Beranda blog Halaman 102

HIMFA UII Peringati Hari AIDS Sedunia

HIMMAH ONLINE, Kampus Terpadu – Tepat pada tanggal 1 Desember 2014 diperingati sebagai hari Acquired Immunodeficiency Syndromev (AIDS) sedunia. Himpunan Mahasiswa Farmasi (HIMFA) juga turut memperingati hari tersebut. Tema yang diusung yaitu “Generasi sehat no AIDS”

“Secara kita sebagai anak kesehatan juga ikutlah memperingatin hari AIDS.” ujar Renny Nadya selaku Koordinator Hubungan Masyarakat (Humas) HIMFA UII. Peringatan hari AIDS ini diadakan oleh Divisi Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi Seluruh Indonesia (ISMAFARSI) HIMFA. Acara yang diadakan yakni berupa open teater Kelapa, live music Jamcouztic, dan charity yang dananya akan diberikan kepada teman-teman Victory Plus sebagai salah satu kumpulan penderita AIDS. Sebagai penyelenggara, HIMFA juga membagikan pita merah dan stiker ke penonton sebagai tanda solidaritas terhadap penderita AIDS. Selain itu, disisipkan pula acara take a selfie, guna memeriahkan peringatan hari AIDS. Foto tersebut kemudian diupload ke twitter HIMFA UII dengan hastag WorldAIDSDay dan mention himfauii. Tiga foto terbaik akan diberikan hadiah menarik. Acara yang pertama kali diperingati oleh teman-teman HIMFA UII ini, rencananya akan menjadi agenda rutin setiap tahunnya.

Tujuan diadakannya peringatan hari AIDS ini ialah untuk sebagai bentuk ikut serta memperingati hari AIDS sedunia. “Belum pernah diadakan acara ini, sehingga kita mengadakannya. Kita berusaha mengenalkan teman-teman se-Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) bahwa 1 Desember merupakan peringatan hari AIDS sedunia. Ini juga untuk membantu teman-teman Victory Plus dalam bentuk sumbangan dana,” tambah Renny. (Al-aina Radiyah)

Gundul Berarti Peduli

HIMMAH ONLINE, Sleman – Dalam rangka launching Yayasan Kasih Anak Kanker Jogja (YKAKJ) mengajak para pengunjung Jogja City mall untuk berpartisipasi membantu dan peduli terhadap anak-anak kanker di Jogja pada Minggu (30/12). Tema yang diusung yakni “Berani Gundul Lawan Kanker Pada Anak”. Tujuan diadakannya acara ini adalah sebagai bentuk kepedulian dan empati mendalam kepada para pasien anak kanker dalam menjalani pengobatannya, masih banyak orang yang peduli dengan mereka. Acara ini diselenggarakan pukul 10.00-20.00 secara terbuka. Selain menyelenggarakan aksi berani gundul, YKAKJ juga menampilkan berbagai perform dari TK Model, anak-anak YKAKJ, Joy Fellowship, Gamelan Mben Surup, dan perform Mlenuk Voice, serta sosialisasi pengenalan kanker, talkshow, dan survivor sharing YKAKJ.

Untuk ikut berpartisipasi dalam aksi berani gundul, YKAKJ tidak memaksa para pengunjung harus gundul. Bagi mereka yang tidak ingin gundul, disediakan kotak donasi dilokasi acara atau bisa juga dengan cara membeli merchandise seperti kaos, pin, tas, mug dan stiker yang akan dialokasikan untuk membantu YKAKJ dalam biaya operasional sehari-hari.

YKAKJ pada dasarnya merupakan yayasan nirlaba yang didirikan oleh Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) yang bekerjasama dengan para orang tua pederita kanker di Jogja. YKAKJ membantu menanggulangani kanker pada anak di Jogja dengan menyediakan akomodasi “Rumah Kita”, fasilitas pendidikan “Sekolahku”, sosialisasi edukasi mengenai pengenalan gejala dan tanda-tanda kanker pada anak dan menggalang dukungan biaya pengobatan atau tindakan lainnya yang tidak ditanggung oleh BPJS. “Sekolahku” tersebut merupakan fasilitas pendidikan bagi anak penderita kanker selama pengobatan atau perawatannya dirumah sakit dan rumah kita. Sedangkan Rumah kita merupakan rumah singgah milik YKAKJ yang disiapkan untuk mengakomodasi anak penderita kanker dan mendukung pasien yang sedang menjalani pengobatan di Yogyakarta dengan kapasitas 15 pasien beserta pendamping. Untuk saat ini, jumlah anak penderita kanker yang tinggal di Rumah Kita berjumlah 73 anak dan yang tinggal menetap disana ada sekitar 15 sampai 20 anak dengan jumlah guru tiga orang.

Sekar Adi Meta, selaku guru di Sekolahku menyampaikan bahwa acara ini bertujuan membuka wacana bagi masyarakat luas untuk mengerti lebih lanjut tentang kanker pada anak, bagaimana mengenalinya, dan bagaimana menindaklanjutinya. Meta berpesan bahwa kanker tidaklah menular, jadi janganlah takut untuk berinteraksi dengan anak-anak yang terserang kanker karena kanker pada anak dapat disembuhkan jika ditangani sejak dini dengan penanganan dan perawatan yang sebaik-baiknya.

dr. Eddy Supriyadi, Ph.D.,Sp.A(K) selaku pemateri Sosial Edukasi pengenalan dini kanker pada anak menyampaikan bahwa jumlah pengidap kanker selama 15 tahun terakhir ini mengalami kenaikan yang cukup drastis yaitu sekitar 400 Penderita kanker tersebut mengalami kesalahan pada cetak gen dan kesalahan penerapan pada kode DNA sehingga menciptakan pertumbuhan diluar kendali. Penyebab kanker itu sendiri belum diketahui secara pasti hingga saat ini, apakah itu akibat gaya hidup, makanan, atau radiasi. Semuanya hanyalah sebatas teori dan hipotesa yang belum tentu kebenarannya sehingga tidak ada yang perlu disalahkan.

Salah seorang pastisipan aksi berani gundul, Kisno mengatakan bahwa tujuan dia datang ke Jogja City Mall hanya untuk berpartisipasi mengikuti aksi berani gundul. Menurutnya setiap anak Indonesia yang menderita kanker berhak memperoleh pengobatan dan perawatan yang sebaik-baiknya, termasuk hak belajar dan bermain selama masa perawatan di rumah sakit meskipun dalam keadaan sakit. Kisno berharap anak-anak di YKAKJ tetap semangat dalam menjalani hari-harinya.”Insyaallah bisa sembuh karena ada obatnya” ujar kisno.

Manager Jogja City Mall, Edward Julian mendukung penuh upaya YKAKJ dalam melawan kanker dengan ikut berdonasi dan menggundul rambutnya. Dia berharap langkah ini dapat menjadi awal yang bagus di YKAKJ dan dapat menjadi saluran rahmat dan berkah baginya. “Selamat berjuang untuk YKAKJ karena tidak ada hal mustahil di dunia ini” ujar Edward.

Hardi selaku orang tua dari pasien leukimia mengatakan bahwa tujuannya mengikuti aksi berani gundul adalah untuk memotivasi anaknya agar cepat sembuh dan dia rela berkorban apapun demi anaknya termasuk menggundul rambutnya. Dia berharap dengan bergabung dengan YKAKJ anaknya dapat mendapatkan pengobatan yang terbaik dan dapat segera pulih. Dia percaya bahwa dokter dan obat hanya sebagai perantara, keputusan hanya ditangan Tuhan. “Semoga anak-anak YKAKJ mendapatkan mukjizat” imbuhnya

Arga Taspela selaku panitia aksi berani gundul menargetkan untuk kedepannya acara ini tidak hanya berlangsung di Jogja, namun juga dapat diselenggarakan di kota-kota besar lainnya seperti Solo dan Semarang. (Siti Khodijah)

Mengekspos Jajanan Tradisional kepada Anak-Anak

HIMMAH ONLINE, Condongcatur – Dalam rangka memperkenalkan makanan tradisional kepada generasi muda khususnya anak-anak TK, pihak Taman Kuliner Yogyakarta bekerja sama dengan Kelompok Wanita Tani dari Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Sleman menyelenggarakan Parade Kesenian dan Jajanan Tradisional 2014.

Acara ini diselenggarakan selama empat hari dari tanggal 27-30 November 2014. Konsep acara dibentuk dengan adanya berbagai stan yang menjajakan jajanan tradisional dimana satu orang bisa mencicipi satu jenis jajanan secara gratis seperti jadah tempe, kue cucur, kue lumpur, minuman dari sari kelapa, salak, geplak, dan sebagainya. Tak hanya itu, agar anak-anak tertarik dengan adanya jajanan tradisional ini, diadakan pula pentas seni anak-anak dan berbagai perlombaan seperti lomba mewarnai, fashion show, dan lomba tari tingkat TK se-Yogyakarta. Danu Wibawa Usahani, selaku Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Taman Kuliner Condongcatur mengatakan, “Awalnya karena taman kuliner adalah tempat dengan fasilitas makanannya, kami berpikir kira-kira format event apa ya yang bisa dilaksanakan. Pikiran kami adalah bagaimana menarik anak-anak untuk kumpul dan mereka diekspos ke jajanan. Jadi, perlombaan dan pentas seni ini adalah seperti magnet agar mereka berkumpul.”

Danu berharap setelah ini anak-anak dapat lebih mengenal makanan daerah sendiri. Karena menurutnya, jajanan tradisional merupakan kebudayaan asli milik nenek moyang kita, tetapi justru semakin tidak populer. Tujuan lain diadakannya acara ini juga ingin menampung berbagai bentuk kesenian yang ingin dipentaskan anak-anak.

Suprihatin, sebagai Bendahara Asosiasi Pasar Tani Mitra Sembada Sleman yang menjadi salah satu peserta jajanan tradisional ini setuju dengan diadakannya acara ini karena tujuan sangat bagus dimana agar anak-anak tahu apa saja pangan lokal yang kandungan gizinya justru tidak kalah tinggi dengan makanan lainnya. Terlebih lagi apabila pangan lokal dapat diolah menjadi makanan yang bervariasi sehingga anak-anak akan lebih tertarik untuk mencoba. “Tapi acara ini agak kurang greget karena kurangnya publikasi dan sosialisasi. Lebih bagus lagi jika acara ini dirutinkan.” ungkapnya.

Salah satu sekolah yang mengikuti perlombaan dan pentas seninya, yaitu TK Budi Mulia Dua Pandansari merasa antusias sekali dan sangat mendukung ajang pelatihan keberanian anak-anak seperti ini yang secara tidak langsung juga membantu mempromosikan taman kuliner sendiri. “Apalagi anak-anak semakin mengenal makanan tradisional dan bisa mencicipi secara langsung. Mereka senang sekali karena belum pernah dikenalkan sebelumnya, baru tahu kalau makanan tradisional seperti ini. Apalagi yang terkenal sekarang kebanyakan menu ayam goreng, dan sebagainya. Harapannya kita dapat lebih mengenalkan makanan ini ke anak-anak dari sekarang.” ungkap salah satu guru TK Budi Mulia Dua, Siti Sholihatun. (Dian Indriyani)

Revolusi

Sekitar satu abad lalu terjadi peristiwa yang disebut ” Gerakan Desember Moscow “. Peristiwa besar ini tidak akan pernah dilupakan oleh kaum buruh. Kisah tentang sebuah pemogokan yang menjadi gerakan pemberontakan yang revolusioner atau narasi yang memberi pelajaran bagaimana revolusi dimulai oleh segelintir kaum proletar menentang “kaum atasan”. Leinin pernah berkata pelajarilah secara seksama jalannya pemberontakan Moskow, tuan-tuan dan anda akan paham kaitan antara “unit lima orang” dengan masalah “taktik barikade baru”. Bulan Desember telah menjadi milik mereka, mereka yang mengisi hari-hari kosong dengan perjuangan-perjuangan yang mampu menjadikan Desember lebih berani dan bermakna.

Tampaknya bukan hanya kaum buruh yang mampu menciptakan sejarahnya sendiri. 20 mei 1968, Jean Paul Sartre mencoba mewawancarai seorang mahasiswa yang bernama Jhon Bendit. “Untuk menumbangkan masyrakat borjuis dalam sekali sapu, taktiknya adalah dengan melakukan pukulan berulang-ulang lewat aksi-aksi yang revolusioner, setiap pukulan akan mendorong proses perubahan yang tidak dapat dihindari. Mahasiswa telah memberi contoh kepada kaum buruh, tetapi persatuan mahasiswa dan buruh hanya dapat terjadi di medan pertempuran. Dengan demikian pemberontakan tidak dapat berakhir, tetapi menyediakan berbagai kemungkinan terhadap apa yang mungkin, apa saja yang dapat terjadi”. Memang wawancara tadi hanyalah sepenggal dari sebuah kisah, dimana gerakan mahasiswa mampu membuat goncangan yang begitu besar di Perancis ketika itu. Dimulai dan diciptakan dari ruang-ruang kelas yang diisi para intelektual revolusioner, dimana pada akhirnya kisah itu terangkum dalam sebuah romantisme sejarah yang dilabeli Revolusi Mei 1968.

Apa yang bisa kita pelajari? Memang pada akhirnya, suatu hari akan tetap menjadi hari, bulan akan tetap menjadi bulan, dan tahun tetap menjadi tahun, bila kita tidak mengisinya dengan segila mungkin. Bulan Desember akan menjadi suatu bulan yang penuh makna jika kita mau menyadarinya. Jika kita mau sadar, sesungguhnya bulan Desember besok akan menjadi momentum terbaik teman-teman mahasiswa bahkan lembaga kemahasiswaan secara keseluruhan dalam mencari sebuah jawaban terhadap persoalan-persoalan yang hakiki. Persoalan tentang rasa frustasi yang mendalam dikalangan mahasiswa atas ketidakberdayaan mereka untuk mengambil keputusan yang menentukan hidup mereka. Akan prinsip-prinsip pimpinan universitas yang melihat mahasiswa hanyalah anak-anak kecil dari taman kanak-kanak. Mereka dianggap tak mampu menjawab persoalannya sendiri, sehingga pandangan-pandangan tadi pada akhirnya berbuah menjadi sistem dan regulasi yang kaku.

Kekakuan tadi terlihat dari realitas-realitas yang terjadi. Perwakilan mahasiswa tidak berhak mengikuti rapat dalam rangka pengabilan keputusan yang dibuat oleh universitas baik dalam rangka akademik, penentuan kebijakan di bidang anggaran, struktur organisasi di tingkatan fakultas bahkan persoalan seputar kebijakan pembangunan baik yang ada di tingkatan Universitas ataupun fakultas. Ya,model kewenangan lembaga perwakilan mahasiswa dengan pihak birokrasi kampus selama ini justru melahirkan tren birokrasi yang justru memberikan wewenang dan tanggung jawab yang kecil, sehingga keterlibatan dan partisipasi nyata mereka didalam peroses pengambilan keputusan bersifat global menjadi terpinggirkan bahkan hilang.

Bila tidak percaya coba tanyakan pada diri teman-teman khususnya perwakilan mahasiswa ada tidak peraturan yang memberikan ruang kewajiban agar mereka diturutsertakan dalam proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pimpinan-pimpinan Universitas dan fakultas. Baik persoalan akademik, kenaikan SPP bahkan kebijakan pembangunan, atau hal kecil-kecil seperti biaya makan dalam tiap rapat dosen. Silahkan jawab sendiri, Kemudian yang tak kalah penting Desember pulalah yang mampu memberikan perubahan atas ketidakmanfaatan Bidang Kemahasiswaan yang berada dalam tingkatan fakultas-fakultas yang ada di kampus, dimana diperlukan pengkoreksian besar-besaran akan konsep selama ini. Atau soal ketimpangan status rektor yang mampu menjadi pelaku sekaligus pengawas bagi dirinya sendiri.

Persoalan-persoalan tadi pada akhirnya membutuhkan jawaban di sertai perubahannya. Persoalan berikutnya, bagaimana caranya? apakah gerakan-gerakan di Moscow dan Perancis tadi mampu dipraktikan oleh mahasiswa-mahasiswa kita?

Sangat jelas, hal-hal yang akan terjadi pada bulan Desember membutuhkan sebuah kesadaran, kesadaran begitu dalam akan perubahan dan kemudian dibumikan sedemikian rupa. Dengan kesadaran, keberanian, gerakan dan mengaplikasikan ide-ide diharapkan nantinya dapat membuat detik demi detik, menit demi menit menjadi sebuah bom waktu yang mampu membuat bulan Desember lebih bermakna. Setidaknya Patrick Seale Mauren Mcconville pernah berkata” tentu saja sebuah revolusi bukan hanya disebabkan oleh kaum revolusioner, juga harus ada situasi revolusioner yang disadari dan dieksploitasi oleh kaum revolusioner tersebut. Bahan peledak hanya dapat bekerja bila terdapat banyak pupuk yang mendasarinya”.

Mengenai mengapa Desember, bukan kapasitas penulis untuk mengumumkanya, silahkan teman-teman pembaca mencari atas dasar-dasar nilai dan pengahayatan teman-teman sebagai mahasiswa, sebagai seorang manusia. (Muhammad Azhar – Mahasiswa Ilmu Hukum UII 2010)

Usaha Menuju Akreditasi A Prodi Ilmu Komunikasi Uii

HIMMAH ONLINE, Kampus Terpadu – 22 Agustus 2014 Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) telah meresmikan perubahan akreditasi prodi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII) dari C menjadi A. “Prestasi itu adalah kerja keras semua pihak mulai dari mahasiswa, alumni, orang tua, karyawan, dosen, prodi, fakultas, dan universitas.” ujar Arief Fahmi selaku Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB). Tentunya tidak mudah untuk menaikkan akreditasi C ke akreditasi A. “Perbaikan terus menerus dikerjakan oleh semua pihak dan alhamdulillah hasilnya juga sangat-sangat baik.” tambah Arief Fahmi.

Untuk mempertahankan akreditasi yang berlaku selama 5 tahun kedepan, prodi beserta jajaran staf lainnya akan melakukan beberapa upaya. Upaya-upaya tersebut diantaranya meningkatkan kerjasama di level ASEAN, merintis kerjasama dengan universitas-universitas lain, lembaga masyarakat sipil serta pemerintah negara lain di Asia Tenggara. Tidak ketinggalan peningkatan publikasi berupa karya-karya akademis baik dosen maupun mahasiswa dan penambahan sarana dan prasarana.

Seiring berjalannya waktu peningkatan dalam segi sarana dan prasarana terus berkembang. Berdiri pada tahun 2004 silam, Prodi Ilmu Komunikasi hanya memiliki laboratorium fotografi dan radio saja. Kemudian disusul dengan laboratorium audiovisual dan ruang kontrol audiovisual, laboratorium televisi dan film, presentasi dan negosiasi, serta laboratorium pers sekitar tahun 2008. “Setelah akreditasi A ini prodi berencana untuk menambah news room atau multimedia’s room sebagai penambah kelengkapan ruangan-ruangan yang telah ada.” jelas Anang Hermawan dosen yang pernah menjabat sebagai Kaprodi Ilmu Komunikasi.

Gemilang Pasha, mahasiswa Ilmu Komunikasi 2012, beranggapan bahwa prodi Ilmu Komunikasi sudah layak dan berhak menerima akreditasi A karena laboratorium dan perlengkapan-perlengkapan yang ada sudah cukup memadai. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh mahasiswa banyak mengandung nilai-nilai positif dan juga penghargaan yang banyak di raih khususnya dibidang perfilman.

Proses-proses yang dilalui pastinya menguras waktu yang cukup lama diperkirakan sekitar 1,5 tahun untuk mengajukan berkas dan dokumen-dokumen yang berisikan visi-misi, tata pamong, kepemimpinan, mahasiswa dan alumni, SDM, kurikulum, pembiayaan, sarana prasarana, penelitian, pengabdian masyarakat dan juga kerjasama. “Proses pengiriman berkas tersebut ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) sudah dilaksanakan sekitar bulan Juli tahun 2013 lalu, mendapatkan visitasi dari BAN-PT sekitar setelah lebaran tahun ini.” ujar Muzayyin Nazaruddin, Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi.

Arief berpesan bahwa akreditasi A adalah karunia nikmat dan ujian. Kita semua berupaya yang kemudian memperoleh hasil berupa nilai yang baik. Disisi lain ini juga merupakan ujian seberapa besar kita dapat mensyukurinya dalam konteks menjadikan Prodi Ilmu Komunikasi itu rahmatan lilallamin. Mahasiswanya menjadi lebih mampu mengedepankan nilai-nilai ke UII an dosen dan karyawan-karyawannya juga demikian dan ini adalah tanda awal untuk membuat kita menjadi lebih produktif lagi dan bisa lebih bersyukur karena jika tidak akreditasi A justru bias memebuat kita menjadi lupa dan sombong. Muzzayin juga menambahkan bahwa lulus tidak hanya dengan Indeks prestasi kumulatif atau yang sering disebut IPK tetapi dengan portofolio yaitu karya-karya yang telah dihasilkan oleh masing-masing mahasiswa Ilmu Komunikasi.

Sebagai bentuk rasa syukur, Himpunan Mahasiswa Komunikasi (HIMAKOM) menyelenggarakan acara tasyakuran pada Kamis, 27 November 2014 yang dihadiri oleh Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi, dosen, staf, mahasiswa Ilmu Komunikasi, dan juga dihadiri oleh perwakilan mahasiswa Ilmu Komunikasi dari berbagai universitas seperti Universitas Respati Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Universitas Atma Jaya, dan Universitas Ahmad Dahlan. Acara diramaikan dengan pemutaran film pendek dan penampilan dari grup nasyid Syahada pondok pesantren putra UII. (Citra Kharisma W.)

HIMMAH BERBICARA: Perokok Anak

0

Pada diskusi kali ini “Himmah Berbicara” membahasa tentang perokok anak di Indonesia (23/110). Dipantik oleh Desi Rahmawaty sebagai Staf Penelitian dan Pustaka (Pelita).

Pada awal pembahasan Desi memantik bahwa, karena lemahnya regulasi dan kontrol di Indonesia terhadap distribusi rokok menyebabkan akses untuk mendapatkan rokok tersebut lebih mudah, terutama untuk anak-anak dibawah umur. Belum lagi faktor tersebut ditambah dengan minimnya kesadaran masyarakat, terutama orang dewasa yang sebenarnya memiliki peran untuk mencegah perokok dibawah umur di lingkungannya. Ia menganjurkan untuk meredam peningkatan perokok anak di Indonesia, yaitu salah satunya ketika ingin membeli rokok harus menunjukkan KTP, hal tersebut dilakukan untuk mempersulit anak-anak untuk mendapatkan rokok.

Menanggapi pernyataan dari Desi, Moch. Ari Nasichuddin Pemimpin Umum Himmah mengatakan bahwa untuk rokok harusnya ada regulasi barang jual yang mengatur tersebut, seperti pada regulasi penjualan dan konsumsi miras. Ia memandang ketidakberdayaan negara menghadapi perusahaan rokok, mungkin karena adanya mafia di dalamnya.

Desi menambahkan bahwa selain regulasi penjualan miras, sebenarnya dalam dunia internasional untuk pengendalian tembakau dapat dilakukan melalu Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Namun, sayangnya pemerintah Indonesia belum merasa perlu dalam menggunakan ratifikasi tersebut, alasannya adalah karena Indonesia sudah memiliki undang-undang mengenai kesehatan, walaupun pemerintah Indonesia belum optimal menjalankan undang-undang tersebut. Disisi lain ketakutan dalam menggunakan ratifikasi ini adalah akan mempengaruhi kehidupan para petani, namun sebenarnya ratifikasi berfokus pada pengendalian rokok bukan untuk menghentikan rokok.

Dalam masalah ratifikasi FCTC, Ari mempertanyakan jika ratifikasi ini diterapkan pada suatu negara tertentu, apakah nantinya negara tersebut mempunyai kekuatan untuk mengendalikan perokok anak. Dan apakah ada jaminan terkait permasalahan tersebut?

Yanfari selaku peserta diskusi menanggapi bahwasannya yang menyebabkan anak-anak tersebut menjadi perokok adalah karena faktor lingkungan. Ia menganjurkan jika ingin mengkritisi permasalahan rokok terutama perokok anak, ada baiknya yang membahas itu berhenti merokok. Selain itu untuk menunjukan ketegasan pada perokok anak, yaitu dengan cara menunjukan akibat nyata dari merokok bukan hanya pendidikan saja.

Irwan A. Syambudi Pemimpin Redaksi Himmah, menambahkan bahwa ketika industri rokok yang terus berkembang di Indonesia dan ketika Malboro mencari bahan-bahan yang diperjual belikan adalah rokok, maka ketika itu pula doktrin rokok sebagai gaya hidup telah dilakukan dalam industri Hollywod, dan pada tahun 80’an doktrin tersebut mengenai masyarakat luas di Indonesia. Akibatnya masyarakat Indonesia memandang bahwasannya rokok merupakan gaya hidupnya orang-orang keren. Dan inilah sebetulnya yang perlu dikritisi, ketika masyarakat Indonesia memandang merokok = keren, ini lah yang menjadi masalah.

Menanggapi pernyataan Irwan, Ari mengatakan bahwa memang terkait permasalahan rokok media memiliki peran penting. Oleh karena itu seharusnya terdapat kontrol terhadap media terkait permasalahan rokok. M. Hanif Alwasi selaku Redaktur Artistik Himmah mengatakan alasan filosofis anak dilarang merokok adalah karena anak adalah masa depan bangsa. Selain itu ia menanggapi bahwasannya tembakau itu harusnya tak melulu menjadi rokok, ia memandang dalam hal ini pemerintah memiliki peranan yang sangat penting, dan pemerintah seharusnya memiliki solusi yang bijak. Mungkin saja pemerintah dapat membeli lahan petani tembakau, yang nantinya produk-produk termbakau tersebut di subtitusikan ke sektor-sektor yang lebih kompetitif. Dan pemerintah memberikan feedback terhadap lahan-lahan yang dibeli kepada petani.

Ari memandang dari sudut pandang budaya, bahwasanya rokok adalah turun temurun. Desi menanggapi, seharusnya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) terus di rekomendasikan kepada Pemerintah untuk diperbanyak. Selain itu untuk mempekuat regulasi pemerintah, ada baiknya aturan adat diberlakukan, karena memang aturan adat sangat mengikat semisal adat sasi di Maluku, dalam aturan adat yang mengikat tersebut, pasti memiliki kearifannya sendiri.

Pandu, peserta diskusi, mengatakan bahwa harusnya kawasan tanpa asap rokok mulai diterapkan dari pemerintah sendiri, dimulai dari lingkungan kerja pemerintah. Jika sudah dilakukan selanjutnya pemerintah dapat berkonsiliasi dengan para LSM yang memang fokus pada masalah rokok.

Siti Mahdaria, Staf Perusahaan 24,1, menanggapi merokok dari konteks remaja, terdapat mindset bahwa merokok = keren, hal tersebut merupakan efek dari publikasi media. Juga terkait pendidikan tentang efek rokok, dan juga pengaruh harga rokok yang lebih murah. Solusinya adalah dengan menaikan harga rokok, karena ia memandang bahwa mayoritas perokok berasal dari rakyat menengah kebawah dan memiliki kecenderungan Low Educated People (LEP).

Arga Ramadhan A, sebagai Staf Perusahaan 24,1, mengatakan bahwa pajak rokok dapat dialihkan dan digunakan sebagai subsidi BBM.

Fauzi Farid M., Staf Pelita, menyimpulkan solusi yang dapat diambil adalah pemerintah harus memiliki konsistensi dalam menjalan regulasi yang ada terkait permasalahan rokok, selain itu memberikan pendidikan mengenai efek dari rokok, keluarga bebas rokok, dan juga menaikan harga dan pajak rokok.

Potret Realita Masyarakat Saat Ini

0

Sekarang ini kita sering disuguhkan oleh film-film horor Indonesia yang sering memenuhi list film Indonesia seperti Angker, Danau Hitam, Hantu juga selfie dan hanya sedikit yang mengambil genre selain film horor, film “Sebelum Pagi Terulang Kembali” misalnya, film ini lebih memilih genre yang jarang dipilih beberapa sutradara film, konflik sosial adalah genrenya.

Film dengan judul “Sebelum Pagi Terulang Kembali” bercerita tentang keluarga Yan, dimana Yan bekerja sebagai Wakil Ketua Departemen Perhubungan yang jujur tetapi ia harus berhenti dari pekerjaannya karena ulah anak-anaknya yang bermain proyek dengan Departemennya. Seperti ketika Satrio yang membujuk ayahnya untuk mau menandatangani proyek yang nantinya akan dikerjakan semua oleh perusahaan Satrio. Yan hidup bersama Ratna istrinya yang bekerja sebagai seorang dosen filsafat, ketiga anaknya Firman, Satrio, Dian dan juga Ibunya yaitu Soen, film ini bertempat di Kota yang disebut Jakarta.

Konflik cerita berawal dari rapat pada Departemen Perhubungan yang membahas keterlambatan pembangunan pada pelabuhan dimana Yan mengatakan, “Itu tanggung jawab saya,” dan Ketua Departemen pun keluar dari rapat setelah mendengar ucapan Yan, anggota yang lain pun ikut keluar dari rapat. Yan berkata begitu karena ia ingin proyek yang lewat dari Yan itu memiliki desain yang benar. Yan pun meminta bantuan kepada anaknya Satrio untuk membantu menyelesaikan berkas desain pembangunan dan Satrio meminta imbalan atas bantuannya tersebut. Satrio yang dibujuk oleh Hasan untuk mendapatkan jatah proyek pembangunan pelabuhan dari ayahnya ini, membuat Satrio terus menerus membujuk ayahnya untuk menandatangi berkas yang diselesaikannya. Yan pun seperti harus menandatangi berkas tersebut dan Satrio tidak mengatakan kepada ayahnya jika isi berkas tersebut yang nantinya menyelesaikan proyek tersebut adalah perusahaan milik Satrio, Yan pun harus berhenti dari pekerjaannya karena hal itu.

Film ini memiliki alur yang pelan dan dapat membuat penonton terhanyut dalam cerita, ikut masuk dan berperan dalam keluarga Yan. Alur yang pelan dalam film ini bisa jadi membuat penonton cepat bosan karena seperti melihat sebuah drama yang difilmkan. Konflik pun tidak tiba-tiba muncul begitu saja. Konflik muncul ketika cerita memang membutuhkan konflik, jadi konflik itu muncul pas pada waktunya dan tidak dipaksakan, konflik dibuat sedemikian rupa agar penonton terbiasa dengan karakter-karakter dari keluarga Yan.

Film yang isinya mengajak kita untuk tidak melakukan korupsi ini, juga dapat menjadi potret realitas yang berada pada masyarakat kita sekarang ini. Film ini juga penuh nilai positif tentang kejujuran dan dedikasi. Ajakan untuk tidak melakukan korupsi pun tidak diperlihatkan secara jelas, karena cerita lebih seperti kisah keluarga Yan. (Arbha Gumilang Akhsana A.)

BBM Naik, Harga Ikan Turun

0

HIMMAH ONLINE, Bantul – Kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) memberikan dampak pada semua sektor seperti sektor perikanan. Ditemui Rabu (26/11) Tugiran, nelayan Pantai Depok Yogyakarta, mengatakan bahwa biaya melaut naik. Saat musim kemarau dalam waktu 3 bulan nelayan hanya bisa melaut 10 kali sedang saat musim hujan nelayan melaut hampir setiap hari. Biaya melaut sebelum kenaikan BBM sebesar Rp 100.000,-, kini pasca kenaikan BBM menjadi Rp 150.000,-. Biaya tersebut sudah mencakup kebutuhan pokok seperti bekal makanan, minuman, dan rokok sebesar Rp 50.000,- dan Rp 100.000,- untuk biaya bensin perahu. Tugiran menjelaskan bahwa perahu yang digunakan bukan milik sendiri. Apabila sekali melaut mendapatkan Rp 1.150.000,- maka Rp 150.000,- untuk biaya melaut. Setelah dikurangi biaya bahan bakar, sisanya sebesar Rp 1.000.000,- dikurangi lagi Rp 500.000,- untuk biaya sewa kapal, sisanya Rp 500.000,- untuk yang melaut, biasanya satu perahu diisi dua orang.

Selain naiknya biaya melaut, kenaikan BBM juga mempengaruhi harga ikan. Tugiran menerangkan bahwa harga ikan yang awalnya Rp 20.000,- per kilogram menjadi Rp 15.000,- per kilogram. “Hal tersebut mungkin dikarenakan harga dari pengumpul ikannya turun. Nelayan gak bisa apa-apa, kan nelayan hanya di laut.” tambah Tugiran. Harga ikan sendiri tergantung jenis ikan misal ikan layor satu kilogram bisa mencapai Rp 250.000,-. Selain jenis ikan, harga dipengarui oleh musim saat melaut biasanya musim kemarau ikan yang didapat lebih sedikit dibandingkan dengan musim hujan. Menurut keterangan Tugiran, selama ini belum ada bantuan apapun dari pemerintah. “Dulu ada, waktu pak Jusuf Kalla jadi menteri, sekarang gak ada,” ujar Tugiran. Bantuan tersebut berupa alat tangkap seperti jaring. Untuk pemerintahan Jokowi kali ini belum ada perhatian apapun. “Kemaritiman yang ditargetkan memang bagus, namun jangan sekedar bicara, harusnya ditepati,” tukas Tugiran. (Rabiatul Adawiyah)

Pengenalan Ular Sejak Dini Melalui Seminar Ular

0

HIMMAH ONLINE, Yogyakarta – Dalam rangka memeriahkan ulang tahun Yayasan Sioux yang ke-11, tepatnya pada 23 November 2014, Yayasan Sioux ular Indonesia menyelenggarakan acara dengan mengusung tema “Melangkah Lebih Tegas Upaya Penyelamatan Ular Indonesia”. Acara yang berlangsung pada tanggal 23 November 2014 di Exhibition Hall Taman Pintar Yogyakarta ini dikemas melalui seminar terkait ular yang di dalam seminar tersebut berisi pemahaman mengenai ular dan menampilkan berbagai jenis ular Indonesia yang bertujuan untuk memperkenalkan ular-ular Indonesia. Peserta yang hadir diajak untuk berinteraksi langsung dengan ular. Acara seminar ular ini dimeriahkan oleh penampilan Sense Capoera dan dipandu oleh Heru Gundul yang merupakan pembawa acara Jejak Si Gundul. Selain penyelenggaraan seminar ular, Yayasan Sioux juga menyelenggarakan pameran foto, pameran ular, donor darah, lomba poster nasional dan lomba mewarnai. Namun, acara lomba mewarnai tersebut terpaksa diundur karena kuota belum terpenuhi.

Seminar ular ini merupakan upaya Yayasan Sioux untuk mensosialisasikan dan memberikan pandangan positif terhadap masyarakat terkait ular, karena banyak masyarakat yang beranggapan negatif terhadap hewan melata ini. Masyarakat menganggap ular merupakan hewan yang menakutkan, menjijikkan, perlu dibunuh, dan terdapat mitos-mitos yang mengerikan. Tyas Putri Widyaningrum selaku pemateri menyampaikan bahwa seminar ular ini meluruskan pandangan masyarakat mengenai bagaimana, apa, mengapa, siapa, dan apa saja tentang ular yang diutarakan berdasarkan fakta akurat khasanah ilmu pengetahuan yang ditinjau dari segi logika, ideologi, dan teori yang meliputi pengenalan jenis-jenis ular, persebaran populasi, penanganan gigitan dan sumbangsih keterampilan handling.

Selama 11 tahun terakhir, Yayasan Sioux telah mengidentifikasi 300 spesies ular yang tersebar diseluruh Indonesia dengan menggalakkan program pengembangbiakkan ular dan kampanye “Jangan Bunuh dan Makan Ular”.

Irwan Irmawan, selaku panitia seminar menuturkan bahwa pengenalan masyarakat terhadap ular sebenarnya sangat diperlukan, karena ular merupakan binatang liar berbahaya yang habitatnya terdekat dengan kehidupan manusia, selain itu ular berperan penting bagi kesejahteraan hidup para petani. “Ular masih mengandung banyak sekali keanehan dan merupakan makhluk yang eksotis, unik, indah, menantang dan berbagai ragam spesiesnya,” tambah Irmawan.

Risqi Akbar, selaku Staf Operasional Yayasan Sioux cabang Yogjakarta menjelaskan bahwa kondisi ular di Indonesia saat ini cukup memprihatinkan karena hampir 50% ular yang ada saat ini diambil dari alam, bukan hasil dari pengembangbiakkan. Oleh karena itu, upaya penyelamatan dan perlindungan ular dari habitat asalnya perlu ditingkatkan. Karena jika populasi ular yang diambil dari alam semakin banyak, maka keseimbangan ekosistem tidak akan tercapai, rantai makanan terputus dan itu berakibat fatal bagi keberlangsungan ekosistem.

Di penghujung acara, Heru Gundul menyimpulkan bahwa keserakahan manusia dengan mengeksploitasi secara besar-besaran terhadap ular akan berdampak pada manusia itu sendiri, karena jika ekosistem di alam tidak seimbang maka akan banyak petani yang dirugikan atas hama tanaman yang berkembang pesat.

Untuk kedepannya Yayasan Sioux mentargetkan mampu memiliki lokasi yang nyaman untuk penangkaran ular dan pengembangbiakkannya. Selain itu Yayasan Sioux juga berupaya melangkah lebih banyak untuk masyarakat dengan melakukan penelitian-penelitian yang berkaitan dengan pembelajaran-pembelajaran untuk masyarakat.

Salah seorang pengunjung seminar ular, Wiji Nur Astuti mengatakan bahwa ia terdorong rasa takut yang luar biasa terhadap ular. Rasa takut tersebut berhasil mengubah pola pikirnya menjadi rasa ingin tahu akan ular. Menurutnya seminar ular akan tampak lebih menarik bila pengenalan ular dikemas dengan media yang fun, sehingga tidak terlalu berkesan formal dan anak-anak pun bisa ikut dalam pengenalan ular melalui interaksi yang diselingi game-game yang menarik. Wiji berharap setelah mengikuti acara seminar ular ini, ia mampu terbebas dari rasa takut terhadap ular dan anak-anak Indonesia tidak mempunyai anggapan negatif terhadap ular. (Siti Khodijah)

Ngayogjazz 2014, Mengajak Memulai Kehidupan yang Baru Lagi

0

HIMMAH ONLINE, Sleman – Pentas musik jazz tahunan yakni Ngayogjazz telah memasuki tahun kedelapan sejak pertama kali diadakan pada November 2007. Ngayogjazz yang selalu diselenggarakan pada November tahun ini (22/11) berlokasi di Desa wisata Brayut, Pandowoharjo, Sleman, Yogyakarta yang tahun sebelumnya juga diselenggarakan di desa ini. Novindra Dhiratara, selaku board creative mengatakan bahwa tidak ada alasan khusus kenapa memilih Desa Wisata Brayut lagi. Ia juga menambahkan bahwa mencari tempat untuk Ngayogjazz itu seperti mencari chemistry. Ada tempat yang baik, tapi masyarakatnya tidak menerima. Atau ada tempat yang masyarakat mengajukan, tapi menurut penyelenggara secara spesifikasi kurang. Spesifikasinya sendiri meliputi desa, teratur, indah, dan punya tempat yang bisa untuk mendirikan panggung.

Tujuan diadakannya Ngayogjazz adalah untuk memediasi teman-teman musisi muda jazz yang belum punya tempat mengekspresikan kreatifitas mereka. Untuk lokasinya yang selalu berada di desa wisata, diharapkan bisa mengangkat perekonomian masyarakat desa tersebut. Selain itu, Novindra juga menambahkan kalau Ngayogjazz ingin mencetak masyarakat pecinta kesenian. Masyarakat dari kota dikenalkan seni tradisional, kemudian masyarakat desa dikenalkan seni modern. Acara ini memang digelar gratis dengan harapan semua masyarakat bisa datang ke lokasi serta menikmati musik jazz. “Kita ingin membuktikan dengan cara Ngayogjazz, cara kita, bahwa musik jazz itu bukan musik yang rumit dan bukan musik untuk kalangan elite.“tambah Novindra.

Jumlah panggung di Ngayogjazz mengalami peningkatan dari tahun ketahun. Hal ini disebabkan jumlah musisi yang berpartisipasi dalam acara Ngayogjazz semakin banyak. Awalnya, Novindra mengaku kesulitan untuk mencari musisi, namun setelah beberapa kali Ngayogjazz digelar para musisi justru yang mencari dan mengajukan diri untuk tampil. “Yang jelas komunitas harus masuk, prioritas pertama Ngayogjazz adalah untuk komunitas lalu selebihnya baru untuk penampil.” ungkap Novindra.

Tema Ngayogjazz tahun ini adalah “Tung Tak Tung Jazz” yang artinya suara kendang yang divokalkan manusia. Kadang, kendang membuat nada ceria, mengawali dan menjadi intro dalam musik gamelan. Filosofinya yaitu bahwa Ngayogjazz ingin mengajak memulai kehidupan yang baru lagi dengan suasana yang lebih ceria setelah tahun ini banyak kejadian politik, ekonomi dan kenaikan bahan bakar minyak (BBM). Adi Rayhan salah satu pengunjung yang setiap tahunnya mengunjungi acara tersebut memberikan tanggapan terkait Ngayogjazz 2014.“Tahun ini dekorasinya lebih rame, lebih asik dibandingin tahun lalu. Aku berharap tahun depan artisnya lebih surprise.” ujarnya.

Novindra berharap kedepannya Ngayogjazz akan selalu ada karena acara ini sifatnya sudah klangenan. Bukan melulu tentang jazz, tapi bisa juga menjadi media reuni. Ia juga menambahkan bahwa acara ini dari kecil sampai besar akan diusahakan untuk tetap ada. “Nggak ada alasan untuk tidak mengadakan Ngayogjazz di bulan November” ungkap Novindra. (Siti Bariroh M.)