Himmah Online – Mahasiswa memiliki rekam jejak panjang sebagai kelompok yang berperan dalam berbagai momentum penting bangsa, mulai dari gerakan pada tahun 1966 yang mendorong runtuhnya Orde Lama, peristiwa Malari di Jakarta, hingga berbagai gelombang demonstrasi beberapa tahun terakhir. Namun, intensitas keterlibatan tersebut mengalami penurunan dibandingkan generasi sebelumnya.
“Kualitas, kuantitas, engagement (keterlibatan)-nya itu menurun. Jadi, sekarang momentumnya adalah mahasiswa menunjukkan lagi bahwa mereka tidak apatis,” ujar Masduki, guru besar Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII), dalam dialog publik bertajuk “Kritis atau Apatis? Potret Kesadaran Politik Generasi Muda Indonesia” yang diselenggarakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa Kognisia Fakultas Psikologi UII yang berlokasi di Taman Budaya Yogyakarta, Kamis (16/7).
Diskusi tersebut juga menghadirkan Tiyo Ardianto, eks ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) dan Naysilla Rose, peneliti muda yang tergabung dalam Social Movement Institute.
Tiyo menjelaskan bahwa Indonesia masih menghadapi persoalan transisi budaya dari sistem feodal menuju demokrasi. Menurutnya, kondisi tersebut juga diperparah oleh pandemi COVID-19 yang memutus proses kaderisasi organisasi mahasiswa selama beberapa tahun, sehingga aktivitas diskusi dan gerakan di lingkungan kampus ikut melemah.
“Dari kebudayaan feodal kolonial ke kebudayaan demokratis. Itu yang sebenarnya bikin banyak sekali masalah dalam bangsa kita. Karena struktur [pemerintahan negara] kita adalah demokrasi, tapi kultur kita feodal. Kultur kita kolonial,” ucap Tiyo.
Sementara itu, Naysilla Rose berpendapat bahwa kesadaran politik di kalangan anak muda sebenarnya masih ada. Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada hilangnya kepedulian mahasiswa, melainkan semakin terbatasnya kesempatan bagi mereka untuk terlibat dalam berbagai bentuk aktivisme.
“Yang jadi masalah adalah kesempatan kita untuk bisa involve (terlibat) dalam aktivisme, karena banyak sekali hal-hal yang akhirnya membatasi, baik itu dari segi kebutuhan, dari segi waktu, dan juga ya sistem yang lebih besar lagi, yang membuat kita gak bisa secara maksimal memunculkan kesadaran berpolitik kita,” jelas Naysilla.
Tiyo menegaskan bahwa sikap diamnya masyarakat, khususnya mahasiswa, tidak selalu menunjukkan sikap apatisme. “Tidak semua kemarahan itu ekspresinya adalah teriakan. Justru diam itu adalah puncak dari kemarahan. Artinya, kalau ada orang-orang ngomong, ‘anak muda sekarang apatis,’ ‘rakyat nggak peduli pada kebijakan,’ jangan-jangan itu adalah puncak dari kemarahan rakyat, puncak dari kekecewaan rakyat pada segala yang telah dilakukan oleh pemerintah,” ungkap Tiyo.
Lebih lanjut, Masduki menambahkan bahwa tantangan lain yang dihadapi mahasiswa adalah kapitalisasi pendidikan, menyempitnya kebebasan akademik, serta berbagai bentuk pembatasan terhadap aktivisme di lingkungan kampus. Menurutnya, kondisi tersebut membuat mahasiswa menghadapi tekanan yang jauh lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya.
“Para mahasiswa lebih banyak yang silent (diam). Secara eksklusif, itu kan kita bicara tentang sistem kapitalisasi akademik. SPP yang makin mahal, misalnya dari kalangan miskin tidak bisa menikmati pendidikan untuk kemudian menjalani critical thinking (berpikir kritis), mengeksplorasi critical position (posisi kritis)-nya,” tegas Masduki.
Reporter: Himmah/Syakira Auliya Humairo, Marsyalina Dwi Putri Aminarti, Zahra Kamila, Arum Septiana Izzatul Jannaha.
Editor: Livia S. Amiena