Beranda blog Halaman 103

HIMMAH BERBICARA: Koperasi Sistem yang Cocok untuk Indonesia

0

LPM Himmah mengadakan “Himmah Berbicara” untuk pertama kali (26/10). Himmah Berbicara merupakan diskusi rutin yang diadakan oleh LPM Himmah tiap minggunya. Diskusi pertama mengambil tema koperasi yang dipantik oleh Irwan A. Syambudi, Pemimpin Redaksi Himmah tahun 2014.

Di awal diskusi Irwan menjelaskan bahwa koperasi adalah sistem yang tepat untuk diterapkan di Indonesia, karena koperasi lebih mengutamakan kerja sama yang sangat sesuai dengan kebudayaan masyarakat Indonesia, ia menjelaskan lagi bahwa koperasi berbeda dengan perusahaan, dan perbedaannya terletak pada model kemandirian masyarakat yang ada di dalam koperasi tersebut, konteks kemandirian yang dimaksud disini berkaitan dengan upah yang diterima oleh karyawan. Dalam model perusahaan, pemodal lah yang yang memanfaatkan karyawan, dan hal tersebut berbeda dengan koperasi yang merupakan usaha patungan para anggotanya sendiri, jadi keuntungan dari koperasi tersebut dibagi rata kepada setiap anggotanya.

Terkait Penjelasan yang diberikan oleh Irwan, Muhammad Hanif Alwasi, Redaktur Artistik Himmah bertanya apakah koperasi bisa dijadikan sebuah sistem yang dianut oleh negara.

Irwan menanggapi pertanyaan yang dilontarkan oleh Hanif. Dalam memberikan penjelasannya Irwan mengambil pengertian koperasi yang dikemukakan oleh Karl Marx, yaitu koperasi adalah sebuah paham yang bisa masuk mana saja. Koperasi bisa menjadi sebuah sistem ketika ia dibawa oleh suatu instansi tertentu dan ada beberapa negara di dunia yang menganut sistem koperasi, salah satunya adalah Kuba. Kholid Anwar, Staff Jaringan Kerja Himmah menambahkan bahwa koperasi itu sebenarnya hanya wadah saja, namun prinsip yang dianut di dalamnya ekonomi gotong royong di dalamnya lah yang bisa dijadikan sistem.

Mochammad Ari Nasichuddin, Pemimpin Umum Himmah, menjelaskan bahwa saat ini ada tiga jenis koperasi, yang ketiga jenis tersebut memiliki dasar yang sama, yaitu bertujuan untuk menghindari kesenjangan. Ketiga jenis koperasi tersebut adalah koperasi kapitalis, koperasi sosialis, dan koperasi pancasila. Koperasi sosialis dan koperasi pancasila memiliki konsep yang hampir sama sesuai dengan keberagaman sifat-sifat yang di Indonesia, sedangkan koperasi kapitalis adalah koperasi yang bertujuan untuk memuliakan para anggotanya sendiri yang mana anggotanya tersebut merupakan sekumpulan orang-orang elit.

Revangga Twin Theodora, Redaktur Fotografi Himmah kemudian juga menanggapi pengertian koperasi yang dijelaskan oleh Irwan, ia memberikan salah satu contoh nyata bahwa pemahaman masyarakat Indonesia tentang koperasi masih sangat minim sehingga masyarakat mudah dibodohi oleh orang-orang tertentu, yaitu yang terjadi di daerah Klaten. Disana sekelompok orang membagi koperasi menjadi dua, yaitu koperasi besar dan koperasi berkembang, dan yang terjadi adalah koperasi besar tersebut menjadikan koperasi yang sedang berkembang sebuah komoditas, mereka malah memberikan iuran rutin ke koperasi besar dengan alasan akan menjadikan iuran tersebut roda penggerak koperasi yang berkembang tersebut, dan kemudian yang terjadi koperasi yang sedang berkembang itu malah tidak mendapatkan keuntungan apa-apa.

Menanggapi contoh yang diberikan Angga tersebut Irwan menjelaskan bahwa itu adalah salah satu contoh dari koperasi kapitalis, dan ia pun mengamini bahwa pengetahuan masyarakat Indonesia soal koperasi perlu ditingkatkan, agar hal-hal tersebut tidak terjadi lagi. Ia juga mengatakan bahwa semangat koperasi di Indonesia sudah mulai meredup, salah satu contohnya adalah di UII, tidak ada mata kuliah yang mendalami hal-hal tentang koperasi. Padahal koeprasi adalah sistem yang cocok untuk Indonesia.

Lalu terkait dengan Gagasan Mochammad Hatta (Bung Hatta), Wakil Presiden Indonesia yang pertama, tentang koperasi, Ari kembali menjelaskan, bahwa menurut Bung Hatta koperasi tidak hanya mementingkan keuntungan yang didapatkan dari koperasi tersebut, namun juga proses yang terjadi, karena esensi dari koperasi ialah gotong royong. Jika pelaku koperasi tidak mementingkan proses yang terjadi, maka hal tersebut telah keluar dari nilai-nilai gotong royong yang ada di Indonesia.

Aksi Tolak Kenaikan Harga BBM, Masyarakat Diharapkan Lebih Ingin Tahu

0

HIMMAH ONLINE, Yogyakarta – Jumat, 21 November 2014, Aliansi Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menggelar aksi menolak kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Aksi ini digelar di sepanjang Jalan Kolombo dimulai dari kampus UNY hingga perempatan SPBU Sagan dan diikuti kurang lebih 80 orang. Latar belakang diadakannya aksi ini yaitu untuk mengkaji ulang UU No. 22 Tahun 2001 tentang minyak dan gas bumi.

Septian Teguh Wijiyanto, selaku koordinator umum mengatakan bahwa negara dinilai tidak mampu meningkatkan kemandirian dan ketahanan energi serta menjadikan ketahanan nasional sangat lemah dan tidak berdaulat. Efek domino yang dihasilkan dari kenaikan BBM langsung terasa pada masyarakat. Menurutnya, bagi orang yang tergolong menengah ke atas efek kenaikan BBM tidak begitu terasa. Berbeda dengan orang menengah kebawah, misalnya mereka yang tidak memiliki kendaraan dan bepergian menggunakan angkutan umum untuk aktivitas pekerjaan. Ketika harga angkutan umum naik, sedangkan gaji mereka tetap efeknya akan sangat terasa. Septian juga menambahkan bahwa dalam beberapa hari kedepan Aliansi Mahasiswa FIS UNY berencana mengadakan aksi yang lebih besar. Aksi tersebut akan menggalakkan mahasiswa lain se-UNY seperti Fakultas Ekonomi dan Fakultas Ilmu Pendidikan. Mereka berharap dengan adanya aksi-aksi tersebut masyarakat menjadi ingin mengetahui alasan pemerintah menaikkan harga BBM. (Siti Bariroh M.)

Kebijakan Manajemen Parkir Kampus Terpadu UII

0

Himmah Online –  Jumlah mahasiswa baru tahun 2014 Universitas Islam Indonesia (UII) mengalami peningkatan drastis. Dari tahun sebelumnya yang hanya 5034 kini menjadi 6441. Peningkatan jumlah tersebut belum diimbangi dengan kebutuhan sarana dan prasarana yang ada, khususnya sarana parkir di kampus terpadu. 

Kepala Badan Sarana dan Prasarana Asmaun Ramadhani pada Rabu (19/11) membenarkan terkait kurang memadahinya lahan parkir di UII. “Sebenarnya setelah penerimaan mahasiswa baru sudah ada rencana untuk membangun sebuah bangunan yang khusus untuk tempat parkir namun belum terlaksana hingga saat ini,” terang Asmaun. 

Melihat keadaan parkir di beberapa tempat parkir di kampus terpadu seperti Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), Fakultas Teknik Industri (FTI), dan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) yang penuh di waktu-waktu tertentu seperti pagi pukul 09.00 dan sore pukul 15.00 Di waktu-waktu tersebut, penjaga parkir FTSP menutup akses masuk parkiran, sehingga parkiran dialihkan ke tempat parkir Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI). Namun, sebelum pintu ditutup ada beberapa mahasiswa yang tetap memaksakan untuk memarkir kendaraannya di FTSP. 

Keadaan seperti ini menyebabkan motor susah untuk keluar. Sedangkan tempat parkir untuk mobil terletak di sepanjang badan jalan. Pihak kampus menggunakan garis-garis sebagai pembatas antara tempat mobil yang satu dengan yang lainnya. Sebenarnya menurut undang-undang POLRI No.22 tahun 2009 dalam pasal 106 ayat (4) huruf d tentang tata cara berhenti dan parkir, tidak memperbolehkan keadaan tersebut. Asmaun menjelaskan keadaan tersebut diperbolehkan karena jalan kampus bukan merupakan jalan umum yang artinya hanya digunakan oleh orang-orang yang memiliki kepentingan dalam kampus. 

Marissa Nurlestari salah satu mahasiswa baru Jurusan Statistika yang menggunakan mobil memberikan tanggapan terkait parkiran mobil tersebut. “Saya terkadang kesel jika mobil yang parkir terlalu banyak, sehingga saya harus muter mencari tempat mobil parkir yang kosong” ujarnya. Untuk menyikapi masalah tempat parkir tersebut pada tahun 2015 mendatang, pihak kampus sudah merencanakan sistem kendaraan odong-odong khusus untuk kampus terpadu. Pihak kampus memiliki anggaran kedepan untuk membeli mobil odong-odong yang keliling di kampus terpadu. “Kita kedepannya akan membeli odong-odong yang berkeliling setiap hari di kampus, apalagi di waktu sholat. Ini salah satu cara juga untuk menjaga kampus kita sebagai kampus hijau,” ungkap Asmaun. (Rabiatul Adawiyah)

Rebranding Logo Jogja, Wajah Baru Jogja

0

HIMMAH ONLINE,Yogyakarta – Persiapan menjelang Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) makin gencar dilaksanakan di kota-kota di negara anggota ASEAN termasuk kota pelajar Yogyakarta. Rebranding logo Yogyakarta menjadi salah satu program yang dilakukan oleh pemerintah daerah dibantu oleh warga kota. Pemda dan tim 11 yang diketuai oleh Herry Zudianto itu terdiri atas para “relawan logo”. Mereka antara lain budayawan Butet Kertajasa, kurator Ong Hari Wahyu, Dosen ISI Sumbo Tinarboko, Persatuan Pengusaha Periklanan Indonesia (P3I) DIY Arif Budiman, Bos Dagadu M. Noor Arief, Ketua AMIKO Suyanto, Kill DJ Marzuki Muhammad, dan perwakilan dari Mark Plus. Sebagai tim yang bertanggung jawab akan rebranding ini mengadakan acara Urun Rembug Rebranding Jogja sebagai ajang sosialisasi untuk masyarakat yang berada di Jogja (18/11).

Logo dan tagline Jogja yang sudah ada sejak 15 tahun yang lalu dianggap sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman, maka Pemda dan masyarakat Jogja yang diwakili tim 11 mengadakan program rebranding logo Jogja. Sosialisasi di Bangsal Kepatihan, Kompleks Kepatihan Danurejan, Jl. Malioboro yang diadakan oleh tim 11 merupakan suatu acara agar masyarakat terutama yang berada di Jogja bisa ikut memberi usulan dalam rebranding logo Jogja ini. Rebranding logo Jogja ini bebas diikuti siapa saja dengan cara mengirimkan logo dan tagline di www.urunrembugjogja.com yang nantinya akan diseleksi menjadi 10 besar oleh tim 11.

Sebagai bentuk apresiasi bagi yang sudah mengirimkan logo dan tagline penyelenggara menyediakan uang tunai sebesar 200 juta untuk 10 logo dan tagline terbaik. Diharapkan dengan adanya rebranding yang mengikutsertakan masyarakat bisa menunjang kekreatifan yang berguna untuk menyambut MEA tahun 2015 mendatang. Tidak hanya logo dan tagline yang diharapkan lebih segar dan baik namun bisa juga menunjang peningkatan dalam sektor lain seperti pariwisata dan pendidikan. (Sirojul Khafid)

EDITORIAL: Bias Kelas Aksi Penolakan Kenaikan Harga BBM

Indonesia sedang memanas. Kenaikan harga BBM adalah pemicunya. Selasa, 18 November 2014 harga premium yang semula 6500 menjadi 8500 sedang solar yang semula 5500 menjadi 7500. Penolakan terjadi dimana-mana. Demo yang dilakukan mahasiswa sampai saat ini masih belum membuahkan hasil.

Mahasiswa yang disebut sebagai agent of change ternyata selalu mentok ketika melakukan protes kenaikan harga BBM. Setidaknya dari awal tahun 2000 sampai sekarang aksi jalanan yang dilakukan oleh mahasiswa tak dapat mengubah keputusan pemerintah untuk menaikkan harga BBM.

Data dari Departemen Statistik Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia menunjukkan bahwa pemakai BBM 53 persennya adalah mobil pribadi, 40 persen sepeda motor, dan sisanya adalah angkutan. Inilah kemudian yang menjadikan bias kelas atas aksi yang dilakukan oleh mahasiswa. Untuk siapa kemudian aksi itu? Apakah aksi itu untuk kelas menengah ke atas? Harusnya pertanyaan itu yang lebih dahulu dijawab oleh mahasiswa agar dapat melakukan gerakan yang lebih strategis.

Selain itu dalam aksi yang dilakukan mahasiswa terkesan tidak sistematis dan cenderung reaksioner. Sentimen masyarakat yang selama ini terbentuk karena pemblokiran jalan dan kadang berakhir anarkis cenderung membuat masyarakat tidak simpatik.

Mahasiswa seharusnya berkonsolidasi dan berinteraksi terlebih dahulu dengan masyarakat sekitar untuk menemukan apa yang sebenarnya yang menjadi akar masalah atas dampak kenaikan BBM. Kemudian mencari solusi yang tepat dan mengimplementasikannya.

Mengorganisir masyarakat untuk kemudian menciptakan kemandirian adalah lebih strategis, jika hanya sekedar aksi reaksioner yang tidak mampu menggerakkan seluruh lapisan masyarakat. Contohnya seperti untuk para nelayan yang pastinya semakin tercekik dengan kenaikan harga BBM. Mahasiswa kemudian bersama nelayan mengembangkan bahan bakar alternatif seperti biodiesel untuk mengganti BBM dengan memanfaatkan lahan di sekitar pantai untuk menanam pohon Jarak.

Rakyat Jogja tertindas oleh Pembangunan

Setidaknya sepanjang 2012-2014 masyarakat Yogyakarta merasa terdesak oleh pembangunan hotel, mall dan apartemen yang berada di lingkungan tempat tinggal masyarakat. Berdasarkan data Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) pada tahun 2013 terdapat 1.160 hotel di wilayah DIY, yang terdiri dari 60 hotel berbintang dengan lebih dari 6.000 kamar, dan 1.100 hotel kelas melati dengan 12.660 kamar. Sedangkan berdasarkan data Badan Pusat Statistik DIY, jumlah hotel di Yogyakarta sampai awal 2013 mencapai 401 unit, terdiri dari 39 hotel berbintang dan 362 hotel nonbintang.

Tolak Kenaikan Harga BBM, Reformasi Sektor Migas Juga Diperlukan

0

HIMMAH ONLINE,Yogyakarta – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Yogyakarta menggelar aksi menolak kenaikan harga BBM yang dimulai di Tugu Yogyakarta pada Selasa, 18 November 2014. Aksi ini dilatarbelakangi atas harga minyak dunia yang turun namun pemerintah Jokowi justru menaikkan harga BBM di Indonesia. Dengan rasionalisasi bahwa subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) dialihkan ke sektor kesehatan dan pendidikan. Akbar Pahlevi, selaku koordinator umum HMI Cabang Yogyakarta juga menambahkan bahwa pengalihan tersebut tidak relevan karena untuk sektor kesehatan sudah ada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) sedang untuk pendidikan sudah dialokasikan 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

BBM mempunyai dampak sistematik yang menyebabkan apabila harganya naik akan memicu inflasi. Akbar juga mengatakan selain menolak kenaikan harga BBM, aksi ini juga menuntut sistem reformasi sektor migas. Sektor migas dinilai banyak kecurangan yang dilakukan oleh para mafia migas. Pemerintahan Jokowi-JK dituntut untuk lebih spesifik memantau sistem migas di Indonesia.

Ahmad Yani, perwakilan HMI Universitas Proklamasi dalam orasinya mengatakan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya akan migas namun hanya dinikmati kalangan tertentu. Ahmad juga menuntut untuk mengembalikan kebijakan untuk kesejahteraan rakyat. Selain itu pembangunan dan upaya-upaya lain diharapkan berpihak kepada rakyat sehingga rakyat tidak tertindas.

Selain di Tugu Yogyakarta, aksi dilanjutkan dengan pawai sekitar kota Jogja. Aksi lain berupa mengirim somasi kepada pemerintah pusat dan tulisan yang disebar kepada masyarakat. Didalam tulisan tersebut berisi pernyataan sikap HMI Cabang Yogyakata yang ditujukan untuk Jokowi dan Jusuf Kalla. Pernyataan sikap tersebut antara lain menolak dengan tegas kenaikan harga BBM dan meminta pencabutan kembali kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi, meminta kepada Jokowi dan Jusuf Kalla untuk taat, tunduk, dan melaksanakan UUD 1945, mendesak untuk menasionalisasi kontrak migas yang merugikan negara, dan mendesak pemberantasan mafia sektor migas. (Siti N. Qoyimah)

SUARA PEMBACA: Jas Almamater berubah, Himmah, Parkiran Panas, dan Jumlah Mahasiswa Tidak Seimbang

Berubahnya Warna Jas Almamater, Himmah Butuh Pengeksisan Lagi

Masalah almamater yang sampai sekarang masih menimbulkan tanda tanya, kenapa warnanya diubah. Beritanya masih simpang-siur.

Saran untuk LPM Himmah UII, sejauh ini menurutku sudah baik dan terorganisir keberadaannya. Cuma butuh pengeksisan lagi, mahasiswa awam tahunya cuma lewat majalah saja. Kalau bisa, Himmah mengadakan seminar terutama soal isu booming atau sekedar seminar kepenulisan. Ada lomba cerpen, puisi atau fiksi dan diberi reward agar Himmah makin eksis.

(Ferry Rimbawan – Jurusan Farmasi 2013)

Parkiran Motor Panas dan Jumlah Motor Semakin Banyak, Mahasiswa yang Lulus Tidak Sebanding yang Diterima

Parkiran motor Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) sekarang panas banget karena nggak ada atapnya. Jumlah motornya pun semakin banyak karena mahasiswa yang diterima juga makin banyak. Seharusnya jumlah mahasiswa yang diterima dikurangi, karena jumlah mahasiswa yang lulus saja sudah nggak sebanding dengan jumlah mahasiswa yang masuk.

(Fikri Rais Taufik – Jurusan Akuntansi 2012)

Rumah (2)

0

Aku mau cari rumah,

kataku padamu

pada sepenggal masa

 

Tapi kamu tak menjawab

Cuma tersenyum

Lalu memudar

Bayangmu tersaput buram

 

Apa itu pertanda,

aku tak bisa punya rumah?

Apa itu artinya,

aku sudah jadi tuna wisma

sebelum merasa

apa itu rumah?

Apa arti rumah?

 

Begitu rupanya

Kamu sekarang pandai balas dendam.

(Adilia Tri Hidayati)

Transparansi Tender Jas Almamater

0

Himmah OnlineMinggu, 9 November 2014 dilaksanakan presentasi pengadaan jas almamater UII di Student Convention Center (SCC), Kaliurang. Acara ini merupakan agenda dari tim jas almamater yang bertujuan untuk transparansi perusahaan tender jas almamater. Dihadiri oleh Keluarga Mahasiswa (KM) UII yang telah diundang melalui undangan resmi dari Dewan Permusyawaratan Mahasiswa (DPM) UII. 

Presentasi ini diisi oleh 5 perusahaan yang telah lolos kualifikasi, yakni Bellini Center, Dekatama Centra, Yusuf and co, Twelve, serta Bintang Rayonindro. Yahya Agung Putra selaku Ketua Tim jas almamater, menerangkan bahwa syarat untuk lolos kualifikasi yakni perusahaan memiliki Surat Izin Usaha dan Perdagangan (SIUP) Menengah, 3 bulan terakhir perusahaan harus mempunyai proyek sehingga perusahaan bisa dipastikan masih berjalan atau tidak mati, serta mengirimkan company profil untuk penilaian. 

Yahya menuturkan sebenarnya ada 9 perusahaan untuk tender jas almamater namun yang lolos hanya 5 perusahaan saja. Presentasi pertama dari perusahaan Bellini Center yang berada di Jakarta. Perusahaan ini menawarkan untuk jas almamater UII dengan bahan caterinadrill atau poliester. Perusahaan ini mengaku pernah membuat jas untuk SMA Taruna di Magelang. Disusul presentasi dari perusahaan Dekatama Centra yang merupakan perusahaan garmen di Jakarta. Dalam presentasinya, perusahaan ini membawa sample jas almamater UII yang telah dibuat selama 2 hari dengan bahan taipandrill. 

Untuk bahan yang dibuat nantinya, akan mencocokkan dengan penawaran harga dari UII. Mendapat giliran ketiga, Yusuf and Co menawarkan produknya dengan membawa 2 sample, yakni contoh jas almamater tahun lalu serta untuk jas almamater tahun ini. Yusuf and Co mematok harga Rp 110.000,00/pcs dipasang kancing pada lengan, sedangkan tanpa kancing di lengan mematok harga Rp 100.000,00/pcs. 

Perusahaan ini menuturkan mampu memproduksi maksimal 500 pcs/hari. Berbeda dengan ketiga perusahaan sebelumnya, Twelve menuturkan pernah memproduksi jas almamater di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro (FISIP UNDIP) sejumlah 1500 pcs dengan waktu 1,5 bulan. Twelve menawarkan dengan harga Rp 89.000 sampai Rp 100.000,00 per pcs dengan memberi tambahan kantong di dalam jas serta memberi tempat untuk identitas pemilik. 

Presentasi terakhir ditutup oleh Bintang Rayinindo yang memiliki branding batik dan garmen. Perusahaan ini menawarkan dengan bahan amerincandrill karena menurutnya kualitas lebih bagus. Americandrill merupakan kain yang tidak akan susut, tidak seperti taipandrill. 

Dari Kelima perusahaan tersebut, mereka sama-sama memberikan tas untuk jas serta hanger. Yahya menjelaskan untuk pengumuman tender menurut matriks ialah Senin (10/11). Namun, sekarang kita mempunyai aturan baru yakni perusahaan harus mengirimkan sampel terlebih dahulu, setelah sample terkumpul, selama satu minggu, tim jas almamater dibantu rektor dan dosen meneliti bahan yang dibuat. Satu minggu ke depan pengumuman pemenang tender, setelah itu baru akan diadakan Momerandum Of Understanding (MOU) lalu pengerjaan 11.000 jas almamater yang ditargetkan selama 60 hari. 

Menurut keterangan Yahya, yang menentukan tender tetap tim jas almamater, karena jas almamater ini dikelola oleh tim jas. Hanya saja terkait pendanaan tim jas mendapat bantuan dari rektorat, karena pembayaran mahasiswa baru berada di rektorat semua. M. Habibullah, selaku Ketua Koperasi Mahasiswa (KOPMA) UII yang juga hadir dalam acara tersebut memberikan tanggapan positif atas usaha dari tim jas almamater mengadakan agenda transparansi ini. “Agenda yang diadakan hari ini sangat baik guna transparansi tim kerja jas almamater,” tutur Habib. (Novita Dwi K.)