“Kami mau minta tolong, satpam mau di-outsourcing,” ujar seorang pria kepada awak Himmah yang berada di depan Sekretariat Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Himmah Universitas Islam Indonesia (UII).
Himmah Online – Sekitar pukul 23.00, pada tanggal 7 Juli 2025, dua orang dengan sepeda motor melintasi Sekretariat LPM Himmah UII.
Sang pengendara motor berbadan kekar, menggunakan topi berwarna krem, baju kaos dan celana yang berwarna hitam. Di jok belakang, duduk pria yang kurang lebih berpakaian sama ditambah dengan jaket yang berwarna hitam pula.
Kedua pria yang sepertinya berusia sekitar 40 tahunan itu tampak tergesa. Mereka datang menghampiri saya dan beberapa awak Himmah Online lain yang hendak beranjak pulang, menanyakan lokasi Kantor Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) dan Dewan Permusyawaratan Mahasiswa (DPM) UII.
Serempak kami mengarahkan jari telunjuk ke kantor LEM dan DPM UII. Namun, malam itu lampu-lampu di sana padam, tidak menunjukan tanda-tanda keberadaan pengurusnya.
Celingukan, sorot mata sang pengendara motor terhenti pada papan nama LPM Himmah UII di sebelah pintu masuk sekretariat.
“Himmah itu pers ya? Bisa ikut kami?” ucapnya.
Belum sempat kami menjawab, datang menyusul dua orang pria yang mengendarai sepeda motor pula, lengkap dengan seragam satpam.
Kebingungan, kami mencoba menanyakan keperluan keempat orang tersebut.
“Kami mau minta tolong, satpam mau di-outsourcing (red: dialihdayakan),” ucap salah satu dari mereka.
Seketika kami mengiyakan ajakan itu. Tiga awak Himmah Online segera berangkat mengendarai sepeda motor mengikuti keempat orang tersebut menuju salah satu gedung yang ada di UII. Salah seorang awak Himmah Online kemudian menghubungi pengurus LEM dan DPM, mengabarkan mereka mengenai situasi yang tengah terjadi.
Gedung itu tampak temaram, berbeda dengan pemandangan yang biasa saya temui. Di pelataran depan, sekitar 18 hingga 20 orang telah menunggu. Raut wajah mereka gelisah. Abu dan puntung rokok berserakan di lantai, seakan ada obrolan panjang yang telah terjadi sebelumnya.
Semua orang yang berkerumun di pelataran tersebut merupakan satpam UII. Mereka berkumpul di pelataran depan. Beberapa dari mereka ada yang berdiri, ada yang duduk di kursi yang telah dipindahkan di tengah pelataran, dan beberapa lainnya duduk di lantai.
Baru saja kami dipersilahkan duduk, orang-orang di sekitar tak sabar mengeluarkan keresahan mereka. Saling bersahutan. Kami kebingungan. Salah satu awak Himmah Online bertanya, mencoba mengerti inti dari permasalahan yang tengah terjadi.
“Mungkin pertama, ini ada apa?”
Salah seorang pria yang tampak berusia sekitar 50 tahun mulai bercerita. Badannya tampak bugar. Ia menggunakan seragam satpam dengan cincin batu akik yang menghiasi jemarinya.
Dia mendengar kabar bahwa ‘satpam organik’ UII akan dialihdayakan ke Provices Group.
Kekecewaan tampak di wajahnya. Maklum saja, ia telah bekerja selama puluhan tahun. Melewati banyak peristiwa selama masa pengabdiannya. Ia menghela nafas, kemudian merogoh ke sakunya dan mengeluarkan sebungkus rokok. Ia mengambil satu batang rokok kemudian kembali bercerita sebelum sempat membakarnya.
Menurut penuturannya, ia sudah bekerja ketika Gunung Merapi meletus pada tahun 2010. Kala itu, masyarakat yang tinggal di Jalan Kaliurang seluruhnya telah dievakuasi. Dirinya dan satpam lain tetap bertahan dan berjaga di UII ketika bencana tersebut terjadi. “Itu cuma satu-satunya UII yang masih ada orangnya (ketika Gunung Merapi meletus).”
Dia juga telah melewati pandemi Covid-19 sebagai satpam UII pada tahun 2020. Ketika kasus Covid-19 meningkat, masyarakat Jogja harus mendekam di rumah. Jalanan sepi. Orang-orang harus beradaptasi dan bekerja dari rumah.
Sementara itu, ia masih harus berjaga di kampus terpadu UII. “Itu pengorbanan saya, dikatakan nyawa bisa lah,” ia mengingat kembali masa-masa itu.
“Saking cintanya (dengan UII), mau baik, mau buruk, kita tetap jaga.”
Satpam tersebut duduk di anak tangga, sementara rekan-rekannya mengelilingi di sekitar. Suaranya berat dengan pembawaan yang tenang, membuat orang-orang di pelataran malam itu menghentikan obrolan kecil mereka setiap kali ia berbicara. Semua mata tertuju padanya.
Untuk pertama kalinya, saya mengetahui bahwa satpam UII terbagi menjadi dua: organik dan alih daya. Yang membedakan keduanya adalah satpam organik memiliki Nomor Induk Karyawan (NIK) UII, membuat mereka berada langsung di bawah UII. Sedangkan satpam alih daya berada di bawah naungan Provices Group.
Berdiri pada tahun 2007, perusahaan yang dipimpin oleh Melky Aliandri, seorang alumni program studi Teknik Sipil UII sekaligus Wakil Ketua IV Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ikatan Keluarga Alumni (IKA) UII ini, bergerak pada bidang pengelolaan aset.
Berdasarkan unggahan dari akun Instagram resmi Provices Group, @provicesgroup, pada 24 April 2025, Provices Group bersama Yayasan Badan Wakaf UII (YBW UII) telah menandatangani perjanjian kerja sama dalam bentuk pengelolaan gedung dan aset yang termasuk di dalamnya universitas, sekolah, rumah sakit, hotel, dan lain-lain. Melalui perjanjian tersebut YBW akan mengalihdayakan 115 satpam organik ke Provice Group.
Seiring pembicaraan, pengurus Mahasiswa Pecinta Alam, DPM, dan LEM UII turut datang menyusul setelah sebelumnya juga dicari oleh satpam. Para satpam menyambut hangat kedatangan mereka, menawarkan makanan dan minuman.
Kekhawatiran para satpamlah yang akhirnya mendorong mereka untuk meminta bantuan mahasiswa. Mereka mengaku membutuhkan suara mahasiswa untuk menyuarakan keresahan mereka. “Karena kalau kita menyuarakan (keresahan), kalah, kalau di belakang kita tidak dibekingi mahasiswa,” ucap salah satu satpam.
Pembicaraan berlanjut. Pria tersebut telah membakar rokoknya. Ia terus bercerita, seiring batang rokoknya perlahan berubah menjadi abu.
“Harapan kami kan semakin ke sini semakin sejahtera. Tapi faktanya seperti ini (red: dialihdayakan),” ujarnya kecewa.
Satpam-satpam lain juga satu per satu kembali mengeluarkan kegelisahannya.
Salah satu satpam berbicara, bahwa mereka merupakan bagian dari keluarga besar UII, membuat mereka berhak mendapatkan privilese seperti tenaga kependidikan (tendik) UII lainnya.
Mereka khawatir apabila dialihdayakan, satpam organik akan kehilangan privilese yang dapat dinikmati selama ini: gaji di atas upah minimum provinsi (UMP); fasilitas kesehatan, rekreasi, beasiswa potongan harga bagi anak mereka yang berkuliah di UII; dan privilese-privilese lainnya.
Salah satu satpam mengaku khawatir akan perubahan jumlah upah yang akan didapat bila dirinya dialihdayakan. Ia mengatakan bahwa upahnya saat berada di bawah UII saja masih dirasa pas-pasan untuk memenuhi kebutuhannya. Maka bila nominal tersebut berkurang tentu akan berdampak besar baginya.
“Kalau orang Amerika itu sudah bisa (memikirkan) cara hidup di bulan. Kalau kita itu (memikirkan) cara hidup dari bulan ke bulan,” ujarnya diiringi gelak tawa dari satpam lainnya.
Hal lain yang juga penting bagi satpam organik adalah status karyawan UII-nya. Sebab, status tersebut telah memberikan privilese yang mereka rasakan selama ini. Bahkan, beberapa satpam tidak masalah bila gaji mereka dipotong, asalkan mereka masih memiliki status pegawai UII.
“Yang pentingkan kita tetap punya NIK, jangan sampai alasan efisiensi terus kita dialihkan ke PT (perseroan terbatas). Kan kejam banget, pak, (saya) sudah ngabdi di sini 20 tahun,” salah satu satpam berpendapat, diiringi anggukan setuju dari beberapa rekannya.
Satpam menginformasikan bahwa beberapa dari mereka akan diundang oleh Direktorat Sumber Daya Manusia UII (DSDM UII) sebagai perwakilan satpam untuk mengikuti sosialisasi yang berkemungkinan besar akan diadakan pada tanggal 15 Juli 2025. Mereka menduga sosialisasi ini akan berkaitan dengan isu alih daya yang tengah mereka pusingkan.
“Kalau nanti di sosialisasi kita fix outsourcing. Ya mau gak mau (harus dialihdayakan),” ucap salah satu satpam.
“Dan ini (pengalihdayaan) tinggal nunggu waktu,” salah seorang satpam mengeluh pelan
PERTEMUAN GEDUNG REKTORAT
Beberapa hari kemudian, pada hari Senin, 14 Juli 2025, awak Himmah menghubungi satpam organik melalui pesan WhatsApp untuk menanyakan terkait rencana sosialisasi yang akan diadakan keesokan harinya. Ternyata, pertemuan yang semula dikabarkan akan dilaksanakan pada Selasa, 15 Juli 2025, telah terlaksana empat hari sebelumnya.
Tepat pada hari Jumat, 11 Juli 2025, di Kantor Rektorat UII. Satpam organik bertemu pihak DSDM UII dan Provices Group.
Meski bukan termasuk perwakilan yang diundang sosialisasi, satpam-satpam organik lain juga turut hadir menunggu hasil pertemuan di luar kantor rektorat. Rasa khawatir membuat mereka ingin menunggu langsung hasil sosialisasi tersebut.
Satpam menceritakan bahwa pada pertemuan tersebut, pihak Provices Group menyosialisasikan program dan juga teknis operasional mereka selama kurang lebih satu jam.
Setelah pertemuan tersebut diadakan, satpam-satpam organik yang hadir melakukan mediasi dengan pihak DSDM UII di luar Kantor Rektorat UII. Satpam organik yang kami hubungi mengaku bahwa mediasi tersebut tidak memberikan hasil yang mereka harapkan.
PERTEMUAN GKU
Jumat sore, 15 Juli 2025. Awan-awan terlihat berat di Kampus Terpadu UII, pertanda akan turun hujan. Meski demikian, orang-orang masih menjalankan aktivitasnya. Lari sore, bersepeda, juga melangkah ke perhentian selanjutnya usai mengikuti kelas perkuliahan.
Di tengah itu semua, saya berkendara melintasi Gedung Kuliah Umum (GKU) Dr. Sardjito UII. Di pintu utamanya, saya melihat puluhan hingga ratusan satpam lengkap dengan seragamnya melangkah keluar. Bak mahasiswa yang bergegas keluar ruangan seusai kelas perkuliahan. Berpencar. Sebagian melangkah kembali ke posnya masing-masing, sebagian yang lain masih berkumpul di sekitar GKU. Duduk dan berbincang.
Segera saya mencari lahan parkir terdekat dan memarkirkan motor di sana. Saya kemudian berjalan ke arah kerumunan satpam tersebut dan menghentikan langkah Joni (bukan nama asli), salah satu satpam yang tengah berjalan menjauh dari GKU. Rasa penasaran membuat saya bertanya padanya mengapa ada banyak sekali satpam yang berkumpul di GKU.
Joni berbadan ramping. Usianya sudah menginjak kepala empat. Wajahnya klimis dan dihiasi kerutan tipis. Cara bicaranya pelan dan penuh penekanan. Dengan suara berat dan logat jawa yang kental.
Sedikit berjarak dari kerumunan, Joni, saya, dan beberapa awak Himmah Online yang datang menyusul, berbincang di belakang gedung KH. A. Wahid Hasyim, Fakultas Ilmu Agama Islam UII. Joni menceritakan bahwa Fathul Wahid, Rektor UII, mengadakan forum pertemuan dengan satpam organik.
Pertemuan tersebut berlangsung selama kurang lebih satu setengah jam. Di sana, Rektor UII mengatakan bahwa ia akan mengupayakan agar aspirasi satpam organik tersampaikan kepada YBW UII.
Dari pertemuan tersebut, Joni melihat bahwa rektor tengah berupaya agar privilese yang satpam dapat saat berada di bawah naungan UII tidak berkurang meski mereka dialihdayakan. Hal ini meyakinkan Joni bahwa ia dan rekan-rekannya akan tetap dialihdayakan.
“Cuma status kita sebagai keluarga UII hilang. Ruh saya kan di sini. Hilang. Jadi ini (Kartu Tanda Karyawan UII) besok lepas, ganti PT. Provices Indonesia itu,” Joni memegang kartu tersebut yang melekat di seragamnya, lalu melepas kartu itu secara perlahan.
Joni bercerita bahwa pihak satpam organik semula berencana untuk langsung menemui YBW UII dan menyampaikan keresahan mereka. Namun, rektor mengarahkan kepada para satpam untuk tetap bekerja seperti biasa, sementara rektor bersama dengan wakil rektor yang akan langsung menemui pihak YBW UII.
“Bahasanya beliau seperti itu,” Joni pasrah. Ia mengaku, meski rektor meminta satpam untuk bekerja seperti biasa, permasalahan ini membuat dirinya resah dan tidak fokus bekerja.
Kami terlarut dalam pembicaraan. Sinar matahari mulai menghilang. Lampu-lampu jalan mulai dinyalakan. Dari langit, tetesan air perlahan jatuh. Aktivitas di kampus terpadu UII sore itu perlahan berkurang. Satu orang satpam yang melintas bergabung di lingkaran kecil kami, dan pembicaraan masih terus berlanjut.
Menurut penuturan Joni, YBW UII hendak membuat perusahaan. Untuk itu, YBW UII bekerja sama dengan Provice Group untuk belajar mengelola asetnya selama tiga tahun. Dalam kontrak tiga tahun itu Provice Group akan mewadahi satpam dan tenaga kerja lain untuk kemudian dialihkan kembali ke bawah pengelolaan YBW UII pada tahun 2028 dengan perusahaan barunya.
“Janjinya tiga tahun yang akan datang nanti (satpam) ikut PT-nya Badan Wakaf (YBW),” Joni menjelaskan pada kami.
Sejatinya, Joni mengharapkan pengalihdayaan satpam organik terjadi secara natural. Ketika satpam-satpam organik UII telah mencapai usia pensiun, barulah mereka satu per satu digantikan oleh tenaga kerja alih daya.
“Nah ini kan saya belum pensiun. Dipaksa, ‘kamu kalau mau, ikut ini (Provices Group). Kalau ndak ya sudah, kamu berhenti.’ Bahasa simpelnya kan seperti itu,” Joni mengeluh.
Joni khawatir. Usianya sudah tua, ia takut jika sewaktu-waktu dia akan diberhentikan akibat usianya tersebut. Joni bertanya pada rektor, “pak, apakah ada jaminan di tahun keempat itu saya kembali ke Badan Wakaf. Tadi kalau saya ke BW kan masih masih keluarga UII kan?” Joni mengaku rektor menjawab bahwa ia akan mengusahakan hal tersebut ketika mendengar pertanyaan itu.
Meski kemungkinannya kecil, ia masih berharap untuk mendengar kabar baik. Joni mengharapkan ada jalan keluar. Tetapi setelah melihat kondisi belakangan, ia meyakini pada akhirnya harapannya harus pupus. “Tetapi nek (red: jika) saya berani menyimpulkan, kalah kita,” Joni menatap kami sembari menghela nafas.
“Ya ini menurut saya kasus luar biasa di UII, (di) sepanjang sejarah (UII),” ujarnya.
Di akhir obrolan, sebelum berpamitan Joni memperlihatkan kartu tanda karyawan UII-nya kepada kami.
“Ini nama saya, ini nomor induk pegawai saya yang nanti akan hilang. Sedih, to? Nyesek, lho, mas. Mau nangis tapi malu aku,” ujar Joni tersenyum.
MOTIF KEBIJAKAN ALIH DAYA
Waktu menunjukkan pukul 11.10 WIB. Siti Anisah, Sekretaris YBW UII baru saja selesai mengikuti rapat. Ruang kerjanya dipenuhi berkas-berkas fisik yang bertumpukan. Wajahnya tampak lelah.
Di sana, 12,3 kilometer dari Kampus Terpadu UII, di Kantor YBW UII, Jl. Cik Di Tiro, Kota Yogyakarta, dua awak Himmah Online bertemu dengannya. Hendak mengonfirmasi pada Anisah terkait kebijakan alih daya satpam di lingkungan UII.
Anisah menyambut dan mempersilakan awak Himmah Online untuk duduk bersama di ruang kerjanya dan menjelaskan bahwa UII memiliki lanskap infrastruktur yang kompleks. UII memiliki sekitar 40 bangunan yang tersebar di berbagai lokasi. Selama bertahun-tahun, pengelolaan sarana dan prasarana di masing-masing gedung tersebut berjalan secara mandiri. Setiap gedung juga melakukan pemeliharaan dengan kontrak kerjasama dengan vendor yang berbeda-beda.
“Coba bayangkan, satu fakultas kontrak dengan vendor X, fakultas lain dengan vendor Y. Kira-kira bisa ada standar perawatan yang sama atau beda?” ujar Anisah.
Anisah mengambil selembar kertas undangan yang ada di dekatnya, lalu mulai menjelaskan sembari mencoret-coret bagian kosong dari kertas itu menggambarkan mind map terkait pengelolaan aset oleh YBW. Seluruh aset berupa infrastruktur yang berada di bawah tanggung jawab YBW UII tersebar di wilayah Jogja.
‘Itulah di UII Raya,” Anisah menggunakan istilah “UII Raya” untuk menggambarkan seluruh infrastruktur yang berada di bawah naungan YBW UII.
Menurut Anisah, diperlukan sebuah sistem pengelolaan yang terpusat atas UII Raya. Infrastruktur kampus, terang Anisah, tidak berhenti pada bangunan fisik, tetapi juga mencakup Mechanical, Electrical, and Plumbing (MEP), housekeeping, juga satpam. Menurutnya pengelolaan yang bersifat sporadis juga berdampak pada standar pelayanan yang tidak merata.
Fokus pembicaraan kami kemudian mengerucut pada satpam. Anisah membuka gawainya, menunjukan data dan dokumentasi asesmen pada kami. Berdasarkan asesmen yang telah dilakukan YBW UII sejak September-Oktober 2024, Anisah mengaku menemukan banyak persoalan mendasar pada pola kerja satpam. Beberapa di antaranya adalah tidak adanya berita acara harian, laporan kejadian, ataupun mekanisme serah terima tugas antar sif.
“Kehilangan helm, kehilangan barang, itu nggak pernah ada berita acaranya. Padahal itu bagian dari tugas pengamanan,” keluhnya.
Anisah lalu turut menyoroti jam kerja satpam yang mencapai 12 jam per hari, tanpa adanya sistem sif yang jelas dan tanpa pencatatan lembur yang tertib.
Menanggapi temuan tersebut, awak Himmah Online bertanya pada Anisah, apakah ketiadaan asesmen juga laporan harian tersebut merupakan bentuk kelalaian dari atasan satpam baik di tingkat unit ataupun fakultas. Lalu apakah YBW UII melihat hal ini sebagai bentuk ketidakefektifan pengelolaan, sehingga pada akhirnya memutuskan untuk memusatkan pengelolaan di bawah satu naungan.
Namun, Anisah tidak menjawab pertanyaan pertama kami secara langsung. Ia menekankan, “ini ditata, dikelola pada tempatnya.”
Berdasarkan rangkaian asesmen yang telah dilakukan, YBW UII menyimpulkan bahwa perlu dilakukan alih kelola secara terpusat melalui mekanisme alih daya. Langkah ini, menurut Anisah, diambil untuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi ketenagakerjaan, standar keamanan, serta mengurangi risiko hukum bagi yayasan.
“Coba kalau ada kasus, ada peristiwa, ada apa. Siapa yang mau bertanggung jawab? Dilemparkan ke siapa?” keluh Anisah. “Karena badan hukumnya, entitasnya ada yayasan.”
Dalam skema tersebut, YBW UII bekerja sama dengan PT Provice Indonesia sebagai pihak ketiga. Kerja sama ini, terang Anisah, berangkat dari nota kesepahaman (MoU) antara YBW UII dan IKA UII. Provice menjadi pilihan sebab dinilai memiliki pengalaman dalam manajemen gedung dan pengelolaan layanan pendukung kampus.
“Kerja sama dengan pihak ketiga ini selama tiga tahun,” terangnya. “Tetapi setelah tiga tahun, pegawai-pegawai mereka ini semuanya akan dialihkan menjadi PT baru milik Yayasan.”
PT tersebut direncanakan akan menjadi badan usaha milik YBW UII yang mengelola MEP, housekeeping, dan satpam, tidak hanya di universitas, namun juga unit-unit usaha yayasan lainnya.
Menurut penuturannya, Anisah menegaskan bahwa kebijakan ini tidak dilakukan secara tiba-tiba. Ia mengaku bahwa YBW UII telah mengundang satpam untuk melakukan sosialisasi.
“Termasuk untuk satpam, kita bahkan mengundang mereka dua kali sosialisasi, tidak ada satupun yang hadir,” ujarnya.
Terkait keluhan satpam atas upah yang berkurang, juga hilangnya NIK dan berbagai privilese seperti beasiswa anak, subsidi umroh, atau akses korporasi, Anisah menegaskan bahwa YBW UII justru berupaya untuk menertibkan aspek legalitas kerja.
Raut wajahnya berubah, “Gaji di atas UMP tapi enggak ada BPJS. Yang untung siapa? yang buntung siapa dalam hal ini? Kita sebagai pemberi kerja bermasalah, mereka juga tidak punya jaminan kesehatan, jaminan ketenagakerjaan.”
Anisah menyebut satpam kini telah terdaftar BPJS, menerima kompensasi, dan bagi anaknya yang masih berkuliah atau mereka yang tengah dalam proses mendaftar haji sebelum masa pensiun, tetap diberikan dukungan.
“Kalau dari sisi pendapatan, mungkin mereka berkurang. Tapi dari sisi manfaat, yang kemudian nilai rupiah nominalnya, mereka lebih banyak sekarang,” terang Anisah.
Anisah menghentikan tangannya yang sedari tadi sibuk mencoret-coret lembaran kertas. Kebijakan alih daya, terangnya, dilakukan sebagai bagian dari pembenahan tata kelola. Menurutnya hal ini bertujuan agar universitas dapat lebih berfokus pada fungsi akademik. Pengelolaan urusan pendukung perlu dilakukan sesuai dengan standar, sehingga universitas dan unit yang ada di dalamnya dapat memusatkan perhatian pada kegiatan akademik.
Menindaklajuti pertanyaan mengenai pengelolaan asesmen, awak Himmah Online telah mencoba menghubungi pihak DSDM UII pada tanggal 27 Oktober 2025 untuk melakukan wawancara konfirmasi terkait alih daya satpam. Ike Agustina, Direktur DSDM UII, menyampaikan bahwa dirinya bersedia diwawancara apabila mendapat izin dari rektor selaku pimpinannya. Namun hingga berita ini diterbitkan, rektor UII belum memberikan jawaban.
KABAR JONI SETELAH DIALIHDAYAKAN
Siang hari di Kampus Terpadu UII. Saya berjalan kaki menembus gerimis, menuju salah satu gedung yang ada di kampus terpadu UII. Di sana saya kembali bertemu dengan Joni.
Kali ini ada yang berbeda darinya. Kartu pegawai yang ada di saku depan bajunya telah berubah. Kartu itu kini telah dibungkus bingkai berwarna merah. Tidak lagi ada logo UII di sana.
Joni telah resmi dialihdayakan.
Tersenyum, Joni menjabat tangan dan menanyakan kabar saya. Kami bertukar cerita, ia memberitahu saya bahwa pada 1 Oktober 2025, ia dan sekitar lebih dari 90 orang rekan-rekan satpam organiknya telah resmi berada di bawah pengelolaan Provice Group. Sementara satpam organik yang lainnya memilih tidak bergabung dan mengundurkan diri.
“NIK UII saya hilang,” Joni mengangkat kartu pegawai barunya sembari tersenyum lirih.
Joni mengatakan bahwa rektorat memberikan tawaran kepada satpam organik berupa kompensasi dari universitas kepada satpam organik yang selama ini telah mengabdi pada UII. “Apapun itu namanya, intinya sebuah penghargaan yang berbentuk uang sebagai pengganti penghargaan pengabdian kami,” terang Joni.
Jumlah kompensasi yang didapat disesuaikan dengan tahun mengabdi di UII. Total tahun mengabdi yang dikalikan dengan jumlah gaji pokok, menghasilkan angka kompensasi yang didapat. Secara sederhana, semakin lama mengabdi di UII maka akan semakin besar pula kompensasinya. Sekretaris YBW UII mengatakan bahwa dana kompensasi tersebut setengahnya berasal dari universitas dan setengah lainnya berasal dari YBW UII.
Ada yang mengganjal di hati Joni. Ia memikirkan satpam-satpam organik yang masa pengabdiannya di UII belum selama satpam lainnya.
Saat pertama kali mendengar tawaran kompensasi dari pihak rektorat, Joni melihat ke arah satpam junior yang berada di sebelahnya. Ia lalu meminta satpam itu untuk membuka kalkulator di gawainya dan mencari tahu berapa total kompensasi yang sang satpam muda akan terima. Ternyata jumlah yang didapatkan tidak sebesar senior-seniornya.
“Yang masih dalam pemikiran saya, adik saya yang bontot ini dapet (kompensasinya) enggak sampai 20 (juta),” ujar Joni sembari mengetuk-ngetuk meja.
Joni merasa khawatir, meski ada satpam organik yang akan mendapat kompensasi lebih dari 60 juta rupiah, terdapat juga satpam lain yang mendapat kurang dari 20 juta rupiah. Ini mengganggu pikiran Joni, sebab ia tahu tanggungan-tanggungan seperti apa yang harus juniornya hadapi.
Bagi Joni sendiri ini bukan permasalahan angka. Sejatinya bukan sekadar kompensasi yang menjadi kekhawatirannya. Selain gaji yang menurun, privilese selama di bawah naungan UII yang hilang juga mengganggu pikiran Joni.
“Itu ternyata tertolong banget to (dengan adanya privilese UII), mas. Ketika kami yang notabenenya mayoritas kan, ya satpam lah tahu sendiri kondisi ekonomi (satpam). Terus anak-anak nya bisa kuliah di UII, Itu kan sebuah kebanggaan tersendiri. Sampai dengan ada subsidi umroh, saya punya berapa dan njenengan (red: anda) dari UII bantu, itu kan harapan-harapan kami ke depan gitu,” keluh Joni.
Dirinya menceritakan, pada saat pertemuan rektor dan satpam di GKU, pihak rektorat membuka kesempatan terakhir untuk subsidi kuliah anak dan umroh kepada satpam sebelum kontrak berakhir. Privilese yang tidak lagi akan dirasakan satpam setelah mereka berhenti menjadi bagian dari keluarga besar UII.
Menyambut tawaran tersebut, dari 115 satpam organik, sebanyak kurang lebih 33 satpam mendaftar umroh dan kurang dari 10 anak satpam didaftarkan untuk mendapatkan beasiswa berkuliah di UII.
Joni menatap ke luar jendela. Tanpa terasa hujan semakin deras.
Tentu, tawaran pihak rektorat bukan opsi yang bisa dilewatkan begitu saja. Joni menceritakan tawaran ini menciptakan gejolak di antara satpam organik saat itu. Obrolan-obrolan kecil bermunculan di kanan dan kirinya. Satpam-satpam berlomba membuka kalkulator di gawainya masing-masing dan mulai berhitung. Beberapa merasa tenang, beberapa gelisah.
Satpam senior yang tergolong telah lama mengabdi di UII menerima opsi rektorat terkait kompensasi. Di sisi lain, satpam junior yang belum lama mengabdi kelabakan menghadapinya.
“(Kondisi semakin) ramai, akhirnya pak rektor mengambil jalan tengah. Udah tunjuk jari saja yang setuju,” Joni menceritakan situasi saat itu.
Menurut penuturan Joni, akibat jumlah satpam junior yang tergolong lebih sedikit, keputusan untuk menerima opsi dari pihak rektorat tetap diambil. Menutup opsi untuk tidak dialihdayakan dan terus menjadi keluarga besar UII.
Joni mengernyitkan dahinya, “Walaupun mungkin si rekan saya ini (satpam senior) nggak mikir adiknya (satpam junior), nantikan (pembayaran kuliah anaknya) udah kayak sampean (red: anda), umum. Tanpa memikirkan lagi nanti setelah alih daya itu terjadi, terus kayak apa (kondisi satpam).”
Beberapa waktu setelah percakapan dengan pihak rektorat itu, Joni dan satpam-satpam organik berhenti bekerja di bawah UII. Satpam yang memilih untuk dialihdayakan ke Provice Group kemudian mengumpulkan persyaratan administratif dan mengikuti tes.
Menurut penuturannya, meski Joni dan rekan-rekannya harus melewati tes terlebih dahulu, tes tersebut hanya semacam formalitas. Satpam eks-organik UII diberikan surat rekomendasi oleh rektorat untuk mempermudah proses mereka bergabung dengan Provices group. Membuat seluruh satpam eks-organik diterima di provices group.
Joni menyandarkan badannya. Ia khawatir. Usianya yang sudah tua membuatnya resah jika suatu waktu diberhentikan. Kini bentuk kontrak Joni dengan Provices Group adalah Perjanjian Kontrak Waktu Tertentu (PKWT). Ia tidak tahu berapa lama kontraknya akan bertahan dan berapa lama dia masih bisa bekerja sebagai satpam.
“Termasuk saya juga nggak ada yang menjamin,” raut wajahnya pasrah.
Penasaran, saya bertanya pada Joni, mengapa dia akhirnya memutuskan untuk tetap melanjutkan pekerjaannya di bawah naungan baru. Meski gajinya turun. Meski ia kehilangan privileseya.
Dia kembali menatap ke luar jendela, terdiam sejenak. Ada beberapa hal yang membuat Joni bertahan. Pertama, Joni telah mengabdi di UII selama lebih dari dua dekade. Terdapat ikatan emosional yang kuat antara dirinya dan UII.
“Jadi ya mungkin status kami sekarang bukan keluarga UII, tapi ini (red: UII) udah jadi rumah kedua kami,” ia menunjuk logo UII yang berada dekat di jantungnya.
Kedua, usia Joni sudah tua. Ia ragu. Apabila harus mencari kerja lagi, tidak ada jaminan Joni akan mendapatkan pekerjaan di usianya.
“Kemudian faktor ketiga, perut,” Joni memegangi perutnya.
“Perut faktor ketiga, tapi mungkin bisa dikejar ke nomor satu.”
“Kan butuh hidup, saya dan teman-teman.”
Joni menceritakan, mayoritas satpam masih harus mencari pekerjaan tambahan untuk menambah pemasukan. Menjadi pengemudi ojek online, bertani, hingga berternak. Jika kehilangan pekerjaan sebagai satpam, tentu mereka akan kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya.
Saya bertanya kembali. Bagaimana kehidupannya pasca dialihdayakan?
Raut wajahnya berubah murung. Joni mengangkat kartu kepegawaiannya, “Ini (kartu kepegawaian Provices) gak pernah (dibawa) pulang.”
Joni ternyata masih menyembunyikan statusnya yang tidak lagi menjadi bagian keluarga besar UII dari anak-anaknya. Hingga, Joni tidak pernah membawa kartu tanda karyawannya ke rumah, agar tidak ditemukan oleh anaknya.
Sesekali anaknya bertanya mengenai fasilitas piknik keluarga atau subsidi umroh yang disediakan UII untuk tenaga kerjanya. Sang anak penasaran kenapa orang tuanya tidak menikmati fasilitas tersebut.
“Sekarang ketika (anak saya) nanya itu, mau jawab apa?” Joni menghela nafasnya.
Joni tak lagi bisa menikmati privilese tersebut.
“Hilang. Hilang semua.”
Gajinya juga berkurang sebesar kurang lebih 1,3 juta rupiah. “Berubah. Turun,” Joni sedikit menaikkan suaranya.
Nyatanya tidak banyak yang bisa Joni lakukan. Ia sejak lama telah ragu apakah bisa melewatinya. Pada akhirnya ia hanya bisa menerima.
Hujan mulai mereda. Tak terasa sudah hampir satu jam saya berbincang dengan Joni. Saya harus meneruskan perjalanan dan Joni harus kembali bekerja. Kami berpamitan.
Ketika saya hendak beranjak pergi, Joni menatap saya dan menghentak-hentakan tangannya ke dada seraya berkata: “I’m UII.”
Joni tetap tersenyum.
________________________________
*Naskah ini mengalami penyesuaian pada tampilan gambar dalam badan berita. Awalnya, foto diunggah tanpa menggunakan masterslide tersusun memanjang ke bawah. Kini, penggunggahan foto telah menggunakan masterslide.
Reporter: Himmah/Agil Hafiz, Abraham Kindi, Hana Mufidah, Reza Sandy Nugroho
Editor: Farhan Mumtaz


