Tarsono dan Mangrove: Berpacu Menghadapi Banjir Rob

Matahari di akhir Agustus terasa sangat ganas. Jika tak ada angin, mungkin biji-biji peluh akan bercucuran lebih cepat saat melintasi jalan-jalan di sekitar pesisir Kota Pekalongan.

Siang itu saya melintasi Jalan Samudra hendak menuju ke kediaman Tarsono yang terletak di Jalan Kunti Utara, Panjang Baru, Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, Jawa Tengah.

Di sisi utara Jalan Samudra hingga Jalan Kunti Utara, ombak sedang menghantam tanggul dan menghasilkan muncratan air ke jalan. Dari sisi sebaliknya, terdengar gemercik air melalui sela-sela beton mengokupasi daratan yang tidak ditinggikan.

Masih di sisi yang sama, terlihat pula arsiran berwarna coklat tua di beberapa tembok-tembok bangunannya, menandakan pernah tergenang air dalam tempo waktu yang tidak sebentar.

Banjir rob telah merubah lanskap wilayah pesisir Pekalongan. Banyak lahan pertanian yang tidak bisa ditanami lagi, tambak yang tidak memungkinkan diberi ikan, hingga pemukiman yang acapkali didatangi air dan kadang tak malu-malu menelisik ke ruang tamu rumah-rumah warga. Hal tersebut juga terjadi di daerah kediaman Tarsono. 

Tarsono atau yang biasa disapa Pak Wah,   merupakan pria paruh baya yang secara istikamah berusaha menyelamatkan lingkungannya dari ancaman bencana iklim, yakni banjir rob.

Usaha menyelamatkan lingkungannya itu ia lakukan sejak awal 2000-an dengan cara menanam pohon mangrove di sekitar tempat tinggalnya.

“Dulu saya tidak tahu fungsi mangrove, awal-awal menanam mangrove karena memang suka menanam dari kecil. Tapi awal tahun 2000-an, saat mulai tau dengan isu rob, apalagi semenjak tsunami Aceh 2004, jadi lebih mengerti fungsi mangrove. Akhirnya membuat lebih giat menanam,” tutur pria yang kini sudah memiliki empat anak tersebut.

Mangrove memiliki peranan cukup penting dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Keberadaan mangrove yang sehat di pesisir dapat meningkatkan resiliensi masyarakat pesisir terhadap perubahan iklim dan meminimalisir dampak bencana alam. 

Sebetulnya, Tarsono bukanlah pria yang lahir di wilayah pesisir. Ia lahir di Banjarnegara dan baru pindah ke Pekalongan pada tahun 1993 karena pernikahan.

“Saya ke sini tahun 1993, karena nikah dengan orang sini. Dulu belum ada tanaman mangrove sama sekali, masih kosong. Dulu adanya (tanaman) melati dan pandan di pinggir pantai,” ujarnya.

Awalnya, Tarsono menanam mangrove sendiri di sekitar tambak tempatnya bekerja. Kemudian lahir kelompok penanaman mangrove di Kandang Panjang dan area penanaman mulai merambah ke area yang lebih luas.

“Sebelum muncul kelompok penanam mangrove, saya sudah menanam sendiri di sekitar tambak,” tutur Tarsono seraya mengangkat tangan untuk menunjuk area Pekalongan Mangrove Park dari warung milik anak pertamanya.

Area Pekalongan Mangrove Park yang ditunjuk Tarsono dulunya area tambak udang windu tempat ia bekerja.

Sebab rentan terkena abrasi, pada tahun 2013 tambak milik Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Pekalongan tersebut beralih menjadi Mangrove Park yang dibuat oleh Pemerintah Kota Pekalongan.

Baru rampung dibangun di atas area seluas 5,7 hektar dari luas kawasan 90 hektar, Pekalongan Mangrove Park menjadi pusat restorasi dan pembelajaran mangrove di Kota Pekalongan. Tempat tersebut digunakan sebagai tempat belajar terkait tanaman mangrove, tempat penyemaian dan pembibitan mangrove, serta sebagai ekowisata.

Tambak boleh berganti menjadi taman mangrove, tapi Tarsono tetap bekerja di atas tanah yang sama sebagai pengelola.

Sehari-hari Tarsono berperan sebagai pemandu wisata, membibit mangrove, hingga menanamnya di area-area yang masih bisa ditanami.

Setiap tahun Tarsono bisa menghasilkan 10.000 bibit mangrove. Bibit tersebut diperuntukan untuk ia tanam sendiri maupun bagi masyarakat di sekitar Pekalongan yang ingin melakukan penanaman mangrove di area manapun. Bibit itu ia berikan secara cuma-cuma.

Tarsono menjadi pengelola dari pagi hingga sore hari. Saat malam, dengan perahu kecil miliknya ia pergi mencari ikan di kawasan bekas tambak yang sudah tergenang banjir rob. Hasil tangkapannya ia konsumsi sendiri atau dijual. 

Jalan Terjal Tarsono Menanam Mangrove

Adzan ashar berkumandang, terik di pesisir Pekalongan perlahan menjinak. Tarsono kemudian beranjak dari tempat duduknya dan mengajak saya masuk ke area Pekalongan Mangrove Park.

Sandal jepit yang ia kenakan ditinggal di pintu masuk. Celana hitam panjangnya dilipat setinggi betis. Tanpa ragu, Tarsono mulai melangkahkan kaki di atas paving block yang tergenang air rob, terus melangkah menuju area pembibitan.

Di sela langkahnya, telunjuk Tarsono mengarah lurus ke utara menunjuk barisan mangrove yang sedang dihinggapi puluhan burung bangau. Besar dan lebat.

“Itu termasuk yang ditanam awal-awal, mungkin umurnya sudah 20 tahunan,” ucap Tarsono dengan perasaan bangga.

Selain berfungsi sebagai mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, hutan mangrove merupakan habitat penting bagi ribuan spesies hewan laut. Rusaknya mangrove dapat mengganggu ekosistem lingkungan. 

Sekitar lima puluh meter berjalan dengan penuh kehati-hatian karena jalan yang dilalui sangat licin, sampailah kami di area pembibitan.

“Dengan kondisi terendam seperti ini aktivitas pembibitan dan penanaman jadi terhambat,” ucap Tarsono dengan nada sedikit lesu sembari mengangkat satu bibit mangrove siap tanam yang separuh batangnya terendam air.

Di tengah area Pekalongan Mangrove Park yang tergenang banjir rob, Tarsono seringkali mendapat omongan kurang mengenakan dari para pejabat, baik dari tingkat kota maupun provinsi.

Suatu hari saat ada kunjungan, salah satu dari mereka menanyakan mengapa area yang masih tersedia tidak ditanami mangrove. Hal itu terjadi karena air rob sedang tinggi, sehingga penanaman bibit tidak dapat dilakukan. Namun, Tarsono kadung dianggap memakan gaji buta.

Datang tanpa mendengarkan terlebih dahulu apa penyebab mangrove tidak ditanam dan justru langsung menghakimi, Tarsono menantang dia untuk mengurug seluruh area Pekalongan Mangrove Park. “Silahkan urug semua area, nanti saya tanami dan bersedia tidak dibayar,” ucap Tarsono menirukan tantangannya saat itu.

Sebetulnya, meskipun area penanaman tergenang air cukup dalam, hal itu bisa disiasati dengan teknik guludan yang ditemukan oleh Cecep Kusmana, seorang profesor ekologi hutan dari Institut Pertanian Bogor.

Teknik guludan sendiri diawali dengan membentuk sebuah petakan di air yang disusun menggunakan batang bambu berdiameter minimal 6 cm dengan panjang menyesuaikan kedalaman air. Bambu yang disusun membentuk segi empat tersebut diberi tanah di area tengahnya. Tanah yang digunakan adalah kombinasi tanah mineral dengan tanah lumpur.

Namun teknik penanaman itu tidak mudah dilakukan bagi Tarsono, guludan membutuhkan waktu dan biaya yang cukup banyak. Ia mengatakan bahwa untuk membuat satu guludan dengan ukuran 5×10 meter saja membutuhkan dana kurang lebih 20 juta.

Apalagi, kelompok penanam mangrove yang sempat berjuang melestarikan mangrove di Kandang Panjang bersamanya saat ini sudah tidak aktif lagi. Anggota hingga ketua kelompoknya menghilang satu-persatu. Sehingga Tarsono harus berjuang sendiri.

Tarsono Tak Bisa Sendiri Menghadapi Gempuran Banjir Rob

Pria berumur 51 tahun tersebut menyadari sepenuhnya akan adanya krisis iklim yang menyebabkan banjir rob.

Ia juga mengamini bahwa selain akibat krisis iklim, banjir rob di wilayahnya juga terjadi akibat penurunan muka tanah.

Pada 3 Oktober 2020, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menerbitkan sebuah laporan hasil pemantauan penurunan muka tanah (land subsidence) berdasarkan data satelit penginderaan jauh di beberapa kota besar di Pulau Jawa, salah satunya adalah Kota Pekalongan.

Hasilnya, perhitungan laju rata-rata penurunan muka tanah secara vertikal di Kota Pekalongan dan sekitarnya selama periode 2015-2020 adalah antara 2,1 cm hingga 11 cm per tahun. Angka itu menjadi yang tertinggi dibanding 5 kota besar lain. 

Infografis : Himmah/Prasetyo

Dengan problem sekompleks itu, berpindah tempat tinggal dari wilayah pesisir ke daerah dengan permukaan lebih tinggi mungkin jadi solusi paling instan untuk menghindari banjir rob. Tapi Tarsono khawatir hal tersebut justru akan mendatangkan segenap permasalahan baru.

“Penghasilannya kan di pinggir pantai, kalo pindah (tempat tinggal) kemungkinan jadi susah. Mau cari penghasilan apa?” ucap Tarsono.

Di tengah terpaan banjir rob; kelompok penanam mangrove yang tidak aktif; hingga kelakuan menjengkelkan para pejabat, Tarsono tetap berkomitmen terhadap apa yang sudah dilakukannya selama dua dekade ini: Membibit sebanyak-banyaknya, menanam di area yang memungkinkan, dan merawat mangrove yang telah ditanam.

Sembari terus menanam mangrove, Tarsono berharap otoritas terkait juga bergerak mengatasi banjir rob yang tiap tahun kian mengkhawatirkan.

Laju pertumbuhan mangrove sangat lambat. Jika sewaktu-waktu ombak datang cukup besar, hal itu dapat menghanyutkan mangrove yang baru ditanam bahkan dapat membuat mati yang sudah cukup besar.

“Jika hal tersebut terus terjadi, tanaman mangrove bisa mati, bisa hilang,” ucap Tarsono.

Untuk mengatasi hal tersebut, Tarsono berkeyakinan bahwa ada beberapa cara untuk menjaga keberlanjutan pohon mangrove dan menjaga wilayahnya dari air rob: Perbaikan tanggul di pesisir pantai dan sebisa mungkin menahan penurunan muka tanah.

Tanggul akan berfungsi sebagai pemecah gelombang buatan dan memberi rasa aman untuk mangrove tumbuh. Lalu mangrove yang sudah kuat akan berperan sebagai pemecah gelombang alami dan penahan angin. Sinergi itu sangat dibutuhkan.

“Kalo mau ya seperti itu (bikin tanggul dan menahan laju penurunan tanah), kalo tidak ya sudah, urusan saya menanam-menanam saja,” tutup Tarsono dengan sedikit tertawa.

Reporter: Supranoto

Editor: M. Rizqy Rosi M.

Berita sebelumnyaKetika Perempuan Melawan Adat
Berita SelanjutnyaAku Juga Ingin Pulang

Podcast

Baca juga

Terbaru