Beranda blog Halaman 125

Keringat Berbuah Ketidakpastian

0

Mbah Harjo sedang menyayat bilah bambu. Ia adalah satu dari pengrajin mainan tradisional di Dusun Pandes, Desa Panggungharjo, Kabupaten Bantul. Desa itu dikenal dengan “Desa Dolanan”. Sejak kecil para pengrajin di desa Pandes sudah memproduksi berbagai jenis mainan. Seperti kitiran, otok-otok, kandang dan wayang-wayangan. Mereka membuat semua mainan itu berbekal ilmu yang diberikan oleh orang tua. Hingga saat ini kegiatan memproduksi mainan tradisinal menjadi sumber penghasilan mereka.

Para pengrajin mainan harus melakukan proses dari awal produksi hingga siap jual dengan hanya bermodalkan piranti-piranti uzur peninggalan orang tua mereka. Bambu seharga tiga ribu rupiah mereka olah menjadi bahan dasar rangka mainan. Butir nasi digunakan sebagai lem untuk menempelkan kertas ke rangka payung-payungan. Mereka merekatkan satu demi satu ujung-ujung rangka dengan kertas yang telah diberi pewarna.

Setelah mainan usai dibuat bukan berarti rupiah akan langsung di tangan. Lantaran mereka harus menanti tengkulak yang akan membeli mainan. Akan tetapi para tengkulak pun tidak tentu datangnya. Biasanya dalam satu minggu tengkulak hanya datang sesekali saja. Meskipun begitu, mereka tetap bertahan dengan pekerjaannya. “Sudah tidak ada kerjaan lain mas, pekerjaan saya ya ini,“ tutur mbah Harjo salah satu pengrajin mainan.

Narasi oleh: Revangga Twin T.

langkah akhirLangkah Akhir | Aldino Friga P. S.

siap jualSiap Jual | Aldino Friga P. S.

tahap awalTahap Awal | Robithu Hukama

terpajang rapiTerpajang Rapi | Aldino Friga P. S.

 

Jam Penopang Kehidupan

0

Hari sudah malam. Udara Jalan Kaliurang KM 5,8 makin dingin. Di pinggir jalan, berdiri sebuah kios dengan penerangan yang cukup. Ukuran kios itu sekitar 2 x 1,5 meter. Pada dinding-dinding kios tertempel tulisan “Tukang Service Jam”.

Pemilik kios ini adalah Suratno. Pria berusia 36 tahun ini berprofesi sebagai tukang reparasi jam sejak tahun 1999. Hidupnya tak banyak berubah sejak ia memulai profesi ini. Meski begitu, Suratno mampu menghidupi istri dan satu anaknya yang berusia 3 tahun.

Suratno mematok tarif untuk sekali reparasi sebesar 10-25 ribu, itu pun tergantung kerumitan dan spare part yang mesti diganti. Rasanya tarif sebesar itu menjadi tidak adil jika melihat resiko yang harus ditanggung. Saat ada pelanggan yang tidak mengambil jam yang telah direparasi, Suratno lah yang harus menanggung kerugian. “Jika hanya mesin, bisa saya ambil lagi. Namun ,jika ganti batu (baterai-red) yah mau gimana lagi, batu yang saya sudah pasang kan sudah tidak bisa dicopot lagi,” tutur Suratno.

Belum lagi maraknya jam tangan impor dari China, membuat resah Suratno dan teman-teman se profesi. Pasalnya, hal itu akan mempengaruhi pendapatannya. Dengan harga jam tangan China yang cenderung murah, konsumen akan lebih suka membeli jam tangan baru daripada mereparasikan jam tangan mereka yang rusak. Meski begitu, Suratno tetap tidak akan meninggalkan profesinya ini. Baginya, menjadi tukang reparasi jam sudah menjadi jalan hidup.

Narasi oleh: Revangga Twin T.

Kios SederhanaPenghidupan Suratno | Revangga Twin T.

Mengecek PutaranMengecek Putaran | Aldino Friga P. S.

Service Tidak DiambilService Tidak Diambil | Revangga Twin T.

Spare PartSpare Part | Aldino Friga P. S.

SuratnoSuratno | Revangga Twin T.

 

Jejak Air Para Penambang Pasir

0

Di tengah sungai, kerumunan orang berkumpul membawa ban. Tinggi air sungai saat itu mencapai pinggang, namun terkesan biasa saja bagi mereka. Arus sungai yang deras dan sinar mentari yang terik, tak dihiraukan. Sesekali terdengar senda gurau. Lalu mereka tiba-tiba merunduk, mengambil sesuatu dari dasar sungai, dan menaruhnya di atas ban.
Mereka adalah sekelompok penambang pasir di Kali Progo, Dusun Bendo, Kelurahan Trimurti, Kecamatan Srandaan, Bantul. Pasir di Kali Progo merupakan material dari aliran lahar dingin Gunung Merapi. Kualitasnya bagus. Tak heran jika pasir hasil tambang Kali Progo terkenal hingga keluar DIY. Setiap harinya, dua orang penambang mampu menghasilkan 1 rit pasir, setara dengan 1 bak truk. Mereka dapat membawa pulang uang hingga ratusan ribu rupiah, tergantung jenis pasirnya. Untuk kualitas super dihargai Rp 180.000, sementara untuk kualitas biasa dihargai Rp 120.000.
Menambang pasir bukanlah tanpa risiko. Hujan deras di sekitar Merapi bisa saja mengakibatkan banjir besar yang mengancam nyawa penambang. Pasir-pasir yang ditumpuk di pinggir sungai pun bisa hilang terseret arus. Jika sudah begini, mereka akan gigit jari karena hasil jerih payahnya hilang sia-sia.
Menambang pun tak bisa dilakukan tiap hari. Mereka harus berenang ke tengah sungai lebih dulu untuk mengecek kedalaman pasir. Jika dirasa cukup, mereka akan lanjut menambang. Jika tidak, mereka akan bersabar hingga keesokan harinya. Jika tetap dipaksa menambang, akan lebih banyak batu kali yang didapatkan daripada pasir.
Kali Progo sudah menjadi teman hidup para penambang. Tempat untuk mencari penghidupan, juga hiburan di tengah derasnya arus sungai ini.

Foto dan narasi oleh: Aldino Friga P.S.

1. Pekerja TambangPekerja Tambang

2. Mengais RejekiMengais Rezeki

3. Teman KerjaTeman Kerja

4. 1 ritSatu Rit

Hasil PerjuanganHasil Perjuangan

Bertahan Sebagai Budaya, Olahraga dan Bagian dari Masyarakat

0

Beberapa orang terlihat duduk bersila, mereka duduk sejajar. Dengan seksama, mereka mengambil busur yang ada di depan mereka. Dengan konsentrasi penuh, mereka mulai menarik busur. Untuk menarik busur, dibutuhkan tenaga yang sangat kuat. Posisi tangan harus sejajar dengan mulut. Dengan konsentrasi penuh, satu per satu dari mereka melepas anak panahnya. Itulah jemparingan, sebuah olahraga tradisonal memanah yang mengharuskan si pemanah duduk bersila untuk memanah sasaran yang ada di depannya. Tak hanya itu, dalam jemparingan pun si pemanah harus mengenakan pakaian tradisional jawa. Walaupun olahraga ini tergolong tradisional, olahraga yang mengandung nilai budaya ini masih terus hidup di antara masyarakat khususnya di Jogja.
Paseduluran Langenastro, begitulah mereka menamakan diri. Paseduluran ini merupakan perkumpulan orang-orang yang menekuni jemparingan, tak kenal tua atapun muda. Begitulah nama paseduluran mereka rasa sebagai istilah yang cocok untuk nama perkumpulan. Mereka merasa nama paseduluran lebih erat maknanya daripada paguyuban atau yang lainnya. Paseduluran Langenastro selalu mengadakan latihan setiap sore. Beberapa dari mereka berkata bahwa jemparingan adalah hiburan. Jadi, jemparingan bukan hanya melestarikan budaya, melainkan juga dijadikan sebagai hiburan. Beberapa orang tua di sana menyebut hal ini dengan peribahasa “rabuk ing nusuwo” yang artinya adalah jemparingan merupakan pupuk bagi mereka di masa tuanya. Tak hanya itu, beberapa dari mereka juga memberikan nama pada busur dan anak panah mereka. Hal tersebut bukan sebagai syarat dalam jemparingan, namun lebih sebagai sugesti bagi mereka untuk lebih menyukai jemparingan itu sendiri.
Tak terlindas waktu, begitulah jemparingan dewasa ini. Walaupun tergolong tradisional, jemparingan telah menjadi bagian dari masyarakat Jogja. Bukan hanya sebagai budaya ataupun olahraga, jemparingan sudah menjadi hiburan bagi mereka yang menekuninya. Bahkan saat inipun sudah banyak diadakan lomba jemparingan. Begitulah, jemparingan bertahan sebagai budaya ataupun sebagai olah raga.

Foto dan narasi oleh: Robithu Hukama

Jemparingan

bersaing

Bersaing

mengambil anak panah

Mengambil Anak Panah

perangkat jemparingan

Perangkat Jemparingan

sugesti

Sugesti

Sampah, Awal Rezeki Mereka

0

Menutup hidung, itu yang pertama kali saya lakukan begitu tiba di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan, Bantul. Di depan, tampak gunungan sampah menyambut. TPA Piyungan merupakan tempat penampungan sampah terakhir di Jogjakarta. Setiap hari, tak kurang dari 60 truk bermuatan 4 ton sampah datang dari seluruh penjuru kota.

Luas TPA tersebut sekitar 10 hektar, terbagi menjadi tiga zona. Zona pertama luasnya 3 hektar, zona kedua seluas 4 hektar, dan zona ketiga memiliki luas 3 hektar. Di sekitar tumpukan sampah, terlihat banyak sapi. Sapi-sapi itu memakan sisa-sisa makanan di antara tumpukan sampah untuk bertahan hidup.

Selain sapi, terlihat pula banyak pemulung. Kurang lebih, 600 orang pemulung mengais rezeki di TPA Piyungan setiap harinya. Mereka tidak hanya berasal dari Jogjakarta, tetapi  juga dari Sragen, Wonosari, dan daerah lainnya. Mereka memulung di TPA Piyungan karena sampah di sana cukup melimpah dan lebih mudah dipilah.

Terik matahari dan bau tak sedap sudah jadi teman setia. Pun kebersihan ikut dikesampingkan. Bagi pemulung-pemulung itu, yang terpenting adalah bisa membeli sesuap nasi untuk perut mereka yang minta diisi makanan.

Tidak semua sampah dipungut para pemulung. Semua tergantung dari pesanan juragan. Sebelum disetor, sampah yang telah terkumpul dipilah terlebih dulu. Sampah dikelompokkan menurut jenisnya, kemudian dikemas dalam bundelan-bundelan. Satu bundelan beratnya sekitar 15 kg, dengan harga  Rp700,- untuk 1 kg plastik dan Rp400,- untuk 1 kg atom.

Setelah menyetor, uangnya tidak langsung diberikan juragan kepada pemulung. Mereka hanya mendapatkan secarik kertas yang berisi catatan hasil penjualan. Catatan-catatan itu diakumulasikan tiap sebulan satu kali.

Kini, TPA Piyungan menghadapi ancaman kelebihan muatan. Tumpukan sampah semakin menjulang. Sebabnya, tidak ada pemusnahan sampah yang sudah tidak punya nilai ekonomi.   Tentunya, ini jadi persoalan yang butuh jawaban segera.

Narasi oleh: Revangga Twin T.

Sampah dari JogjaSampah dari Jogya | Revangga Twin T.

Baru Bagi MerekaBaru Bagi Mereka | Robithu Hukama

Tak Menyurutkan NyaliTak Menyurutkan Nyali | Robithu Hukama

Sampah PilihanSampah Pilihan | Revangga Twin T.

Hasil Satu MingguHasil Satu Minggu | Revangga Twin T.

Demi Membangun Toko Buku, UII Tebang Pohon

Sejumlah pekerja sedang mengangkat pohon hasil tebangan di area UII yang beberapa bulan lalu mendapatkan gelar green kampus,  Jumat (11/10). Area bekas penebangan pohon ini akan dibangun toko buku UII. (Foto oleh: Asyharrudin Wahyu Y.)

Sejumlah pekerja sedang mengangkat pohon hasil tebangan di area UII yang beberapa bulan lalu mendapatkan gelar green kampus, Jumat (11/10). Area bekas penebangan pohon ini akan dibangun toko buku UII. (Foto oleh: Asyharrudin Wahyu Y.)

Oleh: Asyharuddin Wahyu Y.

Kampus Terpadu, HIMMAH ONLINE

Penebangan pohon yang terjadi di area boulevard Universitas Islam Indonesia ternyata bukan tanpa alasan. Penebangan tersebut dilakukan dalam rangka pembangunan toko buku UII. Sampai saat ini, penebangan masih berlanjut dan rencananya akan selesai sebelum Hari Raya Idul Adha. Setelah penebangan dan pembersihan area sudah selesai, maka akan dimulai pembangunan proyek tersebut.

Itulah yang dipaparkan oleh Noor Cholis Idham selaku Wakil Kepala Bidang Pengelolaan Aset (BPA) ketika ditanya mengenai penebangan pohon di area boulevard UII pada hari Jum’at (11/10). Ia mengungkapkan, pembangunan toko buku di lingkungan UII dimaksudkan untuk menjadikan kampus UII sebagai kampus modern. Semua aktivitas mahasiswa akan dipusatkan dalam lingkungan kampus, sehingga berbagai fasilitas bisa disediakan, seperti toko buku dan toko untuk keperluan sehari hari. Asrama mahasiswa pun akan dibenahi.

Terkait penebangan pohon, ia mengaku pohon yang ditebang merupakan pohon pengisi. “Untuk pohon yang ditebang hanya pohon pengisi yang ditujukan untuk mengisi lahan kosong di area UII. Untuk pohon permanen atau yang keras, sudah ada area tersendiri yang telah di tentukan,” paparnya.

Siyanto: Mahasiswa Itu dengan Kecerdasannya Tahu Posisi Parkir yang Benar

Oleh: Asyharuddin Wahyu Y.

Kampus Terpadu, Himmah Online

Beberapa mahasiswa Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII) mengeluhkan lahan parkir di fakultas mereka. Seperti Ratih Dwi Putri yang merasakan dampak dari penuhnya lahan parkir di FTI. “Sekarang itu sudah penuh banget. Tambah penuh, malah. Sampai susah banget cari tempat parkir. Apalagi kalau sudah siang. Perlu diperbesar, kalau nggak, ya, ditata agar rapi lagi,” ungkap mahasiswi Teknik Industri angkatan 2011 ini. 

Mahasiswi Teknik Mesin angkatan 2012 Yuliani Sulistyawati juga mengeluhkan hal yang sama. “Harusnya ada lahan parkir baru, khususnya untuk FTSP, FMIPA dan yang lainnya. Buat FTI aja sudah penuh. Harusnya penjaga juga harus ikut menata motor yang masuk dong agar rapi, bukan hanya ngecek STNK aja,” ujarnya. 

Nardi, salah satu penjaga parkir di FTI berkomentar atas hal itu. “Kalau di FTI ini sudah nggak muat parkirannya. Kalau pas jam 10 mereka parkir di jalan semua. Memang seharusnya nambah lokasi, kalau nggak, ya, kayak gini parkirannya, berantakan,” ujarnya saat ditemui di lokasi bertugas. 

Staf Sarana Prasarana FTI Siyanto pun angkat bicara. Saat ditemui Jum’at (11/10) kemarin, ia mengatakan bahwa parkiran di FTI merupakan parkiran terpadu. Disebut demikian karena parkiran tersebut digunakan oleh empat fakultas, yaitu FTI, FTSP, FIAI, dan FMIPA. Itu pun sudah ada kesepakatan dari keempat dekan masing-masing fakultas tersebut. Menurutnya, parkiran tersebut penuh karena kurangnya kesadaran mahasiswa dalam menata kendaraan. “Sebenarnya hitungan tentang parkir yang ideal itu sudah dihitung cukup, tapi dari mahasiswanya sendiri yang asal memarkir. Itu yang menyebabkan parkiran penuh,” ungkapnya. 

Parkiran terpadu penuh hanya pada saat awal masuk mahasiswa dan mahasiswi baru. Setelah siklus wisuda yang berlangsung 3 bulan sekali, itu akan mengurangi jumlah mahasiswa yang parkir. Ia menambahkan, petugas parkir yang tersedia juga pas, sehingga kerepotan bila harus mengatur semua mahasiswa yang ingin parkir. “Tenaga parkir tidak bisa serta-merta membantu, tetapi diharapkan mahasiswa itu dengan kecerdasanya tahu posisi parkir yang benar bagaimana agar tidak mengganggu pengguna parkir yang lain,” papar Siyanto yang mengkoordinasi urusan lahir parkir terpadu.

Pengumuman Calon Magang Lolos Seleksi LPM HIMMAH UII 2013

Daftar Magang LPM HIMMAH UII 201312 3

Bagi nama yang tertera di atas, diharapkan berkumpul di Hall Cik Di Tiro S2 Hukum UII pada:

Minggu,  13 Oktober 2013

Pukul 15.00

-PSDM LPM HIMMAH UII-

Cinta Budaya Negeri

Ilustrasi oleh: M. Khoirul Anam

Ilustrasi oleh: M. Khoirul Anam

Kontes Batik: Menggaet Rasa Cinta Anak pada Batik

0

Oleh: Fikrinisa’a Fakhrun H.

Yogyakarta, HIMMAH ONLINE

Dalam rangka memperingati hari batik, salah satu pusat perbelanjaan di Ambarukmo Plaza, Centro mengadakan serangkaian acara pada tanggal 2, 6, dan 13 Oktober 2013. Minggu (6/10) lalu, panitia menyelenggarakan fashion show anak-anak bertajuk “Sebuah Peradaban Batik”. Acara yang berlangsung dari pukul 01.00 WIB hingga 16.30 WIB ini diselenggarakan atas kerjasama Centro dengan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) DIY.

Kontes ini terbagi menjadi 2 kategori peserta, yaitu kategori A (usia 4-7 tahun) dan B (8-12 tahun). Acara ini bertujuan agar anak-anak menyukai dan turut melestarikan batik sebagai salah satu warisan budaya nusantara, terang Katarina Mery selaku Service dan Marcom Supervisor. “Centro ikut nguri-nguri kabudayan. Berhubung batik itu sudah milik Indonesia, maka tidak bisa diklaim lagi,” ujarnya lagi.

Amin Hendra Wijaya, salah satu juri APPMI mengungkapkan, meskipun kontes ini seninya tradisi namun taste-nya internasional. Para peserta sudah bisa mengolah batik menjadi sesuatu yang valuenya lebih tinggi.

Ia berbicara mengenai sejarah batik ini. Dahulu Patih Gadjah Mada beserta para tentaranya mengenakan seragam batik, sehingga secara tidak langsung batik menyebar ke seluruh nusantara. Berbeda dengan sekarang, batik telah menyesuaikan dengan ornamen-ornamen rumah yang sesuai dengan adatnya. Bahkan, mungkin berbagai songket yang ada di daerah masing-masing pun berkembang menjadi batik karena tidak seperti songket, batik tidak risih untuk dikenakan sehari-hari.

Amin menambahkan, pelestarian batik bisa dilakukan dengan berbagai cara. Cara yang bisa dilakukan antara lain batik harus dikembangkan dan dikreasikan semenarik mungkin. Motif dan warna batik pun harus mengikuti zaman, meskipun isi motif itu sendiri adalah motif tradisi. Untuk bisa mengembangkan batik, setidaknya, semua kalangan masyarakat bisa mencintai dan bersedia mengenakan batik terlebih dahulu, baru kemudian bisa mengekspresikan bentuk batik,” tegas Amin menjelaskan.

Ada 32 peserta yang mengikuti kontes ini, salah satunya adalah Asa Bening Rembulan, peserta asal Sragen yang meraih juara 3 kategori B. ”Senang ikut lomba seperti ini. Bajunya dibuatkan sendiri sama bunda dan eyang,” ujarnya sambil tersenyum lebar.