Abeng: Misi Global Sumud Flotilla Berlayar Karena Otoritas Internasional Gagal Melindungi Palestina

“Jadi harus dipahami bahwasanya Global Sumud Flotilla itu antitesis dari otoritas internasional. Kenapa kita berlayar? Kenapa kita membuat GSF? Karena otoritas internasional itu gagal [melindungi Palestina].”

Himmah Online – Gerakan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 kembali digelar pada Sabtu (16/05) dengan membawa misi kemanusiaan, yakni pengiriman bantuan untuk Gaza dengan mendobrak blokade israel. Gerakan ini merupakan gerakan masyarakat sipil internasional independen yang bertujuan untuk menegakkan martabat manusia dan hukum internasional yang gagal dilindungi oleh otoritas internasional.

GSF 2.0 diikuti 482 partisipan yang berasal dari 76 negara dengan latar belakang yang berbeda. Gerakan ini merupakan jilid kedua, setelah jilid pertamanya yang digelar pada 31 Agustus 2025.

Pada Senin (19/05), Israel Defense Force (IDF) mencegat kapal-kapal dan menculik aktivis GSF secara ilegal di 240 km dari perairan Gaza yang secara status merupakan laut internasional. Aktivis GSF yang diculik tersebut, sembilan diantaranya merupakan relawan WNI yang terdiri dari jurnalis dan relawan lembaga filantropi.

Akhir Mei lalu (20/05), UII mengeluarkan pernyataan sikap sebagai bentuk keprihatinan terhadap penangkapan relawan dan jurnalis dalam misi kemanusiaan GSF. Pernyataan tersebut menyebutkan salah satu relawan asal Indonesia yang terlibat dan diculik, yakni Bambang Nuroyono, seorang jurnalis Republika sekaligus alumni Fakultas Hukum UII yang akrab disapa Abeng.

Reporter himmahonline.id berkesempatan untuk mewawancarai Abeng secara daring melalui panggilan WhatsApp pada Sabtu (14/06). Kami membahas mengenai proses keberangkatan dari awal penculikan hingga pembebasan aktivis selama mengikuti kegiatan GSF 2.0. 

Simak petikan wawancara berikut ini!

Apa yang melatarbelakangi Anda untuk mengikuti GSF 2.0?

Kalau saya itu diundang [oleh GSF], karena saya [dari Republika] juga partisipan di GSF 2025 di Tunisia. Di Tunisia itu karena kendala teknis, delegasi Indonesia itu tidak jadi berlayar. Kemudian kita diundang lagi November 2025, kita sanggupin, dan kita akhirnya ikut lagi gabung di GSF 2026, GSF 2.0.  

Kalau alasan pribadi, karena di GSF Tunisia itu kita merasa belum tuntas, jadi ada semacam tanggung jawab moral untuk menyelesaikan misi itu. Kalau secara kelembagaan, ya memang ketika kita ada kesempatan untuk mengikuti misi-misi seperti itu, ya kita harus ikut, apalagi kita diundang. Karena tidak semua wartawan, apalagi dari Indonesia punya kesempatan untuk ikut misi sebesar itu. 

Sebenarnya apa itu Global Sumud Flotilla?

Jadi harus dipahami bahwasanya Global Sumud Flotilla itu antitesis dari otoritas internasional. Kenapa kita berlayar? Kenapa kita membuat GSF? Karena otoritas internasional itu gagal [untuk mengupayakan perlindungan HAM Palestina]. Pokoknya GSF itu menganggap bahwasanya ketika internasional gagal, maka kami berlayar. 

GSF itu lebih kepada gerakan organik sipil seluruh masyarakat internasional. Jadi, itu bukan di bawah PBB, bukan di bawah organisasi tertentu. Jadi, ini gerakan sipil saja. Ayo kita kumpul! Ini dunia gagal untuk membela Palestina. Ini dunia gagal untuk menghentikan penjajahan zionis israel di Gaza. Jadi, itu gerakan-gerakan aja gitu. Dan itu tidak ada strukturnya.

Apa yang membedakan antara GSF 1.0 dan GSF 2.0? 

Sama aja sebetulnya, cuma skala tekanannya itu diperluas. Di GSF 2026 ada misi pelayaran, ada juga misi darat, dan misi political impact (tekanan politik). Jadi, skalanya yang diperluas. Secara organisatoris juga lebih besar yang GSF 2026, karena GSF 2026 itu bukan hanya GSF yang ikut, tapi itu ada beberapa kelompok aktivis Palestina internasional yang terlibat. Tapi, elemen penting [yang hadir] itu Global Sumud Flotilla, Freedom Flotilla Coalition, Thousand Medellin, Gaza Global Movement, Global Maghribi. 

Teman-teman dari Maghribi—negara-negara Afrika Utara—banyak dominan [ikut] di land convoy (konvoi darat). Jadi mereka konvoi ketemu di Libya untuk ke Gaza lewat Mesir. Kalau yang sea mission (misi laut), itu dari Prancis, dari Barcelona, dari Italia, dari Yunani, sampai ke Turki. Dari Turki baru kita berlayar ke Gaza. 

Kalau yang political impact ini memang agak istimewa karena memang diperuntukkan bagi kalangan akademisi tokoh politik dan orang-orang yang punya pengaruh. Political impact ini [membentuk] Parlemen Flotilla yang selama ini bersuara tentang kemerdekaan Palestina dan melawan penjajahan zionis israel di Palestina. Dari situ, mereka melakukan tekanan diplomatik ke israel untuk menghentikan genosida di Gaza.

Mengapa di antara semua jalur, Anda memilih ikut misi laut daripada jalur lain?

Jadi, kalau di GSF 2025 itu hanya misi laut, kan. Karena memang umumnya Flotilla itu adalah dia misi laut. Karena kita ada misi yang belum tuntas di GSF Tunisia, jadi kita [di GSF 2.0] tetap fokus di misi laut, karena memang definisi Sumud Flotilla itu ‘Armada Keteguhan Laut’. Medan ruangnya saja yang berbeda, tapi pada intinya sama. 

Selaku wartawan, apa yang paling Anda sorot dalam pelayaran GSF 2.0?

Di liputan GSF jilid 2 ini, kita lebih spesifik. Bukan lagi bicara isunya tentang agama, atau tentang ras bangsa. Ini (baca: Isu Palestina) murni tentang masyarakat dunia ini yang sama-sama punya tanggung jawab untuk membuka blokade Gaza untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan.

Makanya, di GSF itu kita (baca: Republika) lebih banyak mempublikasi teman-teman dari partisipan yang punya nilai tinggi. Seperti contohnya, ada dokter sudah usia 75 tahun dan bukan Muslim, ada perempuan muda, partisipan GSF pertama dari Vietnam, ada warga israel yang ikut misi ini, gitu. Untuk menyampaikan kepada seluruh dunia, terutama di Indonesia, bahwasanya partisipasi GSF ini tidak lagi didominasi oleh teman-teman yang membela Palestina atas dasar agama, tapi sudah murni ini atas dasar kemanusiaan. Itu yang kita tegaskan.

Kami mendapat kabar bahwa pada akhirnya Kapal-kapal GSF dicegat oleh IDF, apa saja Standar Operasional Prosedur (SOP) yang dilakukan Abeng sebagai partisipan?

Sebenarnya banyak kalau SOP-nya, karena memang dalam pelayarannya itu yang paling berisiko adalah intercept (pencegatan), maka yang perlu ditebalkan itu adalah soal SOP pencegatan. SOP pencegatan itu tidak boleh melakukan perlawanan, tidak boleh membawa senjata, tidak boleh membawa alat komunikasi ketika terjadi pencegatan. Kemudian harus menampilkan paspor, dan tidak boleh lari juga, berenang gitu, nyemplung gitu, nggak boleh gitu.

Apakah ada SOP yang dilanggar Anda saat pencegatan oleh IDF?

Jadi, saya melakukan perbuatan yang dianggap melanggar SOP. [Karena] saya adalah partisipan dari kalangan media, saya harus mengabarkan peristiwa secepatnya. Saya kirim ke kantor berita tempat saya bekerja untuk memastikan bahwa video SOS (sinyal pertolongan) itu bisa diakses oleh seluruh masyarakat dunia. Jadi, yang seharusnya, memang yang mengirimkan SOS itu adalah Command Center Global Sumut Flotilla, bukan saya seharusnya. Cuman ketika saya menjelaskan itu, ya itu dianggap tidak ada masalah, karena dengan begitu ternyata itu lebih baik.

Jadi, kita udah tahu bahwasanya ini pasti bakal dicegat gitu. Makanya video SOS saya kirimkan [sebelum pencegatan], karena kalau tidak segera, saya tidak akan bisa mengirimkan itu secara langsung. 

Mereka pasti membajak alat komunikasi kita semua, kan? Jadi, dalam radius berapa, dalam jarak tertentu, mereka itu sudah melakukan jamming (blokir sinyal) terhadap semua alat komunikasi. Kita diminta untuk segera melemparkan semua alat komunikasi ke laut, itu salah satu SOP dalam pencegatan juga.

Ketika diculik oleh IDF, apa saja yang mereka lakukan terhadap para aktivis?

Saya rangkum 3 proses aja, ya. Fase pencegatan, itu semua mengalami hal yang sama. Itu (baca: kapal) ditembak, dan dihancurin. Kemudian, ada yang kapalnya dibocorkan, jadi tenggelam, ada yang dibiarkan terombang-ambing di Laut Mediterania. Kemudian setelah proses pencegatan itu, kita digeledah, kita dilucuti semuanya. 

Fase kedua, kita masuk ke kapal perang. Saya mengalami kekerasan, mengalami penyiksaan, tapi tidak dalam eskalasi yang terlalu tinggi. Ada penyiksaan, tapi eskalasinya masih rendah. Seperti dijambak, tangan dipelintir dan dipiting, dihina, kemudian kita dimaki-maki, ada yang dihajar, ada yang dikeroyok, dan lain sebagainya. Diintimidasi, dibiarkan dalam ketakutan, dibiarkan dalam kedinginan dengan suhu rata-rata 8-12 derajat, dan kita cuma hanya menggunakan celana dan satu lembar pakaian aja. Kita keluar dari penjara kapal perang itu setelah tiga hari.

Kemudian fase selanjutnya, kita dibawa ke pelabuhan militer Ashdod. Kita mengalami eskalasi yang lebih tinggi untuk kekerasan fisiknya. Mulai kepala kita diinjak, mulai kita ditonjok, mulai kita ditendang, itu posisi tangan terikat. Ada yang dilecehkan, pelecehan seksual, ada yang kepalanya diinjak. Kalau saya ngalamin itu kepala diinjak, punggung ditendang, punggung diinjak, dipukul. Itu seharian kita di situ.

Kemudian masuk fase selanjutnya, kita dibawa ke penjara teroris di Ketziot, di penjara Negev itu. Di penjara Negev itu, nah kita juga mengalami hal (baca: penyiksaan) yang lebih tinggi lagi eskalasinya. Kita disuruh sujud selama berjam-jam di satu sel. Kemudian, kita disuruh jalan jongkok masing-masing dengan kondisi diborgol dan dirantai gitu kan. Kemudian, kita juga ditelanjangi, dan lain sebagainya. Jadi ada beberapa fase memang di situ.

Apa saja jenis bantuan yang dibawa? Apakah pasca pencegatan bantuan tersebut sampai ke Gaza?

Kalau bantuan itu yang pasti itu obat-obatan, karena yang paling dibutuhkan di Gaza itu obat-obatan, susu bayi dan susu formula, kemudian baru makanan, buah-buahan. Di Gaza itu banyak anak-anak yang kekurangan makan dan kadar gula. Jadi, mereka susah tumbuh, makanya bantuan itu juga banyak semacam coklat, snack-snack, dan lain sebagainya. 

[Pasca pencegatan] kita sama sekali nggak tahu ya [tentang bantuan], apakah itu mereka (baca: IDF) curi, mereka bawa, atau mereka buang, atau mereka tenggelamkan. Tapi yang kita yakini dari pelajaran tahun kemarin, beberapa barang itu mereka curi, karena pastinya ada beberapa bantuan itu yang memang bisa dimakan. 

Bagaimana proses pembebasan relawan? Siapa saja yang terlibat?

Ya tentunya yang paling berperan itu GSF sendiri ya. Kemudian karena GSF ini punya tim hukum namanya ‘Adalah, dari kata adil itu. Mereka ini seperti LBH (Lembaga Bantuan Hukum) berbasis di Palestina, di Yerusalem. Tapi, kan wilayah Yerusalem itu sudah diokupasi sama israel. Jadi, secara basis, mereka itu di israel dan punya peran signifikan untuk menjamin kita, supaya kita bisa segera dibebaskan. 

Kemudian, yang terakhir ya peran negara-negara dan komunitas-komunitas internasional itu juga memengaruhi dan mendesak israel untuk segera membebaskan kita. Kita melihat waktu itu ada Turki yang sangat aktif mendesak israel supaya kita segera dibebaskan, ada Prancis, ada negara-negara asal semua partisipan gitu

Apa pesan yang ingin disampaikan kepada teman-teman semua dari perjalanan yang sudah dilakukan ini?

Kita semua punya tanggung jawab yang sama untuk tetap menyuarakan, untuk tetap meminta otoritas internasional membahas tentang masalah Palestina, membahas tentang masalah Gaza ini supaya selesai. Pesan saya tetaplah aktif untuk tetap selalu bersuara untuk penghentian penjajahan dan genosida di Gaza, Palestina.

Jika suatu saat nanti ada panggilan untuk mengikuti aksi yang serupa, apakah Anda masih ingin ikut kembali?

Di GSF itu harus punya semacam aturan mainnya, yang sudah pernah merasakan pelayaran, itu biasanya kecil kemungkinan untuk ikut berlayar lagi. Jadi, itu harus ada generasi selanjutnya. Kalau misalkan diminta lagi untuk berlayar, ya kita harus ikut lagi berlayar. Jadi, nggak ada kata kapok, nggak ada kata trauma, tidak ada kata takut, tidak ada rasa bosan, gitu. Karena selama kondisi di Palestina masih begitu (baca: dijajah), selama dunia itu bungkam, kita akan terus berlayar.

*Penamaan ‘zionis’ dan ‘israel’ kami kapitilkan sebagai bentuk ketidakpengakuan kami terhadap mereka.

Reporter: Himmah/Mochamad Farhan Mumtaz, Zahra Kamila, Fauzan Febrivo Azonde

Editor: Livia S. Amiena

Baca juga

Terbaru