Himmah Online – Laporan jurnalistik kerap menjadi rujukan utama dalam memahami konflik, kekerasan, maupun pelanggaran hak asasi manusia. Namun, di balik data, kronologi, dan fakta yang tersusun rapi, terdapat ruang emosional yang sering kali luput terdokumentasikan.
Hal inilah yang menjadi benang merah dalam lokakarya dan diskusi buku “Dari Reportase ke Karya Sastra” yang menghadirkan Linda Christanty, seorang penulis fiksi dan jurnalis, dan Aprinus Salam, guru besar Ilmu Sastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), yang digelar di Ruang Multimedia, Gedung Margono Djojohadikusumo lantai 2, FIB UGM, Senin (6/7).
Dalam pemaparannya, Aprinus menilai bahwa karya sastra memiliki kemampuan untuk menjangkau sisi kemanusiaan yang tidak selalu dapat diakomodasi oleh laporan jurnalistik maupun sejarah. Menurutnya, jurnalisme bekerja berdasarkan fakta, sedangkan sastra memungkinkan penulis menghadirkan pengalaman batin tokoh, rasa takut, trauma, hingga harapan yang sulit diterjemahkan dalam format berita.
“Jurnalisme mungkin bisa memuat sebagian cerita, tetapi sastra dengan leluasa masuk ke perasaan-perasaan yang tidak bisa diakomodasi ke laporan jurnalistik,” ujar Aprinus.
Aprinus mencontohkan cerpen Seekor Anjing Mati di Bala Murghab karya Linda Christanty yang terinspirasi dari situasi perang di Afghanistan. Baginya, cerpen tersebut tidak hanya menggambarkan penderitaan seorang anak yang kehilangan anjing peliharaannya akibat konflik bersenjata, tetapi juga mengajak pembaca memahami kompleksitas manusia di balik perang, termasuk tentara yang menjalankan perintah.
“Berita mungkin hanya mencatat adanya penembakan. Sastra justru mengajak kita bertanya apa yang dirasakan anak itu, bagaimana ketakutan masyarakat, bahkan kemungkinan beban yang dipikul seorang tentara,” jelas Aprinus.
Linda Christanty menjelaskan bahwa banyak cerpennya lahir dari pengalaman reportase maupun kesaksian narasumber. Namun, ia menegaskan bahwa sastra bukanlah ruang untuk mengubah fakta sejarah secara bebas.
“Kalau menulis tentang peristiwa sejarah atau pelanggaran HAM, nama korban, waktu, dan fakta-fakta penting tidak boleh diganti. Yang bisa dibangun adalah tokoh narator atau sudut pandang agar pembaca dapat memasuki pengalaman emosional dari peristiwa itu,” ucap Linda.
Linda menambahkan bahwa tokoh fiksi dapat menjadi jembatan bagi pembaca untuk memahami dampak psikologis sebuah konflik tanpa menghilangkan keakuratan fakta. Menurutnya, imajinasi dalam sastra berfungsi memperluas cara pembaca merasakan sebuah peristiwa, bukan menggantikan kenyataan yang terjadi.
Sementara itu, Linda menegaskan bahwa imajinasi dalam karya sastra bukan digunakan untuk mengaburkan fakta, melainkan menghadirkan pengalaman manusia yang tidak selalu dapat dijangkau melalui laporan jurnalistik. Menurutnya, sastra memberi ruang bagi penulis untuk membangun relasi emosional antara pembaca dengan sebuah peristiwa, tanpa mengubah fakta-fakta penting seperti tokoh, waktu, maupun peristiwa yang benar-benar terjadi.
“Kita bisa menulis tentang apa saja. Di dalam sastra itu dimungkinkan untuk memotret bagaimana relasi dan kehidupan orang-orang dalam keluarga maupun masyarakat yang tidak selalu tercatat dalam sejarah,” pungkas Linda.
Reporter: Fauzan Febrivo Azonde, Hana Mufidah, Moch. Farhan Mumtaz
Editor: Livia S. Amiena