Beranda blog Halaman 126

Neraca Peradilan

Sudah sepekan lebih sejak penangkapan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar di rumah dinasnya, di Jl. Widya Chandra, Jakarta Selatan pada Rabu (2/10) lalu oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Publik Indonesia, bahkan dunia tercengang dengan skandal korupsi yang menjerat Akil Mochtar. Kasus ini pun menjadi wajah di pemberitaan media nasional maupun internasional. Ironis. Bagaimana bisa seorang pemimpin lembaga peradilan tertinggi negara bisa terjerat kasus suap sengketa Pilkada Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah serta Lebak, Banten.

Jika tidak serakah, kasus suap yang menelan hingga 3 milyar rupiah ini tidak akan terjadi. Banyak kecaman yang datang dari berbagai kalangan masyarakat disamping mereka juga mengakui kecekatan dan keberanian KPK dalam menguak kasus ini.

Terkuaknya skandal suap ini seolah melunturkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga hukum di Indonesia. Jika kepala lembaga hukum tertinggi saja bisa terjerat kasus kriminal, bagaimana dengan lembaga hukum di bawahnya? Untuk itulah seharusnya pengawasan terhadap lapisan peradilan di Indonesia harus lebih diperketat lagi.

Menolak tindakan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) menjadi harga mati. Hukum juga harus membutakan diri dari penyimpangan keadilan. Sudah semestinya hukum peradilan mampu merefleksikan neraca yang kedua sisinya kosong sehingga seimbang. Meyakini, berpikir, dan melaksanakan makna neraca ini setidaknya menjadi pondasi awal untuk membangun hukum negeri yang lebih adil. Sebab, melihat ambruknya benteng MK sekarang, alangkah pantasnya lembaga peradilan memperbaiki martabatnya terlebih dahulu sebelum menjalankan fungsinya dalam mengadili masyarakat.

Warga Antusias Sambut HUT Yogya

0
Masyarakat antusias merayakan HUT Yogyakarta ke-257 pada Senin pekan ini. Pada perayaan tahun ini, masyarakat disuguhi pawai budaya yang dimeriahkan oleh arak-arakan dari para prajurit Keraton Yogyakarta. (Foto oleh : Muh. Rahmat Akbar)

Masyarakat antusias merayakan HUT Yogyakarta ke-257 pada Senin pekan ini. Pada perayaan tahun ini, masyarakat disuguhi pawai budaya yang dimeriahkan oleh arak-arakan dari para prajurit Keraton Yogyakarta. (Foto oleh : Muh. Rahmat Akbar)

Oleh: Galuh Ayu P.

Yogyakarta, HIMMAH ONLINE

Dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Yogyakarta yang ke-257, Pemerintah Kota Yogyakarta menyelenggarakan beberapa rangkaian acara. Salah satunya adalah Pawai Budaya dan Pisowanan Agung pada hari Senin (7/10). Pawai Budaya sendiri dimeriahkan oleh arak-arakan dari para prajurit Keraton Yogyakarta, serta penampilan yang unik nan kreatif beberapa warga dari perwakilan 14 kecamatan dan 44 Kelurahan yang ada di Yogyakarta. Di penghujung acara, Pisowanan Agung disampaikan oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubowono X. Dalam salah satu isi pidotanya, ia berharap ke depannya kota Yogyakarta akan menjadi lebih baik.

Anisa Hertati selaku Koordinator LO (Liaison Officerred) punya harapan tersendiri untuk warga. “Tema tahun ini adalah pesta rakyat Yogya. Jadi kami pengin-nya setiap elemen masyarakat ikut berpartisipasi,” ungkapnya. Keinginan itu sepertinya berhasil. Antusiasme warga Yogyakarta serta wisatawan asing terlihat dari penuhnya area sekitar Taman Parkir Ngabean hingga Alun-alun Utara oleh mereka yang ingin menyaksikan acara tersebut.

Pameran Nasirun Lekat dengan Religius

0

Oleh: Yuyun Novia S.

Yogyakarta, HIMMAH ONLINE

Pelukis kenamaan Nasirun menggelar pameran lukisan dalam rangka memperingati ulang tahunnya yang ke-50. Bertempat di Bentara Budaya Yogyakarta, Kotabaru, Yogyakarta, pameran ini berlangsung mulai dari tanggal 1-13 September 2013. Tema pameran yang diusung adalah “Rubuh-Rubuh Gedang”, dalam arti bentuk gambaran rasa syukur kita sebagai manusia kepada Sang Pencipta.

“Itu kan gambaran orang bersujud, mensyukuri nikmat yang diberikan Allah. Apa yang kita dapatkan digambarkan dengan buah, kita persembahkan kepada sekeliling. Kesadaran berbagi,” tutur Nasirun saat diwawancarai pada (03/10) kemarin.

Pameran yang memadukan antara nuansa islami dengan tradisional ini melibatkan 50 orang perupa yang melukis di atas kanvas sepanjang 50 meter. Selain itu, sembilan bedug dipamerkan agar khalayak tetap mengingat keberadaan dan jasa Walisongo dalam penyebaran agama Islam di Indonesia.

Kesederhanaan selalu menjadi gaya lelaki asal Bantul ini. Hal itu terbukti di pameran kali ini. Meskipun ulang tahunnya dirayakan secara besar-besaran, namun tetap tampak nuansa kesederhanaannya.

“Nasirun merupakan perupa papan atas Jogja yang sederhana dan suka beramal. Ia juga religius,” ujar Wuryani selaku Sekretaris Bentara Budaya Yogyakarta.

Reportase bersama: Metri Niken L.

 

FMIPA Memperingati Hari Batik Nasional

Oleh: M. Nasihun Ulwan

Kampus Terpadu, HIMMAH ONLINE

Lembaga Eksekutif Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (LEM FMIPA) menggelar acara peringatan Hari Batik Nasional dengan membuka stand batik di Bapon (Bawah Pohon-red). Acara ini diselenggarakan di Bapon mengingat sebentar lagi tempat itu akan digusur.

Ditemui di kantor LEM FMIPA, Jatmika Rahmawati Yuwana selaku Koordinator Departemen PSDM menjelaskan bahwa acara yang mengusung tema “Ukir Cintamu pada Batik Indonesia” ini dilakukan guna mengenang sekaligus memperingati Hari Batik Nasional dimana pada 2 September kemarin, mahasiswa FMIPA dianjurkan untuk mengenakan batik.

Acara ini dihiasi dengan pameran batik berbagai daerah, mahasiswa membatik, fashion show batik, games, serta kajian. Para pengunjung stand batik juga mendapat bingkisan sticker.

Fikri Pratama, salah seorang pengunjung stand batik mengaku kegiatan ini bermanfaat bagi mahasiswa karena selain dikenalkan dengan motif-motif batik daerah lain, pengunjung juga disediakan peralatan untuk membatik sehingga mahasiswa dapat merasakan kesulitan dari membatik itu sendiri.

Seperti diketahui, pada tanggal 2 Oktober 2009 UNESCO menetapkan batik sebagai warisan budaya manusia untuk dunia dari Indonesia.

Liberisasi Mengancam Media Televisi

0

Oleh : Maya Indah C. Putri

Yogyakarta, HIMMAH ONLINE

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia menggelar acara Festival Media dalam rangka ulang tahun AJI ke-19, bertempat di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri Universitas Gadjah Mada (PKKH UGM). Kegiatan yang diselenggarakan sejak tanggal 28 hingga 29 September 2013 salah satunya diisi dengan talkshow bertajuk “Bedah Berita TV” dengan dibumbui acara launching buku “Penumpang Gelap Demokrasi” pada (28/09). Hadirnya tiga pembicara turut berdialektika, mengkaji akan transisi struktur kekuasaan media dari dominasi politik menjadi dominasi ekonomi. Mereka adalah R. Kristiawan sebagai penulis buku “Penumpang Gelap Demokrasi”, Nurjaman Mochtar selaku Pemimpin Redaksi stasiun televisi SCTV dan Indosiar, dan Rahmat Arifin, wakil dari Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (KPID) dengan dipandu moderator Sunudyantoro.

R. Kristiawan menyinggung tentang kepemilikan media di Indonesia yang hanya dikuasai oleh sejumlah golongan konglomerat. Dalam bukunya, ia menyebutkan salah satu contoh pemilik media Indonesia, yaitu Dahlan Iskan dan Azrul Ananda dengan Jawa Pos Group-nya. Mereka telah memiliki 20 saluran stasiun televisi, 88 media cetak, dan 2 media online. Ia menyingkap, fenomena kepemilikan media seperti ini tidak sehat karena dikhawatirkan akan memengaruhi isi berita yang hanya untuk kepentingan politik.

Rahmat Arifin sendiri berbicara mengenai acara televisi yang banyak melanggar kode etik penyiaran. Ia memberi salah satu contoh kasus penayangan Konvensi Partai Demokrat oleh TVRI 15 september 2013 lalu. Kasus ini berdampak pada terancam dicopotnya 4 direktur TVRI dari jabatannya. Ia mensinyalir, pemilik kekuasaan turut campur tangan dalam masalah ini. Arifin menyebutnya sebagai perintah dari Cikeas.

Tidak kalah menariknya adalah terkait rating televisi oleh ACNielsen yang disampaikan oleh Nurjaman. Dimana diketahui bahwa ACNielsen merupakan satu-satunya perusahaan Amerika yang menyediakan jasa rating di Indonesia. Ia mengatakan, rating suatu acara televisi yang tinggi akan berpengaruh pula terhadap tingginya pemasang iklan. Hal ini menjadi rawan ketika terjadi penyimpangan di kalangan konglomerat. Lalu, siapa yang dirugikan atas fenomena ini? Menurutnya, publik dan kru media lah yang menjadi korban para konglomerat ini.

 

 

 

DPM FMIPA Menyelenggarakan Hearing Perdana

0

Oleh: Desi Rahmawaty

Kampus Terpadu, Himmah Online
Kamis, 26 September 2013 pukul 17.30 WIB bertempat di Kantor Lembaga FMIPA, Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) periode 2013-2014 untuk pertama kalinya menyelenggarakan Hearing. Kegiatan ini dihadiri oleh mahasiswa MIPA, baik dari Himpunan Mahasiswa Jurusan, UKM maupun mahasiswa umum.

Fachri Cahyana selaku Ketua DPM F menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mewujudkan komunikasi antara mahasiswa dan lembaga mengenai kebijakan yang di buat DPM FMIPA. Hearing ini di rencanakan akan di selengggarakan 3-4 bulan sekali.
Rita Mustika Sari selaku Sekretaris Jendral (Sekjen) DPM FMIPA menambahkan, hearing ini sekaligus menjadi ajang DPM FMIPA untuk presentasi tugas dan fungsi DPM FMIPA tiap komisi. “Ini juga merupakan ajang penyampaian kebijakan terbaru serta isu-isu dalam rangka kemajuan FMIPA,” jelasnya.

Laporan Keuangan SCC Bulan Agustus 2013

0

laporan SCC agustus

Sumber: Dewan Permusyawaratan Mahasiswa Universitas Islam Indonesia

Laporan Keuangan SCC Bulan Juli 2013

0

laporan SCC juli

Sumber: Dewan Permusyawaratan Mahasiswa Universitas Islam Indonesia