Beranda blog Halaman 104

Menolak Lupa : Slamet Saroyo, Tragedi 4 November 1989

0

HIMMAH ONLINE, Condong Catur – Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) FE UII bekerjasama dengan Klinik Advokasi dan Hak Asasi Manusia (KAHAM) UII pada Sabtu, 8 Agustus 2014 menggelar diskusi publik bertajuk “Refleksi Pemuda dalam Memperjuangkan Kebenaran” hal ini ditujukan untuk mengenang tragedi pembunuhan, 25 Tahun Slamet Saroyo.

Diskusi yang dilaksanakan di Hall Tengah FE UII ini di hadiri oleh pembicara inti Erwin Muslimin (Ketua Umum Dewan Mahasiswa 1997-1999) dan pembicara tambahan diantaranya, Teguh M. Abdi dan Bambang Irawan selaku saksi sejarah yang juga merupakan kerabat seperjuangan dari Slamet Saroyo.

Dalam awal penyampaiannya, Bambang Irawan menceritakan kembali masa pada waktu ia dengan Slamet Saroyo dan kawan-kawan lain berjuang mengungkap kebenaran. “Dimulai ketika kami berada di Dewan Mahasiswa, kami merasakan sesuatu yang ganjal pada proses pembangunan sebuah gedung kampus bernama Antara (saat ini digunakan oleh Fakultas Ekonomi). Kemudian, kami mencoba mencari tahu atas data yang valid dan fakta yang akurat dan didapatkan bahwa memang terjadi sesuatu yang tidak benar dengan anggaran pembangunan tersebut.” tuturnya

Kemudian ia melanjutkan bahwa klimaks dari kegiatan pengungkapan tersebut ialah pihak kampus melakukan usaha pemblokadean kegiatan mahasiswa salah satunya dengan menjatuhkan skorsing kepada teman-teman aktivis, dan adanya ancaman-amcaman

Kemudian saat masuk pada inti pembahasan yang di bawakan oleh Erwin Muslimin, ia menjabarkan bahwa pada masa itu adalah masa kita berada di rezim pembangunan ekonomi, oleh karena itu, pemerintah hanya berfokus dan memperhatikan aspek-aspek ekonomi saja. Akibatnya, untuk memperlancar pembangunan ekonomi saat itu, banyak terjadi pemasungan terhadap gerakan-gerakan mahasiswa, sehingga intoleransi tak terhindarkan dan hak demokrasi pun hilang. Selain itu, usaha dari pemerintah yang mendelegasikan intel-intel mereka di kampus-kampus, tujuannya pun juga untuk meminimalisir dan mencegah aktivitas pergerakan mahasiswa.

Namun, ancaman-ancaman yang didapatkan Dewan Mahasiswa dari pihak intel kampus pun tidak membuat mereka menyerah. Slogan yang diusung saat itu “Anak jalanan yang baca buku” selalu membangkitkan semangat mereka. Slogan tersebut berarti bahwa mereka mahasiwa, tetapi mereka juga sebagai anak jalanan, yang ketika ditantang maka akan mereka hadapi.

Erwin mengatakan, Slamet Saroyo memiliki semangat dan rasa percaya yang tinggi saat menjabat sebagai ketua Tim Pencari Fakta bentukan Dewan Mahasiswa untuk mengungkap kasus keganjalan dan pembangunan kampus. Ia sangat yakin berdasarkan fakta, data dan ilmu, maka mereka berani mengungkapkan keganjilan dari masalah tersebut. Akhirnya, ketika mereka menyuarakan kebenarannya, mereka dicari, diancam hingga klimaksnya mereka dikeroyok dan menyebabkan Slamet Saroyo meninggal dunia pada 4 November 1989.

Diakhir pembicaraan, Erwin Muslimin menyampaikan nasihat-nasihat kepada perserta diskusi bahwa argumen dan berpikir kritis, tidak hanya sekedar kritis, tapi kritis yang di landasi dengan keyakinan berdasar ilmu, data, fakta. “Berprinsiplah amar ma’ruf nahi munkar, sehingga kita dalam berjuang akan memperjuangkan sesuatu yang mulia karena ingatlah peran mahasiswa, dimana mahasiswa adalah Agen Perubahan,” ucapnya. (Putri Werdina C. A.)

Hearing Perdana DPM U

0

HIMMAH ONLINE, Kampus Terpadu – Dewan Permusyawaratan Mahasiswa (DPM) UII periode 2014-2015 menyelenggarakan hearing perdana pada Sabtu, 8 November 2014 di kantor Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) UII. Awalnya hearing direncanakan pukul 15.00 WIB di depan Auditorium Kahar Muzakir, namun hearing baru dimulai pukul 20.00 WIB. M. Redho Teguh selaku Ketua DPM menjelaskan bahwa hearing memang direncanakan bertempat di depan Kahar Muzakir, namun karena cuaca buruk membuat pihak DPM memikirkan solusi terbaik, akankah hearing dilanjutkan atau ditunda. Selain itu Redho juga menambahkan bahwa kawan-kawan dari fakultas juga belum ada yang hadir, padahal sudah ada pemberitahuan. Redho melanjutkan bahwa akhirnya pihak DPM memutuskan untuk menunggu kawan-kawan Keluarga Mahasiswa (KM) UII menghadiri hearing perdana ini hingga waktu sholat isya. Berpindahnya hearing ini, Redho mengaku terdapat miss komunikasi serta tidak ada arahan langsung dari tempat sebelumnya (depan Kahar Muzakir), namun ia mengatakan sudah ada pemberitahuan by phone.

Redho menuturkan tujuan dari hearing ini ialah sebagai bahan evaluasi, untuk mengetahui sudah sejauh mana KM dengan DPM melangkah, serta memberi pengaruh pada DPM untuk bagaimana ke depannya.

Pelaporan pertama dilakukan oleh Komisi I yang dalam materi hearing tertulis, komisi I memiliki lingkup kerja berada di internal KM UII mengenai Kelembagaan, Kemahasiswaan dan Keislaman seperti yang tertera dalam Tata Tertib DPM UII. Ahmad Musadad selaku Ketua Komisi I menerangkan beberapa agenda yang telah dilaksanakan bersama timnya. Seperti melakukan beberapa verifikasi kegiatan, rapat koordinasi dengan DPM-F, silaturahmi KM melalui acara buka bersama pada bulan Ramadhan lalu, Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) kegiatan LEM UII, rapat kerja dengan LEM UII, serta beberapa inisiasi yang sudah dilakukan Komis I selama 4 bulan ini.

Ita Novita selaku perwakilan Komisi II Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Tekhnologi Industri (DPM FTI) menanyakan perihal intensitas rapat koordinasi (rakor) dengan DPM Fakultas. Musadad mengatakan bahwa, “Sebenarnya rapat koordinasi dilaksanakan minimal 3 bulan 2 kali. Tapi kalau tidak bisa, ketika non formal bukan saat rapat resmi kami menanyakan permasalahan yang ada di fakultas. Sedangkan untuk kemarin sudah terlaksana 2 kali rakor tapi dengan pembahasan yang sama, untuk pembahasan lain belum dilaksanakan rakor kembali.”

Musadad menerangkan bahwa agenda selanjutnya dari komisi I ialah kunjungan serta rapat koordinasi dengan Lembaga Khusus dan DPM Fakultas, serta pembuatan arsip kelembagaan. Untuk agenda terakhir itu, Ahmad Musadad menuturkan bahwa, “Akan dibentuk tim kerja untuk merangkum dan mengarsipkan kelembagaan, kami akan bekerja sama dengan Komisi IV, di SCC itu kan ada ruang tak terpakai, ruang tersebut bisa digunakan untuk tempat arsip yang sudah terkumpul.”

Setelah itu, pelaporan dilanjutkan oleh komisi II yang menjelaskan tentang kegiatan yang sudah dilaksanakan selama 4 bulan ini. Salah satu kegiatan yang dibahas mengenai rapat tim advokasi pada 7 Oktober 2014. Nabhani Yustisi, staff komisi II menerangkan mengenai tim advokasi SPP. “Tim advokasi SPP merupakan bentukan tahun lalu, bertujuan untuk mengetahui transparansi dana SPP kita. Dana yang dibayar dengan yang tercantum dalam buku akademik itu berbeda, karena di buku akademik hanya rencana anggarannya.”

Redho menambahkan bahwa ia sangat menyayangkan bila tim investigasi ini tidak dilanjutkan. Anggota tim tetap dari tahun lalu namun ada beberapa yang tidak aktif karena sudah menjadi legislatif fakultas dan hanya mereka yang tahu perkembangannya.

Ketua komisi III, A. Zakki Prasojo, menerangkan tentang plafonase dana kemahasiswaan KM UII angsuran 1 periodesasi (Juli, Agustus, September) 2014. Selain itu komisi III merencanakan akan dibentuk tim keuangan. Mendengar perihal tersebut, Edi Subagyo, Ketua LEM UII menanyakan bagaimana tim keuangan itu. Zaki menjelaskan bahwa tim keuangan merupakan tim audit keuangan di bawah komisi III. Ia menuturkan Lembar Pertanggung jawaban (LPJ) menumpuk banyak sekali. Redho mengatakan bahwa dengan penambahan sumber daya manusia (SDM) untuk tim pemeriksa LPJ bisa membantu LPJ yang banyak menumpuk dan hal ini juga bisa diikuti oleh rekan-rekan fakultas. Selain itu, Redho menjelaskan bahwa untuk LPJ DPM U dengan pelaksanaan hearing.

Muhammad Faris Fadjri, ketua komisi IV melaporkan bahwa telah membentuk tim kerja SCC yang terdiri dari mahasiswa UII. Pada materi hearing tercantum SDM tim kerja ini berasal dari rekrutmen terbuka mahasiswa UII angkatan 2012 dan 2013 pada bulan Juli. Komisi IV telah mengubah periode penggajian karyawan, dimana selama ini sistem perhitungan gaji karyawan SCC dari tanggal 21 sampai tanggal 20 bulan selanjutnya, sekarang penggajian karyawan diubah menjadi utuh per bulan dari tanggal 1-30 atau 31. Mengenai jas almamater, Faris menerangkan bahwa tim jas almamater periode ini menggarap untuk 2 angkatan sekaligus yakni 2014 dan 2015. Faris juga menjelaskan bahwa hari Minggu (9/11) diadakan presentasi dari perusahaan yang telah memenuhi kriteria dan verifikasi untuk menggarap tender jas almamater.

Di akhir hearing perdana ini, Arya Praditya selaku pemimpin umum Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Solid, memberi saran apabila menyelenggarakan suatu kegiatan baiknya DPM lebih tepat waktu. Acara ini kemudian ditutup dengan ucapan terima kasih dan permohonan maaf dari Redho dan rekan-rekan DPM lain kepada yang telah menghadiri acara tersebut. (Novita Dwi K.)

In House Training 2014

0

HIMMAH ONLINE, Kaliurang – Tanggal 30 Oktober sampai 2 November 2014 telah dilaksanakan In House Training (IHT) oleh Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) Himmah yang bertempat di wisma Alkindi, Kaliurang. IHT ini merupakan rangkaian open recruitment anggota baru Himmah yang tidak mempunyai ritme atau patokan waktu dalam penyelenggaraannya. Peserta yang mengikuti IHT ini ada 23 calon magang Himmah, namun pada hari kedua terdapat salah seorang peserta yang izin pulang, sehingga di hari berikutnya peserta berjumlah 22 anak.

Bayu Putra Pamungkas selaku koordinator PSDM menyatakan bahwa IHT ini bertujuan untuk memperkenalkan pada calon magang Himmah mengenai dunia jurnalistik. Rangkaian acara IHT terdiri dari penyampaian 11 topik materi yang diisi oleh alumni Himmah, pengurus Himmah, fotografer kompas, serta salah satu pengurus Aliansi Jurnalistik Indonesia (AJI). Selain penyampaian materi, ada pula simulasi buletin sebagai ajang praktik peserta setelah mendapatkan materi dasar jurnalistk. Simulasi buletin ini dilaksanakan dari tanggal 1 November pukul 19.00 WIB hingga tanggal 2 November pukul 14.00 WIB.

Puji Lestari, mahasiswa Ilmu Komunikasi 2014 yang merupakan salah satu peserta IHT mengatakan bahwa waktu simulasi buletin kurang panjang. Hegi Setyawan Ahmadi mahasiswa farmasi 2014 menambahkan, “Acara IHT ini seru, menjadi lebih tahu banyak hal tentang dunia pers seperti cara membuat majalah serta buletin dan mengetahui teknik wawancara. Lalu untuk simulasi buletin rasanya seperti dikejar-kejar deadline.

Berbeda dengan tahun lalu, penyelenggaraan IHT periode ini dilaksanakan setelah wawancara dan bersifat wajib. Sedangkan periode lalu IHT dilaksanakan setelah penyelenggaraan simulasi buletin magang dan tidak wajib. Bayu menjelaskan mewajibkan IHT karena IHT berisi materi dasar jurnalistik serta sebagai ajang perkenalan untuk sesama anggota baru, pengurus serta alumni. Selain waktu serta system pelaksanaannya, perbedaan IHT terletak pada topik materi yang disampaikan. IHT periode sekarang sudah tidak ada lagi materi ideologi politik.

“Tidak adanya materi ideologi politik pada IHT sekarang karena ideologi politik saya pikir belum saatnya disampaikan pada anggota baru, serta penyampaian materi ini tidak bisa disampaikan seperti kuliah namun bisa dengan diskusi rutin mengenai ideologi politik, “ tutur Bayu.

Sirojul Khafid selaku ketua panitia IHT menyatakan acara IHT berjalan dengan lancar akan tetapi memang ada beberapa kendala. “Kendala yang timbul hanya kurangnya koordinasi antar panitia dan run down yang molor dari waktu yang ditetapkan.” Siro menuturkan molornya acara mengakibatkan salah satu materi yakni iklan dan distribusi dipotong waktunya namun tidak mengurangi esensi materi yang disampaikan.

Acara IHT ditutup dengan evaluasi simulasi buletin para peserta. Bayu berkata, “Saya berharap IHT periode selanjutnya bisa lebih baik, bisa memperbaiki kekurangan yang ada di IHT pada periode saya ini.” (Novita Dwi K.)

Jagongan Media Rakyat 2014

0

HIMMAH ONLINE,Yogyakarta – Untuk ketiga kalinya Jangongan Media Rakyat (JMR) kembali diadakan. Kegiatan dua tahunan yang dilaksanakan pada 23-26 Oktober 2014 ini mengusung tema umum ‘Kebebasan berekspresi, kemandirian komunitas, ekonomi dan kesejahteraan, serta pengurangan resiko bencana‘. Pada JMR 2014 ini panitia mengagendakan dua seminar nasional, pemutaran 35 film, pertunjukan seni, pameran produk komunitas, pameran kuliner, lomba-lomba, serta 55 diskusi atau lokarya yang dibagi atas tiga kategori yaitu advokasi kebijakan, literasi media, dan inovasi teknologi.

Pada seminar JMR 2014 panitia menghadirkan dua orang dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Seminar yang bertemakan, “Perencanaan dan Pangawasan Pembangunan Berbasis Komunitas ” pada 23 Oktober 2014 menghadirkan Bambang Widjojanto (Wakil Ketua KPK). Sedangkan seminar yang diselenggarakan pada tanggal 25 Oktober mengambil tema “Masa Depan Desa Melalui Tata Kelola Informasi yang Terbuka dan Partisipatif” oleh Johan Budi (Deputi Pencengahan KPK). Untuk diskusi atau lokarya yang dilaksanakan selama JMR 2014 dimotori oleh komunitas-organisasi mitra penyelenggara, berbasis media dan komunitas-komunitas sosial.

Beberapa diskusi atau lokarya seperti Ekologi dan Seni (KOLONI) di motori oleh Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Jogja. Dalam lokarya ini Walhi Jogja menyampaikan sebuah gerakan lingkungan hidup yang mereka motori di daerah Jogja. Dalam diskusi Indonesia Heritage Inventory (IHI) dengan tema “Penting Mana Pelestarian Pusaka atau Cagar Budaya” narasumber mendiskusikan dengan peserta mengenai keadaan peninggalan masa lalu. Sebagai contoh peninggalan yang terdapat di Jogja, dimana peninggalan tersebut sebagian besar tidak dilindungi oleh hukum dan beberapa yang telah memiliki legalisasi sebagai peninggalan masa lalu statusnya dapat diubah demi kepentingan bisnis. Contohnya seperti yang terjadi dalam pembangunan YAP Square dimana lahan yang digunakan merupakan lahan dari RS Mata YAP beserta bangunan cagar budaya Balai Mardi Wuto yang berada di satu areal dan telah di legalisasi pemerintah sebagai sebuah peniggalan sejarah melalui Surat Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor 25 Tahun 2007, tapi diubah luas lahan dan merobohkan Balai Mardi Wuto demi pembangunan YAP Square. Serta tentang pengenalan dan sosialisasi website yang berfungsi sebagai bank data peninggalan masa lalu dan informasi kegiatan bernuansa kebudayaan.

Semua film yang di tanyangkan pada JMR 2014 memiliki nilai sosial yang tinggi. Contohnya film Oligarki Televisi. Film dokumenter yang di produksi oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jogja yang menyoroti monopoli frekuensi TV oleh 12 pemilik modal yang menguasai dua ribu TV lokal dan nasional yang hakikatnya merupakan milik publik serta sorotan kepada ketidaktegasan Kementerian Komunikasi dan Informasi (KOMINFO) dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Atau film Payung Hitam yang di sutradarai oleh Choirun Nisa, yang menceritakan perjuangan dua orang wanita yang menuntut keadilan atas ketidakadilan yang mereka alami. Neneng adalah petani dan ibu rumah tangga yang tanahnya di serobot paksa oleh TNI AU pada tahun 2007 dan Sumarsih wanita pensiunan pegawai DPR yang anaknya, Wawan (mahasiswa Universitas Atmajaya Jakarta) menjadi korban penembakan dalam Tragedi Semanggi I. Film “Yang Ketu7uh” produksi WatchDoc menarik banyak perhatian pengujung dan memenuhi ruangan pemutaran film. Film yang bercerita tentang kehidupan empat masyarakat kecil yang memiliki masalah mereka masing-masing, dimana keempat tokoh ini di bingkai dalam hiruk-pikuk proses Pemilu 2014 serta harapan yang mereka pilih. (Fauzi Farid M.)

Tradisi Melestarikan Warisan Leluhur

0

HIMMAH ONLINE, Bantul – Minggu, 26 Oktober 2014 Desa Tamanan untuk pertama kalinya menyelenggarakan kirab budaya dan pengukuhan bergodo (prajurit) dalam rangka membangkitkan kembali warisan leluhur. Menurut Sriyanto selaku Kepala Desa Tamanan mengatakan, “Beberapa tempat di Desa Tamanan menjadi sebuah peninggalan sejarah Hamengkubowono II, oleh karena itu kegiatan ini diawali dengan niat selain untuk melestarikan warisan leluhur namun juga mengenang para pendahulu.” jelasnya.

Kegiatan yang terselenggara atas inisiatif Kepala Desa, bersama teman-teman pamong, dan para perangkat desa ini bertujuan agar Desa Tamanan memiliki suatu hal yang berbeda dari yang lain.“Kami ingin dari segi kegiatan dan upacara budaya memiliki keunikan dibanding dengan budaya di desa lain, oleh karena itu kami memodifikasi budaya leluhur dengan budaya lokal yang ada saat ini.” ungkap Sriyanto.

Dengan tujuan seperti yang diungkapkan diatas, kegiatan ini di rangkai dalam 3 hari pelaksanaan, “Di tanggal 24 Oktober acara dibuka dengan kegiatan tahlilan dan doa bersama disaat malam satu suro. Kemudian, upacara kirab bergodo serta gunungan pada hari kedua. Setelah itu, diakhiri dengan pentas seni hiburan dan budaya pada malam 1 November.” jelasnya.

Acara dikoordinir oleh 28 anggota panitia dari Lembaga Pemberdaya Masyarakat Desa (LPMD) dan diikuti oleh 9 Padukuhan yang terdiri dari 55 Rukun Tetangga (RT) yang ada di Desa Tamanan. Dalam hal ini konsep yang diusung penyelenggara menurut Sriyanto, “Menghidupkan kembali budaya yang ada di tanah Jawa ini, agar kita sebagai orang jawa tidak lupa dengan Jawa-nya.” Tuturnya.

Diakhir wawancara, ia mengharapkan bahwa, “Kegiatan ini akan dirutinkan bersama dengan hari jadi Desa Tamanan. Selama ini Desa Tamanan masih belum memiliki hari jadi. Oleh karena itu, acara kirab budaya tersebut akan menjadi salah satu peringatan HUT Desa Tamanan.” ungkapnya. (Putri Werdina C. A.)

Editorial: MEA 2015, Pertanian Indonesia belum Siap

Ditengah maraknya perdebatan mengenai kabinet maupun UU pilkada, masih ada hal lain yang perlu diperhatikan yaitu Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. MEA 2015 merupakan sebuah kawasan ekonomi terintegrasi yang terdiri dari negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia. Negara-negara di kawasan Asia Tenggara ini akan dijadikan sebuah wilayah kesatuan pasar dengan 12 sektor usaha yang akan dibuka bebas baik barang maupun jasa. Meski didepan mata, namun masih banyak sektor yang belum siap menghadapi MEA 2015 salah satunya adalah sektor pertanian.

Menurut Deputi Bidang Statistik Produksi BPS Adi Lumaksono dalam Sosialisasi Hasil Sensus Pertanian 2013, Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian terhadap PDB nasional menurun dari 15,19% ditahun 2003 menjadi 14,43% ditahun 2013. Selain itu Badan Pusat Statistik mencatat nilai impor produk pertanian melonjak 346% selama periode 2003-2013 dengan jumlah penduduk pada tahun 2003 sekitar 214 juta orang dan tahun 2013 sekitar 252 juta orang. Hal ini menjadikan sektor pertanian membutuhkan perhatian khusus dalam menghadapi MEA 2015 mengingat impor produk pertanian semakin meningkat sedang PDB menurun. Apabila tidak, entahlah nantinya bagaimana nasib pertanian di negara ini terutama nasib Rumah Tangga Petani (RTP) yang hanya Rp 1,03 juta per bulan.

Tanpa melihat hal-hal diatas, secara langsung dapat dilihat beralihnya lahan petanian menjadi pabrik maupun perumahan. Mudah ditemukannya hasil pertanian mulai dari beras hingga buah-buahan impor yang bahkan lebih diminati masyarakat karena kualitasnya yang lebih bagus. Selain itu gagal panen entah karena hama, pengairan, maupun bibit yang kurang unggul masih terus berlanjut di beberapa daerah di Jawa Barat seperti di Indramayu yang dikarenakan kemarau yang berkepanjangan.

Indonesia adalah negara agraris dimana 34.4% tenaga kerja diserap sektor pertanian. Namum sayangnya 80% penduduk miskin Indonesia bergantung pada lahan pertanian. Di MEA kedepan mereka jelas terancam mengingat perdagangan lebih bebas antar negara-negara ASEAN. MEA mungkin memang menguntungkan untuk beberapa sektor seperti sektor pariwisata, namun untuk sektor pertanian saat ini masih berjalan tertatih. Pemerintah terkesan tak begitu memperhatikan sektor yang satu ini padahal sektor pertanian memiliki potensi pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Hal ini dibuktikan dengan ekspor produk pertanian dalam 10 tahun terakhir dari 3,69 miliar dolar AS pada tahun 2003 menjadi 4,21 miliar dolar AS pada tahun 2013. Selain itu bukan rahasia umum Indonesia memiliki tanah yang subur beriklim tropis yang cocok untuk bercocok tanam.

Masalah yang dialami sektor pertanian ini bukan hanya masalah kuantitas produk namum juga kualitas produk pertanian. Target kuantitas produksi tak seharusnya menjadi fokus utama pengembangan pertanian namum juga kualitas produknya sehingga dapat bersaing dengan negara-negara tetangga. Bibit unggul sangat dibutuhkan. Perairan, pupuk, dan pengendalian hama sama pentingnya dengan bibit. Tak hanya kegiatan tanam-panen saja yang perlu diperhatikan, namum juga kegiatan pasca panen seperti harga jual hasil panen.

MEA benar-benar didepan mata, hanya menghitung bulan. Pemerintah harus mengambil langkah untuk memajukan pertanian Indonesia sehingga kesejahteraan petani tidak semakin terpuruk di MEA nantinya. Transisi kepemimpinan yang sedang dialami Indonesia seharusnya tidak mengurangi fokus pemerintah menghadapi MEA kedepan. Pejabat baru harus segera bertindak. Semua bisa saja terlambat yang akan semakin susah diatasi. Bolehlah berharap dan berspekulasi MEA akan mendatangkan keuntungan besar, namun jangan juga menutup mata untuk sektor pertanian. Jangan juga hanya berdiam dan menunggu.

Kamu Adalah Fragmen Itu

0

Kamu lihat sekeliling

Ditelisik, disentuh, dan dicermati

Didengar, diraba, dan diteliti

 

Kamu lihat rakyat sering dizalimi

Dijauhkan dari keadilan,

entah duniawi, entah hakiki

Kamu rasakan sesuatu dalam dirimu hancur

Jadi fragmen

Berkeping-keping

 

Kamu lihat kebenaran terbelenggu

Diselimuti muslihat biadab,

menempel bak parasit, susah dilepas

Kamu rasakan sesuatu dalam dirimu hancur

Jadi fragmen

Berkeping-keping

 

Kamu lihat jurnalisme tergugu

Wartawannya dibungkam,

lalu memberitakan bualan

yang omong-omong, omong kosong sekali

Kamu rasakan sesuatu dalam dirimu hancur

Jadi fragmen

Berkeping-keping

 

Kamu rusak

Kamu hancur

Kamu berkeping-keping,

kamu fragmen itu

 

Kamu tahu fragmen itu kamu

Kamu tahu fragmen yang hancur itu kamu

Kamu tahu fragmen yang hancur jadi kepingan itu kamu

Karena kamu adalah fragmen itu

Kamu,

 

adalah fragmen itu.

(Adilia Tri Hidayati)

Seminar “Di Balik Layar Televisi” & Pelatihan Presenter Berita Televisi

0

HIMMAH ONLINE, Kampus Terpadu – Kamis, 16 Oktober 2014 diselenggarakan seminar “ Di Balik Layar Televisi” & Pelatihan Presenter Berita Televisi. Acara ini disambut dengan antusias oleh mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) dan umum, terlihat dari animo peserta ada yang datang jauh – jauh dari Malang, Temanggung, dan Magelang. Acara tersebut diselenggarakan oleh PT. Indosiar Visual Mandiri yang bekerja sama dengan Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia. Seminar ini merupakan rangkaian tour dari ajang pencarian bibit – bibit unggul di dunia broadcasting bertajuk Akademi Indosiar. Selain Yogyakarta acara ini juga diselenggaran di kota – kota besar lainnya seperti Cirebon, Bandar Lampung, dan Bandung.

Festival Layang-layang Kulon Progo

0

HIMMAH ONLINE, Kulon Progo – Pada tanggal 11 Oktober 2014 festival layang-layang digelar di Kulon Progo dengan mengusung konsep seni budaya layang-layang Indonesia. Festival ini bertujuan untuk melestarikan seni budaya dan mengangkat promosi pariwisata di daerah masing-masing agar memiliki dampak ekonomi kreatif di daerah wisata-wisata di Yogyakarta dan Kulon Progo. Festival yang berlangsung selama 2 hari ini telah didukung oleh pemerintah Yogyakarta melalui Dinas Pariwisata, serta didukung

Balai Kota Rumah Kita

“Lebih baik disini, rumah kita sendiri” penggalan lagu yang dinyanyikan oleh Hariyadi, Walikota Yogyakarta dalam acara orkes Trawa di Balaikota Yogyakarta,  Selasa (14/10).