu badan usaha yang dimiliki Universitas Islam Indonesia sendiri, yaitu UII-net. Sebagai sebuah badan usaha, UII-net ini bergerak di bidang penyedia jasa internet atau Internet Service Provider (ISP), yang memiliki izin operasional sesuai dengan aspek legal. Bentuk dari kerjasama tersebut melahirkan warnet Cyber Space UII.

Ruli Norendra selaku operator dan pengelola warnet Cyber Space menjelaskan mengenai penggunaan warnet Cyber Space sebagai fasilitas kampus. Pendirian warnet Cyber Space ditujukan untuk melayani kebutuhan internet civitas UII (warga kampus). Dimana di dalamnya disediakan komputer yang jumlahnya adalah 53 dan aktif semua ketika ingin digunakan. Untuk sehari-hari warnet Cyber Space ini memiliki jam buka mulai dari jam 8 sampai dengan jam 4 sore. Itu dalam waktu jam kerja. Sedangkan untuk hari minggu dan sabtu tutup. Untuk batasan waktu penggunaan warnet Cyber Space ini tidak ada, ia bekerja mengikuti jam kerja UII, kalau menjelang waktu sholat dzuhur dan ashar, warnet Cyber Space diistirahatkan.

Penyediaan warnet Cyber Space dan hostpot area oleh BSI. Ruli menjelaskan bahwa, BSI UII sifatnya menyediakan fasilitas, jadi saat diperlukan itu sudah ada, dari pada nanti misalnya, ketika warga kampus ingin membutuhkan tidak ada, atau ketika ada fasilitasnya cuma sedikit. Ketika membutuhkan dalam jumlah banyak, dianggap fasilitas tidak mencukupi.

Jika dilihat dari tahun-tahun sebelumnya, sebelum ada smartphone, gadget canggih dan wifi, dalam warnet Cyber Space selalu penuh penggunjung. Namun sekarang tersedianya fasilitas hostpot area bagi civitas UII (warga kampus) mungkin menganggapnya jauh lebih praktis. Tapi tetap disini (warnet Cyber Space) masih bisa digunakan untuk akses internet dan kegiatan lain, seperti pelatihan, meskipun tidak setiap hari dengan jadwal tertentu, untuk ujian pun bisa dipakai.

Lebih lanjut Ruli Norendra menjelaskan mengenai aturan yang ada di warnet Cyber Space ini. Menurutnya aturan yang berada di warnet Cyber Space disamakan dengan aturan dan etika memasuki kampus. Selain hal ini Ruli juga menjelaskan mengenai tata cara penggunaan komputer di warnet Cyber Space ini yaitu dengan mengisi buku tamu. Akan tetapi pada waktu tertentu, seperti Key-in dan Ras dibebaskan dalam mengisi buku tamu. Hal ini di karenakan pada waktu Key-in dan Ras banyak sekali yang menggunakan.

Maka dari itu dibuatlah kebijakan, yang membatasi penggunaan akses warnet Cyber Space ini. Sehingga pada waktu Key-in dan Ras penggunaan internetnya diblok, hanya bisa digunakan membuka Unisys UII saja tidak untuk browsing yang lain, selain itu juga pembatasan ini juga ditujukan agar penggunaan internet tidak terlalu memakan bandwidth. Ketika Key-in dan Ras ini bandwidth selalu penuh, kalau untuk koneksi internet ada yang terkoneksi, ada yang download, sehingga koneksinya menjadi berat.

Sayangnya dalam penggunaannya warnet Cyber Space ini terbatasi oleh agenda yang tidak menentu. Karena menurut Ruli, agenda penggunaan warnet Cyber Space dalam sehari-hari tidak ada, untuk mahasiswa, karyawan, dosen, misalnya ingin menggunakan internet secara sehari-hari bisa, tapi warnet Cyber Space ini akan tutup apabila pada waktu tertentu digunakan untuk pelatihan karyawan. Selain agenda yang tidak pasti, dalam penggunaannya sehari-hari warnet Cyber Space ini memang tidak begitu ramai, hal ini dikarenakan sudah tersediannya hostspot area. Sehingga dari mahasiswa sekarang ini sudah banyak yang menggunakan laptop, smartphone, dan gadget yang canggih. Sehingga kebanyakan memilih cara yang praktis, lebih leluasa memakai gadget-nya sendiri, sehingga dimana-mana pun bisa (dalam mengakses internet).

Selain agenda yang tidak menentu dalam penggunaannya, akses internet dalam menggunakan komputernya pun juga dibatasi pada kuota. Menurut penjelasan Ruli, kalau disini khusus bagi mahasiswa dan karyawan itu, login-nya pakai Nomor Induk Karyawan (NIK) dan Nomor Induk Mahasiswa (NIM), dalam setiap semesternya setiap pengguna itu mendapat kuota, sehingga dalam setiap pemakaiaannya tergantung mereka sendiri. Kalau mahasiswa atau karyawan sering menggunakan internet secara terus-menerus, maka kuotanya cepat habis. (Aji Muhammad Said)

HIMMAH BERBICARA : Pendidikan Kapitalis ala Paulo Freire

0

Himmah Berbicara merupakan diskusi rutin yang diadakan oleh LPM Himmah setiap minggunya. Pada diskusi kali ini (29/11) Himmah Berbicara membahas tentang “Pendidikan Kapitalis” dengan rujukan buku “Sekolah Kapitalis yang Licik” karya Paulo Freire.

Nurcholis Ainul Tri selaku Staf Jaringan Kerja Himmah dan pemantik diskusi malam ini mengawali diskusi dengan menjelaskan bahwa Paulo Freire memiliki gagasan-gagasan tentang pendidikan yang ia dapatkan semenjak ia duduk di bangku universitas. Menurutnya, pendidikan memiliki tujuan untuk merangsang pikiran kritis siswa, merangsang rasa ingin tahu siswa dan merangsang partisipasi demokrasi siswa. Ada 2 kategori kaum dalam pendidikan yaitu kaum tertindas dan kaum penindas. Menurut Paulo Freire juga ada 2 jenis pendidikan; pertama, pendidikan gaya bank dimana tugas guru hanya mengajar sekaligus sebagai objek dan murid hanya diajar dan tidak tahu apa-apa yang diajarkan oleh gurunya karena murid disini hanya sebagai objek. Kedua, pendidikan terhadap masalah yang menekankan guru dan murid berdialog dalam proses belajar mengajar. Inti dari pendidikan yaitu humanisasi atau memanusiakan manusia. Freire juga mengkategorikan kesadaran manusia menjadi tiga, yaitu kesadaran magis, kesadaran naif dan kesadaran kritis.

Terkait penjelasan yang diberikan oleh pemantik, Irwan A. Syambudi, Pemimpin Redaksi Himmah menanggapi bahwa pemikiran Paulo Freire sangat menarik karena kondisi Amerika Latin saat itu sama dengan kondisi Indonesia sekarang. Irwan menambahkan tiga poin penting terkait pendidikan yaitu; pertama, bagaimana memahami pendidikan yang melegitimasi kekuasaan, ketika pendidikan melegitimasi kekuasaan maka pendidikan itu bersifat menindas. Kedua, bagaimana murid atau mahasiswa dapat menggambarkan pendidikan terhadap masyarakat adalah ketika realita dipelintir oleh pemerintah dan pemerintah terlihat kalang kabut ketika pelajar dapat menggambarkan hal yang terjadi. Ketiga, fulbagaimana slogan yang sudah tidak full meaning lagi seperti slogan “Ilmu ya sama dengan ilmu dan seni ya sama dengan seni”, ini terlihat ketika awal Orde Baru pemerintah kesulitan mencari mahasiswa yang tertarik dengan pelajaran eksakta, yang akhirnya pemerintah Orde Baru menggelontorkan beasiswa-beasiswa di jurusan sains. Pemberian beasiswa ini merupakan support dari pemerintah sehingga banyak terjadi penyetiran-penyetiran mahasiswa yang mendapat beasiswa.

Moch. Ari Nasichuddin, Pemimpin Umum Himmah menambahkan bahwa realita itu berawal dari regulasi. Seharusnya negara bisa mengatur dari regulasi yang ada. Adanya UU terkait pendidikan tinggi ada hubungannya dengan Bank Dunia. Dana-dana asing masuk dalam bidang pendidikan Indonesia.

Menanggapi pernyataan-pernyataan tersebut Muhammad Hanif Alwasi, Redaktur Artistik Himmah mengatakan bahwa Gramsi membagi intelektual menjadi dua yaitu intelektual tradisional dan intelektual organik. Hanif juga menyatakan kapitalisme pendidikan yang tidak bisa dibunuh, hanya bisa dikendalikan oleh wacana bahkan Rawamangun mengingatkan kapitalisme tidak bisa dibunuh hanya bisa dilawan. Melihat Indonesia sebagai negara berkembang membutuhkan tenaga terampil dari pendirian universitas. Masalah Negara berkembang tidak hanya dari sektor ekonomi melainkan juga dari sektor pendidikan dan jangan dianggap masalah pendidikan sama dengan masalah ekonomi. Menurut Hanif pendidikan berarti merdeka secara ekonomi, sosial, budaya dan lain-lain. Hanif menambahkan bahwa pembagian kementerian pendidikan oleh kabinet kerja sekarang dikritik oleh kementerian pendidikan sebelumnya yang menyatakan bahwa pembagian itu didasari oleh politik kepentingan. Kurikulum Indonesia hanya berkacamata dari lingkungan Jakarta, seharusnya kurikulum dikembangkan dan ditelisik lebih dalam disetiap daerah di Indonesia. Nurcholis Ainul R. T. menanggapi pernyataan Hanif yaitu pendidikan hanya melegitimasi kekuasaan diantaranya globalisasi pendidikan, pendidikan dan kekuasaan serta pendidikan dan realitas sosial. Pendidikan harus menciptakan ideologi tandingan.

Hanif langsung menanggapi, pendidikan bisa melawan kehidupan sosial dan tonggak kekuasaan. Bagaimana sultan Yogyakarta megizinkan penjualan tanah di beberapa daerah di Yogyakarta ketika penduduk sekitar kesulitan mencari sandang, pangan dan papan. Ini akan membunuh masyarakat golongan “akar rumput” pelan-pelan.

Ari menambahkan bagaimana pendidikan yang terjadi di UII yang hanya berkorelasi dengan ekonomi. Untuk menelaah itu semua harus ditelaah secara ideologis. Otonomi daerah masalah pendidikan perlu disorot pemerintah serta tumpulnya gerakan mahasiswa terhadap instrumen kapitalis.

Terkait pernyataan Hanif tentang pembagian kementerian pendidikan, Desi Rachmawati, Staf Penelitian dan Pustaka (Pelita) Himmah menanggapi kesetujuannya terkait pembagian kementerian pendidikan yang dibagi menjadi dua yaitu Kementerian Negara Riset dan Teknologi (Menristek) untuk pendidikan tinggi dan Kementerian Budaya Pendidkan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) untuk pendidikan SD sampai SMA. Urgensi pendidikan harus dipisah dengan alasan pendidikan perguruan tinggi agar lebih aplikatif dan akan mengeluarkan banyak dana apabila masih digabung menjadi satu. Desi melihat pendidikan sekarang semakin menindas, contohnya Paud dan TK diwajibkan harus sudah bisa membaca. Pendidikan karakter merupakan bagian dari itikad baik pemerintah untuk menerapkannya.

Irwan menanggapi pernyataan Desi, semua formulasi pemerintah meskipun itu itikad yang baik tidak berjalan dan ini menjadi masalah. Irwan juga menanggapi pernyataan Ari terkait otonomi daerah, otonomi daerah yang diimplementasikan pada pendidikan menjadi sebuah anomali, implementasi itu lebih keperhiasan dibidang ekonomi dan yang lain menjadi nomor dua. Saat otonomi daerah masuk pendidikan, kurikulum lokal menjadi komoditas.

Ari menjawab pernyataan masalah otonomi daerah, apakah Indonesia sudah siap? seperti di majalah Himmah yang membahas tentang otonomi daerah. Dalam pemerintah sendiri masih ada mafia-mafia, yang ini hanya akan menyebabkan pembentukan lingkaran setan dalam tubuh pemerintah meskipun ada pendidikan anti korupsi. Ari menambahkan sebuah pertanyaan terkait gerakan mahasiswa, siapa yang akan menggerakkan mahasiswa?

Irwan menjawab pertanyaan ini bahwa keoptimisan dari forum-forum seperti inilah jawabannya. Otonomi daerah yang didasarkan pancasila tetapi tidak berjalan sesuai dengan asas pancasila.

Kholid Anwar, Staf Jaringan Kerja Himmah mengajukan pertanyaan tentang pendidikan yang ideal menurut Paulo Freire.

Nurcholis Ainul R. T. mengatakan pendidikan yang ideal menurut Paulo Freire yaitu harus bisa menciptakan humanis, merangsang siswa untuk kritis dan berpartisipasi dalam demokrasi.

Fahmi, peserta diskusi berpendapat jika pendidikan dari sudut pandang ekonomi bertolak belakang dengan perubahan sosial yang ada. Ketika kebijakan-kebijakannya tidak sejalan dengan kualitas pendidikan dan pendidikan hanya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

Hanif menanggapi dan berpendapat bahwa pendidikan didominasi oleh barat. Pendidikan sekarang adalah paksaan dengan alasan tuntutan ekonomi. Masyarakat seharusnya tidak melupakan pendidikan dari segi historisnya, saat pendidikan bersifat tuntutan dan menjajah. Pendidikan tinggi menyesuaikan dengan moral bukan dengan keadaan pasar. Pendidikan juga punya batasan otomatis, tidak selamanya di sekolah karena semua masyarakat bisa terlibat dalam semua pendidikan.

Al-aina Nur Rodiyah, Staf Pelita dan moderator diskusi menyimpulkan bahwa pendidikan yang bersifat menindas yang seharusnya mencerdaskan masyarakat. Paulo freire dalam bukunya berharap negara mengganti total sistem pendidikan yang sudah melenceng jauh dari tujuan utamanya yaitu humanisasi. Solusinya yaitu menerapkan sistem pendidikan dari pemikiran-pemikiran Plato, Aristoteles, Marxis dan ditambah dengan kesadaran spiritual.